Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Saham-Saham Pilihan di Sektor Asuransi

Industri apa yang belakangan ini berkembang pesat di Indonesia, namun agak luput dari pengamatan para investor? Jawabannya mungkin, industri asuransi. Kalau anda perhatikan, dalam beberapa tahun terakhir ini banyak sekali perusahaan asuransi global yang buka ‘lapak’ di Indonesia, dan mereka cukup sukses disini. Sebut saja Prudential (Inggris), AIA (Hongkong), Manulife (Kanada), Commlife (Australia), AXA (Perancis), hingga Allianz (Jerman). Lalu bagaimana dengan perusahaan-perusahaan asuransi yang terdaftar di BEI?

Industri asuransi memang menarik, karena disitu anda menjual suatu ‘barang’ yang boleh jadi tidak perlu anda berikan kepada pembelinya, yaitu: perlindungan terhadap kerugian. Jadi jika si nasabah tidak mengalami kerugian, maka anda juga tidak perlu memberikan atau membayar apapun, tapi anda akan tetap memperoleh keuntungan dari premi yang dibayarkan si nasabah. Selain itu, uang hasil premi yang dibayarkan nasabah bisa diputar ke instrumen-instrumen investasi, termasuk saham (istilahnya di-float), sehingga perusahaan asuransi bisa memperoleh pendapatan tambahan jika investasi tersebut menghasilkan keuntungan berupa bunga, dividen, ataupun capital gain.

Dan tahukah anda, kalau Warren Buffett juga menggunakan dana premi asuransi untuk membiayai sebagian besar investasinya? Yup, mungkin belum banyak yang tahu kalau Berkshire Hathaway memiliki saham di setidaknya sepuluh perusahaan asuransi Amerika, dimana yang terbesar adalah GEICO dan General Re. Pada Kuartal I 2012, total aset Berkshire di kesepuluh perusahaan asuransi tersebut mencapai US$ 266 milyar, atau lebih dari separuh total aset Berkshire sebesar US$ 411 milyar (what a money!). Menurut Buffett, daripada minjem duit ke bank untuk membiayai investasinya, mendingan beli perusahaan asuransi. Nantinya premi yang dibayarkan para nasabah di perusahaan asuransi tersebut bisa dipakai untuk beli saham dan.. dijamin bebas debt collector!

Tapi, bukankah perusahaan asuransi bisa saja mengalami kerugian jika harus membayar klaim nasabah? Benar, namun risiko tersebut bisa dihitung dan diminimalisir melalui teknik aktuaria dan teknik-teknik manajemen risiko lainnya. Contoh simpelnya, kalau anda pernah punya riwayat sakit diabetes, maka perusahaan asuransi juga gak akan mau menerima anda sebagai nasabah asuransi kesehatan untuk pengobatan diabetes. Demikian pula jika anda beli rumah di lokasi yang rawan gempa, misalnya, maka perusahaan asuransi gak akan mau menanggung risiko kerugian yang mungkin anda alami akibat gempa.

Tapi kalau saya gak pernah sakit diabetes, atau rumah saya hampir gak mungkin rubuh terkena gempa, lalu ngapain juga saya harus ikut asuransi? Nah, biasanya perusahan asuransi melalui para agennya menawarkan keuntungan lain bagi si nasabah, diluar penggantian biaya rumah sakit atau perbaikan rumah yang rusak. Misalnya keuntungan dari unit link investasi, dimana premi yang anda bayarkan akan di-float di instrumen investasi tertentu, kemudian anda akan turut memperoleh bagian keuntungannya. Kalau sudah ditawari begitu, maka biasanya barulah para calon nasabah akan tertarik. Dengan cara inilah para perusahaan asuransi kemudian bisa menjaga agar mereka hanya membayar klaim yang sekecil-kecilnya, namun dengan tetap meraup premi yang sebesar-besarnya.

Jadi bisa dibilang terdapat setidaknya tiga elemen yang menentukan kesuksesan sebuah perusahaan asuransi, yaitu: 1. Manajemen risiko, 2. Kemampuan untuk mem-float dana yang ada ke instrumen-instrumen investasi, 3. Para agen asuransi yang telaten dalam mengajak nasabah untuk membuka rekening. Untuk poin yang ketiga, boleh dibilang Prudential adalah juaranya. Miss Merry Riana, penulis buku ‘Mimpi Sejuta Dollar’ yang terkenal itu, juga memperoleh kekayaannya dari menjadi agen asuransi untuk Prudential. Dan di Indonesia sendiri, industri asuransi terus berkembang dengan pesat seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya berasuransi dan berinvestasi. Boleh jadi, para perusahaan asuransi asing ramai-ramai menggelar lapak disini karena mereka menangkap peluang tersebut.

Okay, kembali ke BEI. Di bursa saham kita tercinta ini, sebenarnya terdapat cukup banyak emiten asuransi, yaitu berjumlah sebelas emiten. Namun sayangnya, mayoritas merupakan perusahaan asuransi kecil atau menengah, yang namanya kurang populer di masyarakat. Tidak ada satupun dari perusahaan-perusahaan asuransi besar yang sudah disebutkan diatas, yang listing di bursa. Dan dari perusahaan asuransi yang listing, rata-rata sahamnya tidak likuid, sehingga pergerakan sahamnya sulit diprediksi secara teknikal.

