Ebook Investment Planning edisi Kuartal I 2020 (edisi terbaru) sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan Teguh Hidayat.

Begini Peran Manajer Investasi (MI) dalam Skandal Jiwasraya

Pada hari Rabu, 24 Juni 2020, terkait Kasus gagal bayar Jiwasraya, Kejaksaan Agung menetapkan status tersangka terhadap 13 perusahaan manajer investasi (MI), plus satu orang pejabat di lingkungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ke-13 MI ini diduga telah bekerja sama dengan manajemen Jiwasraya untuk membuat produk reksadana khusus, dimana dana yang disetor oleh Jiwasraya ke dalam reksadana tersebut ujung-ujungnya tetap dibelikan saham-saham gorengan. Sedangkan satu orang pejabat OJK diatas diduga mengetahui praktek kongkalikong diatas, namun membiarkannya. Sebelumnya, Kejagung sendiri sudah menetapkan status tersangka kepada 3 orang mantan direksi Jiwasraya, 1 orang pihak luar, dan 2 orang pemilik sejumlah perusahaan Tbk, yang selama ini sudah sangat dikenal sebagai ‘bandar saham’ di bursa.

‘Second Wave Corona’ Tidak Akan Terjadi, Ini Alasannya

Salah satu isu yang diwaspadai investor terkait arah pergerakan pasar kedepan, adalah kemungkinan terjadinya coronavirus second wave, atau gelombang kedua penyebaran virus corona, yang bisa jadi lebih mematikan/memakan lebih banyak korban dibanding gelombang pertama yang terjadi sejak awal Maret lalu. Sebab kalau berkaca pada pandemi spanish flu yang terkenal di tahun 1918 – 1919, yang diperkirakan menelan korban jiwa sekitar 17 – 50 juta penduduk di seluruh dunia, maka pandeminya ketika itu juga terjadi dalam tiga gelombang berbeda, dimana yang paling mematikan adalah gelombang kedua. However, penulis termasuk yang beranggapan bahwa untuk pandemi corona tahun ini, maka second wave itu tidak akan terjadi. Why?

Seminar Value Investing Advanced, Jakarta 19 Juli 2020

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 19 Juli 2020. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar/resesi ekonomi, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Seminar Value Investing, Jakarta, 18 Juli 2020

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang’ di Jakarta, Sabtu 18 Juli 2020. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, beberapa tips dan trik dalam berinvestasi, hingga cara menabung saham untuk simpanan jangka panjang. Berikut materi selengkapnya.

Ilustrasi value investing

Membedah Prospek Bank BRI di Tahun Pandemi, Part 2

Pada ulasan sebelumnya tentang Bank BRI, kesimpulannya adalah bahwa kita tidak perlu khawatir bahwa BBRI akan bangkrut atau semacamnya, itu tidak akan terjadi bahkan meski kinerja perusahaan turun karena faktor pandemi Covid-19, sehingga sahamnya tetap layak untuk investasi jangka panjang. Meski demikian kalau kita pertimbangkan lagi faktor-faktornya, maka sekarang-sekarang ini mungkin masih belum waktunya untuk masuk, dan penjelasannya akan dibahas disini. Here we go.

Analisa Pemulihan Ekonomi oleh Jay Powell, Part 2

Scott Pelley (wartawan): Bahaya apa yang mengancam dibalik kebijakan anggaran oleh pemerintah pusat, dan pemerintah negara bagian?

Jerome 'Jay' Powell: Pemerintah akan menghadapi penurunan penerimaan pajak. Kemudian ada juga penurunan dari penerimaan non pajak seperti biaya transit bandara, dan semacamnya. Jadi tidak hanya rakyat, namun pemerintah juga akan kesulitan, sedangkan disisi lain mereka tetap harus menyediakan layanan publik, seperti layanan kependudukan, pemadam kebakaran, polisi, dll. Inilah alasan kami memberikan pinjaman, agar mereka juga bisa melewati masa-masa sulit ini.

Proyeksi Ekonomi Amerika oleh Jay Powell, Chairman Federal Reserve

Scott Pelley (Wartawan): Kapan ekonomi akan pulih?

