Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Kobexindo Tractors

Kobexindo Tractors (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja KOBE) adalah perusahaan yang tergolong baru dan masih berukuran kecil di sektor penjualan dan penyewaan alat-alat berat (heavy equipment). Jika dibanding tiga perusahaan alat-alat berat lainnya yang sudah lebih dulu listing di bursa, yaitu United Tractors (UNTR), Intraco Penta (INTA), dan Hexindo Adiperkasa (HEXA), maka KOBE adalah ‘anak muda yang masih belum punya apa-apa’. Namun dalam lima tahun terakhir, KOBE cukup mampu menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Pada tahun penuh 2011, KOBE mencatat laba bersih Rp80 milyar, dibanding Rp7 milyar pada tahun 2006. Lalu kira-kira bagaimana prospekya? Here we go.

Seperti juga perusahaan alat-alat berat lainnya, KOBE menjual dan menyewakan alat-alat berat yang diambil dari produsen luar negeri. Beberapa merk alat-alat berat yang dipegang KOBE adalah Doosan (Korea Selatan), Daewoo (Korea Selatan), NHL (Tiongkok), dan Jungheinrich (Jerman). Di Indonesia, merk-merk alat berat yang lebih dikenal adalah Komatsu (dijual oleh UNTR), Caterpillar (Trakindo, gak listing), Hitachi (HEXA), dan Kobelco (Daya Kobelco Indonesia, gak listing), sehingga bisa dikatakan bahwa KOBE hanya menjual produk-produk kelas dua, setidaknya kalau dari sisi brand (kalau dari sisi kualitas mungkin sama saja). Namun sepertinya itu tidak jadi masalah, dimana KOBE tetap mencatat penjualan yang terus meningkat. Kalau kita perhatikan perusahaan alat berat lainnya yaitu Intraco Penta, mereka juga hanya menjual alat berat merk Volvo, namun kinerjanya tetap boleh dibilang tokcer. Hal ini mungkin karena para pembeli dan penyewa alat-alat berat tidak begitu fanatik terhadap merk. Mereka lebih memperhatikan soal apakah alat berat yang dibeli memiliki spesifikasi sesuai kebutuhan atau tidak. Dan salah satu merk alat berat yang dijual KOBE, Jungheinrich, memiliki kelebihan khusus yaitu spesifikasinya dapat diutak atik (customized) agar sesuai dengan kebutuhan konsumen.


Namun tetap saja, tantangan terbesar bagi KOBE adalah bagaimana cara memperluas pangsa pasar dari produk-produknya. Dan strategi untuk itu adalah dengan ‘menjemput bola’, dengan membuka kantor-kantor cabang baru di lokasi yang dekat dengan lokasi pertambangan batubara (dimana biasanya para perusahaan tambang batubara tentunya membutuhkan alat-alat berat), yaitu Samarinda dan Balikpapan (Kalimantan Timur), dan Palembang (Sumatera Selatan). Khusus untuk kantor cabang di Palembang, perusahaan melihat adanya peluang yang cukup besar karena disana terdapat beberapa perusahaan yang sedang mengembangkan industri coal bed methane, yaitu industri yang mengubah batubara menjadi gas alam metana. KOBE juga akan mendirikan kantor cabang di wilayah Sulawesi dan Pulau Halmahera (belum ditentukan di kota apa), karena adanya prospek pasar dari banyak perusahaan tambang tembaga, emas dan nikel disana. Sementara untuk memperluas area distribusi di Pulau Jawa, KOBE akan mendirikan dua kantor cabang masing-masing di Semarang, dan Surabaya. Duitnya dari mana? Ya dari IPO lah.

Tapi apakah pendapatan KOBE tergantung hanya dari perusahaan-perusahaan tambang? Untungnya nggak. KOBE juga punya banyak pelanggan dari kelompok perusahaan consumer goods, terutama untuk produk lift-truck. KOBE juga berencana untuk masuk ke pasar penjualan alat-alat berat untuk perusahaan perkebunan kelapa sawit dan infrastruktur. Dan ini adalah kelebihan KOBE dibanding perusahaan alat-alat berat lainnya, yang kebanyakan menggantungkan pendapatannya hanya dari sektor tambang.

