Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

Ebook Investment Planning Kuartal I 2024 - Sudah Terbit!

Gambar
Penulis (Teguh Hidayat) di acara Berkshire Hathaway Annual Meeting 2022 di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, yang dihadiri langsung oleh investor legendaris Warren Buffett. Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat Ebook Investment Planning (EIP, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental  saham-saham pilihan , yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode  Kuartal I 2024 . Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Saham Tidak Bayar Dividen, Apakah Masih Layak Investasi?

Gambar
Pak Teguh, sekarang ini kan lagi musim pembayaran dividen, tapi saya perhatikan tidak semua emiten/perusahaan di BEI membayar dividen ke investornya. Jadi untuk saham yang tidak bayar dividen ini, what’s the point of owning it ? Betul, selain dividen maka investor juga mendapat keuntungan dalam bentuk capital gain, yakni jika harga sahamnya di pasar naik, tapi keuntungan itu kan hanya akan terealisasi jika kita jual sahamnya, jadi beda dengan dividen yang ditransfer secara langsung dan tunai ke rekening investor. Mohon penjelasannya pak? *** Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi terbaru  Q1 2024 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini . Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis. *** Jawab: Bagi investor, memiliki saham dari perusahaan yang tidak bayar dividen adalah kurang lebih sama seperti memiliki logam mulia/emas. Perhatikan: Emas tidak bayar dividen. Emas hanya menghasilkan keuntungan tunai jika dijual pada

Saham Untuk Investasi Jangka Panjang: Mulia Boga Raya (KEJU)

Gambar
PT Mulia Boga Raya, Tbk (KEJU) melaporkan laba bersih Rp40 miliar di Q1 2024, naik 34.6% dibanding periode yang sama tahun 2023. Dan jika kenaikan ini berlanjut sampai akhir tahun nanti, maka ini adalah kali pertama KEJU kembali membukukan kenaikan laba setelah pada tahun 2022 dan 2023 lalu laba tersebut cenderung turun. Meski demikian jika ditarik lebih jauh ke belakang maka pertumbuhan perusahaan terbilang pesat sejak berdirinya pada tahun 2006, dengan kinerja yang juga konsisten bertumbuh (kecuali pada tahun 2022 dan 2023 itu tadi), dan karena itulah penulis sendiri sempat menganggap KEJU ini layak untuk investasi jangka panjang. Nah, jadi dengan sekarang kinerja perusahaan sudah kembali on track untuk tumbuh seperti biasanya, maka apakah itu artinya sahamnya kembali bisa dikoleksi untuk kemudian disimpan saja untuk seterusnya? *** Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi terbaru  Q1 2024 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini . Gratis tanya ja

Prospek Cerah Saham Pakan Ayam: Japfa Comfeed Indonesia (JPFA)

Gambar
PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk (JPFA) sudah merilis laporan keuangan Q1 2024, dengan hasil yang memuaskan: Pendapatannya naik dari Rp11.8 triliun di tahun lalu menjadi Rp13.9 triliun, dan perusahaan sukses mencetak laba bersih Rp665 miliar, berbalik dari sebelumnya rugi Rp250 miliar, yang mencerminkan ROE disetahunkan 19.2%. Sehingga jika kinerja positif tersebut bertahan sampai akhir tahun 2024 nanti, maka ini adalah kali pertama perusahaan kembali membukukan kenaikan laba bersih setelah pada dua tahun sebelumnya (2022 dan 2023) labanya cenderung turun. Menariknya lagi, dua perusahaan lain di sektor yang sama, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk (CPIN), dan PT Malindo Feedmill, Tbk (MAIN), juga sama membukukan kenaikan pendapatan serta laba bersih di Q1 2024. Nah, jadi apakah setelah mati suri selama tiga tahun terakhir, maka di tahun 2024 ini saham-saham poultry bakal bangkit lagi? *** Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi terbaru  Q1 2024 su