Pengumuman: Buletin analisis saham bulanan edisi September 2014 sudah terbit! Anda masih bisa memperolehnya disini.

Mengenal Fundamental Perbankan

Waktu kemarin saya bikin ebook tentang metode analisis fundamental, saya lupa bilang kalau ada beberapa emiten yang memiliki struktur laporan keuangan yang agak berbeda dari yang biasanya. Di ebook tersebut, contoh lap keu yang saya tampilkan adalah Unilever Indonesia (UNVR), dan memang seperti itulah lap keu emiten-emiten di BEI pada umumnya. Namun, khusus untuk emiten di bidang financial service (perbankan, jasa pembiayaan, asuransi, dll), struktur lap keu-nya tidak seperti itu (meski pada intinya sih sama saja), sehingga cara membaca/menganalisis fundamentalnya pun sedikit berbeda. Artikel ini akan membahas hal tersebut.

Karena emiten-emiten di sektor jasa pembiayaan (ADMF, WOMF, dll) dan asuransi (AMAG, ABDA, dll) tidak begitu populer di mata investor, maka yang akan kita bahas disini adalah fundamental perbankan (BMRI, BBRI, dll). Selain beberapa rasio fundamental yang sudah kita kenal (EAR, EDR, EER, ROA, dll), emiten perbankan memiliki beberapa rasio fundamental lainnya yang penting untuk dilihat jika kita hendak menilai kinerjanya. Pada dasarnya, ada tiga rasio yang harus diperhatikan yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Interest Margin (NIM), dan Non Performing Loan (NPL). Oke, kita langsung saja bahas satu per satu.

1. Capital Adequacy Ratio

Capital Adequacy Ratio (CAR) atau biasa juga disebut Rasio Kecukupan Modal, adalah perbandingan antara modal bersih yang dimiliki bank dengan total asetnya. Contohnya, anda punya modal 20 milyar. Anda lalu mendirikan bank. Bank anda kemudian berhasil menjaring banyak nasabah dan mengumpulkan dana pihak ketiga/DPK (tabungan, deposito, dan giro) dari masyarakat sebesar total 50 milyar. Anda juga memiliki aset-aset lain diluar modal dan DPK, senilai total 30 milyar. Dengan demikian, total aset bank anda adalah 20 + 50 + 30 = 100 milyar. Lalu berapa CAR bank anda? Ya modal bersih dibagi total aset, alias 20 / 100 = 0.20 = 20%.

Ilustrasi diatas adalah cara untuk menghitung CAR secara kasar. Kenapa disebut kasar? Karena untuk menghitung CAR secara lebih tepatnya, anda harus memasukkan faktor-faktor resiko yang mungkin bisa mengurangi total ekuitas dan/atau aset bank anda, ke dalam rumus untuk menghitung CAR.

Contohnya begini. Dari DPK sebesar 50 milyar tadi, anda lalu menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit alias pinjaman, katakanlah sebesar 40 milyar. Nah, namanya orang pinjem duit ke bank, selalu saja ada kemungkinan dia gagal melunasinya bukan? Inilah yang dimaksud dengan faktor resiko, dalam hal ini resiko kredit. Katakanlah resiko gagal bayar itu mencapai 5%, yang itu berarti dari 40 milyar dana yang anda pinjamkan ke masyarakat, terdapat 2 milyar yang bisa saja hilang (karena tidak dikembalikan oleh peminjamnya). Jika 2 milyar ini benar-benar hilang, artinya apa? Artinya total aset dan total ekuitas anda akan berkurang masing-masing 2 milyar. Untuk aset, dari tadinya 100 milyar menjadi 98 milyar. Dan untuk modal, dari tadinya 20 milyar menjadi 18 milyar. Maka, rumus menghitung CAR-nya menjadi 18 / 98 = 0.184 = 18.4%.

Jadi kita bisa mengatakan bahwa CAR bank anda dengan memperhitungkan resiko kredit adalah 18.4%.

Pada prakteknya, rumus untuk menghitung CAR terbilang rumit dan panjang, dan sama sekali tidak sesederhana seperti yang diilustrasikan diatas. Selain resiko kredit, terdapat pula dua resiko lainnya yang juga harus ikut diperhitungkan, yaitu resiko pasar dan resiko operasional. Untungnya, kita gak perlu capek-capek menghitungnya karena bank sudah menampilkan CAR mereka pada laporan keuangannya. Contohnya, pada kuartal III 2010 (9M10), Bank Mandiri (BMRI) mencatat CAR 14.13%. Dengan demikian kita bisa mengatakan, total modal BMRI dengan memperhitungkan faktor resiko ini dan itu, adalah 14.13% dari total asetnya.

Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas perbankan di Indonesia, menetapkan batas minimum CAR di 8%. Jadi kalau ada bank yang CAR-nya yang kurang dari 8%, maka bank tersebut akan dilikuidasi. Peraturan ini tentu diperlukan, sebab bank adalah lembaga yang bertanggung jawab langsung kepada masyarakat banyak (bank kan tempat kita ‘nitip’ duit). Jika ada sebuah bank yang modalnya kurang dari 8% dari total asetnya, maka tentunya bank tersebut beresiko tinggi untuk gagal mengembalikan dana tabungan masyarakat. Masih ingat cerita soal Bank Century? Ketika di bail-out, CAR Bank Century adalah minus 153.7% (Versi kepala LPS, Firdaus Djaelani). Ini aneh bin ajaib, sebab ketika sebuah bank CAR-nya sudah dibawah 8%, seharusnya BI sudah mengambil tindakan. Eh, ini dibiarin gitu aja sampe bisa minus sebesar itu.

Balik lagi ke soal CAR. Karena setiap tahun jumlah DPK yang dikumpulkan oleh para bank semakin meningkat, seiring dengan semakin banyaknya jumlah nasabah yang menabung, maka aset bank juga akan terus meningkat. Alhasil, modal bank juga harus ditingkatkan untuk mengimbanginya. Kalau nggak, ntar CAR-nya bisa menjadi kurang dari 8%. Makanya BMRI, Bank BNI (BBNI), dan juga beberapa bank lainnya, dikabarkan akan menggelar right issue untuk menambah modal mereka, agar CAR mereka tetap diatas 8%.

Cara membaca CAR ini mudah: Semakin besar angkanya, maka semakin bagus bank-nya, karena itu berarti modalnya semakin kuat. Hati-hati pada bank yang CAR-nya mendekati batas minimum 8%. Kalau dibandingkan dengan rasio fundamental pada emiten yang umumnya, CAR ini kira-kira sama (tapi tidak sama persis) dengan EAR (Equity to Assets Ratio), alias rasio modal terhadap aset.

2. Net Interest Margin

Net Interest Margin (NIM) adalah perbandingan antara pendapatan bunga bersih (pendapatan bunga bank yang sudah dikurangi beban pokok), dengan nilai aset produktif. Yang dimaksud dengan aset produktif adalah aset yang menghasilkan bunga tadi (istilahnya net bearing assets). Misalnya, sebuah bank asetnya 100 milyar. Dari total aset tersebut, 80 milyar diantaranya disalurkan kesana kemari dalam bentuk kredit, surat berharga, obligasi, dll, sehingga menghasilkan pendapatan bagi bank berupa bunga. Nah, 80 milyar inilah yang disebut dengan aset produktif.

Jika bank tersebut mencatat pendapatan bunga 5 milyar dalam setahun, kemudian setelah dikurangi beban pokok hasilnya adalah 4 milyar, maka NIM-nya adalah 4 / 80 = 0.05 = 5%.

Seperti CAR, anda tidak perlu repot-repot menghitung NIM ini, karena bank sudah mencatumkannya di lap keu-nya. Semakin besar nilai NIM, maka semakin bagus bank tersebut, karena itu berarti pendapatannya terbilang besar dibanding asetnya.

Kalau dibandingkan dengan rasio fundamental pada emiten yang umumnya, NIM ini kira-kira sama (tapi tidak sama persis) dengan ROA (Return on Assets), alias rasio laba bersih terhadap aset.

3. Non Performing Loan

Non Performing Loan (NPL) adalah perbandingan antara kredit yang tidak dikembalikan lagi oleh si peminjamnya (kredit macet), atau dikembalikan tapi tersendat-sendat, dengan total kredit yang disalurkan oleh bank ke masyarakat. Contohnya seperti yang sudah dibahas diatas, sebuah bank menyalurkan kredit sebesar total 40 milyar. Dari jumlah tersebut, 1 milyar diantaranya ternyata macet. Berarti NPL bank tersebut adalah 1 / 40 = 0.025 = 2.5%.

Di bank, kalau berdasarkan tingkat kolektibilitasnya (kelancaran penagihannya), kredit yang disalurkan ke masyarakat digolongkan menjadi lima status, yaitu 1. lancar, 2. dalam perhatian khusus, 3. kurang lancar, 4. diragukan, dan 5. macet. Untuk status lancar, berarti kredit tersebut tidak bermasalah sama sekali, dan bisa ditagih dengan lancar. Untuk status dalam perhatian khusus, maka kredit tersebut mulai bermasalah. Dan untuk golongan yang terparah yaitu status macet, maka kredit tersebut sudah tidak bisa ditagih sama sekali, atau tidak dapat dipastikan kapan akan dikembalikan oleh peminjamnya.

Di lap keu bank, NPL ini ada dua macam, yaitu NPL gross dan NPL net. NPL gross adalah NPL yang membandingkan jumlah kredit berstatus kurang lancar, diragukan, dan macet yang disatukan, dengan total kredit yang disalurkan. Sedangkan NPL net hanya membandingkan kredit berstatus macet dengan total kredit yang disalurkan. Di laporan keuangan, dua-duanya ditampilkan. Bagi penulis, NPL gross lebih penting untuk diperhatikan daripada NPL net, karena NPL net hanya memperhitungkan kredit yang sudah berstatus macet. Sementara NPL gross ikut memperhitungkan kredit berstatus kurang lancar dan diragukan, yang dimasa depan bisa saja meningkat statusnya menjadi macet.