Sayangnya tidak seperti perusahaan alat-alat berat lain yang biasanya juga punya unit-unit usaha yang terintegrasi seperti pembiayaan alat-alat berat, kontraktor tambang, atau perusahaan tambang itu sendiri, KOBE sepenuhnya hanya bermain di sektor penjualan dan penyewaan alat-alat berat (termasuk spare part dan maintenance), dan juga tidak memiliki rencana untuk pengembangan usaha untuk menjadi perusahaan alat-alat berat yang terintegrasi (contohnya seperti UNTR). Mengingat bahwa terkadang perusahaan yang membeli alat berat juga membutuhkan layanan tambahan, misalnya layanan pembiayaan (soalnya harga alat-alat berat itu mahal gan!), layanan engineering, hingga kontraktor tambang, maka boleh dikatakan bahwa KOBE belum bisa disebut sebagai one stop solutions company. Dalam hal ini KOBE kalah jauh dibanding INTA atau UNTR. KOBE memang menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan pembiayaan dalam menjual produk-produknya, namun mereka nggak punya perusahaan pembiayaan sendiri. Tapi sekali lagi, hal ini juga ternyata tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Kompetitor KOBE lainnya, HEXA, juga hanya menjual dan menyewakan alat-alat berat tanpa memiliki unit-unit usaha di bidang lainnya yang berkaitan, tapi kinerjanya tetep aja lancar jaya.

Terus bagaimana dengan outlook-nya? Kalau untuk industri alat-alat berat-nya sendiri, sejak tahun 2010 Pemerintah RI telah membebaskan bea impor untuk alat-alat berat (yang berdampak positif pada peningkatan pendapatan perusahaan), dan pada saat ini Pemerintah sedang menyusun peraturan terkait pengadaan lahan, barang, dan jasa, dalam rangka mempermudah masuknya investasi terutama di bidang infrastruktur (dan pembangunan infrastruktur tentunya membutuhkan alat berat). Sementara untuk sektor batubara dimana banyak perusahaan tambang yang menjadi pelanggan KOBE disana, Pemerintah baru saja mengkonfirmasi bahwa tidak ada bea ekspor untuk batubara. Sounds good! IPO KOBE ini juga karena perusahaan tampaknya memang membutuhkan banyak dana untuk menggarap berbagai peluang ekspansi, itu terlihat dari jumlah utang meningkat dua kali lipat di tahun 2011, peningkatan tertinggi dalam lima tahun terakhir, dan sebagian besar utang tersebut merupakan utang usaha (pengambilan unit-unit alat berat dari produsen yang masih belum dibayar).

Itu outlook dari sisi optimisme-nya. Terkait risikonya, di prospektusnya KOBE menekankan bahwa permintaan pasar domestik akan batubara akan meningkat pesat hingga tahun 2015 nanti, seiring dengan selesainya proyek pembangunan PLTU 10,000 MW, sehingga seharusnya para perusahaan batubara akan tetap menggenjot produksinya, meskipun permintaan batubara dari Tiongkok dan India bisa menurun sewaktu-waktu. Soal proyek PLTU 10,000 MW ini kita pernah membahasnya, dan kalau penulis sih cenderung pesimis karena seharunya proyek tersebut sudah kelar tahun 2010 lalu (PLN oh PLN..). Jadi mungkin agak riskan juga kalau KOBE terlalu ‘mengharapkan’ proyek tersebut. Mungkin yang nantinya patut diperhatikan adalah, seberapa gigih perusahaan dalam berupaya memasuki pasar penyediaan alat-alat berat untuk sektor perkebunan kelapa sawit dan infrastruktur, terutama infrastruktur yang pada saat ini sendang tumbuh pesat, dengan tetap mempertahankan para pelanggannya di sektor consumer goods. Jika KOBE sukses dalam upayanya tersebut, maka there is nothing to worry about. Tapi jika tidak? Ya kita berharap saja semoga PLN segera menyelesaikan proyek PLTU-nya, pertumbuhan ekonomi di Tiongkok tetap meningkat pesat (soalnya India katanya mulai melambat), dan para perusahaan tambang bijih logam bisa segera menyelesaikan pembangunan smelter-nya sebelum deadline tahun 2014. Jika anda berminat untuk berinvestasi di KOBE ini, dan juga perusahaan alat-alat berat lainnya, maka itu semua patut diperhatikan.

Sebenarnya untuk sektor batubaranya sendiri, penulis melihat bahwa outlook-nya masih bagus, mengingat sifat dari batubaranya sendiri yang merupakan bahan bakar paling ekonomis untuk pembangkit listrik, sehingga permintaannya gak akan pernah habis (kecuali kalau umat manusia balik lagi ke jaman batu dimana nggak ada listrik), dan karena para perusahaan batubara terutama yang besar-besar, biasanya punya akses yang bagus ke banyak pembeli internasional, sehingga jika satu pembeli berhenti berlangganan, mereka bisa menjualnya ke pembeli yang lain.

