Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Outlook Sektor Sawit: Antara Harga CPO dan Biodiesel

Setelah sempat turun sedikit pada bulan Mei – Juni kemarin, sepanjang dua bulan terakhir IHSG terus naik hingga terakhir ditutup di posisi 5,199. Jika trend-nya begini terus, maka sepertinya cuma soal waktu saja sebelum IHSG akan kembali mencatat new high, dimana posisi tertinggi yang pernah diraih IHSG selama ini adalah 5,251, yang dicapai pada Mei 2013 lalu. Dalam kondisi pasar yang kondusif seperti sekarang, maka hampir semua saham tampak naik signifikan. Meski demikian, saham-saham di sektor perkebunan kelapa sawit justru turun rata-rata 10% dalam dua bulan terakhir, padahal kinerja mereka pada Kuartal II 2014 terbilang bagus dengan perolehan laba yang naik signifikan. What’s wrong?

Jika anda yang sudah terbiasa bermain dengan saham-saham komoditas, maka anda akan dengan mudah mengetahui bahwa penyebab penurunan saham-saham perkebunan kelapa sawit adalah karena penurunan harga minyak sawit mentah, atau lebih dikenal dengan CPO (crude palm oil). Berdasarkan data dari Bursa Malaysia, harga terakhir CPO adalah RM1,987 per ton, dan menariknya, ini adalah harga terendah sejak tahun 2009. Pada pertengahan Juli kemarin, harga CPO masih berada di level RM2,400-an per ton, sebelum kemudian tiba-tiba saja turun terus hingga ke posisinya saat ini, atau anjlok lebih dari 15% hanya dalam tempo sebulan. Jika ditarik dari harga tertingginya sepanjang tahun 2014, yakni RM2,910 per ton (yang dicapai pada Maret lalu), maka harga CPO sudah turun lebih dari 30%, dan kelihatannya masih akan terus turun.

Lalu apa yang menyebabkan penurunan tersebut? Beberapa analis dan media menyebut bahwa hal itu disebabkan oleh meningkatnya volume produksi CPO, yang itu berarti meningkatnya supply, sementara disisi lain volume penjualan CPO, dalam hal ini volume ekspor CPO dari Indonesia dan Malaysia (sebagai dua produsen CPO utama dunia) ke seluruh dunia, malah turun, yang mungkin itu karena menurunnya demand. Dan memang kalau kita pakai data milik PT Astra Agro Lestari (AALI), salah satu perusahaan sawit terbesar di Indonesia ini memproduksi 973 ribu ton CPO sepanjang Januari – Juli 2014, atau naik 16.6% dibanding periode yang sama tahun 2013. Sementara berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total volume ekspor CPO asal Indonesia pada periode Januari – Juni 2014 tercatat 9.8 juta ton, atau turun 7.7% dibanding periode yang sama tahun 2013.

However, kenaikan produksi CPO yang sebenarnya tidak terlalu menonjol (kurang dari 20%), sementara penurunan volume ekspor yang terjadi juga tidak signifikan, maka hal ini kurang bisa menjustifikasi penurunan harga CPO yang mencapai lebih dari 15% hanya dalam sebulan terakhir. Dan ternyata, kalau kita perhatikan pola pergerakan harga CPO dalam jangka panjang, maka harga CPO ini (dan mungkin juga harga komoditas lainnya) cenderung bergerak liar tanpa pola yang jelas, dan dengan fluktuasi yang ekstrim. Gambar chart berikut akan menjelaskan pergerakan harga CPO dalam 10 tahun terakhir (Juli 2004 – Juli 2014), chart diambil dari www.indexmundi.com, klik gambar untuk memperbesar:


Nah, perhatikan bahwa selama periode dua tahun antara Juli 2004 – Juli 2006, harga CPO cenderung bergerak mendatar di rentang RM1,300 – 1,500 per ton. Memasuki paruh tahun kedua di 2006, harga CPO mulai bergerak naik.. dan terus naik hingga mencapai puncaknya di RM3,700 pada Februari 2008, atau melejit sekitar 150% dalam tempo satu setengah tahun, padahal selama dua tahun sebelumnya harga CPO sama sekali tidak bergerak kemana-mana. Kemudian, pada bulan Juni 2008, harga CPO tiba-tiba saja anjlok hingga balik lagi ke RM1,500 per ton pada bulan November, masih di tahun  yang sama!

