Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Mengenal Sektor Batubara

Sektor batubara selalu menarik untuk dicermati, karena barang tambang ini memenuhi tiga kriteria utama sebagai kebutuhan pokok masyarakat yaitu: harganya murah (US$ 120 per ton atau sekitar seribu perak sekilo), bisa diproduksi secara massal (hingga jutaan ton per tahun), dan dibutuhkan oleh orang banyak secara terus menerus (buat bahan bakar pembangkit listrik, dan semua orang tentu butuh listrik). Alhasil, biasanya perusahaan batubara di BEI memiliki kinerja yang cukup baik.

Kita tahu bahwa jika dibandingkan saham-saham di sektor lain, saham-saham di sektor batubara cenderung mahal secara valuasi. Rata-rata PER mereka bisa diatas 13 atau bahkan 18 kali. Apakah itu karena fundamental mereka bagus? Mungkin bukan, karena kalau itu alasannya, seharusnya valuasi saham-saham di sektor perkebunan sawit juga tidak kalah mahalnya. Mungkin, saham-saham di sektor batubara dihargai cukup mahal oleh investor, karena mereka mencantumkan berapa banyak batubara yang ‘mereka miliki’ di laporan keuangannya. Batubara tersebut sejatinya belum diproduksi, tapi barangnya memang sudah ada.

Penjelasannya begini: batubara adalah komoditas tambang yang terletak di dalam tanah, sehingga kalau dari atas tanah nggak akan kelihatan barangnya (ya iyalah). Jika sebuah perusahaan berniat untuk menggali batubara di suatu lokasi, maka yang harus dikerjakan pertama kali adalah eksplorasi atau penelitian, yang akan menghasilkan informasi mengenai apakah di lokasi tersebut memang terdapat batubara, atau tidak? Jika memang terdapat, berapa banyak jumlahnya? Gak mungkin sebuah perusahaan tiba-tiba saja menggali batubara, kalau mereka belum yakin benar apakah di tanah yang mereka gali tersebut terdapat batubara atau nggak. Lalu gimana cara menelitinya? Well, perusahaan biasanya menyewa konsultan tambang independen, yang memiliki teknologi untuk mengetahui secara akurat, seberapa banyak batubara yang terdapat dalam satu lokasi tambang.

Karena itulah, perusahaan batubara biasanya mencantumkan berapa banyak cadangan batubara yang masih belum digali di laporan keuangan mereka. Misalnya, PT A memiliki cadangan batubara 100 juta ton. Meskipun PT A ini katakanlah hanya bisa menggali 5 juta ton batubara per tahun dari cadangannya tersebut (kapasitas produksinya 5 juta ton per tahun), namun tetap saja terdapat kesan bahwa saham PT A ini layak dihargai pada harga yang berdasarkan cadangan batubaranya yang sebanyak 100 ton tadi. Alhasil, saham-saham batubara biasanya cukup mahal, karena termasuk mempertimbangkan jumlah batubara yang bisa diproduksi perusahaan di masa depan.

Nah, pada artikel kali ini, anda akan mengetahui urutan ukuran perusahaan batubara di BEI, dilihat dari posisi terakhir dari total cadangan batubara mereka, yaitu per tanggal 30 Juni 2011, kecuali disebutkan lain. Here we go (klik untuk memperbesar):


Catatan 1: Delta Dunia Makmur (DOID), Darma Henwa (DEWA), dan Indika Energy (INDY) merupakan perusahaan kontraktor tambang batubara, bukan perusahaan batubara, sehingga mereka nggak memiliki cadangan batubara. Namun Kideco Jaya Agung, perusahaan batubara yang 46% sahamnya dipegang INDY, memiliki cadangan batubara sekitar 1 milyar ton. Sementara Resource Alam Indonesia (KKGI), ATPK Resources (ATPK), Perdana Karya Perkasa (PKPK), dan United Tractors (UNTR), tidak menyebutkan posisi cadangan batubaranya, yang mungkin disebabkan karena bisnis mereka tersebar dimana-mana, alias gak cuma terletak di usaha tambang batubara doang.

Catatan 2: Data diatas hanya untuk cadangan terbukti (proven), dan tidak termasuk cadangan terduga (probable). Cadangan terbukti maksudnya cadangannya memang terbukti ada, sementara cadangan terduga barangnya bisa ada, bisa juga nggak. Kalau cadangan terduga ini ikut dihitung, maka angkanya akan lebih besar. Contohnya, kalau cadangan batubara yang terbukti dan terduga milik ADRO dijumlahkan, maka hasilnya bisa lebih dari 1 milyar ton. Cadangan terduga ini sewaktu-waktu bisa 'naik kelas' menjadi cadangan terbukti, sehingga data diatas juga bisa berubah setiap saat.

