Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Menjual Saham Legacy/Saham yang Tadinya akan di-Hold Selamanya, Karena Melihat Bahwa IHSG Akan Turun

Gambar
Pagi ini penulis dapat pertanyaan bagus, sebagai berikut: Dalam beberapa kesempatan Bapak mengemukakan tentang legacy stock portfolio dimana kita mengakumulasi saham2 wonderful company and hold tanpa mempedulikan fluktuasi pasar. Pertanyaan saya, apakah strategi  siapkan payung saat langit mendung  ini tidak berlaku untuk legacy stock portfolio atau sebaiknya tetap diberlakukan terutama untuk krisis besar seperti tahun ini? Dalam hal ini saya agak dilematis dengan masing-masing pilihan. Kalau ini tidak diberlakukan, tidakkah kita akan rugi besar atau paling tidak kehilangan kesempatan untuk mempertebal legacy stock portofolio kita dengan menjual di harga tinggi lalu membeli kembali di harga bawah. Apalagi kalau kita telah mampu memperkirakannya sebelum market crash. Namun disisi lain kalau kita melakukannya lalu apa bedanya dengan portofolio normal kita. *** Video Seminar Value Investing,  basic and advanced, bisa  diperoleh disini . Alumni bisa bergabung dengan layanan webinar (jadwal

Penting! Perubahan Kontak Whatsapp

Dear investor, pada hari Senin 16 November 2020, sejak sekitar pukul 14.00 WIB, salah seorang admin kami atas nama Ibu Yanti, dengan nomor telp/whatsapp 081314822827, mengalami masalah teknis dimana aplikasi whatsapp-nya error sehingga tidak bisa menerima dan mengirim pesan. Dan setelah dibawa ke Grapari, disimpulkan bahwa nomornya tidak bisa diselamatkan, sehingga terpaksa diganti. Karena itulah, bagi anda yang hendak mengajukan pertanyaan atau permintaan informasi   terkait produk-produk edukasi dan analisa saham yang kami tawarkan, seperti webinar ,  video seminar , video seminar turnaround , video seminar mutiara terpendam ,  ebook market planning , dan ebook investment planning , maka mulai saat ini, Ibu Yanti menggunakan nomor telp/Whatsapp 081283223379. Sedangkan admin kami yang satunya lagi yaitu Ibu Nury, dengan nomor telp/Whatsapp 081220445205, bisa tetap anda hubungi seperti biasa. Demikian juga anda bisa langsung bertanya tentang produk-produk diatas ke penulis (Teguh Hiday

Peluang Mutiara Terpendam di Saham Batubara

Gambar
Dalam beberapa waktu terakhir, anda mungkin sudah membaca berita bahwa Singapura ‘resmi’ jatuh ke lembah resesi, dimana pemberitaan itu muncul setelah Negeri Singa tersebut melaporkan pertumbuhan ekonomi minus 12.6% secara year on year pada Kuartal II (Q2) 2020, terburuk sejak Singapura merdeka pada tahun 1965. Namun ternyata, berita tersebut tidak membuat bursa saham disana drop, dimana Strait Times Index (STI) tetap bertahan di level 2,600-an, dan demikian pula bursa-bursa lainnya di Asia dan juga seluruh dunia seperti tidak terpengaruh oleh bad news diatas, padahal Singapura adalah salah satu negara dengan industri keuangan paling maju di dunia (sehingga berita bahwa Singapura resesi akan menjadi perhatian semua fund manager global). Pertanyaannya, bagaimana bisa? *** Bagi anda yang baru belajar investasi saham/value investing, maka bisa peroleh video seminar terbaru disini . Info whatsapp 0813-1482-2827 (Nury). Ebook Market Planning yang berisi rekomendasi saham dan an

Mengenal ‘Opportunity Cost’ Dalam Investasi Saham

Gambar
Pada Berkshire Hathaway (BRK) Annual Meeting 2017, Charlie Munger, vice-chairman di BRK, ditanya oleh salah seorang peserta yang hadir: Apa kesalahan terburuk yang pernah dilakukan BRK dalam satu atau dua dekade terakhir? Nah, penulis sendiri tadinya mengira bahwa Mr. Charlie akan menjawab, kami pernah membeli saham/perusahaan A, dan hasilnya rugi besar. Karena memang itulah kesalahan yang umum dilakukan seorang investor bukan? Yakni membeli saham tertentu, lalu di kemudian hari harganya/nilai perusahaan turun, sehingga ia kemudian kehilangan sejumlah uang.

