Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.

Strategi ‘Momentum Investing’ Untuk Profit Lebih Cepat Dari Saham-saham Jangka Panjang

Di artikel sebelumnya, kita membahas bahwa kalau kita mau beli saham untuk tabungan jangka panjang, maka jangan cuma lihat pergerakan sahamnya dalam 5 tahun terakhir, tapi coba lihat lagi dalam 10 tahun terakhir. Contohnya ULTJ, yang meski dalam lima tahun terakhir hanya profit 20%, tapi dalam 10 tahun terakhir profitnya total mencapai 10 kali lipat. Namun disisi lain, jika kita kebetulan beli saham Ultrajaya (ULTJ) di tahun 2014 dan bukannya 2009, kemudian tetap hold sampai hari ini, maka tetap saja profitnya cuma 20% diluar dividen. Jadi adakah strategi agar kita tidak terjebak dalam kondisi ‘hold too long for nothing’ seperti itu? Anda bisa baca lagi artikel lengkapnya disini (sebaiknya baca dulu biar nyambung ceritanya).

The Power of Legacy Stock: Berapa Profitnya Jika Kita Beli Saham Ultrajaya di Tahun 2009?

Ada satu pertanyaan menarik ketika beberapa waktu lalu penulis membahas saham Ultrajaya Milk Industry (ULTJ) (ini link artikelnya), dimana kesimpulan akhirnya adalah bahwa ULTJ ini bisa dipertimbangkan sebagai tabungan atau investasi jangka panjang. Atau mengutip istilah Pak Joeliardi Sunendar, sebagai legacy stock yang bisa di-hold as long as possible. Problemnya, dalam lima tahun terakhir yakni 2014 – 2019, ULTJ secara keseluruhan hanya naik dari 1,000 ke 1,200, sehingga total gain-nya hanya sekitar 20% dalam lima tahun, atau jauh lebih rendah dibanding beberapa saham long term lainnya yang lebih populer seperti katakanlah Bank BRI (BBRI). Jadi pertanyaannya kemudian, apa benar bahwa ULTJ ini bagus untuk long term? Karena kalaupun kita katakan bahwa sahamnya aman/low risk, tapi profit segitu dalam jangka waktu selama itu tentu saja kelewat kecil bukan??

Setelah Turun Terus, Inilah Valuasi IHSG Saat Ini

Jumat kemarin setelah pasar tutup, penulis ditelpon wartawan untuk dimintai komentar terkait valuasi IHSG yang ketika itu sudah drop signifikan ke level 5,827, namun menurut data Bloomberg PER-nya masih cukup tinggi yakni 18 kali. Sehingga ada kesan bahwa meski indeks memang sudah turun cukup dalam dibanding posisi tertingginya di tahun 2019 ini (dari 6,548 ke 5,828, berarti turun 11.0%), tapi secara kaidah value investing maka IHSG masih bisa turun lagi, karena saham-saham di BEI belum cukup murah untuk dibeli. Tapi benarkah demikian? Bahwa valuasi Bank BCA dkk sekarang ini masih pada mahal??

Prospek United Tractors Setelah Akuisisi Tambang Emas

Pada tanggal 4 Desember 2018, PT United Tractors, Tbk (UNTR) mengumumkan bahwa perusahaan telah menyelesaikan proses akuisisi 95% saham PT Agincourt Resources (PTAR), pemilik dan pengelola Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Jadi dengan demikian UNTR sekarang punya lima segmen usaha yakni penjualan alat-alat berat, kontraktor tambang, tambang batubara, usaha konstruksi, dan tambang emas, dimana dua segmen yang disebut terakhir baru bergabung dengan UNTR dalam beberapa tahun terakhir. Menariknya, berbeda dengan kontribusi usaha konstruksi-nya yang masih sangat kecil, usaha tambang emas UNTR sukses menyumbang laba bersih sebelum pajak sebesar Rp665 milyar pada Kuartal I 2019, atau 16% dari total laba sebelum pajak perusahaan.