Jadi jika ada seseorang yang menganalisis pergerakan harga CPO selama empat setengah tahun antara Juli 2004 hingga awal tahun 2009, maka ia akan menemukan fakta bahwa harga CPO pada akhirnya sama sekali tidak berubah sepanjang periode waktu yang cukup lama tersebut, yakni tetap di RM1,500-an per ton, namun harga CPO ini pernah naik dengan sangat ekstrim hingga RM3,700 per ton, sebelum kemudian balik lagi ke posisi harga semula. Mirip pergerakan saham gorengan bukan?

Memasuki tahun 2009, harga CPO sekali lagi terus bergerak naik hingga mencapai puncaknya yakni RM3,800-an pada awal tahun 2011, dan penulis bisa melihat sendiri bahwa pada periode dua tahun tersebut (karena pada tahun 2009, saya sudah masuk pasar), perusahaan-perusahaan sawit di tanah air kembali meraup keuntungan yang luar biasa. Namun sejak awal tahun 2011, harga CPO kembali turun hingga mentok di RM2,200-an per ton pada awal 2013, sebelum kemudian sempat bergerak naik hingga menyentuh RM2,900-an pada Maret 2014, dan turun kembali hingga saat ini sudah dibawah RM2,000 per ton.

Melihat fakta diatas, sulit untuk mengatakan bahwa harga CPO bisa secara sederhana dipengaruhi oleh peningkatan volume produksi, atau menurunnya volume ekspor. Karena tentunya, selama 10 tahun terakhir, volume produksi maupun ekspor CPO bisa naik dan turun setiap saat, namun seberapa ekstrim sih kenaikan/penurunan tersebut hingga menyebabkan harga CPO terbang hingga lebih dari 150% dari tahun 2009 hingga 2011? Atau sebaliknya, menyebabkan harga CPO anjlok dari tahun 2011 hingga tinggal hampir separuhnya pada saat ini? Pada akhirnya, ada banyaaaaak sekali faktor-faktor yang menyebabkan kenaikan/penurunan harga CPO diluar sekedar masalah supply and demand, seperti kabar soal El Nino, perkembangan proyek biodiesel, naik turunnya harga dari komoditas pengganti (minyak kedelai, minyak jagung, dll), kebijakan bea ekspor impor oleh India dan Tiongkok sebagai tujuan utama ekspor CPO asal Indonesia, perkembangan pajak di tanah air, dan seterusnya.

Saking banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut, maka anda pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan bahwa pergerakan harga CPO tidak bisa diprediksi, karena memang pergerakannya seperti saham gorengan yang tidak ada polanya, sehingga tidak bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal (dengan melihat chart-nya) apalagi fundamental (faktor supply and demand). Diatas penulis menyebutkan bahwa harga CPO mungkin masih bisa turun, namun siapa yang tahu bahwa pada akhir tahun 2014 ini, harga CPO mungkin malah bakal balik lagi ke RM3,000 per ton?

Karena itulah, seperti yang sudah anda ketahui, Buffett kurang suka saham-saham komoditas, karena harganya mudah naik dan turun tergantung dari harga komoditasnya itu sendiri, sementara harga komoditas tersebut bisa naik dan turun kapan saja, seringkali dengan fluktuasi yang ekstrim. Tapi pertanyaannya sekarang, jika saya sudah terlanjur masuk ke saham-saham perkebunan, maka apa yang harus saya lakukan? Well, dalam hal ini ada beberapa hal yang mesti anda perhatikan.

