Prospek Saham Energi Terbarukan, Kencana Energi Lestari (KEEN)

Kalau kita bicara tentang sektor energi baru dan terbarukan (EBT) di Bursa Efek Indonesia, maka sebagian besar investor mungkin akan menunjuk ke tambang nikel, baterai lithium, dan mobil listrik. Karena memang sudah sejak tahun 2020 lalu pemberitaan tentang nikel-baterai-mobil listrik ini sangat massive sekali, dimana jika ketika itu saham yang banyak disebut-sebut adalah PT Aneka Tambang, Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia, Tbk (INCO), maka sekarang yang disebut-sebut adalah yang baru kemarin IPO yakni PT Trimegah Bangun Persada, Tbk (NCKL), dan PT Merdeka Battery Minerals, Tbk (MBMA).

***

Ebook Market Planning edisi Mei 2023 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis info jual beli saham, dan tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

***

Dan meski penulis sendiri sudah sering melihat situasi salah kaprah di pasar saham, tapi mungkin tidak ada salah kaprah yang lebih besar dari cerita energi terbarukan yang dikaitkan dengan baterai mobil listrik ini. Karena, perhatikan: Memang betul bahwa jika pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Indonesia yang sudah digadang-gadang sejak tiga tahun lalu itu pada akhirnya terealisasi, maka penggunaan mobil dan motor listrik di Indonesia akan meningkat, menggantikan kendaraan berbahan bakar minyak. Nah, tapi lalu dari mana sumber listrik untuk mobil listrik tersebut? Ya dari pembangkit listrik. Karena baterai lithium/nikel hanya menjadi tempat menyimpan listrik tapi tidak bisa menghasilkan listrik itu sendiri. Dan faktanya sampai dengan saat ini sekitar 80% pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan bahan bakar minyak, atau batubara.

Sehingga, jika anda sekarang sudah pakai mobil listrik, maka terdapat 80% kemungkinan bahwa mobil anda itu sejatinya masih pakai energi fosil (minyak/batubara). Jadi jika kita hendak bicara EBT maka yang harus kita lihat adalah perusahaan pembangkit listrik itu sendiri, apakah benar sudah pakai EBT tersebut atau masih pakai minyak/batubara. Di Indonesia terdapat enam macam EBT yang sudah mulai digunakan untuk pembangkit listrik, yakni tenaga bayu (angin), tenaga surya (matahari), tenaga air, biogas, biomas, dan geothermal (panas bumi). Perlu diketahui pula bahwa EBT di Indonesia ini sebenarnya sudah dikembangkan sejak lama. Misalnya untuk panas bumi, maka Pemerintah melalui PT Pertamina Geothermal Energy, Tbk (PGEO) sudah membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Kawah Kamojang, Jawa Barat, pada tahun 1983. Namun karena dalam perkembangannya PLTP ini mahal dan tidak efisien (baca: Energi listrik yang dihasilkan tidak setimpal dengan biaya yang dikeluarkan) dibanding misalnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batubara (batubara sangat murah karena Indonesia punya banyak dan tinggal gali saja), dan demikian pula pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) semuanya kurang efisien, maka jadilah dalam beberapa dekade berikutnya Pemerintah lebih banyak membangun PLTU, dan karena itulah pada hari ini pembangkit listrik di Indonesia didominasi oleh yang berbahan bakar batubara.

Disisi lain kita tahu bahwa batubara itu ‘kotor’ karena menimbulkan polusi, dan sebanyak apapun cadangan batubara di Indonesia pada akhirnya nanti akan habis juga. Karena itulah, seiring dengan meningkatnya status Indonesia dari negara berkembang menjadi calon superpower, atau setidaknya demikianlah menurut klaim Pemerintah, maka Pemerintah sejak sekitar satu dasawarsa terakhir kembali berkomitmen mengembangkan EBT, karena kali ini mereka punya duitnya.

Dan salah satu komitmen tersebut adalah dengan cara BUMN PLN bekerjasama dengan sejumlah pihak ketiga, salah satunya PT Kencana Energi Lestari, Tbk (KEEN), dimana pihak ketiga ini membangun pembangkit listrik tenaga energi terbarukan, dan kemudian PLN tidak hanya menjamin bahwa mereka akan membeli listrik yang dihasilkan, tapi PLN juga akan mengambil alih/membeli pembangkit listrik tersebut setelah periode waktu tertentu pada harga yang sudah ditentukan, yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Nah, sebelum adanya tawaran kerjasama ini oleh PLN ini, maka perusahaan swasta biasanya gak berani membangun pembangkit listrik karena biayanya sangat mahal dan konstruksinya butuh waktu panjang (biaya konstruksi satu komplek pembangkit listrik mencapai Rp100 – 200 miliar, dan butuh waktu 2 – 3 tahun untuk selesai dibangun dan beroperasi), sedangkan harga jual listrik itu sendiri sebaliknya sangat murah. Sehingga terdapat risiko yang besar bahwa investasinya gak bakal balik modal alias rugi, apalagi jika pembangkit listriknya menggunakan EBT yang lebih mahal dibanding batubara. Namun dengan adanya jaminan dari PLN ini maka KEEN dkk bisa fokus membangun pembangkit listrik tenaga EBT itu sendiri, tanpa perlu khawatir bahwa mereka akan tekor.