Jerome 'Jay' Powell: Itu akan bergantung pada perkembangan terkait pandemi coronavirus. Semakin cepat virusnya terkendali, maka semakin cepat pula bisnis akan kembali berjalan, dan orang-orang bisa kembali makan di restoran, pergi travelling, naik pesawat terbang, dan seterusnya. Ketika itu terjadi, maka ekonomi akan pulih.

Peluang Multibagger di Saham yang Terdampak Covid-19

Dalam beberapa waktu terakhir, anda mungkin banyak membaca berita bahwa perusahaan Tbk melakukan PHK karyawan, kegiatan operasionalnya berhenti, hingga pendapatannya turun karena imbas dari pandemi Coronavirus atau Covid-19. Contohnya pada link berikut, dimana di beritanya ditulis penjualan PT Gudang Garam, Tbk (GGRM) turun karena penurunan daya beli masyarakat, karena imbas dari Covid. Nah, pertanyaannya, dari mana pihak penulis berita memperoleh informasi tersebut? Kemudian apakah kita sebagai investor juga bisa memperoleh sumber informasi yang sama, tidak hanya untuk GGRM tapi juga untuk semua emiten lainnya di BEI?

Tips & Strategi Investasi Saham, Modal 10 – 20 Juta

Seiring dengan semakin meleknya masyarakat dengan investasi di pasar saham, dan ditambah banyaknya peluang investasi yang timbul dari penurunan harga saham itu sendiri, maka sekarang ini ada banyak investor pendatang baru di bursa, dengan modal awal yang bervariasi, mulai dari beberapa juta Rupiah, hingga milyaran. Namun jika diambil rata-ratanya, maka investor pemula biasanya menyetor modal awal dikisaran belasan hingga puluhan juta Rupiah.

Begini Dampak Akuisisi Pinehill Terhadap Masa Depan Indofood CBP (ICBP)

Pada tanggal 22 Mei 2020 kemarin, anak usaha Grup Salim, PT Indofood Consumer Brand Products, Tbk (ICBP), mengumumkan bahwa perusahaan akan mengakuisisi Pinehill Company Ltd, sebuah perusahaan yang juga dimiliki oleh Grup Salim, yang bergerak di produksi dan pemasaran mi instan merk ‘Indomie’ di beberapa negara yakni Arab Saudi, Nigeria, Mesir, Turki, Serbia, Ghana, Maroko, dan Kenya. Jadi dengan akuisisi ini, maka ICBP akan menjadi perusahaan skala internasional, dengan potensi pasar lebih dari 1 milyar penduduk termasuk Indonesia. Tapi masalahnya, dengan harga akuisisi yang tampak sangat-sangat tinggi yakni $3 milyar, dimana sebagian besar diantaranya diambil dari utang, maka ICBP dalam hal ini tampak dirugikan karena harus menanggung beban utang yang sangat besar. Tapi benarkah demikian? Simak analisa lengkapnya disini.

Membedah Prospek Bank BRI di Tahun Pandemi

Bank BRI (BBRI) melaporkan laba bersih Rp8.2 trilyun sepanjang Kuartal I 2020, cenderung stagnan dibanding periode yang sama tahun 2019 yang juga sebesar Rp8.2 trilyun, namun ini masih lebih baik dibanding kinerja emiten lainnya yang rata-rata mulai turun di awal tahun 2020 ini. Meski demikian, anda sendiri mungkin sudah mengetahui, apa isu terbesar yang menimpa saham-saham perbankan, yakni: Bagaimana kinerja mereka di Kuartal II, III, dan seterusnya? Sebab kita tahu bahwa ketika ekonomi melambat akibat Covid-19, maka biasanya yang bakal kena duluan adalah lembaga-lembaga keuangan termasuk perbankan, ditambah lagi adanya kebijakan pemerintah yang mengharuskan bank-bank untuk memberikan relaksasi kredit kepada para debiturnya, dimana itu sekilas merugikan para bank itu sendiri. Lalu apa pula itu bank jangkar??

