Penulis menyelenggarakan program Boutique Asset Management. Info selengkapnya baca disini.

Penulis menyelenggarakan Seminar Value Investing: Basic & Advanced Class, di Jakarta, Hotel Amaris Thamrin City, hari Sabtu & Minggu, 6 & 7 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini, dan disini. Bonus: Ebook How to be a Full Time Investor, setebal 13 halaman.

Persib vs Persija

Pagi ini, sekitar pukul 08.00 WIB, penulis menerima pesan Whatsapp (WA) dari seorang kerabat, yang ternyata merupakan pesan terusan dari sebuah grup, dengan isi sebagai berikut: ‘Hati-hati warga Bandung dan sekitarnya yang sedang berada di Jakarta atau menuju Jakarta menggunakan mobil dengan plat D. Saat ini di semua ruas tol Jakarta – Bandung sedang ada sweeping plat D oleh suporter Persija.’

Value Investing Advanced Class, Jakarta, 7 Okt

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 7 Oktober 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Value Investing Basic Class, Jakarta, Sabtu 6 Okt

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Basic Class’ di Jakarta, hari Sabtu, 6 Oktober 2018. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi value investing

Prospek IPO Garudafood

IPO dari perusahaan consumer goods dengan brand produk yang kuat tentunya selalu menarik perhatian investor, karena perusahaan dengan ciri-ciri demikian umumnya memiliki fundamental yang bagus serta cocok untuk investasi jangka panjang. Jadi ketika PT Garudafood Putra Putri Jaya mengumumkan bahwa perusahaan akan go public, maka penulis sendiri langsung meluangkan waktu untuk menganalisanya. However, setelah membaca prospektusnya, saya malah jadi bingung sendiri. Ada apa?

Rupiah 15,000??

Beberapa waktu lalu ketika penulis bepergian, di pesawat saya membaca sebuah artikel di majalah yang ada di kabin, yang intinya menjelaskan bahwa jika terjadi turbulensi/getaran pada badan pesawat, maka itu adalah sesuatu yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Tak butuh waktu lama, saya langsung memahami maksud dari artikel tersebut: Penumpang yang sudah sering naik pesawat sekalipun seringkali khawatir jika pesawat mengalami turbulensi, dan beberapa orang mungkin langsung kapok naik pesawat jika pesawatnya kebetulan mengalami goncangan keras. Jadi dengan membaca artikel tersebut maka diharapkan bahwa para penumpang, termasuk penulis, untuk tidak lagi menganggap kejadian turbulensi sebagai sesuatu yang menakutkan.

Sharing Pengalaman: Pak Joeliardi Sunendar

Sebagai investor, ada satu ‘aset’ yang menurut penulis sangat berharga untuk dimiliki, namun sekaligus sangat sulit untuk diperoleh: Kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan investor yang lebih senior. Berharga, karena dari mereka-lah kita bisa memperoleh sharing pengalaman, pencerahan, dan nasihat-nasihat penting, dimana itu semua sangat dibutuhkan dalam kegiatan berinvestasi itu sendiri. Namun kesempatan ini juga sulit untuk diperoleh, mengingat investor senior yang sudah berinvestasi di pasar saham sejak tahun 80-an atau 90-an (BEI itu sendiri baru buka lagi tahun 1977), dan masih aktif berinvestasi sampai sekarang, itu jumlahnya tidak banyak. Dan kalaupun ada maka biasanya mereka low profile dan cenderung tertutup, yang jangankan ditemui, untuk ditelpon saja susahnya setengah mati (dan actually penulis sendiri juga begitu, karena untuk bisa berinvestasi dengan baik dan benar, maka anda harus menghindari hiruk pikuk pasar, alias pergi menyendiri ke satu tempat yang tidak ada sinyal internet).