Jadwal Seminar Value Investing, Basic & Advanced: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu & Minggu 26 - 27 Oktober 2019. Info selengkapnya baca disini.

Ebook Investment Planning, Kuartal III 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Ciri-ciri Saham Anti Resesi/Koreksi Pasar

Di tulisan minggu lalu kita sudah membahas tentang dua strategi untuk memaksimalkan keuntungan, ketika pasar/IHSG jatuh. However, meskipun strateginya cukup jelas, penulis juga sudah menyampaikan bahwa dalam prakteknya, strategi tersebut sulit untuk diterapkan, karena dalam hal ini si investor harus mampu melawan rasa panik yang timbul ketika pasar turun. Jadi bagaimana kalau gini saja: Kita sejak awal belinya saham-saham yang anti atau tahan terhadap koreksi pasar, yang tidak ikut jatuh ketika IHSG jatuh! Eh, tunggu, memangnya ada saham seperti itu??

Strategi Investasi Saat IHSG Jatuh

Jika penulis bertanya, siapa investor yang paling diuntungkan ketika pasar atau IHSG jatuh? Maka anda mungkin akan menjawab, investor yang pegang cash besar. Malah bagi investor yang pegang cash ini, semakin dalam penurunan IHSG, maka semakin besar keuntungan yang bisa mereka peroleh. Nah, tapi bagaimana kalau penulis bilang bahwa investor yang pegang cash belum tentu untung ketika harga-harga saham berjatuhan?

Beli Saham Sendiri vs Telpon Broker, Lebih Enak Mana?

Pada sesi kelas private, beberapa waktu lalu, seorang peserta bertanya, ‘Saya dengar Pak Teguh kalau beli atau jual saham, itu pake broker, jadi nggak eksekusi sendiri melalui software online trading (OLT). Kenapa begitu pak? Dan bukannya kalau kita transaksi via broker, trading fee-nya lebih mahal?’