Bank Jatim: Big Dividend No More??

Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, atau biasa disebut Bank Jatim (BJTM) sudah merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2019, dimana perusahaan melaporkan laba bersih Rp405 milyar, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp376 milyar. Namun yang menarik adalah, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, manajemen BJTM baru menggelar RUPS untuk tahun fiskal 2018 (dimana RUPS-nya termasuk membahas soal dividen) pada hari Jumat, 26 April kemarin, sehingga perusahaan baru akan membayar dividen dalam waktu dekat ini, dan dividend payout ratio-nya (DPR) tidak lagi sebesar sebelumnya, yakni hanya 54.3% dari total laba bersih sepanjang tahun 2018 (biasanya dividen BJTM mencapai 60 – 70% labanya). Jadi apakah dengan demikian BJTM sudah tidak bisa lagi dikategorikan sebagai ‘dividend stock’?

Ebook Investment Planning - Kuartal I 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Prospek Saham Konstruksi Setelah (Hasil) Pilpres

Dalam dua tahunan terakhir, ada satu sektor yang kinerja fundamental para emitennya sebenarnya cukup bagus, atau bahkan sangat bagus, namun saham-saham di sektor ini justru turun seiring dengan ketidak pastian prospek jangka panjangnya. Yup, anda mungkin sudah tahu sektor tersebut: Konstruksi, terutama konstruksi BUMN. Jika bicara kinerja, maka seiring dengan gencarnya pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah, Waskita Karya (WSKT) membukukan kenaikan ekuitas serta laba yang signifikan sejak tahun 2015 lalu. Namun perkembangan politik didalam negeri dalam satu dua tahunan terakhir membuat investor ragu bahwa pemerintahan saat ini akan berlanjut di periode selanjutnya, dimana skenario terburuknya adalah pembangunan infra akan berhenti, sehingga masa panen raya WSKT dkk juga akan berakhir.

Kemana Arah IHSG Setelah Pemilu & Pilpres?

Tak terasa sekarang sudah tanggal 15 April, dan itu artinya sebentar lagi Indonesia akan menggelar hajatan Pemilu dan Pilpres, tepatnya pada tanggal 17 April mendatang (untuk TPS luar negeri, sudah sejak 14 April kemarin). Bagi investor yang sudah lama di pasar saham, ajang pemilu sejatinya merupakan hal yang biasa karena sudah rutin dilaksanakan setiap lima tahun sekali, dan karena masih ada banyak faktor atau peristiwa penting lainnya yang juga harus diperhatikan ketika kita menganalisis arah pasar, serta menyusun strategi investasi. However, seperti yang pernah penulis sampaikan sebelumnya, kampanye Yuk Nabung Saham! oleh BEI sejak tahun 2015 lalu telah sukses menghadirkan banyak investor baru di bursa, dimana saat ini sekitar dua pertiga pelaku pasar adalah para newbie yang belum memiliki pengalaman berinvestasi di tahun-tahun pemilu sebelumnya (2014 kebelakang). Jadi pada akhirnya pertanyaan diatas tetap penting: Kemana arah IHSG setelah Pemilu tahun 2019 ini?

Rahasia Profit 20% Dalam 7 Hari

Kemarin kita dapet satu pertanyaan menarik, ‘Pak Teguh saya barusan lihat ini di Youtube, sepertinya sih mereka jual trading system atau software apa gitu, yang katanya bisa mendeteksi saham-saham yang berpotensi auto reject atas, sehingga profitnya bisa sangat besar hanya dalam hitungan hari. Bagaimana pendapat Pak Teguh soal itu?’ Sebelumnya buat yang belum tau, auto reject atas, atau disingkat ARA, adalah kondisi dimana sebuah saham melejit naik hingga batas maksimal-nya, dalam hal ini 20%, 25%, atau bahkan naik 35% dalam satu hari, tergantung harga nominal sahamnya di market.