Okay, dari list diatas, maka siapakah perusahaan batubara terbesar di tanah air? Bumi Resources (BUMI), tentu saja. Posisi kedua? Adaro? Ternyata bukan, melainkan Bukit Asam (PTBA). Dalam beberapa tahun terakhir, PTBA memang berhasil menemukan beberapa lokasi tambang baru yang sudah siap gali, sementara ADRO sepertinya masih nyari-nyari. Posisi dibawah ADRO ditempati Dian Swastatika Sentosa (DSSA), anak usaha Grup Sinarmas, disusul kemudian oleh Berau, Bayan, dan Indo Tambangraya. Dua pendatang baru di BEI, Harum Energy (HRUM) dan Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN), ternyata merupakan perusahaan yang kecil kalau dilihat dari kepemilikan cadangan batubara mereka, yang nggak nyampe 100 juta ton.

Jika sebuah perusahaan batubara memiliki cadangan batubara yang segunung, apakah itu berarti perusahaan tersebut akan untung besar di masa depan? Belum tentu. Selain jumlah cadangan batubara yang dimiliki oleh sebuah perusahaan batubara, terdapat beberapa hal lain yang juga bisa mempengaruhi pendapatan dan laba dari perusahaan tersebut.

Pertama, batubara itu kan letaknya di dalam tanah, sehingga harus digali. Pertanyaannya, seberapa dalam letak batubara tersebut? Jika cukup dekat dengan permukaan tanah, katakanlah perusahaan cuma perlu menggali 5 meter kebawah terus langsung ketemu batubaranya, maka biaya produksinya akan murah. Tapi gimana kalau jaraknya sampai 50 meter, atau lebih? Maka biayanya tentu akan mahal, karena jumlah tanah yang harus digali akan sangat banyak. Dalam istilah operasional batubara, jumlah tanah yang harus digali agar batubara yang terletak dibawahnya bisa diambil, disebut dengan overburden. Perbandingan antara jumlah batubara dengan jumlah tanah atau batu-batuan yang harus digali disebut dengan stripping ratio. Katakanlah sebuah perusahaan batubara mencatat stripping ratio 1 : 3, maka itu berarti untuk memperoleh 1 ton batubara, perusahaan harus menggali 3 ton tanah.

Semakin besar angka stripping ratio, maka tentunya semakin mahal biaya produksinya. Dari sinilah maka sebuah perusahaan batubara harus berhati-hati: apakah ongkos yang harus dikeluarkan untuk menggali sekian juta ton tanah cukup sepadan dengan nilai batubara yang terdapat dibawahnya? Jika tidak, maka perusahaan akan merugi. Tapi biasanya semakin dalam posisi batubara yang akan digali, maka semakin bagus batubaranya, sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk stripping ratio yang tinggi biasanya sepadan dengan kualitas batubara yang diperoleh (penjelasannya di bawah).

Kedua, seberapa bagus kualitas batubaranya? Kualitas batubara ditentukan dari kalorinya, dimana semakin tinggi kalori, maka semakin bagus batubara tersebut (karena energi panas yang dihasilkan lebih besar), dan harganya tentu semakin mahal. Tinggi rendahnya kalori ini biasanya ditentukan oleh umur dari batubaranya, dimana semakin tua umurnya, dan semakin dalam posisinya di dalam tanah, maka semakin panas batubaranya (karena lebih dekat dengan pusat bumi). Dalam hal ini, BORN memiliki keunggulan dibanding perusahaan batubara lain, karena mereka memiliki jenis batubara dengan kalori yang lebih tinggi dibanding batubara milik perusahaan lain.

Ketiga, seberapa kering batubaranya? Agar siap digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik atau untuk keperluan lainnya, maka batubara harus dikeringkan dulu. Jika batubara hasil galian masih mengandung banyak air, maka perusahaan akan memerlukan banyak waktu dan biaya untuk mengeringkannya terlebih dahulu. That’s why kinerja perusahaan batubara di musim hujan biasanya nggak sebagus di musim kemarau.

Keempat, berapa jarak lokasi tambang dengan pelabuhan, atau pembangkit listrik terdekat? Semakin jauh jaraknya, katakanlah jika tambangnya terletak di tengah-tengah hutan Kalimantan, maka ongkos transportasinya tentu akan menjadi mahal, dan itu akan mengurangi laba perusahaan. Kelima, berapa biaya royalti yang harus dibayarkan kepada Pemerintah? Dan Keenam, berapa biaya penyimpanan untuk persediaan batubara yang sudah digali dan sudah dikeringkan, tapi belum terjual?