Seminar ‘Peluang Multibagger dari Saham Turnaround'

Gambar
Dear investor, memasuki bulan-bulan akhir 2020, kita dihadapkan pada beberapa fakta sebagai berikut: Pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski masih minus di Q3, tapi sudah membaik dibanding dibanding Q2, dan hal yang sama terjadi pada kinerja para emiten. Kemudian kita juga sudah semakin dekat dengan produksi dan distribusi vaksin corona, yang sejak awal disebut-sebut sebagai titik akhir dari pandemi. Nah, jadi apakah sekarang sudah waktunya kita membeli saham-saham turnaround, alias saham yang berpotensi profit 100% atau lebih (multibagger, atau penulis menyebutnya mutiara terpendam) ketika nanti kinerjanya membaik, lalu hold saja sampai misalnya tahun depan? Tapi bagaimana dengan jumlah kasus positif corona itu sendiri, yang sampai hari ini masih terus saja bertambah?? Dan kesemua pertanyaan tersebut akan kita jawab pada kesempatan seminar berikut. Kisi-kisi materi seminar 1. Memahami Kondisi Ekonomi  Bagaimana ekonomi kita sebelum pandemi? Fakta-fakta resesi tahun 2020 dibandingkan d

Matahari Dept. Store (LPPF)

Gambar
Bagi investor, selain harus bisa bertahan dan tetap calm di masa resesi, maka challenge  berikutnya adalah menemukan saham  turn-around, yakni saham dari perusahaan yang kinerjanya buruk/rugi karena efek resesi itu tadi, tapi harga sahamnya juga sudah kelewatan turunnya dan alhasil valuasinya menjadi amat-sangat-murah. Sehingga jika nanti resesinya berakhir/ekonomi membaik, dan kinerja perusahaan juga kembali membaik, maka sahamnya juga bisa naik banyak karena valuasinya yang terlalu murah itu tadi. Ilustrasi sederhana, katakanlah saham A, pada masa normal dan kinerjanya bagus, PBV-nya 2.0 kali. Tapi karena di tahun 2020 ini dia merugi, maka sahamnya juga terus saja turun hingga PBV-nya tinggal 0.4 kali.

Ebook Investment Planning Kuartal III 2020 - Sudah Terbit!

Gambar
Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat Ebook Investment Planning (EIP, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental  saham-saham pilihan , yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode  Kuartal III 2020 . Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Dampak Kenaikan Cukai Terhadap Saham Rokok

Gambar
Per awal November ini, dari empat emiten rokok di BEI, tiga diantaranya sudah merilis laporan keuangan, dan dua diantaranya masih membukukan kenaikan pendapatan. Mereka adalah PT Wismilak Inti Makmur (WIIM), dan PT Gudang Garam, Tbk (GGRM). Menariknya adalah, kedua perusahaan ini masih membukukan pertumbuhan kinerja ( albeit laba GGRM turun) ketika iklim usahanya dikhawatirkan sudah memburuk bahkan sejak sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Yup, kalau anda masih ingat, pada September 2019 lalu, Pemerintah memutuskan kenaikan cukai hingga 23% untuk tahun fiskal 2020, atau lebih tinggi dibanding biasanya yakni 10% per tahun, yang seketika menyebabkan saham-saham rokok bertumbangan.

Menghitung Nilai Wajar BRI Syariah Pasca Merger

Gambar
Setelah pada 13 Oktober lalu, Bank BRI Syariah (BRIS) mengumumkan secara resmi kepastian rencana merger-nya dengan Bank Syariah Mandiri (BSM), dan Bank BNI Syariah (BNIS), maka seminggu kemudian, pada 21 Oktober, perusahaan merilis informasi rancangan merger tersebut, yang menjelaskan tentang mekanisme penggabungan, siapa dapat apa, berapa jumlah saham baru yang akan diterbitkan, dan seterusnya. Dari informasi inilah, kita kemudian bisa dengan jelas menganalisa prospek BRIS pasca merger-nya nanti, dan berikut analisa selengkapnya.

Webinar Value Investing, Sabtu 19 Desember 2020

Gambar
Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan seminar online (webinar) investasi saham dengan tema Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang . Kelas webinar ini merupakan lanjutan dari kelas/video seminar Value Investing basic & Advanced yang diselenggarakan pada bulan Juli 2020 kemarin, dimana kita akan  diskusi dua arah & tanya jawab , serta me-review kembali materi yang sudah disampaikan di videonya. Jadi pada webinar ini, anda berkesempatan untuk mengajukan sejumlah pertanyaan terkait materi seminarnya untuk nantinya dijawab langsung oleh penulis sebagai pemateri. Selain itu anda juga bisa mengajukan pertanyaan, atau konsultasi terkait point-point berikut: Analisa serta prospek dari emiten/saham tertentu, tentunya dari sudut pandang fundamental dan value investing, Pengetahuan umum tentang investasi saham, dunia keuangan, hingga ekonomi, termasuk penjelasan lebih detail tentang istilah-istilah tertentu di dunia pasar

Bank BTN: Kinerja Kuartal III 2020 Membaik!