Prospek Indofood (INDF), dan Indofood CBP (ICBP)

Okay, seharusnya untuk minggu ini kita akan bahas saham yang kebalikannya saham Ultrajaya (ULTJ), tapi karena belakangan ini banyak yang request analisa Indofood Sukses Makmur (INDF) dan Indofood Consumer Brand Products (ICBP) setelah keduanya turun signifikan dalam dua bulanan terakhir, sedangkan penulis sendiri dalam banyak kesempatan selalu menyebut bahwa ICBP layak untuk investasi long term, maka sekarang kita bahas dua saham ini dulu. Okay, here we go.

Legacy Stock Series: Ultrajaya Milk

Warren Buffett pernah mengatakan, ‘Saya suka berinvestasi pada perusahaan yang sedemikian bagusnya, yang jika perusahaan tersebut dijalankan oleh seorang idiot maka hasilnya akan tetap profit’. Sudah tentu, ini bukan berarti kualitas manajemen perusahaan tidak penting, namun memang beberapa perusahaan lebih mudah dijalankan dibanding perusahaan lainnya, terutama jika perusahaan tersebut sejak awal memenuhi beberapa kriteria khusus seperti memberlakukan monopoli, memiliki kuasa untuk menentukan harga jual produknya, dan bisnisnya tidak dipengaruhi oleh naik turunnya kondisi makroekonomi.

Mengapa Generasi Millennial Harus Berinvestasi?

Ada satu pertanyaan menarik ketika penulis mengisi acara talkshow investasi saham di sebuah kampus di Semarang, tahun 2016 lalu: Pak Teguh, tadi kan sudah disampaikan soal tips-tips untuk berinvestasi di saham. Tapi sekarang pertanyaannya general saja, bagaimana tips bagi kami yang masih kuliah ini untuk bisa sukses secara finansial setelah kami lulus nanti? Apakah harus bekerja dan menabung dulu sebelum baru kemudian invest di saham, atau bagaimana? Sebab untuk invest di saham juga perlu uang/modal kan? Dan kami saat ini gak punya modal tersebut.

Prospek Properti 2019: Jackpot??

Ketika penulis terakhir kali membahas sektor properti, Januari 2018 lalu, ketika itu kesimpulannya adalah bahwa sektor ini berpeluang untuk ‘naik panggung’ di tahun 2018 tersebut karena dua faktor yakni: 1. Suku bunga BI Rate sedang rendah-rendahnya, yang artinya bunga KPR (kredit pemilikan rumah) juga lagi murah, dan ini akan mendorong orang untuk beli rumah, 2. Kondisi ekonomi nasional secara umum cukup bagus. Namun ini bukan berarti semua saham properti bisa dikoleksi, karena selain dua faktor diatas, tiap-tiap emiten properti juga punya faktor individualnya masing-masing yang berpengaruh terhadap kinerja mereka, seperti lokasi properti-nya, kualitas infrastruktur di sekitar proyek, jenis properti yang dijual, hingga kualitas manajemen. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Bagaimana Jika Emiten Bangkrut?

Warren Buffett di salah satu annual letter-nya di tahun 1960-an, bercerita tentang investasinya di Sanborn Map Co., perusahaan penyedia layanan peta untuk seluruh wilayah Amerika Serikat dengan pelanggan perusahaan asuransi, pemerintah daerah, hingga dinas pajak. WB menempatkan tak kurang dari 35% dana kelolaannya di Sanborn, dengan alasan sebagai berikut: Sanborn ini dulunya merupakan perusahaan monopoli dibidangnya, dan otomatis kinerja profitnya sangat bagus. Namun pada dekade 1950-an, perusahaan asuransi menemukan metode under-writing yang disebut carding, yang menyebabkan mereka tidak lagi membutuhkan peta yang dibuat oleh Sanborn.