Okay, sekarang kita kembali ke KEEN. PT Kencana Energi Lestari, Tbk baru berdiri pada tahun 2008, ketika itu memang karena para founder perusahaan memperoleh kesepakatan pembelian listrik atau power purchase agreement (PPA) dari PLN sebanyak total 64 megawatt (MW) dari 5 lokasi pembangkit listrik, dimana 4 diantaranya merupakan PLTA, dan 1 lagi merupakan pembangkit listrik tenaga biomass (PLTBm). Maka KEEN kemudian membangun lima pembangkit listrik tersebut secara bertahap, dimana salah satunya sudah selesai dibangun dan beroperasi pada tahun 2018 lalu, lalu menyusul pembangkit-pembangkit lainnya juga selesai dibangun dan beroperasi. Hingga akhirnya pada akhir tahun 2022 kemarin, kelima pembangkit listrik di atas semuanya selesai dibangun dan beroperasi, dan KEEN kemudian mencatatkan pendapatan $41.8 juta serta laba bersih $12.6 juta, yang merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Disisi lain karena dari kelima pembangkit tersebut belum semuanya beroperasi penuh, maka untuk tahun 2023, 2024 dan seterusnya, pendapatan serta laba bersih KEEN bisa tumbuh lebih besar lagi. Dan memang pada Kuartal I 2023 barusan, pendapatan KEEN kembali cetak rekor menjadi $13.2 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya $9.7 juta. Demikian pula laba bersihnya lompat menjadi $4.9 juta, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya $3.2 juta.

Prospek Jangka Panjang: Cerah

Kemudian disinilah menariknya: Sebenarnya jika KEEN kedepannya hanya memaksimalkan operasional dari lima pembangkitnya yang sudah ada saja, maka pendapatan serta labanya tetap akan lanjut bertumbuh. Tapi mungkin karena pihak PLN melihat bahwa pihak KEEN mampu men-deliver pembangunan pembangkit listriknya secara tepat waktu, maka PLN dan KEEN secara bertahap memperbaharui perjanjian diantara kedua belah pihak, yang pada intinya memungkinkan KEEN untuk membangun banyak pembangkit listrik baru diluar lima pembangkit yang sudah ada. Alhasil KEEN pada saat ini memiliki rencana untuk membangun setidaknya lima belas pembangkit listrik baru dengan tenaga air, angin, matahari, dan biogas, secara bertahap hingga setidaknya tahun 2025 mendatang. Dan jika semuanya lancar, maka pada tahun 2025 tersebut KEEN akan memiliki kapasitas produksi listrik sebanyak lebih dari 500 MW (dari saat ini hanya 64 MW), dengan pendapatan $413 juta, serta laba bersih $175 juta. Dan itu adalah proyeksi yang sangat menarik, tentu saja, karena itu artinya laba bersih perusahaan akan tumbuh lebih dari 10 kali lipat dibanding pencapaian laba bersihnya di sepanjang tahun 2022 kemarin. Proyeksi ini juga selaras dengan energy transition roadmap yang dibuat oleh Kementerian ESDM, yang menyebut bahwa pada tahun 2025 nanti sekitar 23% energi listrik di Indonesia bersumber dari EBT, meningkat dari hanya 12% di tahun 2021. Yang juga penulis perhatikan adalah fakta bahwa KEEN tidak butuh utang bank terlalu besar untuk membiayai pembangunan pembangkit listriknya, dan alhasil kita tidak perlu khawatir perusahaan kedepannya akan merugi/labanya kecil, karena perusahaan tidak menanggung beban bunga yang besar.

Hanya tentu, proyeksi jangka panjang di atas pada akhirnya hanyalah proyeksi yang bisa saja tidak tercapai. Jadi jika kita kembali lagi ke situasi KEEN pada saat ini (tahun 2023), maka yang jelas pendapatan serta labanya confirm lanjut naik dibanding tahun 2022, dan harusnya akan lanjut naik sampai akhir tahun seiring meningkatnya aktivitas operasional dari pembangkit yang sudah ada. Nah, penulis sendiri sebenarnya sudah sering menerima permintaan analisa untuk KEEN ini sejak perusahaannya IPO pada harga perdana Rp396 per saham pada September 2019 lalu, yakni karena cerita energi terbarukan memang sudah banyak dibicarakan sejak tahun 2019 tersebut. Tapi karena pada saat itu kinerja perusahaan belum cukup bagus (karena memang baru satu dari lima pembangkitnya yang sudah beroperasi, itupun belum beroperasi penuh), maka penulis jawab bahwa saya sendiri tidak tertarik dengan KEEN ini. Barulah pada pertengahan 2022 kemarin, yakni setelah labanya lompat hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2021, maka penulis mulai melirik sahamnya, tapi lagi-lagi saya mengurungkan rencana untuk masuk karena ketika itu saham KEEN juga sudah lompat duluan ke 900-an, atau sudah naik kelewat banyak dibanding titik terendahnya pada bulan Mei 2020 lalu, yang hanya 250-an.