Gambar
Bank BTN (BBTN) hingga Kuartal III 2020 melaporkan laba bersih Rp1.1 trilyun, naik signifikan dibanding periode yang sama di tahun 2019 sebesar Rp801 milyar, dan menariknya itu terjadi ketika perusahaan masih membukukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) senilai Rp1.6 trilyun, dimana angka beban ini masih lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya (apa itu CKPN? Baca lagi penjelasannya disini ). Dengan kata lain, jika CKPN ini tidak ada, maka harusnya laba BBTN lebih besar lagi. Disisi lain, dengan PBV hanya 0.8 kali, maka sebagai saham bank BUMN dengan reputasi baik dan populer, maka BBTN praktis murah. An opportunity?

Link Net

Gambar
PT Link Net, Tbk (LINK) hingga Kuartal II 2020 kemarin melaporkan laba bersih Rp456 milyar, turun dibanding periode yang sama di tahun 2019 sebesar Rp527 milyar, namun laba tersebut mencerminkan ROE 21.1%, alias cukup besar, atau bahkan sangat besar jika dibandingkan dengan ROE dari emiten-emiten lainnya di Bursa Efek Indonesia, yang rata-rata drop karena efek resesi. Disisi lain, sebagai perusahaan penyedia layanan internet, maka prospek LINK memang justru semakin baik seiring dengan adanya trend work from home . Nah, tapi jika demikian, lalu kenapa sahamnya tetap turun signifikan (hampir 50%) sepanjang tahun 2020 ini? Dan kenapa pula beredar berita bahwa LINK ini hendak dijual oleh pemiliknya?

UU Cipta Kerja Disahkan, Saham Apa yang Diuntungkan?

Gambar
Awal tahun lalu, tepatnya pada tanggal 7 Februari 2020, Pemerintah secara resmi menyampaikan rancangan undang-undang (RUU) tentang Cipta Kerja kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) setebal 1,028 halaman (setelah paripurna, finalnya menjadi 905 halaman). Sesuai namanya, RUU ini, ketika nanti disahkan, bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia, dengan cara: 1. Mendorong peningkatan investasi, 2. Mengembangkan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), dan 3. Mendorong percepatan dan kelancaran investasi pemerintah. RUU ini kemudian dimasukkan dalam Program Legislasi Nasional Prioritas, untuk ditetapkan pada tahun 2020 ini juga.

Telkom

Gambar
Saham PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, atau PT Telkom (TLKM) menjadi pusat perhatian setelah pada bulan September kemarin terus turun hingga sempat menyentuh 2,540 secara intraday, yang merupakan posisi terendahnya dalam 5 tahun terakhir. Sehingga banyak yang kemudian menyebut bahwa TLKM sekarang sudah murah, tapi benarkah demikian? Lalu bagaimana dengan rencana IPO anak usaha TLKM, PT Mitratel?

Penyebab Saham SOHO Naik Terus: Multibagger?

Gambar
Salah satu saham pendatang baru di bursa, PT Soho Global Health, Tbk (SOHO), belakangan menjadi pusat perhatian setelah  autoreject atas terus menerus, hingga harganya naik dari Rp1,820 ketika sahamnya melantai di bursa pada tanggal 8 September kemarin, hingga sempat menyentuh 16,300 pada Rabu, 23 September, alias melejit hampir 9 kali lipat hanya dalam waktu dua minggu! Dan hebatnya itu terjadi ketika IHSG, seperti yang kita ketahui, cenderung turun sepanjang September ini. Nah, jadi apakah SOHO ini memang bagus? Dan apa sebenarnya yang menyebabkan kenaikannya yang tidak wajar tersebut?

Kumpulan Video Webinar Value Investing

Gambar
Dear investor, pada hari Sabtu, 19 September kemarin, penulis menyelenggarakan kelas online untuk diskusi & tanya jawab seputar investasi saham, dan khususnya value investing. Dan Alhamdulillah kelasnya berjalan lancar selama total 2.5 jam, dan terutama penulis juga antusias karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bagus-bagus semua :D Nah, jadi agar teman-teman yang lain juga bisa memperoleh materi yang disampaikan, maka penulis sengaja merekam kelasnya, dan bisa anda tonton pada link berikut:

Bank Banten (BEKS) Prank!

Gambar
Pada Senin, 14 September kemarin, terkait rencana perusahaan untuk reverse stock dan right issue, Bank Banten (BEKS) merilis laporan dari Kantor Jasa Penilai (KJP) Maulana, Andesta, & Rekan, mengenai perhitungan nilai wajar dari 100% saham perusahaan, dimana perhitungannya menggunakan metode perbandingan perusahaan Tbk, dan discounted cashflow (DCF). Dan hasilnya, pihak KJP menyimpulkan bahwa nilai wajar dari saham BEKS adalah.. well.. Rp4,68 per saham, atau jika dibulatkan Rp5 per saham. Yup, anda tidak salah baca: Lima perak!