Namun, outlook yang bagus tersebut belum tentu akan berimbas positif pada KOBE, mengingat para pembeli alat-alat berat yang dijual KOBE bukanlah perusahaan tambang batubara, melainkan perusahaan kontraktor tambang batubara. Dan disinilah tantangannya: Dari empat perusahaan kontraktor tambang terbesar di Indonesia, yaitu (diurutkan dari yang terbesar) Pamapersada, Bukit Makmur, Thiess, dan Darma Henwa, hanya Bukit Makmur dan Thiess yang menjadi pelanggan KOBE. Mengingat bahwa Pamapersada sebagai perusahaan kontraktor terbesar nyaris gak mungkin beli alat berat dari KOBE (soalnya Pamapersada adalah anak usahanya UNTR), maka pangsa pasar KOBE terbatas hanya pada perusahaan kontraktor yang lebih kecil, dimana para perusahaan kontraktor ini juga hanya punya pelanggan perusahaan batubara kelas kecil dan menengah. Keterbatasan inilah yang menyebabkan KOBE bisa ‘kena duluan’ jika terjadi sesuatu yang nggak bagus pada sektor batubara, apalagi mereka nggak punya perusahaan kontraktor sendiri.

Kesimpulannya KOBE ini barangnya bagus, punya potensi untuk menjadi besar dengan cepat mengingat pertumbuhan di sektornya sedang bagus-bagusnya (UNTR meski besar namun pertumbuhannya sudah mulai mentok), namun jenis usahanya memiliki cukup banyak risiko usaha. KOBE memang punya ‘plan B’ jika sumber pendapatannya di sektor tambang mandek, yaitu dengan masuk ke sektor lain, tapi itu belum dilakukan (kecuali produk Jungheinrich yang sudah punya banyak pelanggan di sektor consumer goods). Untuk saat ini kalau berdasarkan historisnya, KOBE layak dijadikan pegangan long term, but with cautions. KOBE mungkin tidak bisa dipakai untuk trading, mengingat KOBE hanya melepas 858 juta lembar saham ketika IPO-nya, sehingga kemungkinan sahamnya nggak akan likuid.

Soal sahamnya, KOBE dikabarkan akan melepas saham di harga Rp380 – 520 per saham. Kita ambil yang terendah, yaitu Rp380 per saham, yang akan mencerminkan market cap Rp1.2 trilyun. Posisi equity KOBE per akhir tahun 2011 adalah Rp208 milyar. Ditambah hasil IPO sebesar Rp380 x 858 juta = Rp326 milyar (setelah dikurangi biaya emisi, mungkin bersihnya Rp310 milyar), maka equity KOBE akan menjadi Rp208 + 310 = Rp518 milyar, sehingga PBV-nya Rp1.2 trilyun / Rp518 milyar = 2.3 kali (kita pakai PBV sebagai patokan valuasi karena utang KOBE lumayan banyak). Dengan ROA yang mencapai 7.1% kalau berdasarkan laporan keuangan tahun penuh 2011, maka harga tersebut terbilang wajar, meski gak bisa dikatakan murah juga. Pada hari listing perdananya, penulis cukup optimis bahwa KOBE bisa naik ke posisi 420, dengan catatan ketika itu IHSG sudah pulih, atau setidaknya gak turun-turun lagi kaya sekarang.

Tapi bagaimana kalau KOBE dijual di harga Rp500 atau bahkan 520? Ya kalau underwriter-nya maksa gitu sih, mendingan gak usah ikutan dulu deh. Kita liat dulu bagaimana pergerakan sahamnya di market, apakah beneran naik atau nggak.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

4 komentar:

Davi Sukses mengatakan... Balas

Pak Teguh, di mana ya bisa dapat proposal IPO nya KOBE ? Koq saya cari di website nya dan di IDX g ada ya ? Trims.

Anonim mengatakan... Balas

Pak, masalah bea keluar batubara uda ada kejelasan ya? berita tentang itu bisa saya cari dimana?

Anonim mengatakan... Balas

Pak Teguh tolong dong dianalisa emiten EPMT katanya dia distributornya KLBF bagaimana prospeknya ke depan bbrp minggu ini RX kolek terus ..... trims ya pak.

Anonim mengatakan... Balas

Pak Teguh, hari ini IHSG udah drop ke 3.800. Masih bisa jatuh lagi ngga ya..?