Benarkah W. Buffett Jual Saham-Saham Perbankan? Ada Hubungannya dengan Penurunan BBRI dkk?

Pada hari Rabu, 13 Mei, muncul berita di Barrons.com yang menyebutkan bahwa Berkshire Hathaway (BRK) telah menjual saham US Bancorp (USB), salah satu bank terbesar di Amerika Serikat (AS), senilai setidaknya $16.3 juta. Dengan penjualan ini, BRK masih memegang saham USB, namun persentase kepemilikannya berkurang dari tadinya 10% sekian menjadi tinggal 9% sekian. Berdasarkan peraturan dari SEC (security and exchange commission, semacam OJK-nya AS), jika suatu individu/institusi memegang saham perusahaan tertentu sebanyak setidaknya 10% dari jumlah saham beredar, maka kalau institusi ini menambah atau mengurangi kepemilikannya di perusahaan itu tadi, mereka harus melaporkannya ke SEC. Tapi berhubung BRK sekarang pegang USB kurang dari 10% saham beredar, maka kalau besok-besok Warren Buffett (WB) hendak jual habis USB ini, ia tidak perlu melapor apa-apa lagi ke SEC.

Modernland Realty (MDLN): Saham Calon Multibagger? Atau Justru Gocap Forever?

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan bagus, ‘Pak Teguh, dalam kondisi krisis dan pasar saham jatuh seperti sekarang memang ada banyak sekali saham-saham super duper murah, yang berpeluang naik hingga ratusan persen (multibagger) ketika nanti krisisnya sudah berlalu. Tapi masalahnya, ketika terjadi krisis maka kinerja perusahaan akan turun/merugi, dan jika krisisnya sangat buruk maka bisa saja perusahaan tertentu justru akan bangkrut bukan? Sehingga sahamnya, meski memang sangat murah, tapi ya gak naik lagi karena perusahaannya keburu kolaps. Nah, kalau gitu bagaimana pak? Intinya, adakah cara agar kita bisa membedakan perusahaan mana yang akan bangkit pasca krisis, dan mana yang justru akan mati?

Alasan Utama Kenapa W. Buffett Terus Menjual Saham, dan Menambah Cash

Dua hari lalu, pada tanggal 2 Mei 2020, Berkshire Hathaway (BRK) menggelar Annual Meeting untuk tahun 2020, dan di waktu yang sama perusahaan merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2020, dimana hasilnya cukup mengejutkan: BRK mencatat rugi bersih $49.7 milyar, yang merupakan rekor kerugian terbesar yang pernah dibukukan perusahaan sejak diambil alih Warren Buffett (WB) pada tahun 1965, dimana sebagian besar kerugian tersebut diakibatkan oleh penurunan nilai investasinya pada saham-saham di Bursa Amerika yakni dari $248.0 milyar pada akhir tahun 2019, menjadi hanya $180.8 milyar per 31 Maret 2020. Dan tidak hanya itu, posisi kas dan setara kas BRK juga kembali meningkat tajam ke level $137.3 milyar. Sehingga alih-alih belanja ketika terjadi market crash pada Maret 2020, WB justru jualan. Pertanyaannya, mengapa?

Cara Cepat Analisa Fundamental Saham Perbankan

Long weekend, waktunya belajar analisis fundamental, kali ini dengan tema cara membaca laporan keuangan emiten perbankan. Semoga bermanfaat!

Ebook Investment Planning, Kuartal I 2020

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2020. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Akankah IHSG Indonesia Bernasib Seperti Nikkei Jepang?

Beberapa waktu lalu, penulis menerima pertanyaan menarik, ‘Saya baru tahu kalau indeks Nikkei 225 di Jepang pernah naik sampai 38,900 sekian pada tahun 1989, kemudian turun lagi, dan sampai hari ini tidak pernah balik lagi ke level tertingginya tersebut (saat ini Nikkei berada di posisi 19,000-an), padahal sekarang ini sudah lewat lebih dari 30 tahun sejak tahun 1989 tersebut. Nah, bukankah hal ini mematahkan mitos bahwa indeks saham pada akhirnya akan terus naik dalam jangka panjang? Karena 30 tahun jelas bukan waktu yang sebentar. Dan apakah yang dialami Nikkei juga bisa terjadi pada IHSG? Jangan-jangan setelah IHSG mencapai posisi tertingginya di 6,600-an pada awal tahun 2018 lalu, maka kesininya dia akan turun terus, dan penurunan selama dua tahunan terakhir ini barulah awal dari trend penurunan terus menerus hingga entah sampai kapan?’