Kondisi Industri Sawit di dalam Negeri, pada Saat ini

Pertama, entah bagaimana dengan perusahaan-perusahaan sawit lainnya, namun tiga perusahaan sawit dengan fundamental terbaik di BEI yakni Astra Agro Lestari (AALI), PP London Sumatera (LSIP), dan Sampoerna Agro (SGRO), selama tahun 2014 ini memperoleh seluruh pendapatannya dari pasar dalam negeri, alias tidak melakukan ekspor sama sekali. Hal inilah yang menyebabkan harga jual CPO dari ketiga perusahaan tersebut tidak lagi terlalu dipengaruhi oleh harga CPO internasional yang di Malaysia itu, meski memang pengaruh tersebut tetap ada. Sebagai ilustrasi, harga rata-rata CPO yang dijual AALI pada Januari – Juni 2014 adalah Rp8,700 per kg, naik 31.5% dibanding periode yang sama tahun 2013, dan masih lebih tinggi dibanding harga rata-rata CPO sepanjang tahun 2013, yakni Rp7,322 per kg. Dan terakhir, berdasarkan data dari Kantor Pemasaran Bersama PT Perkebunan Nusantara (KPBPTPN), harga CPO untuk lelang tanggal 22 Agustus berada di level Rp7,940 per kg, atau sekali lagi, masih lebih tinggi dibanding harga rata-rata tahun 2013.

Padahal, seperti yang sudah disebutkan diatas, saat ini harga CPO di Bursa Malaysia sudah lebih rendah dibanding harga tahun 2009. Pada tahun 2009, tepatnya di bulan Maret ketika harga CPO di Bursa Malaysia tercatat sekitar RM2,000 per ton, harga CPO yang dijual AALI adalah Rp7,000 per kg (berdasarkan data lelang saat itu). Namun pada hari ini, ketika harga CPO di Bursa Malaysia kembali berada di kisaran RM2,000 per ton, harga CPO di Indonesia masih berada di kisaran Rp8,000 per kg.

Makanya, jika anda perhatikan, pada Semester Pertama 2014 volume penjualan CPO milik AALI sebenarnya turun 10.3% dibanding periode yang sama tahun 2013 karena mereka menghapuskan penjualan ekspor, namun pendapatan perusahaan tetap naik signifikan karena kenaikan harga jual CPO yang mencapai lebih dari 30%, dan karena adanya pendapatan tambahan dari penjualan olein. AALI berani menghentikan ekspor karena mereka sudah mulai bisa mengolah CPO-nya menjadi produk dengan nilai tambah/produk hilir, dalam hal ini olein. Sementara perusahaan sawit lainnya, LSIP, juga tidak perlu melakukan ekspor karena bisa menjual CPO ke induknya, Salim Ivomas Pratama (SIMP), untuk juga diolah menjadi produk hilir, dalam hal ini margarin. Lalu, SGRO, jika perusahaan sawit milik Grup Sampoerna ini pada tahun 2013 lalu harus menjual sebagian CPO-nya ke Cargill di Singapura (alias ekspor), maka pada tahun ini perusahaan bisa menjual seluruh CPO-nya ke pelanggan di dalam negeri, yang kemungkinan juga diolah menjadi produk hilir. Kondisi seperti ini belum terjadi pada 3 – 5 tahun yang lalu, dimana pada saat itu boleh dibilang seluruh perusahaan sawit di Indonesia langsung menjual CPO-nya tanpa mengolahnya terlebih dahulu, karena mereka belum memiliki kemampuan untuk mengolah CPO menjadi olein atau margarin.

Kesimpulannya, penulis termasuk yang optimis bahwa penurunan harga CPO di Bursa Malaysia tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kinerja keuangan dari perusahaan-perusahaan sawit di Indonesia, khususnya perusahaan-perusahaan sawit yang disebut diatas, karena kondisinya saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu, dimana industri sawit di dalam negeri sudah lebih mandiri.

Harga CPO di Bursa Malaysia bisa Rebound Kapan Saja

Itu yang pertama. Yang kedua, meski harga CPO di Bursa Malaysia (atau di Rotterdam) mungkin tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja perusahaan sawit di dalam negeri, namun harus diakui bahwa pengaruh tersebut tetap ada, dimana perusahaan sawit tetap melirik harga di Malaysia dalam menentukan harga jual CPO di pasar dalam negeri. Buktinya harga CPO di pasar lelang dalam negeri tetap turun ketika harga CPO di Malaysia turun (meski penurunannya tidak sedrastis yang di Malaysia). Jadi jika harga CPO di Malaysia kembali melanjutkan penurunannya, maka pendapatan AALI dkk mau tidak mau akan terkena imbasnya juga. Selain itu bagi investor asing yang memegang saham-saham perkebunan di BEI, yang mereka lihat ya cuma harga CPO di Malaysia, karena mereka nggak tahu apa itu KPBPTPN (dan jangan-jangan anda juga nggak tahu?).

