Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

Menghitung Nilai Wajar BRI Syariah Pasca Merger

Gambar
Setelah pada 13 Oktober lalu, Bank BRI Syariah (BRIS) mengumumkan secara resmi kepastian rencana merger-nya dengan Bank Syariah Mandiri (BSM), dan Bank BNI Syariah (BNIS), maka seminggu kemudian, pada 21 Oktober, perusahaan merilis informasi rancangan merger tersebut, yang menjelaskan tentang mekanisme penggabungan, siapa dapat apa, berapa jumlah saham baru yang akan diterbitkan, dan seterusnya. Dari informasi inilah, kita kemudian bisa dengan jelas menganalisa prospek BRIS pasca merger-nya nanti, dan berikut analisa selengkapnya.

Webinar Value Investing, Sabtu 6 Februari 2021

Gambar
Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan seminar online (webinar) investasi saham dengan tema Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang . Kelas webinar ini merupakan lanjutan dari kelas seminar tatap muka Value Investing basic & Advanced yang terakhir diselenggarakan pada bulan Juli 2020, dimana kita akan  diskusi dua arah & tanya jawab , serta me-review kembali materi yang sudah disampaikan di videonya. Jadi pada webinar ini, anda berkesempatan untuk mengajukan sejumlah pertanyaan terkait materi seminarnya untuk nantinya dijawab langsung oleh penulis sebagai pemateri. Selain itu anda juga bisa mengajukan pertanyaan, atau konsultasi terkait point-point berikut: Analisa serta prospek dari emiten/saham tertentu, tentunya dari sudut pandang fundamental dan value investing, Pengetahuan umum tentang investasi saham, dunia keuangan, hingga ekonomi, termasuk penjelasan lebih detail tentang istilah-istilah tertentu di dunia pa

Bank BTN: Kinerja Kuartal III 2020 Membaik!

Gambar
Bank BTN (BBTN) hingga Kuartal III 2020 melaporkan laba bersih Rp1.1 trilyun, naik signifikan dibanding periode yang sama di tahun 2019 sebesar Rp801 milyar, dan menariknya itu terjadi ketika perusahaan masih membukukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) senilai Rp1.6 trilyun, dimana angka beban ini masih lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya (apa itu CKPN? Baca lagi penjelasannya disini ). Dengan kata lain, jika CKPN ini tidak ada, maka harusnya laba BBTN lebih besar lagi. Disisi lain, dengan PBV hanya 0.8 kali, maka sebagai saham bank BUMN dengan reputasi baik dan populer, maka BBTN praktis murah. An opportunity?

Link Net

Gambar
PT Link Net, Tbk (LINK) hingga Kuartal II 2020 kemarin melaporkan laba bersih Rp456 milyar, turun dibanding periode yang sama di tahun 2019 sebesar Rp527 milyar, namun laba tersebut mencerminkan ROE 21.1%, alias cukup besar, atau bahkan sangat besar jika dibandingkan dengan ROE dari emiten-emiten lainnya di Bursa Efek Indonesia, yang rata-rata drop karena efek resesi. Disisi lain, sebagai perusahaan penyedia layanan internet, maka prospek LINK memang justru semakin baik seiring dengan adanya trend work from home . Nah, tapi jika demikian, lalu kenapa sahamnya tetap turun signifikan (hampir 50%) sepanjang tahun 2020 ini? Dan kenapa pula beredar berita bahwa LINK ini hendak dijual oleh pemiliknya?

UU Cipta Kerja Disahkan, Saham Apa yang Diuntungkan?

Gambar
Awal tahun lalu, tepatnya pada tanggal 7 Februari 2020, Pemerintah secara resmi menyampaikan rancangan undang-undang (RUU) tentang Cipta Kerja kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) setebal 1,028 halaman (setelah paripurna, finalnya menjadi 905 halaman). Sesuai namanya, RUU ini, ketika nanti disahkan, bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia, dengan cara: 1. Mendorong peningkatan investasi, 2. Mengembangkan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), dan 3. Mendorong percepatan dan kelancaran investasi pemerintah. RUU ini kemudian dimasukkan dalam Program Legislasi Nasional Prioritas, untuk ditetapkan pada tahun 2020 ini juga.

Telkom

Gambar
Saham PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, atau PT Telkom (TLKM) menjadi pusat perhatian setelah pada bulan September kemarin terus turun hingga sempat menyentuh 2,540 secara intraday, yang merupakan posisi terendahnya dalam 5 tahun terakhir. Sehingga banyak yang kemudian menyebut bahwa TLKM sekarang sudah murah, tapi benarkah demikian? Lalu bagaimana dengan rencana IPO anak usaha TLKM, PT Mitratel?