Seminar: Berburu Saham ‘Mutiara Terpendam’

Bagi anda yang sudah membaca blog ini sejak lama, anda mungkin masih ingat kalau penulis sejak tahun 2010 lalu sering menyebut istilah saham ‘mutiara terpendam’, yakni saham yang berpeluang naik hingga ratusan persen dalam waktu yang relatif singkat (disebut juga saham multibagger). Dan meski setiap tahun selalu ada saja saham-saham seperti itu, namun dalam kondisi pasar yang normal maka jumlahnya hanya sedikit, sehingga sulit untuk ditemukan. Tapi ketika terjadi krisis dan bursa saham jatuh, maka saham mutiara terpendam ini jumlahnya akan jauh lebih banyak dibanding biasanya, sehingga tentu saja sayang jika dilewatkan.

Begini Dampak Covid-19 Terhadap Dunia Usaha

Dalam beberapa waktu terakhir, penulis meminta sharing informasi dari teman-teman pengusaha, dan pekerja profesional, tentang kondisi di perusahaan/tempat usaha mereka masing-masing, apakah juga terdampak oleh Covid-19, dan seperti apa dampaknya. Informasi ini kami perlukan untuk mempelajari kondisi riil di lapangan, untuk membantu menganalisis arah pasar ke depannya. Dan berikut adalah beberapa ‘testimoni’ yang penulis kumpulkan.

Crisis Protocol, Part 5: Kapan Kita Belanja Saham?

Di tulisan sebelumnya (crisis protocol, part 4), penulis menyampaikan bahwa meski setiap kali terjadi krisis dan market crash, orang-orang akan kembali menyebut istilah cash is king, tapi pada titik tertentu, menjual saham anda untuk memperoleh cash tersebut bisa jadi merupakan kesalahan terbesar yang bisa anda lakukan. Sehingga kalau posisi anda sudah pegang saham sebelum pasar jatuh, maka anda tentunya bakal panik ketika IHSG kemudian anjlok, apalagi jika posisi cash juga sudah nol. Namun pada titik kondisi inilah, jika kita tidak tahan dan akhirnya menjual saham yang dipegang, maka itu seperti kita memberikan promo ‘beli satu lot gratis satu lot’ kepada orang lain, secara sukarela.

Strategi Crisis Protocol Ketika Bursa Anjlok, Part 4

Berikutnya, ketika krisis terjadi, maka siapapun akan rugi, dan itu normal, sehingga kita harus bisa melihat jauh kedepan. Ini juga mungkin sulit dipahami oleh temen-temen pemula, karena bukannya kalau investor saham yang masih pegang cash justru akan untung besar karena bisa belanja saham-saham bagus pada harga super diskon? Nah, dalam hal ini kita perlu sepakati dulu definisi ‘krisis’ disini: Kalau IHSG hanya turun 10 – 20% dari puncaknya, dan itu karena ada sentimen negatif sesaat yang tidak berdampak pada ekonomi, atau memang karena pasar sudah naik tinggi sebelumnya, maka itu bukan krisis, melainkan hanya koreksi pasar biasa yang cukup sering terjadi, biasanya antara 1 atau 2 tahun sekali. Dan pada kondisi ini, betul bahwa investor yang pegang cash akan cuan besar.

Strategi Crisis Protocol Ketika Bursa Anjlok, Part 3

Okay, sekarang kita ke bagian crisis protocol ketika krisis itu terjadi. Dan penulis sebelumnya mohon maaf karena baru posting tulisannya sekarang, karena memang sengaja saya posting pas weekend agar anda bisa konsen bacanya tanpa sedikit-sedikit ngeliat naik turunnya harga saham. Sebab dalam semingguan terakhir ini kita berada dalam kondisi yang terakhir kali terjadi Oktober 2008 lalu, atau sebulan setelah Lehman Brothers dinyatakan bangkrut, dimana saham-saham terus mengalami autoreject bawah (ARB), nyaris setiap hari.