Karena itulah, pelemahan saham-saham CPO yang terjadi sebulan terakhir ini bisa berlanjut jika harga CPO di Bursa Malaysia kembali turun. Tapi disisi lain, bagaimana jika nanti harga CPO rebound? Yaaa saham-saham sawit juga akan naik kembali. Memang, kalau kita perhatikan lagi chart diatas, setiap kali harga CPO turun, maka penurunannya biasanya nggak tanggung-tanggung, seperti saat ini sudah turun 30% dibanding posisi puncaknya bulan Maret kemarin. Namun kapan penurunan tersebut akan berhenti untuk kemudian rebound, itu tidak ada seorangpun yang tahu.

Dan menariknya, sekali lagi kalau kita perhatikan chart diatas, seperti halnya penurunannya yang seperti terus menerus tanpa jeda (sebulan terakhir ini harga CPO terus turun setiap hari, tanpa pernah naik satu hari pun), maka ketika nanti gilirannya harga CPO ini naik, kenaikannya pun akan secara terus menerus tanpa jeda! Makanya diatas penulis mengatakan bahwa siapa yang tahu, kalau pada akhir tahun 2014 ini harga CPO bisa naik lagi ke RM3,000 per ton? CPO biar bagaimanapun merupakan komoditas yang masih sangat diperlukan oleh seluruh penduduk dunia, termasuk Indonesia (anda mau goreng ayam pake apa kalau gak ada minyak goreng, yang dibuat dari CPO ini?). Jadi mau sedalam apapun penurunannya, namun pada akhirnya nanti dia akan rebound dan naik kembali.

Kesimpulannya, dengan mempertimbangkan bahwa industri sawit di tanah air sudah tidak lagi terlalu bergantung pada harga CPO di pasar intenasional, dan bahwa harga CPO (di Bursa Malaysia) bisa kembali naik kapan saja, maka keputusan untuk menjual saham sawit yang anda pegang mungkin merupakan keputusan yang keliru (penulis menerima cukup banyak email yang menanyakan soal ini). Pada akhirnya, di tahun 2014 ini para emiten sawit mencatatkan kinerja yang cukup baik, dimana kalaupun pada Kuartal III nanti kinerja mereka sedikit tertekan karena penurunan harga CPO, namun seharusnya perolehan laba AALI dkk masih akan tampak naik dibanding tahun 2013.

New Project: Biodiesel!

Tapi memang, karena disisi lain kita juga nggak tahu kapan penurunan harga CPO ini akan berhenti, maka anda mungkin bisa keluar dulu setidaknya sebagian, tapi jangan lupa untuk terus mencari peluang untuk masuk kembali jika nanti dikasih harga bawah. Penulis masih menganggap bahwa sektor sawit sangat menarik karena, diluar fakta bahwa kinerja para emiten sawit mulai membaik pada tahun 2014 ini, terpilihnya Jokowi – Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI untuk lima tahun kedepan memberikan sentimen positif bahwa proyek konversi CPO menjadi biodiesel untuk pengganti BBM, yang sudah dicanangkan Pemerintah sejak lama namun realisasinya jalan ditempat (yang mungkin karena Pak SBY sudah terlalu sibuk mengerjakan banyak proyek lainnya, sementara Pak Boediono, apalagi para menteri-menteri dibawahnya, dengan segala hormat, tidak bisa apa-apa), akan bisa kembali dikebut. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Pak JK punya track record meyakinkan ketika ia dulu bisa dengan cepat mengeksekusi konversi penggunaan minyak tanah ke gas. Jadi dengan kembalinya beliau ke kursi Wakil Presiden, maka terhadap harapan yang besar bahwa proyek biodiesel ini juga bisa dengan cepat dikerjakan (masih ingat slogan ‘lebih cepat, lebih baik’?), karena disisi lain proyek tersebut juga sudah sangat urgent agar Pemerintah punya alternatif ketimbang terus menerus mengimpor BBM, sehingga pada akhirnya bisa mengurangi beban APBN gara-gara subsidi BBM. Pak Dhe Jokowi sendiri, dalam salah satu debat capres beberapa waktu lalu, sempat menyatakan bahwa salah satu fokusnya jika terpilih sebagai Presiden adalah mengembangkan sumber energi terbarukan, dalam hal ini memerintahkan Pertamina untuk membuka pasar untuk biofuel/biodiesel, dan memberi insentif kepada perusahaan-perusahaan sawit yang mau mengembangkan industri biodiesel tersebut. Jika melihat fakta bahwa AALI dkk sudah bisa mengembangkan olein dan margarin, maka industri sawit di tanah air tinggal memerlukan sedikit support dari Pemerintah, entah itu dalam bentuk insentif pajak atau semacamnya, untuk kemudian mulai mengembangkan proyek biodiesel.