Indonesia di Masa Lalu, Hari Ini, dan 10 Tahun yang Akan Datang

Gambar
Ketika saya untuk pertama kalinya belajar tentang dunia keuangan, dan khususnya investasi saham pada tahun 2009 lalu, maka saya mendengar satu pepatah dari negeri China yang masih saya ingat sampai hari ini, ‘Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Dan waktu kedua terbaik untuk menanam pohon adalah sekarang.’ Sebagai investor saham itu sendiri, saya mengartikan pepatah itu sebagai, jika kita ingin sukses, maka kita harus mulai saat ini juga. Karena waktu yang sekarang ini akan dianggap sebagai ‘waktu terbaik untuk berinvestasi’ pada 20 tahun yang akan datang.

Prospek AISA Setelah Diakuisisi FKS Group

Gambar
Pada ulasan sebelumnya , kita sudah membahas bagaimana PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (AISA) hampir saja bangkrut karena ulah dari pemilik lamanya, dimana perusahaan kemudian harus membukukan defisiensi modal hingga Rp3.3 trilyun pada akhir tahun 2017. Namun setelah diambil alih oleh manajemen yang baru dan dilakukan perombakan besar-besaran, AISA ternyata mampu bertahan, termasuk sukses merestrukturisasi utang-utangnya, sehingga BEI kemudian mencabut suspensi sahamnya. Meski demikian, per Kuartal I 2020, AISA masih mencatat ekuitas negatif Rp1.3 trilyun, sehingga secara laporan keuangan, sahamnya masih worthless. Nah, jadi bagaimana rekomendasinya? Apakah buy? Atau kalau saya sudah pegang sejak tahun 2018 lalu, maka sell saja?

Prospek Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), Setelah Suspensinya Dibuka

Gambar
Setelah disuspensi selama dua tahun, persisnya sejak Juli 2018 lalu, maka pada hari Senin, 31 Agustus kemarin, Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membuka perdagangan saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (AISA). Dan sayangnya sahamnya tanpa ampun langsung turun, yakni dari harga 168 ketika disuspen hingga sekarang sudah 147, dan kemungkinan masih akan lanjut turun mengingat hingga Kuartal I 2020, perusahaan masih membukukan defisiensi modal, alias ekuitas negatif. Disisi lain, berdasarkan laporan dari Kantor Jasa Penilai Publik, Suwendho Rinaldy & Rekan, disebutkan bahwa nilai wajar dari 100% saham AISA adalah Rp559 milyar, atau jauh diatas market cap perusahaan di level Rp201 milyar (pada harga saham 147). Nah, jadi jika penilaian tersebut benar, bukankah ini peluang? Lalu jika saya sejak awal sudah pegang saham AISA ini sejak tahun 2017 – 2018 lalu, maka apakah sekarang sebaiknya saya hold saja, tambah posisi/beli lagi, atau justru cut loss ?

Prospek Global Mediacom (BMTR) Setelah ‘Diakuisisi’ Lo Kheng Hong

Gambar
Pada tanggal 11 Agustus lalu, PT Global Mediacom, Tbk (BMTR) melakukan private placement dengan menerbitkan 700 juta lembar saham baru pada harga pelaksanaan Rp200 per saham, sehingga perusahaan memperoleh tambahan modal Rp140 milyar, sedangkan jumlah saham beredarnya meningkat menjadi 16,035 juta lembar. Yang menarik adalah, anda tahu, siapa yang menyetor dana Rp140 milyar diatas? Yup, beliau adalah Pak Lo Kheng Hong, value investor legendaris yang sudah sangat terkenal di mata investor ritel. Menariknya lagi, LKH diketahui sudah mulai mengkoleksi saham BMTR sejak setidaknya awal Agustus 2020, dan dengan transaksi PP diatas maka LKH kemudian memegang setidaknya 767 juta saham BMTR, pada harga beli antara Rp199 – 204 per saham. Pertanyaannya, why??

Alasan Investasi Langsung di Saham Lebih Baik Dibanding Reksadana

Gambar
Sekitar lima atau sepuluh tahun lalu, kepada teman-teman investor pemula, penulis selalu menyarankan agar mereka mulai berinvestasi di reksadana terlebih dahulu, jadi jangan langsung masuk ke saham.  Sebab di reksadana, dana kita akan dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional. Namun melihat perkembangannya dalam tiga tahunan terakhir, kami sekarang menyarankan agar anda langsung invest di saham saja. Kenapa demikian? Berikut alasannya:

Special Report: Transaksi Repo Saham Jaya Bersama Indo (DUCK)?

Gambar
Pada hari Senin kemarin, 10 Agustus 2020, PT Jaya Bersama Indo, Tbk (DUCK) merilis keterbukaan informasi yang menyebutkan bahwa PT Asia Kuliner Sejahtera (AKS) , yang merupakan pemegang saham pengendali perusahaan, telah menjual saham DUCK sebanyak 24 juta lembar pada harga Rp440 per saham. Tidak ada penjelasan soal apa alasan penjualan tersebut, kecuali disebutkan bahwa itu terkait transaksi/kontrak repo. Dengan penjualan tersebut, AKS kini tinggal memegang 260 juta lembar saham DUCK, yang setara 20.3% saham beredar perusahaan.