Strategi 'Crisis Protocol', Ketika Bursa Saham Anjlok, Part 2

Okay, lanjut, berikutnya soal utang. Bagi anda yang sudah membaca blog ini sejak lama, anda mungkin hafal kalau penulis sangat anti utang, tidak hanya di saham tapi juga di kehidupan sehari-hari, dan penulis juga rajin mengingatkan ke temen-temen investor agar jangan pernah beli saham pakai margin. Salah satunya melalui tulisan ini, yang diposting pada April 2018 lalu.

Strategi ‘Crisis Protocol’, Ketika Bursa Saham Anjlok

Menurut Cambridge English Dictionary, crisis, atau krisis, adalah periode dimana terjadi kesulitan, masalah, dan/atau bahaya besar. Krisis adalah juga periode dimana seseorang atau suatu organisasi harus segera membuat keputusan yang bisa jadi sangat penting/krusial. Sebab, periode krisis adalah periode yang bisa jadi merupakan titik balik (turning point) dari suatu kondisi dan situasi yang sudah terjadi selama beberapa waktu sebelumnya.

Anjloknya Dow Jones, Wabah Coronavirus, dan Dampaknya Terhadap IHSG

Minggu lalu, tepatnya hari Senin 20 Februari, Pemerintah Korea Selatan mengumumkan keadaan darurat setelah warganya yang positif Covid-19 bertambah dua kali lipat, dari 51 menjadi 104 pasien, hanya dalam semalam. Ini adalah kali pertama sebuah negara, diluar China, memberlakukan keadaan darurat terkait merebaknya kasus Covid-19/Coronavirus. Hanya selang tiga hari kemudian, giliran Pemerintah Italia menghentikan festival di Venice, membatalkan banyak kegiatan termasuk sejumlah pertandingan sepakbola Serie A, hingga memerintahkan warga di sejumlah kota untuk tidak keluar rumah, setelah ditemukan lebih dari seratus kasus Covid, tiga pasien diantaranya meninggal dunia.

Unilever Indonesia

Sejak dulu, setiap kali pasar saham mengalami periode koreksi/IHSG turun signifikan, maka selalu ada saja beberapa saham yang seperti tidak bergeming alias tidak ikut turun, atau ikut turun tapi penurunannya sedikit saja. Nah, di masa lalu, saham yang tidak ikut turun tersebut salah satunya Unilever Indonesia (UNVR), sehingga UNVR kemudian memperoleh reputasi sebagai safe haven, alias salah satu saham yang dianggap paling aman di BEI. However, dalam beberapa waktu terakhir, UNVR justru menjadi salah satu saham yang turun paling signifikan dalam periode bear market ini, dimana ketika analisa ini ditulis, UNVR berada di posisi 7,300, alias drop 13.1% secara YTD, dan totalnya sudah anjlok 26.8% dalam setahun terakhir. Jadi benarkah UNVR ini aman?

Meraup Profit Permanen dari Saham

Untuk pertama kalinya sejak tahun 2011, pasar saham Indonesia menjalani periode awal tahun dengan kurang mulus, dimana hingga 14 Februari kemarin, IHSG ditutup turun 6.9% secara year to date (pada tahun 2011, IHSG juga turun 7.9% pada periode waktu yang sama). Ada banyak faktor yang menyebabkan penurunan tersebut, mulai dari kelanjutan kasus Jiwasraya yang bikin pasar sepi transaksi, kasus saham gorengan yang merembet ke gagal bayar sejumlah reksadana, hingga cerita Coronavirus. However, disini kita tidak akan membahas itu semua, melainkan seperti biasa pertanyaannya adalah, adakah peluang yang bisa kita ambil dari kejatuhan bursa kali ini?