Dan jika proyek biodiesel ini bisa terealisasi sepenuhnya (sudah ada beberapa perusahaan produsen biodiesel di Indonesia, namun jumlahnya belum banyak), maka harga BBM tidak perlu dinaikkan, APBN terselamatkan, sementara para perusahaan sawit di tanah air bisa terus menggenjot volume produksinya tanpa khawatir bahwa harga CPO di pasar internastional akan turun karena oversupply, karena seluruh produksi CPO tersebut akan diserap untuk kebutuhan pembuatan biodiesel di dalam negeri. Dan terakhir: Pertumbuhan ekonomi RI secara keseluruhan bisa dipastikan akan kembali menanjak. Semua senang, semua menang! Lalu kapan semua ini akan terealisasi? Yah mudah-mudahan, secepatnya.

Pengumuman: Buletin Analisis & Rekomendasi saham bulanan edisi September 2014 akan terbit tanggal 1 September mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

13 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Emiten yang mengelola biod iesel adalah ETERINDO (ETWA),mhn di bahas prospek Emiten tersebut di hubungkan dengan tulisan bung Teguh...thanks

Anonim mengatakan... Balas

Terima kasih ulasan tentang sektor CPO Mas Teguh.
Bagaimana pendapatnya tentang perusahaan Sawit Sumbermas Sarana (SSMS. Pemain baru di sektor ini dan harga sahamnya konsisten naik sejak IPO.

AMJ mengatakan... Balas

Saya pribadi termasuk yang mengharapkan harga saham AALI kembali ke 14000 pak. Karena menyesal jg setahun yg lalu tdk berani beli AALI dan UNTR di harga 15ribuan hehe. Ulasan yg bagus. Anyway saham komoditas memang roller coaster, lebih berbahaya dari banking dan properti. Hanya untuk yang bernyali :)

Andre Gunawan mengatakan... Balas

sedikit masukan dr saya. mengenai CPO untuk biodiesel sbg bahan bakar alternatif,harga keekonomiannya jatuhnya lbh mahal drpd minyak bumi untuk solar. ini bisa tercermin spt harga minyak goreng per liter yakni kisaran 20rb an (atau plg tdk mendekati krn prosesnya berbeda). jd msh lbh untung apabila dijual sbg minyak goreng. selain itu biodiesel bersifat lbh korosif pd bbrp komponen mesin. inilah knp pd kenyataanya biodiesel tdk dpt dipakai 100% sbg bahan bakar, melainkan hanya sbg campuran dg proporsi 10% (regulasi sebelumnya 5%), sedangkan sisanya ttp hrs bergantung pd minyak bumi.saya rasa 2 kendala ini yg menyebabkan pemerintahan Sby tdk fokus pada biodiesel sbg bahan bakar alternatif. mungkin ada pemikiran lain dr Pak Teguh

Anonim mengatakan... Balas

penjelasan mas Andre membuka mata saya kenapa susah sekali mencari energi alternatif dr BBM.. berarti yg lebih urgent mgkn energi listrik terbarukan bukan dr BBM dan bukan biodiesel.

