Ebook Investment Planning edisi Kuartal I 2020 (edisi terbaru) sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon khusus selama IHSG masih dibawah 5,500.

Begini Dampak Akuisisi Pinehill Terhadap Masa Depan Indofood CBP (ICBP)

Pada tanggal 22 Mei 2020 kemarin, anak usaha Grup Salim, PT Indofood Consumer Brand Products, Tbk (ICBP), mengumumkan bahwa perusahaan akan mengakuisisi Pinehill Company Ltd, sebuah perusahaan yang juga dimiliki oleh Grup Salim, yang bergerak di produksi dan pemasaran mi instan merk ‘Indomie’ di beberapa negara yakni Arab Saudi, Nigeria, Mesir, Turki, Serbia, Ghana, Maroko, dan Kenya. Jadi dengan akuisisi ini, maka ICBP akan menjadi perusahaan skala internasional, dengan potensi pasar lebih dari 1 milyar penduduk termasuk Indonesia. Tapi masalahnya, dengan harga akuisisi yang tampak sangat-sangat tinggi yakni $3 milyar, dimana sebagian besar diantaranya diambil dari utang, maka ICBP dalam hal ini tampak dirugikan karena harus menanggung beban utang yang sangat besar. Tapi benarkah demikian? Simak analisa lengkapnya disini.

Membedah Prospek Bank BRI di Tahun Pandemi

Bank BRI (BBRI) melaporkan laba bersih Rp8.2 trilyun sepanjang Kuartal I 2020, cenderung stagnan dibanding periode yang sama tahun 2019 yang juga sebesar Rp8.2 trilyun, namun ini masih lebih baik dibanding kinerja emiten lainnya yang rata-rata mulai turun di awal tahun 2020 ini. Meski demikian, anda sendiri mungkin sudah mengetahui, apa isu terbesar yang menimpa saham-saham perbankan, yakni: Bagaimana kinerja mereka di Kuartal II, III, dan seterusnya? Sebab kita tahu bahwa ketika ekonomi melambat akibat Covid-19, maka biasanya yang bakal kena duluan adalah lembaga-lembaga keuangan termasuk perbankan, ditambah lagi adanya kebijakan pemerintah yang mengharuskan bank-bank untuk memberikan relaksasi kredit kepada para debiturnya, dimana itu sekilas merugikan para bank itu sendiri. Lalu apa pula itu bank jangkar??

Benarkah W. Buffett Jual Saham-Saham Perbankan? Ada Hubungannya dengan Penurunan BBRI dkk?

Pada hari Rabu, 13 Mei, muncul berita di Barrons.com yang menyebutkan bahwa Berkshire Hathaway (BRK) telah menjual saham US Bancorp (USB), salah satu bank terbesar di Amerika Serikat (AS), senilai setidaknya $16.3 juta. Dengan penjualan ini, BRK masih memegang saham USB, namun persentase kepemilikannya berkurang dari tadinya 10% sekian menjadi tinggal 9% sekian. Berdasarkan peraturan dari SEC (security and exchange commission, semacam OJK-nya AS), jika suatu individu/institusi memegang saham perusahaan tertentu sebanyak setidaknya 10% dari jumlah saham beredar, maka kalau institusi ini menambah atau mengurangi kepemilikannya di perusahaan itu tadi, mereka harus melaporkannya ke SEC. Tapi berhubung BRK sekarang pegang USB kurang dari 10% saham beredar, maka kalau besok-besok Warren Buffett (WB) hendak jual habis USB ini, ia tidak perlu melapor apa-apa lagi ke SEC.

Modernland Realty (MDLN): Saham Calon Multibagger? Atau Justru Gocap Forever?

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan bagus, ‘Pak Teguh, dalam kondisi krisis dan pasar saham jatuh seperti sekarang memang ada banyak sekali saham-saham super duper murah, yang berpeluang naik hingga ratusan persen (multibagger) ketika nanti krisisnya sudah berlalu. Tapi masalahnya, ketika terjadi krisis maka kinerja perusahaan akan turun/merugi, dan jika krisisnya sangat buruk maka bisa saja perusahaan tertentu justru akan bangkrut bukan? Sehingga sahamnya, meski memang sangat murah, tapi ya gak naik lagi karena perusahaannya keburu kolaps. Nah, kalau gitu bagaimana pak? Intinya, adakah cara agar kita bisa membedakan perusahaan mana yang akan bangkit pasca krisis, dan mana yang justru akan mati?

Alasan Utama Kenapa W. Buffett Terus Menjual Saham, dan Menambah Cash

Dua hari lalu, pada tanggal 2 Mei 2020, Berkshire Hathaway (BRK) menggelar Annual Meeting untuk tahun 2020, dan di waktu yang sama perusahaan merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2020, dimana hasilnya cukup mengejutkan: BRK mencatat rugi bersih $49.7 milyar, yang merupakan rekor kerugian terbesar yang pernah dibukukan perusahaan sejak diambil alih Warren Buffett (WB) pada tahun 1965, dimana sebagian besar kerugian tersebut diakibatkan oleh penurunan nilai investasinya pada saham-saham di Bursa Amerika yakni dari $248.0 milyar pada akhir tahun 2019, menjadi hanya $180.8 milyar per 31 Maret 2020. Dan tidak hanya itu, posisi kas dan setara kas BRK juga kembali meningkat tajam ke level $137.3 milyar. Sehingga alih-alih belanja ketika terjadi market crash pada Maret 2020, WB justru jualan. Pertanyaannya, mengapa?

Cara Cepat Analisa Fundamental Saham Perbankan

Long weekend, waktunya belajar analisis fundamental, kali ini dengan tema cara membaca laporan keuangan emiten perbankan. Semoga bermanfaat!