Rekaman Seminar Terbaru – Tahun 2020

Dear investor, penulis pada bulan Januari dan awal Februari 2020 kemarin menyelenggarakan kelas value investing di Surabaya, dan Jakarta, dan Alhamdulillah berjalan lancar. Untuk materi yang disampaikan sendiri sebenarnya kurang lebih masih sama dengan seminar-seminar sebelumnya, namun ada beberapa update materi yang disesuaikan dengan kondisi pasar saat ini, dan demikian pula ada perbedaan pada contoh-contoh saham yang dibahas.

Penulis bersama temen-temen peserta kelas tanggal 2 Februari 2020

PP Properti: Prospek Cerah, Tapi..

Bagi penulis, PT PP Properti, Tbk (PPRO), merupakan salah satu saham yang sukses menghasilkan profit jumbo di masa lalu, tepatnya di tahun 2015 lalu ketika penulis melihat bahwa sahamnya cukup murah pada PBV 0.9 kali (harga 127, sebelum stocksplit), sedangkan kinerja perusahaan terbilang bagus, prospek kedepannya bagus, sahamnya likuid, dan perusahaan punya keunggulan sebagai bagian dari PT Pembangunan Perumahan, Tbk (PTPP), salah satu perusahaan konstruksi terintegrasi terbesar dan termapan di Indonesia. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Untuk Pasar Modal Indonesia, Yang Lebih Baik

Selasa kemarin, 28 Januari, penulis memenuhi undangan acara rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI, DPR RI, di Gedung DPR, Jakarta, untuk membahas Kasus Jiwasraya. Rapat tersebut dihadiri oleh tiga narasumber, dua dari industri asuransi, dan satu (penulis) dari pasar modal. Kehadiran penulis diperlukan karena temen-temen dari DPR sudah mendengar sebelumnya bahwa Jiwasraya mengalami gagal bayar karena nyangkut di ‘saham gorengan’. Sehingga mereka memerlukan penjelasan, apa itu saham gorengan? Dan bagaimana persisnya hubungan kasus Jiwasraya ini dengan investasi di pasar modal?

Asal Usul Saham Gorengan

Suatu hari di bulan Agustus 2010, sebuah perusahaan yang terdaftar di Singapura (tapi pemiliknya orang Indonesia) dengan nama Ramba Energy Ltd (Ramba), mengakuisisi 51% saham PT Sugih Energy, Tbk (SUGI), sebuah perusahaan kecil penyedia jasa industri migas di Indonesia yang secara teknis sudah bangkrut karena tidak lagi beroperasi, dengan nilai $1 juta saja. Selang setahun kemudian, tepatnya pada 27 Desember 2011, Ramba mengakuisisi 80.4% saham PT Hexindo Gemilang Jaya, pemilik 100% kepemilikan di Blok Lemang, sebuah ladang minyak di Provinsi Jambi. Namun pada tanggal yang sama, tepatnya persis sesaat sebelum Hexindo diakuisisi oleh Ramba, Hexindo melepas 49% kepemilikannya di Blok Lemang ke sebuah perusahaan dengan nama Eastwin Global Investment, sebuah perusahaan yang terdaftar di British Virgin Island, senilai $1.6 juta. Sehingga dengan demikian, Ramba, melalui Hexindo, hanya memegang 41% kepemilikan di Blok Lemang (80.4% x 51% = 41%).

Bank BJB (BJBR), dan Hubungannya Dengan Jiwasraya

Saham Bank BJB (BJBR), seperti yang kita ketahui, adalah satu dari sejumlah ‘saham gorengan’ yang disebut-sebut dipegang dalam jumlah besar oleh Jiwasraya dan Asabri. Dan seperti halnya saham-saham lainnya yang juga dipegang oleh kedua institusi tersebut, yang ramai-ramai turun setelah kasusnya mencuat ke publik, maka BJBR juga sudah turun sangat signifikan jika dihitung dari posisi tertingginya yakni 3,390, akhir tahun 2016 lalu, hingga sekarang sudah di level 1,010. Menariknya, berbeda dengan katakanlah Indofarma (INAF), Semen Baturaja (SMBR), apalagi Hanson International (MYRX), atau Trada Alam Minera (TRAM), maka fundamental BJBR tampak not too bad, dan yang paling menarik adalah dividennya, yang tahun lalu mencapai Rp89 per saham. Sehingga pada harga saham 1,010, yield-nya mencapai hampir 9%. Time to buy?