Anonim mengatakan... Balas

terimakasih Pak atas informasi mengenai rencana pemerintah terkait sumber energi terbarukan, utamanya bagi para pelaku bisnis (saham) adalah mengenai rencana adanya biodiesel. Tapi saya sangat setuju dengan pendapat Pak Andre Gunawan, bahwa Biodiesel mempunyai banyak kendala dalam penerapannya terhadap mesin bermotor. tidak menutup kemungkinan nantinya penggunaan CPO sebagai Biodiesel dapat tercapai walaupun saya juga masih ragu nanti ketika JKW - JK memimpin negeri ini. semoga sumber energi terbarukan tersebut dengan bantuan CPO dapat tercapai. Terimakasih

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

@Andre Gunawan Berdasarkan mesin diesel standar yang ada pada mobil-mobil saat ini, biodiesel dapat digunakan sebagai campuran untuk solar dengan porsi maksimal 20% (jadi 80% selebihnya masih merupakan solar), dan jika lebih dari itu dapat menyebabkan kerusakan mesin kecuali jika mesinnya dimodifikasi. Dalam beberapa tahun terakhir, berdasarkan info dari Wikipedia, beberapa pabrikan besar seperti Volkswagen sudah menyatakan bahwa mereka siap mendesain mesin mobil yang bisa menerima bahan bakar biofuel dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari 20%.

Saat ini Pemerintah baru merealisasikan penggunaan solar dengan kandungan biodiesel sebanyak 10% (sementara 90% selebihnya solar murni), atau dikenal dengan sebutan B10, itupun belum maksimal dimana dari target penyerapan 4.6 juta kiloliter B10, baru terealisasi setengahnya. Karena kandungan biodiesel dalam solar bisa ditingkatkan hingga maksimal 20%, sementara konsumsi solar sendiri mencapai 16 juta kiloliter per tahun, maka jika program konversi biodiesel ini berjalan maksimal, Indonesia akan membutuhkan setidaknya 3.2 juta kiloliter biodiesel.

Berdasarkan data terbaru, harga solar non subsidi adalah Rp12,500 – 13,000 per liter (tergantung fluktuasi harga minyak dunia), sementara harga biodiesel sekitar Rp8,000 – 8,500 per liter (tergantung fluktuasi harga CPO sebagai bahan baku pembuatannya), atau lebih murah Rp4,000 – 4,500 (harga biodiesel sedikit lebih murah dibanding minyak goreng curah). Jadi jika Pemerintah bisa mengganti 3.2 juta kiloliter solar dengan biodiesel, maka terdapat potensi penghematan sebesar Rp13 – 14 trilyun per tahun.

Angka penghematan ini, sekali lagi, bisa berfluktuasi tergantung perkembangan harga minyak dunia dan harga CPO, dan pada titik tertentu bisa jadi harga biodiesel malah lebih mahal ketimbang harga solar asli. Namun yang mungkin (dan seharusnya) dikejar oleh Pemerintah bukan sekedar soal penghematan, tapi untuk memiliki sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan solar dalam negeri, agar kita tidak terus-menerus ‘didikte’ harga minyak dunia. Kita tahu bahwa kalau harga minyak dunia naik menjadi US$ 110 per barel, misalnya, maka mau tidak mau beban APBN karena subsidi akan sangat membengkak karena kita tidak punya alternatif lain selain harus impor BBM, termasuk solar. Dengan adanya alternatif biodiesel ini, maka nantinya kita tidak perlu lagi kelewat ‘pasrah’ seperti itu, dan saya kira hal inilah yang terpenting.

Dan dengan volume produksi CPO di dalam negeri yang saat ini mencapai 30 juta ton per tahun, maka kita punya suplai bahan baku yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pembuatan biodiesel. Namun jika kita bisa mengurangi ekspor CPO karena pasar dalam negeri sudah bisa menyerap CPO tersebut (untuk pembuatan biodiesel), maka dengan sendirinya harga CPO di pasar internasional akan naik, dan dalam hal inilah perusahaan sawit akan diuntungkan.

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

Kesulitan utama yang saat ini dihadapi Pemerintah adalah di masalah teknis saja, seperti dimana lokasi Pertamina bisa mencampur solar dengan biodiesel secara sekaligus dalam jumlah besar, lalu bagaimana proses distribusinya karena mayoritas pengguna solar adalah kendaraan dan alat-alat berat untuk pertambangan dll yang ada di daerah. Kita tahu bahwa untuk masalah distribuasi solar murni saja Pertamina tidak becus, apalagi jika dikasih tugas tambahan untuk mencampurnya terlebih dahulu dengan biosolar. Makanya Pemerintah juga baru berani menetapkan campuran 10% biodiesel untuk solar, padahal maksimalnya bisa 20%, karena Pertamina baru siapnya segitu.