Hingga pada awal tahun 2023 ini, seiring dengan koreksi IHSG maka KEEN juga kembali melandai ke posisi 500-an, dan valuasinya kembali atraktif dengan PER hanya 6.7 dan PBV 0.8 kali pada harga Rp545 per saham. Kemudian karena disisi lain kinerjanya confirm masih bertumbuh maka ya sudah: Jika kedepannya kondisi pasar sudah lebih baik/IHSG naik, maka KEEN juga akan kembali lagi ke 900-an, mungkin bisa lebih tinggi dari itu jika pada akhirnya nanti investor menyadari bahwa KEEN inilah yang merupakan perusahaan energi terbarukan yang sebenarnya, jadi bukan perusahaan-perusahaan nikel itu.

Tinggal sekarang risikonya. Diatas penulis katakan bahwa pembangkit listrik EBT ini tidak efisien/lebih mahal dibanding PLTU, dan hal itu masih belum berubah sampai hari ini. Jadi meski sudah ada perjanjian dari PLN untuk membeli seluruh produksi listrik yang dihasilkan oleh KEEN, tapi tetap terdapat risiko bahwa PLN akan gagal memenuhi kewajibannya, yakni jika pihak PLN mengalami kesulitan keuangan atau force majeure tertentu, dan masalahnya satu-satunya pelanggan KEEN ya hanya PLN ini saja. Disisi lain anda mungkin sudah mendengar bahwa Indonesia pada saat ini kelebihan pasokan listrik, karena memang dalam 5 – 10 tahun terakhir ini ada banyak pembangunan pembangkit listrik baik itu oleh perusahaan swasta maupun oleh PLN itu sendiri. Penulis sendiri percaya bahwa masalahnya sebenarnya bukan di kelebihan pasokan, melainkan belum meratanya distribusi listrik itu sendiri dimana satu daerah mungkin benar kelebihan pasokan listrik, tapi daerah lainnya masih byar pet. Dan saya kira inilah alasan kenapa kelima pembangkit milik KEEN berlokasi cukup jauh di daerah, yakni Sumatera Utara, Bengkulu, Bangka Belitung, hingga Sulawesi Utara. Dan demikian pula proyek-proyek yang akan dibangun selanjutnya berlokasi daerah yang masih kekurangan pasokan listrik, jadi bukan di Pulau Jawa dimana pembangkit listrik disini sudah ada banyak banget. Namun demikian isu kelebihan pasokan listrik ini tetap harus kita perhatikan sebelum memutuskan untuk membeli sahamnya.

Untuk Minggu depan kita akan membahas rencana BEI memberlakukan batas autoreject bawah 15%, lebih besar dari saat ini 7%, serta bagaimana kita sebagai investor harus menyikapi rencana tersebut.

***

Ebook Market Planning edisi Mei 2023 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis info jual beli saham, dan tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

Patrick mengatakan…
Hari ini saham keen terbang
YSP mengatakan…
Setuju sekali dengan potensi/prospek Dan risiko Yang disampaikan Pak Teguh. Namun untuk risiko, bila konsumen nya adalah konsumen tinggal yaitu PLN, Dan PLN ini memonopoli layanan listrik Di Indonesia, maka risiko terjadinya force major sangat tinggi. PLN ini adalah sebuah BUMN Yang direksi Dan komisarisnya diganti setidaknya setiap 5 tahun. Pengaruh dinamika politiknya, baik Dari Eksekutif maupun legislatif juga besar.
Dengan alasan untuk hajat hidup orang banyak, bisa saja ke depan margin perusahaan diperas hingga tipis agar harga listrik untuk masyarakat tetap murah/terjangkau.
Demikian.
YSP
Unknown mengatakan…
Udah naik 21+%, terlambat kita
Anonim mengatakan…
Tgl 3 Mei sempat beli di harga 575, sore ini sdh naik 24%. Mudah2an terus tembus 900an.
Anonim mengatakan…
Resikonya ngeri, pelanggannya hanya PLN, penuh dengan dinamika politik.
Asep mubasir Lynch mengatakan…
Mengapa kalian takut? Liat itu POWR yg listrik produksinya dibeli oleh PLN juga bertahun tahun dan lancar saja tho?
Kuncinya adalah selama si prmbangkit KEEN bisa memonopoli suatu wilayah dimana pemain lain atau PLN tidak mengelola wilayah sana.. Maka itulah potensi pendapatannya akan tumbuh teyuss dan bakal bahi dipiden lancar macam si POWR

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Kuartal II 2024 - Terbit 8 Agustus

Live Webinar Value Investing Saham Indonesia, Sabtu 20 Juli 2024

Indo Tambangraya Megah: Masih Royal Dividen?

Prospek Saham Samudera Indonesia (SMDR): Bisakah Naik Lagi ke 600 - 700?

Mengenal Investor Saham Ritel Perorangan Dengan Aset Hampir Rp4 triliun

Saham Telkom Masih Prospek? Dan Apakah Sudah Murah?

Prospek IPO Barito Renewables Energy (BREN): Lebih Cuan dari PGEO?