Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’, atau ‘Ebook Investment Planning’) edisi Kuartal IV 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Kirana Megatara, dan Prospek Harga Karet

Kirana Megatara (KMTR) membukukan laba bersih Rp69 milyar hingga Kuartal III 2018, anjlok dibanding periode yang sama di tahun 2017 sebesar Rp391 milyar, dan karena itulah sahamnya terjun bebas dari 900-an, Februari 2018 lalu, hingga mentok di 250 pada November, sebelum kemudian naik lagi ke posisi sekarang (350-an). Namun yang menarik perhatian penulis adalah ketika perusahaan menggelar right issue pada Januari 2019 kemarin di harga 530, alias jauh diatas harga sahamnya dipasar, dimana pembeli siaganya adalah perusahaan asal Singapura dengan nama Hainan State Farm (HSF) Pte. Ltd. Dan setelah right issue tersebut, pemegang saham mayoritas KMTR berubah dari sebelumnya Grup Triputra milik konglomerat Theodore P. Rachmat, menjadi HSF diatas (Grup Triputra masih jadi pemegang saham di KMTR, namun persentase kepemilikannya sedikit berkurang/terdilusi). Pertanyaannya, kenapa HSF bela-belain nyetor saham baru di KMTR pada harga diatas harga pasar? Termasuk kenapa mereka sampai mengambil alih KMTR dari Grup Triputra?

Buku Karya Value Investor Senior: Pak Joeliardi

Sebagai investor, ada satu ‘aset’ yang menurut penulis sangat berharga untuk dimiliki, namun sekaligus sangat sulit untuk diperoleh: Kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan investor yang lebih senior. Berharga, karena dari mereka-lah kita bisa memperoleh sharing pengalaman, pencerahan, dan nasihat-nasihat penting, dimana itu semua sangat dibutuhkan dalam kegiatan berinvestasi itu sendiri. Namun kesempatan ini juga sulit untuk diperoleh, mengingat investor senior yang sudah berinvestasi di pasar saham sejak tahun 80-an atau 90-an (BEI itu sendiri baru buka lagi tahun 1977), dan masih aktif berinvestasi sampai sekarang, itu jumlahnya sangat sedikit. Dan kalaupun ada maka biasanya mereka low profile dan cenderung tertutup, yang jangankan ditemui, untuk ditelpon saja susahnya sampai jungkir balik.

Value Investing: Analogi Sederhana

Beberapa waktu lalu di Instagram penulis posting ‘value investing quiz’ dengan pertanyaan, jika anda hendak bepergian pakai pesawat dari Jakarta ke Padang dengan hanya dua pilihan jadwal berikut (di hari yang sama), maka berdasarkan kaidah value investing, manakah yang akan anda pilih? Lion atau Garuda? Dan ternyata banyak sekali jawaban yang bagus-bagus yang masuk. Nah, sekarang giliran jawaban dari saya.

'Wonderful Company' di Sektor Konstruksi

Kalau kita bicara sektor konstruksi, maka perhatian investor dalam 1 – 2 tahun terakhir ini hanya terfokus pada emiten-emiten konstruksi BUMN, karena di lapangan kita bisa melihat bahwa pembangunan infrastruktur terus dikebut oleh Pemerintah, dan yang diuntungkan tentunya adalah Waskita Karya dkk. However, perusahaan konstruksi sebenarnya tidak melulu membangun jalan tol dll, melainkan ada juga konstruktor spesialis membangun gedung dan properti. Hanya memang, seiring dengan masih lesunya industri properti itu sendiri, maka kinerja emiten konstruktor gedung ini juga ikut melambat dalam 1 – 2 tahun terakhir, demikian pula saham mereka ikut turun. Namun ternyata masih ada satu perusahaan konstruksi gedung yang kinerjanya baik itu dari sisi pendapatan, laba bersih, nilai kontrak, hingga nilai dividen yang dibayarkan, hingga Kuartal III 2018 kemarin hampir semuanya konsisten naik meski tipis (tapi masih lebih baik dibanding kinerja konstruktor lain yang turun). Perusahaan apakah itu?