Seminar Value Investing Advanced, Jakarta, 24 Maret

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Jakarta, hari Minggu 24 Maret 2019. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, cara merespon aksi korporasi emiten, dst. Berikut materi selengkapnya:

Seminar Value Investing, Jakarta, 23 Maret

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!’ di Jakarta, hari Sabtu, 23 Maret 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Cara Beli Saham Persis Pada Harga Terendahnya

Beberapa waktu lalu penulis menonton film berjudul Sully, yang bercerita kisah nyata (meski ditambah sedikit bumbu-bumbu fiksi) tentang seorang pilot bernama Capt. Chesley ‘Sully’ Sullenberger, yang pada Januari 2009 mendaratkan pesawat terbang secara darurat di Sungai Hudson, Kota New York, setelah pesawat tersebut sebelumnya menabrak kawanan burung di udara (bird strike). Oleh publik, Kapten Sully dianggap sebagai pahlawan, karena ia berhasil menyelamatkan nyawa seluruh penumpang serta kru pesawat, totalnya berjumlah 155 jiwa. Namun investigasi lanjutan oleh otoritas berwenang menunjukkan bahwa pesawat masih bisa berputar kembali ke bandara, dan tidak harus mendarat darurat di air.

Kirana Megatara, dan Prospek Harga Karet

Kirana Megatara (KMTR) membukukan laba bersih Rp69 milyar hingga Kuartal III 2018, anjlok dibanding periode yang sama di tahun 2017 sebesar Rp391 milyar, dan karena itulah sahamnya terjun bebas dari 900-an, Februari 2018 lalu, hingga mentok di 250 pada November, sebelum kemudian naik lagi ke posisi sekarang (350-an). Namun yang menarik perhatian penulis adalah ketika perusahaan menggelar right issue pada Januari 2019 kemarin di harga 530, alias jauh diatas harga sahamnya dipasar, dimana pembeli siaganya adalah perusahaan asal Singapura dengan nama Hainan State Farm (HSF) Pte. Ltd. Dan setelah right issue tersebut, pemegang saham mayoritas KMTR berubah dari sebelumnya Grup Triputra milik konglomerat Theodore P. Rachmat, menjadi HSF diatas (Grup Triputra masih jadi pemegang saham di KMTR, namun persentase kepemilikannya sedikit berkurang/terdilusi). Pertanyaannya, kenapa HSF bela-belain nyetor saham baru di KMTR pada harga diatas harga pasar? Termasuk kenapa mereka sampai mengambil alih KMTR dari Grup Triputra?

Buku Karya Value Investor Senior: Pak Joeliardi

Sebagai investor, ada satu ‘aset’ yang menurut penulis sangat berharga untuk dimiliki, namun sekaligus sangat sulit untuk diperoleh: Kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan investor yang lebih senior. Berharga, karena dari mereka-lah kita bisa memperoleh sharing pengalaman, pencerahan, dan nasihat-nasihat penting, dimana itu semua sangat dibutuhkan dalam kegiatan berinvestasi itu sendiri. Namun kesempatan ini juga sulit untuk diperoleh, mengingat investor senior yang sudah berinvestasi di pasar saham sejak tahun 80-an atau 90-an (BEI itu sendiri baru buka lagi tahun 1977), dan masih aktif berinvestasi sampai sekarang, itu jumlahnya sangat sedikit. Dan kalaupun ada maka biasanya mereka low profile dan cenderung tertutup, yang jangankan ditemui, untuk ditelpon saja susahnya sampai jungkir balik.

Value Investing: Analogi Sederhana

Beberapa waktu lalu di Instagram penulis posting ‘value investing quiz’ dengan pertanyaan, jika anda hendak bepergian pakai pesawat dari Jakarta ke Padang dengan hanya dua pilihan jadwal berikut (di hari yang sama), maka berdasarkan kaidah value investing, manakah yang akan anda pilih? Lion atau Garuda? Dan ternyata banyak sekali jawaban yang bagus-bagus yang masuk. Nah, sekarang giliran jawaban dari saya.

