Jadwal Webinar Value Investing, Sabtu 26 September 2020. Info selengkapnya baca disini. Biayanya Rp500,000, namun untuk webinar perdana ini, biayanya didiskon 100% alias gratis.

Kumpulan Video Webinar Value Investing, 19 September

Dear investor, pada hari Sabtu, 19 September kemarin, penulis menyelenggarakan kelas online untuk diskusi & tanya jawab seputar investasi saham, dan khususnya value investing. Dan Alhamdulillah kelasnya berjalan lancar selama total 2.5 jam, dan terutama penulis juga antusias karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bagus-bagus semua :D Nah, jadi agar teman-teman yang lain juga bisa memperoleh materi yang disampaikan, maka penulis sengaja merekam kelasnya, dan bisa anda tonton pada link berikut:

Bank Banten (BEKS) Prank!

Pada Senin, 14 September kemarin, terkait rencana perusahaan untuk reverse stock dan right issue, Bank Banten (BEKS) merilis laporan dari Kantor Jasa Penilai (KJP) Maulana, Andesta, & Rekan, mengenai perhitungan nilai wajar dari 100% saham perusahaan, dimana perhitungannya menggunakan metode perbandingan perusahaan Tbk, dan discounted cashflow (DCF). Dan hasilnya, pihak KJP menyimpulkan bahwa nilai wajar dari saham BEKS adalah.. well.. Rp4,68 per saham, atau jika dibulatkan Rp5 per saham. Yup, anda tidak salah baca: Lima perak!

Indonesia di Masa Lalu, Hari Ini, dan 10 Tahun yang Akan Datang

Ketika saya untuk pertama kalinya belajar tentang dunia keuangan, dan khususnya investasi saham pada tahun 2009 lalu, maka saya mendengar satu pepatah dari negeri China yang masih saya ingat sampai hari ini, ‘Waktu terbaik untuk mulai berinvestasi adalah 20 tahun yang lalu. Dan waktu kedua terbaik untuk berinvestasi adalah sekarang.’ Sebagai investor saham itu sendiri, saya mengartikan pepatah itu sebagai, jika kita ingin sukses, maka kita harus mulai saat ini juga. Karena waktu yang sekarang ini akan dianggap sebagai ‘waktu terbaik untuk berinvestasi’ pada 20 tahun yang akan datang.

Free Webinar Value Investing, Sabtu 26 September 2020

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan seminar online (webinar) investasi saham dengan tema Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang. Kelas webinar ini merupakan lanjutan dari kelas/video seminar Value Investing basic & Advanced yang diselenggarakan pada bulan Juli 2020 lalu, dimana pada webinar ini kita akan lebih banyak diskusi dua arah & tanya jawab, serta me-review kembali materi yang sudah disampaikan di videonya.

Prospek AISA Setelah Diakuisisi FKS Group

Pada ulasan sebelumnya, kita sudah membahas bagaimana PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (AISA) hampir saja bangkrut karena ulah dari pemilik lamanya, dimana perusahaan kemudian harus membukukan defisiensi modal hingga Rp3.3 trilyun pada akhir tahun 2017. Namun setelah diambil alih oleh manajemen yang baru dan dilakukan perombakan besar-besaran, AISA ternyata mampu bertahan, termasuk sukses merestrukturisasi utang-utangnya, sehingga BEI kemudian mencabut suspensi sahamnya. Meski demikian, per Kuartal I 2020, AISA masih mencatat ekuitas negatif Rp1.3 trilyun, sehingga secara laporan keuangan, sahamnya masih worthless. Nah, jadi bagaimana rekomendasinya? Apakah buy? Atau kalau saya sudah pegang sejak tahun 2018 lalu, maka sell saja?

Prospek Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), Setelah Suspensinya Dibuka

Setelah disuspensi selama dua tahun, persisnya sejak Juli 2018 lalu, maka pada hari Senin, 31 Agustus kemarin, Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membuka perdagangan saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (AISA). Dan sayangnya sahamnya tanpa ampun langsung turun, yakni dari harga 168 ketika disuspen hingga sekarang sudah 147, dan kemungkinan masih akan lanjut turun mengingat hingga Kuartal I 2020, perusahaan masih membukukan defisiensi modal, alias ekuitas negatif. Disisi lain, berdasarkan laporan dari Kantor Jasa Penilai Publik, Suwendho Rinaldy & Rekan, disebutkan bahwa nilai wajar dari 100% saham AISA adalah Rp559 milyar, atau jauh diatas market cap perusahaan di level Rp201 milyar (pada harga saham 147). Nah, jadi jika penilaian tersebut benar, bukankah ini peluang? Lalu jika saya sejak awal sudah pegang saham AISA ini sejak tahun 2017 – 2018 lalu, maka apakah sekarang sebaiknya saya hold saja, tambah posisi/beli lagi, atau justru cut loss?