Intinya, ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam menentukan apakah sebuah perusahaan batubara memiliki prospek yang bagus atau tidak kedepannya, gak cuma dari sisi cadangan batubaranya. Itu baru dari sisi operasional, belum lagi dari sisi finansial. Sayangnya dari sekian banyak perusahaan batubara di BEI, hanya Adaro Energy yang secara rutin menyampaikan laporan lengkap mengenai kegiatan operasional mereka. Mungkin BEI sebagai otoritas bursa perlu mewajibkan para perusahaan batubara lainnya untuk merilis laporan operasional mereka, agar investor menjadi memiliki gambaran yang lengkap mengenai kinerja para perusahaan di sektor yang menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara ini.

Sayangnya lagi, mayoritas saham-saham di sektor batubara tidak cocok untuk investasi long term, karena seperti yang sudah disebut diatas, selain valuasinya rata-rata cukup mahal, likuiditas sahamnya pun nggak bagus. DSSA dan BYAN contohnya, sahamnya cuma digoreng-goreng sama pemiliknya sendiri. BUMI? Sama aja. Alhasil, perusahaan batubara biasanya cuma membuat kaya pemilik mayoritasnya saja. Setiap kali Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia, hampir pasti daftar tersebut memuat nama-nama para juragan batubara Indonesia seperti Garibaldi Thohir (ADRO), Bakrie (BUMI), Kiki Barki (HRUM), atau Low Tuck Kwong (BYAN).

Semua konglomerat selalu tertarik untuk masuk ke bisnis batubara karena prospeknya yang hampir selalu cerah. Namun tidak semudah itu untuk bisa masuk ke bisnis ‘batu panas’ ini. Seorang teman pernah berkata begini kepada penulis, ‘Kalau ente mau beli BUMI (maksudnya mengambil alih perusahaannya, bukan sekedar beli sahamnya), maka duit gak akan jadi masalah. Bank-bank pasti akan dengan senang hati ngasih ente pinjaman. Tapi masalahnya, bisa nggak ente memaksa Grup Bakrie melepas BUMI ke ente? Sebab untuk bisa ngelakuin itu (memaksa Bakrie menjual BUMI), maka ente harus jago berpolitik. Minimal kenal sama Presiden lah.’

Waduh, saya ini cuma rakyat kecil Pak! Jangankan Presiden, Nazaruddin aja saya nggak kenal!
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

9 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Haha mantap!..Ga rela lha Bakrie mengelepasnya...paling cuma digadai:P

Anonim mengatakan... Balas

BUMI Resources
Saham kontroversial sepanjang masa.

Bumi Resources, perusahaan batubara dengan rekor cadangan terbesar.

ITMG, perusahaan batubara dengan rekor harga termahal dan PER (X) yang sangat mahal juga.

anton mengatakan... Balas

bravo pa teguh...

saat ini mulai musim kemarau apa saatnya mulai koleksi tambang batubara yah....

Saham Murah mengatakan... Balas

Thanks penjelasannya Pak Teguh, tapi AKRA kok tidak dibahas ? bukannya AKRA adalah pemain baru di sektor batubara mulai tahun 2011.

Anonim mengatakan... Balas

"sahamnya cuma digoreng-goreng sama pemiliknya sendiri. BUMI? Sama aja."

BUMI kok dibilang gorengan...
:capede

Anonim mengatakan... Balas

thank you Pak Teguh.
Pada 17 juni 2011, Pak Teguh telah membahas INTA. Tapi sayangnya titik beratnya bukan ke komparasi dengan perusahaan pembiayaan seperti CFIN dsb.

Tolong dibahas pak Teguh. Juga tentang aksi emiten yang melakukan RI seperti CFIN ini ( 20 saham lama berhak 9 saham baru dan 7 waran cuma2). Apakah, misal, jika punya 10 lot, berhak paling tidak 4 lot saham baru dan 3 lot waran secara cuma2 (mengingat satuan terkecil adalah lot)?. Kemudian juga dinyatakan harga eksekusi waran 550, apakah maksudnya ini ? Bukankah waran nya diperoleh cuma2? Bila waran ini diperdagangkan, berapakah nilai awalnya ?

Sekali lagi terima kasih ....

SAHAMBACKRIE mengatakan... Balas

boz, tolong dibahas saham cnko....gmana prospek dan cadangan batubaranya...katanya batubara sekelas KKGI

Batubara mengatakan... Balas

Hehehe bagus artikelnya. terima kasih ilmunya :)

dzafa coker mengatakan... Balas

Makasih infonya jadi kalo mau beli sahambatubara gimana

dzafacoker@Gmail.com