Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2021

Pendapat Saya Tentang Rencana IPO GoTo

Gambar
Suatu hari di tahun 2008. Harga batubara acuan Newcastle yang sebelumnya sudah cenderung naik sejak awal dekade 2000-an, di sepanjang tahun 2007 kembali naik dengan kencang dari posisi $50-an per ton hingga mencapai all time high $180 per ton pada bulan Juli tahun 2008. Sementara itu saham dari perusahaan batubara terbesar di Indonesia, Bumi Resources (BUMI) , juga melesat dari 900-an di awal tahun 2007 hingga tembus 8,000 pada Februari 2008. Karena disisi lain sahamnya sangat likuid, market cap-nya juga besar (Rp152 trilyun pada harga 8,000. Sebagai perbandingan pada waktu yang sama, market cap Bank BCA/BBCA hanya Rp90 trilyun), dan kinerja keuangannya pada saat itu sangat bagus (sepanjang tahun 2007, BUMI membukukan laba bersih $789 juta berbanding ekuitasnya yang hanya $1.1 milyar), maka jadilah semua orang mulai dari trader receh sampai fund manager besar membeli BUMI, dan BUMI kemudian memperoleh julukan legendaris: Saham sejuta umat . *** Ebook Market Planning   edisi Juli 2021 y

Membedah Peran BPJS Ketenagakerjaan Sebagai ‘Market Maker’ di Pasar Saham

Gambar
Pada zaman Dinasti Han di China, tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Wu di abad ke-2 sebelum Masehi, Pemerintah Dinasti Han membutuhkan dana besar untuk ekspedisi militer melawan suku Xiongnu (Mongol) di Utara. Kemudian pada zaman itu, garam dan besi merupakan dua dari sejumlah komoditas utama yang dibutuhkan masyarakat banyak, yang harganya sangat fluktuatif/mudah naik dan turun karena supply dan demand- nya sering berubah-ubah. Misalnya pada masa panen raya dimana petani menggunakan penjualan hasil bumi untuk membeli ikan dan daging, maka kebutuhan garam untuk mengawetkan ikan meningkat signifikan dan alhasil harganya naik, seringkali hingga tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Di lain waktu, produksi garam sering juga melonjak hingga harganya anjlok, dan dalam hal ini petani garam lah yang merugi. *** Ebook Investment Planning   yang berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi  Kuartal I 2021  sudah terbit! Anda bisa  memperolehnya disini , tersedia diskon selama IHSG ma

Rahasia Profit Milyaran di Saham dengan Metode ‘Compounding Interest’

Gambar
Warren Buffett dalam banyak tulisan di annual letter- nya sering menjelaskan tentang bagaimana powerful- nya konsep compounding interest, atau Bahasa Indonesianya bunga berbunga/bunga majemuk, dimana dalam hubungannya dengan investasi saham, maka kata ‘bunga’ disini diganti ‘profit’ (profit berprofit, alias profit yang menghasilkan profit lagi). Konsep ini pada intinya menunjukkan bahwa profit yang kita hasilkan di saham, jika diinvestasikan lagi secara terus menerus, maka hasilnya akan luar biasa besar setelah jangka waktu tertentu, tak peduli meski profit itu tampak kecil pada awalnya. Dan tidak hanya Buffett, ilmuwan terkemuka Albert Einstein juga pernah menyebut compounding interest sebagai 8 th wonder of the world. *** Ebook Market Planning   edisi Juni 2021 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit! Anda bisa  memperolehnya disini . gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member. *** However, dari pengalaman men

Kalau Saham Belum Dijual, Berarti Belum Rugi?

Gambar
Dalam berinvestasi saham, ada banyak mitos yang diketahui oleh pemula, dimana benar atau tidaknya mitos tersebut biasanya baru akan diketahui beberapa waktu kemudian seiring dengan bertambahnya pengalaman. Salah satu mitos tersebut adalah, ketika kita beli saham lalu saham itu naik, maka selama sahamnya belum dijual kembali, kita belum benar-benar profit. Sebaliknya ketika kita beli saham lalu saham itu turun, maka selama sahamnya belum dijual kembali, kita belum benar-benar rugi. *** Ebook Investment Planning   yang berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi  Kuartal I 2021  sudah terbit! Anda bisa  memperolehnya disini , tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 6,200, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis. *** Karena pemahaman tersebut, maka ketika saham yang kita beli naik barang 2 – 3% saja, kita sering buru-buru menjualnya agar profitnya terealisasi, selain karena khawatir besok-besok saham itu akan turun lagi. Sebaliknya ketika s