Semakin besar NPL gross ini, maka semakin jelek bank-nya, karena itu menunjukkan bahwa mereka tidak bisa menyeleksi calon peminjam dengan baik. Kredit macet di bank dicatat sebagai kerugian (karena duitnya kan hilang begitu saja).

Penutup

Okay, saya kira segitu aja. Sebenarnya masih banyak rasio-rasio perbankan lainnya yang juga penting. Tapi untuk menilai fundamental sebuah bank, tiga rasio diatas relatif sudah cukup untuk dijadikan pertimbangan. Jadi jika sekarang anda membaca berita kalau sebuah bank meraih penghargaan ‘The Best Bank in bla bla bla..’ atau ‘Platinum Bank Award bla bla bla..’, anda nggak usah keburu silau. Tinggal perhatikan saja tiga rasio diatas, dan juga kinerjanya, kemudian anda bisa menilai sendiri apakah bank tersebut bagus atau tidak.

Pada ebook analisis LQ45 untuk periode kuartal III 2010 yang akan penulis rilis nanti, penulis akan memasukkan angka-angka CAR, NPL, dan NIM sebagai bahan analisis pada analisis emiten-emiten bank yang disajikan. Tiga rasio ini akan ikut menentukan rating kinerja bank-bank tersebut. Saat ini terdapat enam bank yang masuk daftar LQ45, yaitu BCA, BNI, BRI, BTN, Bank Danamon, dan Bank Mandiri.

16 komentar:

Anonim mengatakan... Balas Komentar

Mantep pak Ilmunya..

Anonim mengatakan... Balas Komentar

ditunggu ebooknya pak...

NBS

bardac mengatakan... Balas Komentar

trima kasih pak teguh,saya banyak mendapatkan ilmu fundamental dari anda,salam hangat,

Pinarta mengatakan... Balas Komentar

CAR --> Capital Adequancy Ratio ( Ratio Kecukupan Modal )

Teguh Hidayat mengatakan... Balas Komentar

@Pinarta: oh iya, seharusnya Capital, bukan Credit (kok bisa nulisnya kredit ya?). Makasih buat koreksinya.

Anonim mengatakan... Balas Komentar

Mas Teguh..

Some Men Read Playboy, you certainly read annual report.. hehe

Best of luck, semoga kebaikan Mas teguh dalam berbagi ilmu, dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.. amen to that mas..

Regards,
Cintamu_Palsoe

Anonim mengatakan... Balas Komentar

mas, ebook yg ttg fundamentalnya bs diperoleh dmn ya?
saham2 asuransi cukup menarik kelihatannya seperti AMAG dan ABDA, bisa tolong diulas dikit.
Thanks mas

Brom mengatakan... Balas Komentar

Luar biasa mas, sangat membantu. Terima kasih banyak.
Salam kenal dan sukses selalu :)

Anonim mengatakan... Balas Komentar

untuk CAR saya kira bukan makin besar makin bagus mas, bagus dalam sisi kekuatan modal, tapi untuk fungsi bank sebagai lembaga intermediasi sendiri saya kira belum terlalu bagus. mereka menghimpun dana dan kuat di aset tapi penyaluran kreditnya sedikit.

Anonim mengatakan... Balas Komentar

Utk anonim tgl 28 Jan 2013: Anda kurang tepat. Fungsi bank sebagai lembaga intermediasi bukan dilihat dari rasio CAR melainkan LDR (loan to deposit ratio)

Anonim mengatakan... Balas Komentar

sep, makasi ilmunya om, terus nulis! :D

Scooter-google mengatakan... Balas Komentar

terima kasih untuk ulasannya

Adi mengatakan... Balas Komentar

Terima kasih ilmunya, saya jadi tambah ngerti sekarang.

Anonim mengatakan... Balas Komentar

Rumus yang saya pelajari ketika belajar perbankan syariah adalah NPF net didapat dari total col 3 + col 4 + col 5 - (OS-jaminan) per total pembiayaan. Disini mas menulis col 5 per total pembiayaan. Apakah ada perbedaan rumus antara NPF dan NPL? Terimakasih ilmunya.

Anonim mengatakan... Balas Komentar

kalau mencari NPL GROSS pada laporan keuangan bank, itu disebelah mana?

Anonim mengatakan... Balas Komentar

Mas sekedar mengkoreksi,

Untuk gross NPL/net NPL bukan didasarkan pada status kreditnya (lancar ... macet) namun didasarkan pada cara perhitungan. Gross NPL itu angka NPL tidak dikurangi penyisihan, namun net NPL dikurangin penyisihan