Pengumuman: Buletin analisis saham bulanan edisi September 2014 sudah terbit! Anda masih bisa memperolehnya disini.

BI Rate, Inflasi, dan IHSG

Awal bulan lalu, Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan BI rate menjadi 6.75% basis poin, dari sebelumnya 6.50%. Apa sih BI rate itu? Dan apa pengaruhnya terhadap IHSG jika dinaikkan, apakah negatif atau positif? Meski penulis yakin kalau sebagian besar temen-temen investor sudah paham betul soal BI rate ini, namun artikel ini mudah-mudahan bisa memberi sedikit pencerahan bagi yang belum mengerti.

BI rate atau suku bunga Bank Indonesia, merupakan tingkat suku bunga untuk satu tahun yang ditetapkan oleh BI sebagai patokan bagi suku bunga pinjaman maupun simpanan bagi bank dan atau lembaga-lembaga keuangan di seluruh Indonesia. Simpelnya jika BI rate naik dari 6.50% menjadi 6.75%, maka bunga pinjaman maupun simpanan di bank dan lembagai keuangan lainnya juga bisa naik. Patokan ini hanya bersifat rujukan dan bukan merupakan peraturan, sehingga tidak mengikat ataupun memaksa. Jadi para bank boleh saja menaikkan bunga pinjaman kepada orang yang mengajukan kredit dengan alasan BI rate naik, namun disisi lain bunga deposito atau tabungan bagi para nasabahnya malah gak naik sama sekali.

Sementara bagi BI sendiri, BI rate adalah suku bunga bagi Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang disalurkan ke bank-bank. Ketika BI rate naik ke 6.75%, maka para bank bisa menaruh dana mereka di BI dalam bentuk SBI, dan akan menerima bunga 6.75% per tahun. Misalnya, kalau Bank Mandiri menaruh duit tabungan nasabahnya sebesar 10 trilyun di BI, maka mereka akan menerima 675 milyar dalam setahun, tanpa perlu ‘ngapa-ngapain’ sama sekali.

Nah, dari sini kita akan dapat logikanya: Kalau BI rate dinaikkan, maka para bank tentunya akan lebih suka menaruh dana tabungan nasabah mereka di BI daripada menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit. Sebab meskipun bunga yang ditetapkan BI lebih kecil dari bunga kredit (6.75% berbanding 12.5%), namun penjaminnya adalah pemerintah, sehingga resiko kredit macetnya sangat kecil, bahkan mendekati nol. Jika dana milik masyarakat yang dipegang para bank ‘diendapkan’ di BI, maka jumlah uang cash yang beredar di masyarakat akan berkurang, dan pada akhirnya menurunkan tingkat inflasi. Itulah sebabnya BI rate merupakan instrumen yang biasanya cukup ampuh untuk menurunkan tingkat inflasi. Jadi adalah wajar ketika kemarin tingkat inflasi ternyata melebihi ekspektasi, banyak pihak kemudian menuntut agar BI segera menaikkan BI rate-nya.

Selain BI rate, BI juga memiliki beberapa instrumen lainnya yang juga bertujuan untuk menekan pertumbuhan inflasi. Misalnya sukuk, obligasi ritel Indonesia, surat utang negara, dll. Pada dasarnya semuanya menggunakan prinsip yang sama, yaitu menyerap dana sebesar-besarnya dari masyarakat sehingga jumlah uang cash yang beredar di masyarakat jadi berkurang. Penyebab tingginya inflasi kan karena jumlah uang yang beredar di masyarakat kelewat banyak.

Ketika jumlah uang cash yang beredar di masyarakat berkurang, pertumbuhan inflasi memang akan tertekan. Namun disisi lain juga beresiko menekan pertumbuhan ekonomi. Misalnya, jika para bank ogah ngasih pinjaman modal ke pengusaha karena mereka lebih suka nyimpen duitnya di BI, maka para pengusaha tentunya akan kesulitan mengembangkan usahanya, dan pada akhirnya akan menekan pertumbuhan eknomi secara keseluruhan. Karena itulah, jika kemudian tingkat inflasi telah terkendali, maka BI bisa menurunkan kembali BI rate-nya, agar dana yang tadinya diendapkan bisa kembali dikucurkan ke masyarakat, untuk menumbuhkan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

Ketika kemarin BI menaikkan BI rate, pertimbangannya adalah pertumbuhan ekonomi masih stabil, sementara tingkat inflasi mulai tidak terkendali. Berdasarkan data dari BPS, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 mencapai 6.10% dibanding 2009, lebih baik dari target pemerintah sebesar 5.80%. Sementara tingkat inflasi pada periode yang sama mencapai 6.96%, jauh lebih tinggi dari asumsi APBN sebesar 5.30%.