Bagaimana Nasib Saham Saya Jika Sekuritasnya Ditutup?

Gambar
Beberapa waktu lalu, ketika ramai berita tentang kasus Financial Planner Jouska, penulis menerima pertanyaan sebagai berikut. Pak Teguh, saya kebetulan punya rekening di sekuritas yang terafiliasi dengan Jouska (Phillip Sekuritas), kira-kira kasus Jouska ini bisa berdampak pada sekuritasnya gak ya? Apakah dana saya akan aman-aman saja disitu?

Proyeksi IHSG Menjelang, dan Pasca Emiten Merilis Laporan Keuangan Kuartal II 2020

Gambar
Pada tanggal 14 Juli kemarin, PT Surya Esa Perkasa, Tbk (ESSA) menjadi emiten pertama yang merilis laporan keuangan (LK) periode Kuartal II atau Q2 2020. Dan hasilnya? Well, perusahaan mencatat rugi $6.8 juta, dibanding laba $4.2 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejak tahun 2014, ini adalah kali pertama ESSA membukukan kerugian, yang kemungkinan merupakan dampak dari pandemi Covid-19 karena pada Q1-nya, perusahaan masih mencatat laba $1.0 juta. Menariknya, keluarnya LK dengan hasil negatif ini tidak membuat sahamnya drop, dimana ketika analisa ini ditulis, saham ESSA tetap bertahan di 150 – 160, dan itu lebih tinggi dibanding posisi terendahnya pada 24 Maret lalu (yakni ketika IHSG drop sampai 3,900-an), di 118. Jadi apakah harga saham ESSA sekarang ini memang sudah price in dengan penurunan kinerjanya tersebut? Dan apakah analisa yang sama juga berlaku untuk saham-saham lainnya di BEI?

‘If It Costs You Your Peace, It’s Too Expensive!’

Gambar
Bulan lalu, persisnya pada tanggal 12 Juni 2020, seorang mahasiswa berusia 20 tahun bernama Alexander Kearns ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Napersville, Illionis, Amerika Serikat (AS). Kearns diketahui merupakan nasabah dari Robinhood , sebuah aplikasi trading saham yang menjadi booming di kalangan investor/trader milenial, setelah bursa saham AS itu sendiri mengalami fluktuasi yang amat sangat ekstrim setelah terjadinya pandemi Covid-19. Kearns memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah ia stress karena mengalami kerugian besar, hingga saldo di rekeningnya tercatat minus $730,166 (setara sekitar Rp10 milyar). Pada catatan yang ditemukan di komputer pribadinya, Kearns mengatakan, ‘Bagaimana mungkin seseorang berusia 20 tahun dan belum memiliki penghasilan, diberikan pinjaman hingga hampir 1 juta Dollar untuk melakukan trading?’

Prospek PT Sarimelati Kencana, Tbk (PZZA)

Gambar
PT Sarimelati Kencana, Tbk (PZZA), yang merupakan pemegang lisensi waralaba Pizza Hut di Indonesia, melaporkan laba bersih Rp6 milyar di Kuartal I 2020, turun signifikan dibanding Rp40 milyar di periode yang sama tahun 2019, dan diperkirakan bahwa laba bersih ini masih akan turun hingga akhir tahun nanti karena efek dari pandemi corona. Jadi bagaimana dengan prospek sahamnya? Dan benarkah perusahaan pemilik merk Pizza Hut itu sendiri di Amerika Serikat sana telah bangkrut? Simak ulasan lengkapnya disini, semoga bemanfaat.

Begini Peran Manajer Investasi (MI) dalam Skandal Jiwasraya

Gambar
Pada hari Rabu, 24 Juni 2020, terkait Kasus gagal bayar Jiwasraya , Kejaksaan Agung menetapkan status tersangka terhadap 13 perusahaan manajer investasi (MI), plus satu orang pejabat di lingkungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ke-13 MI ini diduga telah bekerja sama dengan manajemen Jiwasraya untuk membuat produk reksadana khusus, dimana dana yang disetor oleh Jiwasraya ke dalam reksadana tersebut ujung-ujungnya tetap dibelikan saham-saham gorengan . Sedangkan satu orang pejabat OJK diatas diduga mengetahui praktek kongkalikong diatas, namun membiarkannya. Sebelumnya, Kejagung sendiri sudah menetapkan status tersangka kepada 3 orang mantan direksi Jiwasraya, 1 orang pihak luar, dan 2 orang pemilik sejumlah perusahaan Tbk, yang selama ini sudah sangat dikenal sebagai ‘bandar saham’ di bursa.

