Ebook Analisa IHSG & Rekomendasi Saham edisi Januari 2020 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber, dan tersedia diskon khusus awal tahun.

Membedah Laporan Keuangan Jiwasraya

Ketika Hendrisman Rahim terpilih sebagai direktur utama PT Asuransi Jiwasraya, tahun 2008, kinerja Jiwasraya di tahun tersebut tengah terpuruk dimana perusahaan hanya membukukan laba bersih Rp16 milyar, drop dari Rp34 milyar di tahun sebelumnya, sedangkan asetnya juga menyusut dari Rp5.1 menjadi Rp4.8 trilyun. Dan salah satu penyebabnya adalah karena stock market crash ketika itu dimana IHSG jeblok 50.1% sepanjang tahun 2008, yang otomatis menyebabkan Jiwasraya menderita rugi signifikan dari penempatan investasinya di saham, entah secara langsung maupun melalui reksadana.

Cara Mendeteksi Manipulasi di Laporan Keuangan

Beberapa waktu lalu, kita sudah membahas tentang cara cepat membaca laporan keuangan, dimana penulis menyampaikan dalam bentuk video tentang poin-poin apa saja yang harus kita perhatikan (totalnya 15 poin) ketika membaca LK, mulai dari posisi aset, kewajiban, utang, laporan laba rugi, hingga laporan arus kas/cash flow. Di video tersebut penulis juga menyampaikan beberapa rasio yang penting untuk dicek seperti return on equity, current ratio, debt to equity ratio dan seterusnya, lengkap dengan penjelasan untuk tiap-tiap rasio tersebut.

Apa Itu Trailing Stop Loss, Dan Bagaimana Cara Melakukannya

Menurut Investopedia, trailing stop loss (TSL) adalah sebuah sistem dimana pihak broker/sekuritas akan secara otomatis menjual saham yang dipegang seorang investor, yakni jika si investor sebelumnya sudah memasukkan perintah untuk menjual saham tersebut kalau harganya turun sekian persen. Contoh, anda membeli saham A pada harga 1,000, dan TSL-nya ditetapkan pada level 10%. Maka jika saham A kemudian langsung turun dari harga 1,000 tersebut sampai menyentuh 900 (turun 10%), pihak broker akan otomatis jual cut loss. Sedangkan jika saham A naik dulu sampai 1,200, tapi kemudian balik arah dan turun sampai 1,080 (turun 10% dari 1,200 tadi), maka sahamnya juga akan otomatis dijual, namun kali ini dalam posisi profit karena modalnya tadi di 1,000.

Seminar Value Investing Advanced, Surabaya 19 Januari, Jakarta 2 Februari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced Class’, di Jakarta, dan Surabaya. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar/resesi ekonomi, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Seminar Value Investing, Surabaya 18 Januari, Jakarta 1 Februari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang’ di Surabaya, Sabtu 18 Januari, dan Jakarta, Sabtu 1 Februari 2020. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, beberapa tips dan trik dalam berinvestasi, hingga cara menabung saham untuk simpanan jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Cara Cepat Membaca Laporan Keuangan Emiten

Dalam menganalisa sebuah perusahaan, sebelum kemudian memutuskan apakah sahamnya layak invest atau tidak, maka dokumen pertama sekaligus yang paling penting untuk dipelajari seorang investor adalah laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Nah, biasanya dari investor pemula, penulis menerima banyak pertanyaan soal bagaimana cara membaca LK, poin-poin apa saja yang harus dilihat dan seterusnya. Dan apakah untuk bisa membaca LK, maka kita harus sekolah/kuliah jurusan ekonomi, akuntansi, dan keuangan terlebih dahulu?

Dibalik Skandal Garuda Indonesia

Ketika Garuda Indonesia (GIAA) menggelar IPO dengan harga perdana Rp750, tahun 2011 lalu, maka setelah mempelajarinya, penulis simpulkan bahwa sahamnya tidak layak invest karena hal-hal berikut: Bisnis maskapai penerbangan itu biayanya mahal terutama di harga beli pesawat dibanding harga tiket penerbangan itu sendiri (semurah-murahnya harga pesawat ukuran kecil adalah Rp400 milyar per unit, jadi dengan harga tiket katakanlah Rp1 – 2 juta per orang per perjalanan, maka bisa dibayangkan butuh waktu berapa lama buat balik modal, belum lagi biaya operasional yang mahal), dan biaya bahan bakar, terutama karena harga minyak dunia ketika itu masih diatas $100 per barel. Kemudian GIAA juga harus bersaing dengan low cost carrier (LCC) seperti Lion Air dan Air Asia, yang harga tiketnya hanya setengahnya. Dan memang ketika itu, GIAA terus mencatatkan kerugian nyaris saban tahun. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Adaro Energy

Kalau dari sisi volume produksi, maka dengan produksi sekitar 55 juta ton batubara per tahun, PT Adaro Energy, Tbk (ADRO) merupakan coal miner terbesar kedua di Indonesia setelah PT Bumi Resources, Tbk (BUMI). Namun berbeda dengan BUMI yang tidak disukai investor karena manajemennya sering bikin ulah, maka ADRO dalam banyak hal tampak lebih baik, dan sahamnya juga termasuk salah satu yang naik signifikan dari 600 hingga sempat tembus 2,500 ketika terjadi euforia di sektor batubara, tahun 2016 – 2017 lalu. However, seiring dengan kembali turunnya harga batubara sejak awal tahun 2019 kemarin, maka ADRO juga ikut turun, dan tiba-tiba saja sekarang pada harga 1,350, valuasinya tampak atraktif lagi dengan PBV 0.8 kali, dan PER 5.8 kali. Tapi, hey, bagaimana dengan harga batubara itu sendiri? Apakah harga batubara sekarang ini ($70 per ton) sudah cukup rendah, atau masih bisa turun lagi?