Lalu apa hubungan antara BI rate dengan pasar modal?

Ketika inflasi mulai naik tidak terkendali, maka efeknya adalah biaya operasional para perusahaan yang terdaftar di BEI menjadi membengkak, karena naiknya harga bahan baku, gaji karyawan, dll. Akibatnya, laba bersih para emiten dikhawatirkan akan turun. Alhasil, harga sahamnya pun turun. Dan jika hal ini terjadi pada banyak saham, maka IHSG secara keseluruhan juga akan turun. Jadi ketika BI rate dinaikkan dan harapannya inflasi akan terkendali, maka IHSG juga bisa bangkit kembali.

Namun, naiknya BI rate tidak akan serta merta menguatkan IHSG, karena yang jadi concern investor bukanlah BI rate-nya, melainkan tingkat inflasi. Dalam jangka pendek, naiknya BI rate bahkan justru berpotensi semakin melemahkan IHSG. Kenapa? Karena dengan naiknya BI rate, maka suku bunga di deposito, sukuk, dll biasanya (meski gak selalu) juga akan naik. So, para investor di pasar modal kini punya alternatif investasi yang tidak kalah menguntungkan dibanding investasi saham. Sukuk ritel seri SR003 misalnya, bunganya 8.15% per tahun. Dengan tingkat resiko yang mendekati nol, maka bunga sebesar itu tentu saja cukup menggiurkan. Kalau para investor ramai-ramai mengalihkan dananya dari saham ke sukuk ini, maka tentu saja IHSG akan semakin tertekan.

Ketika artikel ini ditulis, IHSG masih bergerak malas-malasan di kisaran 3,400-an. Beberapa saham unggulan pun masih tertekan cukup dalam, sebagian bahkan lebih dalam dari yang diperkirakan. Mudah-mudahan kebijakan BI dalam menaikkan BI rate memang berhasil menekan laju inflasi, sehingga IHSG bisa kembali tancap gas. Soalnya, data terakhir dari BPS menyebutkan bahwa tingkat inflasi tahunan pada akhir Januari 2011 kemarin sudah menembus 7.02%. Seems like trouble.

Tentang Sukuk

Bagi para pembelinya, sukuk pada dasarnya didesain untuk melindungi dana mereka dari inflasi, dan bukan merupakan instrumen untuk meraih gain atau keuntungan. Makanya bagi sebagian kalangan, bunga yang ditawarkan sukuk ini sama sekali tidak tinggi, hanya 8.15% per tahun. Sementara bagi pemerintah sebagai penerbitnya, harapannya inflasi akan tertekan karena jumlah dana tunai yang beredar di masyarakat berkurang karena diendapkan di sukuk ini. Jadi pembeli sukuk akan memperoleh manfaat dua kali, yaitu dananya terlindung dari inflasi, dan tingkat inflasi itu sendiri akan menjadi lebih rendah dari sebelumnya.

Akhir Januari 2011 lalu, inflasi tercatat 7.02%. Dengan asumsi tingkat inflasi pada periode yang sama tahun depan (Januari 2012) akan berkurang menjadi hanya sekitar 5.0% berkat penerbitan sukuk ini dan lain-lain, maka yield yang dihasilkan sukuk ini setelah 1 tahun adalah 8.15% - 5.0% = 3.15%. Sangat kecil memang, apalagi itu masih belum dipotong pajak. Namun setidaknya anda bisa tidur dengan tenang, karena keamanan dana anda tidak hanya dijamin oleh pemerintah (resiko investasinya mendekati nol), tapi juga terlindung dari inflasi.

Tapi kalau anda adalah pemburu gain, maka seperti yang sudah disebut diatas, sukuk tidak didesain untuk tujuan tersebut, sehingga mendingan anda tetep main saham saja.

19 komentar:

Anonim mengatakan... Balas Komentar

jadi ngerti..thx banyak pak teguh

Anonim mengatakan... Balas Komentar

makasih mas keterangannya. Lalu rencana pemerintah (..kalo jadi) redenominasi rupiah itu kaitannya dengan index saham ada ga ya mas (seberapa jauh)?

Batara Sumartio mengatakan... Balas Komentar

Hi, Mr Teguh Hidayat ...

SR-003 ROI = 8.15% / Tahun

Anda, ada sedikit lupa, 8.15% itu bruto alias kotor ...

Dengan pajak 15%, maka ROI Real (bersih) tinggal 6.93% / Tahun ...