‘Second Wave Corona’ Tidak Akan Terjadi, Ini Alasannya

Gambar
Salah satu isu yang diwaspadai investor terkait arah pergerakan pasar kedepan, adalah kemungkinan terjadinya coronavirus second wave, atau gelombang kedua penyebaran virus corona, yang bisa jadi lebih mematikan/memakan lebih banyak korban dibanding gelombang pertama yang terjadi sejak awal Maret lalu. Sebab kalau berkaca pada pandemi spanish flu yang terkenal di tahun 1918 – 1919, yang diperkirakan menelan korban jiwa sekitar 17 – 50 juta penduduk di seluruh dunia, maka pandeminya ketika itu juga terjadi dalam tiga gelombang berbeda, dimana yang paling mematikan adalah gelombang kedua. However , penulis termasuk yang beranggapan bahwa untuk pandemi corona tahun ini, maka second wave itu tidak akan terjadi. Why ?

Seminar Value Investing Advanced, Jakarta 19 Juli 2020

Gambar
Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘ Value Investing, Advanced Class ’, di Jakarta, hari Minggu 19 Juli 2020. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar/resesi ekonomi, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Seminar Value Investing, Jakarta, 18 Juli 2020

Gambar
Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema:  ‘Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang’  di Jakarta , Sabtu 18 Juli 2020. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, beberapa tips dan trik dalam berinvestasi, hingga cara menabung saham untuk simpanan jangka panjang. Berikut materi selengkapnya. Ilustrasi value investing

Membedah Prospek Bank BRI di Tahun Pandemi, Part 2

Gambar
Pada ulasan sebelumnya tentang Bank BRI, kesimpulannya adalah bahwa kita tidak perlu khawatir bahwa BBRI akan bangkrut atau semacamnya, itu tidak akan terjadi bahkan meski kinerja perusahaan turun karena faktor pandemi Covid-19, sehingga sahamnya tetap layak untuk investasi jangka panjang. Meski demikian kalau kita pertimbangkan lagi faktor-faktornya, maka sekarang-sekarang ini mungkin masih belum waktunya untuk masuk, dan penjelasannya akan dibahas disini. Here we go.

Analisa Pemulihan Ekonomi oleh Jay Powell, Part 2

Scott Pelley (wartawan): Bahaya apa yang mengancam dibalik kebijakan anggaran oleh pemerintah pusat, dan pemerintah negara bagian? Jerome 'Jay' Powell: Pemerintah akan menghadapi penurunan penerimaan pajak. Kemudian ada juga penurunan dari penerimaan non pajak seperti biaya transit bandara, dan semacamnya. Jadi tidak hanya rakyat, namun pemerintah juga akan kesulitan, sedangkan disisi lain mereka tetap harus menyediakan layanan publik, seperti layanan kependudukan, pemadam kebakaran, polisi, dll. Inilah alasan kami memberikan pinjaman, agar mereka juga bisa melewati masa-masa sulit ini.

Proyeksi Ekonomi Amerika oleh Jay Powell, Chairman Federal Reserve

Scott Pelley (Wartawan): Kapan ekonomi akan pulih? Jerome 'Jay' Powell: Itu akan bergantung pada perkembangan terkait pandemi coronavirus. Semakin cepat virusnya terkendali, maka semakin cepat pula bisnis akan kembali berjalan, dan orang-orang bisa kembali makan di restoran, pergi travelling, naik pesawat terbang, dan seterusnya. Ketika itu terjadi, maka ekonomi akan pulih.

Peluang Multibagger di Saham yang Terdampak Covid-19

Gambar
Dalam beberapa waktu terakhir, anda mungkin banyak membaca berita bahwa perusahaan Tbk melakukan PHK karyawan, kegiatan operasionalnya berhenti, hingga pendapatannya turun karena imbas dari pandemi Coronavirus atau Covid-19. Contohnya pada link berikut , dimana di beritanya ditulis penjualan PT Gudang Garam, Tbk (GGRM) turun karena penurunan daya beli masyarakat, karena imbas dari Covid. Nah, pertanyaannya, dari mana pihak penulis berita memperoleh informasi tersebut? Kemudian apakah kita sebagai investor juga bisa memperoleh sumber informasi yang sama, tidak hanya untuk GGRM tapi juga untuk semua emiten lainnya di BEI?

Tips & Strategi Investasi Saham, Modal 10 – 20 Juta

Gambar
Seiring dengan semakin meleknya masyarakat dengan investasi di pasar saham, dan ditambah banyaknya peluang investasi yang timbul dari penurunan harga saham itu sendiri, maka sekarang ini ada banyak investor pendatang baru di bursa, dengan modal awal yang bervariasi, mulai dari beberapa juta Rupiah, hingga milyaran. Namun jika diambil rata-ratanya, maka investor pemula biasanya menyetor modal awal dikisaran belasan hingga puluhan juta Rupiah.

