Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Prospek Saham Sawit Setelah Kenaikan Harga CPO, dan Program Biodiesel

Hingga Kuartal III 2019, emiten perkebunan kelapa sawit rata-rata masih membukukan kinerja yang kurang baik. Ambil contoh Astra Agro Lestar (AALI), dimana laba bersihnya drop sepersepuluhnya menjadi Rp111 milyar, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.1 trilyun. Demikian pula dengan PP London Sumatra (LSIP), dimana labanya yang Rp52 milyar tentunya kelewat kecil dibanding ekuitasnya yang Rp8.2 trilyun. Disisi lain, harga crude palm oil (CPO) sedang dalam trend naik dalam 2 – 3 bulan terakhir, dimana angkanya terakhir menyentuh RM2,620 per ton di Bursa Malaysia (www.bursamalaysia.com), dan ini pula yang mendorong kenaikan saham AALI dkk. Jadi apakah ini berarti saham perkebunan kelapa sawit kembali menarik untuk invest?

Kasus Jiwasraya & Bumiputera, dan Saham Gorengan

Suatu pagi, beberapa bulan lalu, penulis lagi tidur-tiduran di rumah orang tua di Cirebon, ketika bel depan rumah berbunyi. Begitu saya buka pintu pagar, ternyata seorang ibu-ibu yang merupakan saudara jauh dimana saya masih ingat wajahnya, tapi lupa namanya. Si ibu bertanya, ‘Bu haji ada?’ ‘Ada, silahkan masuk bu, sebentar saya panggilkan’. Tak lama kemudian mama menemui si ibu, dan mereka ngobrol serius selama sekitar 15 menit. Setelah itu mama menemui penulis, ‘Guh, kamu ada uang sekian Rupiah nggak?’ ‘Ada mah, buat apa?’ ‘Tadi itu ceuceu (lagi-lagi, saya lupa namanya), bilang mau pinjem uang segitu buat biaya masuk kuliah anaknya. Harusnya ia gak perlu pinjem karena udah punya polis yang sudah jatuh tempo di Bumiputera, yang memang disiapkan untuk biaya kuliah itu, tapi ga tau kenapa petugasnya bilang gak bisa dicairkan. Katanya harus ke Jakarta bla bla bla..’

Special Report: Menggali Laporan Keuangan Hanson International

Di ulasan sebelumnya, kita membahas soal ‘MYRX vs OJK’, dimana OJK menuduh perusahaan telah melakukan aksi penghimpunan dana layaknya sebuah bank, padahal PT Hanson International, Tbk (MYRX) ini bukan bank, melainkan perusahaan properti. OJK juga disebutkan akan menggali lebih dalam laporan keuangan MYRX untuk menemukan aksi penghimpunan dana yang dimaksud. Nah, tadinya penulis akan mem-posting artikel ini minggu depan, tapi terus terang karena saya sendiri sudah penasaran, maka barusan penulis sudah bongkar-bongkar semua dokumen milik MYRX, dan berikut adalah hasilnya. Okay, here we go.

Hanson International vs OJK

Beberapa waktu lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satuan Tugas Waspada Investasi, mengumumkan bahwa mereka telah memanggil direksi PT Hanson International, Tbk (MYRX), untuk meminta penjelasan terkait aktivitas penghimpunan dana milik masyaratakat dalam bentuk tabungan, yang dilakukan oleh perusahaan, padahal MYRX bukanlah lembaga keuangan atau bank, melainkan perusahaan properti. Kepala Satgas Waspada Investasi OJK, Tongam L. Tobing, mengatakan bahwa aksi penghimpunan dana tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2016, dimana ‘nasabah’ dijanjikan bunga 10 – 12% per tahun, dan dana yang terkumpul dikatakan akan digunakan untuk mengembangkan usaha properti milik perusahaan.