Inflasi saja sudah 7.02%

Jadi beli SR-003 = tidak direkomendasikan...

Alasan:
SR-003, ROI bersih (potong pajak) = 6.93%, inflasi = 7.02%, jadi selisih ROI-inflasi ada sekitar -0.09%

Jadi investor yang "SMART", pasti tidak akan beli SR-003, kecuali sang investor tidak sensitif inflasi ...

Cash mengatakan... Balas Komentar

@Pak Teguh
Thanks atas infonya, semoga sehat slalu agar info blog terUpdate terus.

@Pak Batara
saya sempat menghitung seperti Anda TETAPI saya LUPA menghitung pajaknya yg 15% hahahah...
bunga SR003 8.15%- inflasi 7.02%- 1.13% ( pajak 15% lom diitung), itungan pak batara yg benar. thanks bos.

Teguh Hidayat mengatakan... Balas Komentar

@batara: oh iya, bener jg ya. dasar pajak..

Anonim mengatakan... Balas Komentar

Penyebab inflasi tahun ini dari sisi suply ato demand ya pak teguh?

Anonim mengatakan... Balas Komentar

Inflasinya dari sisi supply lah gara2 bahan baku naik akibat harga minya naik (krisi dunia), akhirnya karena cost buat si produsen naik yah produsen juga naikin harga, permintaan gara2 harga naik turun deh.simpel kan...

Anonim mengatakan... Balas Komentar

terimakasih banyak atas pencerahannya Pak Teguh.. :) God Bless

disini saya dapat keterangan yang paling jelas apa itu BI rate

Yosan Tursilo

Davi Sukses mengatakan... Balas Komentar

Ini dia artikel yang luar biasa bagus. Dari artikel ini, saya bisa mengerti pengaruh naik turunnya BI rate ke pasar modal. Sebelumnya saya baca2 gak pernah ketemu & ngerti.
Saya juga jadi tau sukuk itu barang apaan, sebelumnya saya kagak tau.
Thanks banget pak Teguh, mohon tambah terus artikel & analisanya.

Adhiyanto mengatakan... Balas Komentar

Terima kasih Pak Teguh... Ini materi yang saya tunggu-tunggu, sebab saat ini saya sedang mempelajari teori dan praktik di dunia pasar modal, sehingga pemahaman mengenai pengaruh inflasi dan BI Rate terhadap IHSG sangat penting bagi saya.

hacigo mengatakan... Balas Komentar

Sementara bagi BI sendiri, BI rate adalah suku bunga bagi Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang disalurkan ke bank-bank. Ketika BI rate naik ke 6.75%, maka para bank bisa menaruh dana mereka di BI dalam bentuk SBI, dan akan menerima bunga 6.75% per tahun.
dari pernyataan diatas yg saya tangkap Bank akan menerima Suku Bunga tabungan 6,75 % pertahun jika menyimpan dananya di BI
pertanyaan saya bukankah BI rate itu hanya untuk suku bunga jangka pendek 1-3 bulan dan tidak sampai setahun ? aduh masih gak mudeng ini aku tlong dijelaskan :? ^^

Anonim mengatakan... Balas Komentar

Penjelasan ini benar2 bagus. Saya jadi ngerti dampak BI rate terhadap hal-hal lain.
Terima kasih pak teguh.
Semoga bisa selalu memberi pencerahan bagi orang2 awam seperti saya.

Amel Ivander mengatakan... Balas Komentar

pak kalo untuk penelitian kinerja bank untuk menghitung tingkat bunga apakah harus memekai bi rate/sbi

Amel Ivander mengatakan... Balas Komentar

pak teguh untuk penelitian kinerja bank baiknya menggunakan bi rate/sbi

Fram mengatakan... Balas Komentar

Semoga bunga kredit mobil tidak ikutan naik.hehe. tks pak Teguh utk artikelnya

harriman mengatakan... Balas Komentar

terimakasih pak, sangat jelas penjelasannya.

salam


Harriman

Hesky Stock mengatakan... Balas Komentar

Thanks a lot Pak Teguh, luar biasa penjelasannya, saya jadi mulai ngerti.

M. Candra K mengatakan... Balas Komentar

wah saya jadi ngerti

Widianti Ramadhani mengatakan... Balas Komentar

yang saya ingin tanyakan dan masih belum mengerti adalah mengapa ketika BI rate naik bank bisa saja menaikkan bunga pinjaman/kredit dgn alasan BI rate naik? Bukankah sesungguhnya kenaikan itu tidak menjadi sebuah kerugian untuk bank? Terima kasih :)