Begini Dampak Akuisisi Pinehill Terhadap Masa Depan Indofood CBP (ICBP)

Gambar
Pada tanggal 22 Mei 2020 kemarin, anak usaha Grup Salim, PT Indofood Consumer Brand Products, Tbk (ICBP), mengumumkan bahwa perusahaan akan mengakuisisi Pinehill Company Ltd, sebuah perusahaan yang juga dimiliki oleh Grup Salim, yang bergerak di produksi dan pemasaran mi instan merk ‘Indomie’ di beberapa negara yakni Arab Saudi, Nigeria, Mesir, Turki, Serbia, Ghana, Maroko, dan Kenya. Jadi dengan akuisisi ini, maka ICBP akan menjadi perusahaan skala internasional, dengan potensi pasar lebih dari 1 milyar penduduk termasuk Indonesia. Tapi masalahnya, dengan harga akuisisi yang tampak sangat-sangat tinggi yakni $3 milyar, dimana sebagian besar diantaranya diambil dari utang, maka ICBP dalam hal ini tampak dirugikan karena harus menanggung beban utang yang sangat besar. Tapi benarkah demikian? Simak analisa lengkapnya disini.

Membedah Prospek Bank BRI di Tahun Pandemi

Gambar
Bank BRI (BBRI) melaporkan laba bersih Rp8.2 trilyun sepanjang Kuartal I 2020, cenderung stagnan dibanding periode yang sama tahun 2019 yang juga sebesar Rp8.2 trilyun, namun ini masih lebih baik dibanding kinerja emiten lainnya yang rata-rata mulai turun di awal tahun 2020 ini. Meski demikian, anda sendiri mungkin sudah mengetahui, apa isu terbesar yang menimpa saham-saham perbankan, yakni: Bagaimana kinerja mereka di Kuartal II, III, dan seterusnya? Sebab kita tahu bahwa ketika ekonomi melambat akibat Covid-19, maka biasanya yang bakal kena duluan adalah lembaga-lembaga keuangan termasuk perbankan, ditambah lagi adanya kebijakan pemerintah yang mengharuskan bank-bank untuk memberikan relaksasi kredit kepada para debiturnya, dimana itu sekilas merugikan para bank itu sendiri. Lalu apa pula itu bank jangkar??

Benarkah W. Buffett Jual Saham-Saham Perbankan? Ada Hubungannya dengan Penurunan BBRI dkk?

Gambar
Pada hari Rabu, 13 Mei, muncul berita di Barrons.com yang menyebutkan bahwa Berkshire Hathaway (BRK) telah menjual saham US Bancorp (USB), salah satu bank terbesar di Amerika Serikat (AS), senilai setidaknya $16.3 juta. Dengan penjualan ini, BRK masih memegang saham USB, namun persentase kepemilikannya berkurang dari tadinya 10% sekian menjadi tinggal 9% sekian. Berdasarkan peraturan dari SEC ( security and exchange commission, semacam OJK-nya AS), jika suatu individu/institusi memegang saham perusahaan tertentu sebanyak setidaknya 10% dari jumlah saham beredar, maka kalau institusi ini menambah atau mengurangi kepemilikannya di perusahaan itu tadi, mereka harus melaporkannya ke SEC. Tapi berhubung BRK sekarang pegang USB kurang dari 10% saham beredar, maka kalau besok-besok Warren Buffett (WB) hendak jual habis USB ini, ia tidak perlu melapor apa-apa lagi ke SEC.

Modernland Realty (MDLN): Saham Calon Multibagger? Atau Justru Gocap Forever?

Gambar
Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan bagus, ‘Pak Teguh, dalam kondisi krisis dan pasar saham jatuh seperti sekarang memang ada banyak sekali saham-saham super duper murah, yang berpeluang naik hingga ratusan persen ( multibagger ) ketika nanti krisisnya sudah berlalu. Tapi masalahnya, ketika terjadi krisis maka kinerja perusahaan akan turun/merugi, dan jika krisisnya sangat buruk maka bisa saja perusahaan tertentu justru akan bangkrut bukan? Sehingga sahamnya, meski memang sangat murah, tapi ya gak naik lagi karena perusahaannya keburu kolaps. Nah, kalau gitu bagaimana pak? Intinya, adakah cara agar kita bisa membedakan perusahaan mana yang akan bangkit pasca krisis, dan mana yang justru akan mati?

Alasan Utama Kenapa W. Buffett Terus Menjual Saham, dan Menambah Cash

Gambar
Dua hari lalu, pada tanggal 2 Mei 2020, Berkshire Hathaway (BRK) menggelar Annual Meeting untuk tahun 2020, dan di waktu yang sama perusahaan merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2020, dimana hasilnya cukup mengejutkan: BRK mencatat rugi bersih $49.7 milyar, yang merupakan rekor kerugian terbesar yang pernah dibukukan perusahaan sejak diambil alih Warren Buffett (WB) pada tahun 1965, dimana sebagian besar kerugian tersebut diakibatkan oleh penurunan nilai investasinya pada saham-saham di Bursa Amerika yakni dari $248.0 milyar pada akhir tahun 2019, menjadi hanya $180.8 milyar per 31 Maret 2020. Dan tidak hanya itu, posisi kas dan setara kas BRK juga kembali meningkat tajam ke level $137.3 milyar. Sehingga alih-alih belanja ketika terjadi market crash pada Maret 2020, WB justru jualan. Pertanyaannya, mengapa?