'Wonderful Company' di Sektor Konstruksi

Kalau kita bicara sektor konstruksi, maka perhatian investor dalam 1 – 2 tahun terakhir ini hanya terfokus pada emiten-emiten konstruksi BUMN, karena di lapangan kita bisa melihat bahwa pembangunan infrastruktur terus dikebut oleh Pemerintah, dan yang diuntungkan tentunya adalah Waskita Karya dkk. However, perusahaan konstruksi sebenarnya tidak melulu membangun jalan tol dll, melainkan ada juga konstruktor spesialis membangun gedung dan properti. Hanya memang, seiring dengan masih lesunya industri properti itu sendiri, maka kinerja emiten konstruktor gedung ini juga ikut melambat dalam 1 – 2 tahun terakhir, demikian pula saham mereka ikut turun. Namun ternyata masih ada satu perusahaan konstruksi gedung yang kinerjanya baik itu dari sisi pendapatan, laba bersih, nilai kontrak, hingga nilai dividen yang dibayarkan, hingga Kuartal III 2018 kemarin hampir semuanya konsisten naik meski tipis (tapi masih lebih baik dibanding kinerja konstruktor lain yang turun). Perusahaan apakah itu?

Ebook Investment Planning - Kuartal IV 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Menghitung 'Prospek Saham' Dalam Value Investing

Kalau anda ketik ‘prospek saham’ di Google, maka akan keluar beberapa sugesti seperti ‘prospek saham antm’, ‘prospek saham bumi’, ‘prospek saham asii’, dan seterusnya. Tapi ketika anda googling ‘valuasi saham’, maka tidak muncul sugesti ‘valuasi saham asii’. Ini menunjukkan bahwa ketika seorang investor di Indonesia mencoba mencari informasi tentang saham tertentu di Google, maka hampir pasti kata yang ia gunakan adalah ‘prospek saham + kode sahamnya’. Hanya ada sedikit investor yang googling informasi tentang saham menggunakan kata ‘valuasi saham A’, ‘kinerja perusahaan B’, atau lainnya. Kata yang paling sering digunakan, sekali lagi, adalah prospek.

Peluang di Saham Multifinance

Warren Buffett pernah mengatakan bahwa, ketika menghitung valuasi sebuah saham, maka kita jangan hanya melihat aset-aset berwujud milik perusahaan seperti pabrik, persediaan, piutang dst, melainkan kita juga harus melihat aset-aset tidak berwujud seperti reputasi, kekuatan merk, dan keunggulan kompetitif. Singkatnya, jika ada dua perusahaan dengan nilai buku yang persis sama, namun perusahaan A memilik reputasi yang lebih baik, dan produknya pun lebih dikenal masyarakat dibanding perusahaan B, maka Buffett akan memilih perusahaan A, bahkan meski harganya lebih tinggi.

Talkshow Sharing Pengalaman Investasi Saham

Berikut ini adalah video ketika penulis memenuhi undangan BEI Kantor Perwakilan Kalimantan Selatan untuk sharing pengalaman investasi saham, dengan lokasi acara di Hotel Mercure, Kota Banjarmasin. Dalam kesempatan ini penulis berbagi cerita tentang bagaimana awalnya saya masuk ke dunia pasar saham, pengalaman ketika membuka rekening di sekuritas untuk pertama kali, hingga pengalaman membeli saham-saham tertentu, yakni pada tahun 2009 – 2010 lalu. Okay, kita langsung saja.

Prospek Saham di Tahun Pemilu 2019

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, topik ‘prospek atau outlook pasar saham’ di awal tahun 2019 ini mungkin menjadi topik yang sangat penting bagi banyak investor, dan ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, sebagaimana yang kita ketahui, di tahun ini di Indonesia akan ada hajatan besar yakni Pemilihan Umum (Pemilu) sekaligus Pemilihan Presiden (Pilpres). Nah, meski Indonesia pasca reformasi sudah rutin menggelar Pemilu 5 tahunan sejak tahun 1999 lalu, dan juga menggelar Pilpres sejak 2004, namun memang Pemilu tahun 2019 ini sejak awal terasa berbeda khususnya bagi investor saham.