Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal IV 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

Semen Gresik & Indocement: Outlook

Pada tanggal 19 November kemarin, Semen Gresik (SMGR) mengumumkan aksi korporasi penting, yakni akuisisi terhadap Thang Long Cement, sebuah perusahaan semen asal Vietnam. Tak butuh waktu lama, saham SMGR langsung terkerek naik karena kabar ini, hingga hampir saja menyentuh new high di 17,000, sebelum kemudian turun lagi ke posisi saat ini yaitu 15,850. Kalau kita bicara soal sahamnya, maka tidak ada yang bisa dibicarakan lebih lanjut karena sudah cukup jelas bahwa saham SMGR sudah cukup mahal. Tapi, mari kita coba pelajari prospek SMGR ini di masa depan, terutama pasca aksi go regional-nya tersebut.

Unilever: Analysis on Royalties

Tanggal 12-12-12 kemarin mungkin merupakan tanggal cantik dan juga bermakna keberuntungan bagi sebagian orang, namun tidak demikian halnya bagi investor yang memegang saham Unilever Indonesia (UNVR). Pada hari tersebut UNVR tiba-tiba saja anjlok dari posisi 25,950 hingga 23,150. Di hari berikutnya, penurunan tersebut terus berlanjut hingga posisi 20,350, sehingga secara keseluruhan, UNVR telah terkoreksi 27.5% hanya dalam dua hari. Itu adalah sebuah angka penurunan yang sangat besar dan juga tidak wajar, tentu saja, mengingat UNVR ini bukan saham gorengan melainkan saham super-blue-chip, dengan statusnya sebagai perusahaan terbesar ketiga di BEI dari sisi market cap (sebelum harganya turun, kalau sekarang mungkin terbesar kedelapan, setelah BBRI). Bloomberg menyebut penurunan UNVR tersebut merupakan yang terburuk dalam dua belas tahun terakhir.

Fiscal Cliff & IHSG

Dalam beberapa minggu terakhir ini, anda pasti sudah familiar dengan judul artikel diatas: Fiscal Cliff, atau disebut juga jurang fiskal. Istilah fiscal cliff tersebut tiba-tiba saja mengemuka ke publik dan menjadi populer belakangan ini, setelah Barack Obama memenangkan Pilpres Amerika Serikat (AS) pada tanggal 6 November 2012. Tapi jika dipelajari lebih lanjut, ‘kasus’ fiscal cliff ini berpangkal pada salah satu kebijakan yang dilakukan oleh Presiden AS, dalam hal ini George W. Bush, pada tahun 2001, atau hampir 12 tahun yang lalu alias sudah cukup lama. Nah, disini kita akan merunut kronologisnya.

Waskita Karya

Waskita Karya (Waskita) akan menjadi perusahaan BUMN keempat dalam tiga tahun terakhir yang melantai di bursa, setelah Bank BTN (BBTN), Krakatau Steel (KRAS), dan Garuda Indonesia (GIAA). Dan seperti juga IPO-IPO BUMN sebelumnya, selalu ada cerita menarik yang mengiringi pelaksanaan IPO tersebut. Untuk Waskita, cerita itu adalah berkaitan dengan statusnya sebagai perusahaan yang ‘bangkit dari kubur’, dimana Waskita dulunya merupakan perusahaan yang sakit, atau bahkan boleh dikatakan sudah mati, karena kasus penggelembungan aset yang terjadi di masa lalu. Barulah setelah melalui restrukturisasi yang dilakukan oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA), sebuah BUMN yang secara khusus menangani aset-aset bermasalah milik negara, Waskita mulai menggeliat kembali. Restrukturisasi tersebut dilaksanakan pada tahun 2010 lalu, dimana PPA menyuntikkan modal sebesar Rp475 milyar kedalam kas Waskita.