Cara Cepat Analisa Fundamental Saham Perbankan

Gambar
Long weekend, waktunya belajar analisis fundamental, kali ini dengan tema cara membaca laporan keuangan emiten perbankan. Semoga bermanfaat!

Akankah IHSG Indonesia Bernasib Seperti Nikkei Jepang?

Gambar
Beberapa waktu lalu, penulis menerima pertanyaan menarik, ‘Saya baru tahu kalau indeks Nikkei 225 di Jepang pernah naik sampai 38,900 sekian pada tahun 1989, kemudian turun lagi, dan sampai hari ini tidak pernah balik lagi ke level tertingginya tersebut (saat ini Nikkei berada di posisi 19,000-an), padahal sekarang ini sudah lewat lebih dari 30 tahun sejak tahun 1989 tersebut. Nah, bukankah hal ini mematahkan mitos bahwa indeks saham pada akhirnya akan terus naik dalam jangka panjang? Karena 30 tahun jelas bukan waktu yang sebentar. Dan apakah yang dialami Nikkei juga bisa terjadi pada IHSG? Jangan-jangan setelah IHSG mencapai posisi tertingginya di 6,600-an pada awal tahun 2018 lalu, maka kesininya dia akan turun terus, dan penurunan selama dua tahunan terakhir ini barulah awal dari trend penurunan terus menerus hingga entah sampai kapan?’

Seminar: Berburu Saham ‘Mutiara Terpendam’

Gambar
Bagi anda yang sudah membaca blog ini sejak lama, anda mungkin masih ingat kalau penulis sejak tahun 2010 lalu sering menyebut istilah saham ‘mutiara terpendam’, yakni saham yang berpeluang naik hingga ratusan persen dalam waktu yang relatif singkat (disebut juga saham multibagger ). Dan meski setiap tahun selalu ada saja saham-saham seperti itu, namun dalam kondisi pasar yang normal maka jumlahnya hanya sedikit, sehingga sulit untuk ditemukan. Tapi ketika terjadi krisis dan bursa saham jatuh, maka saham mutiara terpendam ini jumlahnya akan jauh lebih banyak dibanding biasanya, sehingga tentu saja sayang jika dilewatkan.

Begini Dampak Covid-19 Terhadap Dunia Usaha

Gambar
Dalam beberapa waktu terakhir, penulis meminta sharing informasi dari teman-teman pengusaha, dan pekerja profesional, tentang kondisi di perusahaan/tempat usaha mereka masing-masing, apakah juga terdampak oleh Covid-19, dan seperti apa dampaknya. Informasi ini kami perlukan untuk mempelajari kondisi riil di lapangan, untuk membantu menganalisis arah pasar ke depannya. Dan berikut adalah beberapa ‘testimoni’ yang penulis kumpulkan.

Crisis Protocol, Part 5: Kapan Kita Belanja Saham?

Gambar
Di tulisan sebelumnya (crisis protocol, part 4), penulis menyampaikan bahwa meski setiap kali terjadi krisis dan market crash, orang-orang akan kembali menyebut istilah cash is king, tapi pada titik tertentu, menjual saham anda untuk memperoleh cash tersebut bisa jadi merupakan kesalahan terbesar yang bisa anda lakukan. Sehingga kalau posisi anda sudah pegang saham sebelum pasar jatuh, maka anda tentunya bakal panik ketika IHSG kemudian anjlok, apalagi jika posisi cash juga sudah nol. Namun pada titik kondisi inilah, jika kita tidak tahan dan akhirnya menjual saham yang dipegang, maka itu seperti kita memberikan promo ‘beli satu lot gratis satu lot’ kepada orang lain, secara sukarela.

Strategi Crisis Protocol Ketika Bursa Anjlok, Part 4

Gambar
Berikutnya, ketika krisis terjadi, maka  siapapun akan rugi , dan itu normal, sehingga kita harus bisa melihat jauh kedepan . Ini juga mungkin sulit dipahami oleh temen-temen pemula, karena bukannya kalau investor saham yang masih pegang cash justru akan untung besar karena bisa belanja saham-saham bagus pada harga super diskon? Nah, dalam hal ini kita perlu sepakati dulu definisi ‘krisis’ disini: Kalau IHSG hanya turun 10 – 20% dari puncaknya, dan itu karena ada sentimen negatif sesaat yang tidak berdampak pada ekonomi, atau memang karena pasar sudah naik tinggi sebelumnya, maka itu bukan krisis, melainkan hanya koreksi pasar biasa yang cukup sering terjadi, biasanya antara 1 atau 2 tahun sekali. Dan pada kondisi ini, betul bahwa investor yang pegang cash akan cuan besar.