 

Setelah Jiwasraya & Asabri, Siapa Lagi?

Masih dari acara diskusi yang dihadari penulis sebagai narasumber di Kantor Staf Presiden, tanggal 7 Januari ini, ada pertanyaan seperti ini: ‘Dalam kasus Jiwasraya & Asabri, disebutkan ada korupsi senilai sekian trilyun. Dimana korupsinya? Dan siapa pelakunya?’ Penulis jawab, ‘Kita tahu bahwa penyebab Jiwasraya gagal bayar adalah karena kesulitan likuiditas, karena dana investasi milik perusahaan nyangkut di saham-saham berkualitas rendah. Dalam hal manajer investasi (MI) di Jiwasraya membeli saham-saham itu karena tidak tahu/tidak bisa menganalisa bahwa perusahaannya memang jelek, maka memang tidak ada unsur korupsi, dan MI itu bisa dihukum sebatas karena kelalaian’.

Daftar Lengkap Saham-Saham yang Dibeli Asabri

Minggu lalu, tepatnya hari Selasa, 7 Januari, penulis memenuhi undangan dari Kantor Staf Presiden (KSP) di Istana Negara, Jakarta, untuk menjadi narasumber dalam diskusi membahas perkembangan pasar saham, termasuk soal kasus Jiwasraya. Diskusi tersebut dihadiri oleh oleh para deputi dan staf ahli presiden, dan penulis adalah satu dari tiga narsum yang hadir. Nah, ketika kita membahas soal skema penyelamatan Jiwasraya, maka penulis katakan bahwa Jiwasraya bisa diberikan bantuan likuiditas oleh BUMN keuangan yang lain, entah itu BUMN bank, asuransi, dana pensiun dst, dan dengan demikian Jiwasraya akan bisa melunasi kewajibannya kepada para nasabah pemilik dana.

Prospek Unicharm Indonesia u/ Investasi Jangka Panjang

Dari sekian banyak IPO di tahun 2019 kemarin, IPO PT Uni-Charm Indonesia, Tbk (UCID) adalah yang paling menarik perhatian investor karena setidaknya dua hal: 1. Perusahaan bergerak di bidang produksi barang kebutuhan sehari-hari (pembalut wanita dll), dengan merk produk yang cukup populer (Charm), dan 2. Nilai IPO-nya paling besar yakni Rp1.2 trilyun, sedangkan UCID sendiri termasuk perusahaan besar dengan aset Rp7.3 trilyun sebelum IPO. Nah, tapi bagaimana dengan kinerja perusahaan itu sendiri? Apakah benar bahwa UCID ini, kalau melihat model bisnisnya, maka sahamnya layak untuk investasi jangka panjang?

Kenapa Jiwasraya Beli Saham Gorengan? Dan Siapa Itu Predator Pasar Modal?

Dalam kamus Investopedia, tidak dikenal istilah ‘saham gorengan’. Namun berdasarkan definisi bahwa saham gorengan adalah saham yang harganya dinaik turunkan oleh bandar, maka hal itu dikenal dengan istilah pump and dump, dimana mekanismenya adalah sebagai berikut:  Suatu individu atau perusahaan tertentu, sebut saja A, memiliki saham X dalam jumlah besar (A ini bisa merupakan pemegang saham mayoritas/pemilik dari emiten X tersebut, tapi bisa juga pihak lain). A kemudian menyebar rumor/sentimen positif melalui Grup Whatsapp dll bahwa prospek X bagus bla bla bla, dengan harapan investor ritel akan tertarik untuk membeli sahamnya, dan di waktu yang bersamaan memperjual belikan saham X miliknya sendiri di market, dimana setiap transaksi dilakukan pada harga yang lebih tinggi dari transaksi sebelumnya (pump).