Tapi kalau gak salah dirut Pertamina udah mau diganti, dan mudah-mudahan dirut yang baru bisa lebih bagus kerjanya.

Alternatif lainnya untuk mengganti BBM adalah listrik. Namun ini sangat sulit untuk direalisasikan, bahkan hampir tidak mungkin, karena itu berarti harus mengganti mesin-mesin mobil secara keseluruhan agar bisa menerima bahan bakar listrik (termasuk mobil anda dirumah juga harus turun mesin secara total dulu, dimana tangki bensinnya diganti dengan colokan listrik). Saya kira Jokowi - JK sekalipun tidak bisa melakukan hal ini.

Tapi untuk program biodiesel, itu lebih mudah direalisasikan, yang seperti kata jokowi, 'Tinggal kitanya mau apa nggak'. Soal bahwa harga biodiesel lebih murah ketimbang minyak goreng, yang itu berarti untungnya lebih kecil bagi perusahaan CPO, itu juga sebenarnya tidak masalah. Kebutuhan minyak goreng di Indonesia hanya 6 - 7 juta ton per tahun, jauh lebih kecil ketimbang volume produksi CPO yang mencapai 30 juta ton, dan itu sebabnya kelebihan produksi itu kemudian diekspor keluar dalam bentuk CPO yang harganya jauh lebih murah ketimbang minyak goreng. Jadi untuk membuat biodiesel ini, perusahaan sawit tidak perlu 'mengorbankan' CPO yang sejak awal dialokasikan untuk membuat minyak goreng, karena mereka bisa mengambil CPO yang tadinya akan diekspor. Malah dengan mengolah CPO (yang tadinya akan dieskpor) ini menjadi biodiesel, maka perusahaan sawit akan memperoleh untung yang lebih ketimbang langsung menjualnya keuar negeri dalam bentuk mentah, karena mereka tidak perlu membayar bea keluar, dan karena harga biodiesel lebih tinggi ketimbang CPO.

Anonim mengatakan... Balas

ulasan yang cukup menarik, terkait produksi cpo sebesar 30 juta ton sementara kebutuhan minyak goreng 6-7 juta ton sepertinya ada yang menggelitik pemikiran saya. Rasanya tidak mungkin apabila 30juta ton cpo jika diolah keseluruhannya akan menjadi minyak goreng dalam jumlah yang sama. cmiiw.

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

Minyak goreng dibuat dengan cara menyaring/membersihkan/memurnikan CPO. Jadi memang ketika CPO diproses menjadi minyak goreng, maka beratnya akan menyusut namun perbedaannya tidak besar, dimana dari 10 kg CPO akan dihasilkan 7 - 9 kg minyak goreng, tergantung tingkat kemurniannya. Minyak goreng dalam kemasan harganya lebih mahal dibanding minyak goreng curah karena lebih murni, yang itu berarti membutuhkan lebih banyak CPO untuk membuatnya.

talangair mengatakan... Balas

Cuma mau menambahkan. CPO diolah di refinary menghilangkan FFA, (free fatty acid), wax, impurities dan water dll. menjadi RBDPO (Refine Bleaching Deodorize Palm Oil). setelah di di fraksinasi menjadi sekitar 75% Olein dan 25% sterein.

Olein ini yg menjadi minyak goreng dan sterein ini yg menjadi margarine, setelah penambahan vitamin dll.

CMIIW. jadi kalo refinary memproduksi Olein sudah hampir dipastikan memproduksi sterein juga.

Wikicek mengatakan... Balas

mas saya tunggu seminar value investingnya tuk kota semarang jawa tengah, klo bisa sms ya mas di 085255877760

Anton Ja mengatakan... Balas

kalau saya liat dari TA, harga cpo di palmoilhq, ada pola HnS, sama seperti TA lsip juga ada pola HnS. menurut saya sudah akan rebound lsip dari kisaran 1850 dan palmoil dari 1950.