Tapi kalau dilihat dari sisi fundamental, tetap terdapat peluang gain di sektor ini, karena sebagian besar dari para emiten asuransi tersebut memiliki kinerja yang cukup bagus. Berikut adalah perbandingan kinerja para perusahaan asuransi di BEI, berdasarkan laporan keuangan mereka untuk periode kuartal I 2012.

Stocks
Price
ADTV
Net Profit Growth
EAR
ROE
PBV
PER
EAR + ROE

(Rp)
(billion Rp)
(%)
(%)
(%)
(x)
(x)
(%)
PNLF
120
7.3
38.3
68.3
15.3
0.4
2.9
10.5
PNIN
495
0.4
26.1
69.5
15.5
0.2
2.5
10.8
ABDA
1,180
0.1
39.0
39.9
48.9
1.5
2.8
19.5
AMAG
155
0.9
(9.6)
59.5
11.8
0.7
5.7
7.0
LPGI
1,400
0.1
(69.4)
73.5
3.6
0.3
7.8
2.6
ASRM
1,030
0.0
4.5
23.8
20.8
1.0
4.6
5.0
MREI
1,620
0.0
174.7
42.2
25.8
2.5
9.6
10.9
ASBI
475
1.1
1,755.5
31.8
20.1
0.8
4.1
6.4
ASDM
800
0.0
71.0
49.3
16.1
1.0
6.3
8.0
ASJT
460
0.0
19.1
44.9
65.2
1.4
2.2
29.3
AHAP
200
0.0
26.8
50.7
15.3
1.4
8.9
7.7
Average


23.3
62.7
16.7
0.4
2.5
10.5

Catatan:

1. Data diurutkan berdasarkan ukuran aset perusahaan, dari yang terbesar hingga terkecil. Harga saham adalah per tanggal 28 Juni 2012
2. ADTV = Average Daily Trading Value, alias rata-rata nilai transaksi saham harian, dalam Milyar Rupiah. Semakin besar angkanya maka semakin likuid saham yang bersangkutan
3. EAR = Equity to Asset Ratio, mirip dengan Debt to Equity Ratio, namun lebih melihat dari sisi equity alias modal bersih, bukan utangnya. Penulis lebih seneng pake EAR ini daripada DER, karena bisa di-combine dengan ROE (kolom paling kanan)
4. Net Profit Growth = Persentase kenaikan laba bersih, bukan laba bersih komprehensif.
5. Lainnya anda tahu sendiri lah

Oke, sekarang kita analisis. Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan asuransi di BEI mencatat ROE 16.7%, dengan pertumbuhan laba bersih 23.3%. Well, tidak terlalu mengesankan memang, namun masih diatas standar minimum untuk bisa disebut sebagai perusahaan dengan fundamental baik (ROE 15% dan net profit growth 20%). Yang perlu dicatat disini adalah, para perusahaan asuransi diatas boleh dikatakan hanya memperoleh ‘remah-remah’ dari industri asuransi di Indonesia, mengingat industri ini dikuasai, atau bahkan nyaris dimonopoli, oleh perusahaan-perusahaan asuransi raksasa macam Prudential dan kawan-kawan. But still, para pejuang lokal ini tetap mampu memperoleh bagiannya, dan itu menunjukkan bahwa industri asuransi di Indonesia tetap mampu memberikan keuntungan bagi para pemain di dalamnya, baik besar maupun kecil.

Lalu perusahaan asuransi mana yang paling bagus? Berdasarkan ROE-nya, perusahaan asuransi yang paling menguntungkan adalah Asuransi Jasa Tania (ASJT), disusul kemudian oleh Asuransi Bina Dana Arta (ABDA), dengan annualized ROE masing-masing 65.2% dan 48.9%. Sementara berdasarkan EAR-nya, ASJT juga lebih bagus ketimbang ABDA. Namun dari sisi likuiditas saham dan pertumbuhan laba bersih, ABDA lebih unggul. Tapi sebenarnya, likuiditas transaksi saham ABDA juga terbilang seret, yaitu rata-rata hanya senilai Rp100 juta per hari. Saham yang likuiditasnya agak encer hanyalah Asuransi Bintang (ASBI), Asuransi Multi Artha Guna (AMAG), dan Panin Insurance (PNIN). Namun ketiga saham tersebut, seperti yang bisa anda lihat diatas, secara fundamental kurang menarik, setidaknya untuk saat ini.

Logo asuransi ABDA

Satu-satunya saham asuransi yang sahamnya sangat likuid, adalah Panin Financial (PNLF). Dan kinerjanya? Well, cukup baik dengan ROE 15.3% dan EAR 68.3%. Tapi yang lebih menarik lagi adalah valuasinya, yaitu PBV-nya yang cuma 0.4 kali. Apa nggak salah? Kok murah bener? Nggak, itu bener kok. Mungkin, PNLF bisa dihargai murah oleh para investor, karena salah satu penempatan investasi utama perusahaan ini adalah di saham Bank Panin (PNBN). Sementara kita tahu bahwa saham PNBN telah turun banyak dalam dua tahun terakhir, yaitu dari puncaknya 1,350 hingga sempat menyentuh 600 pada Oktober 2011 lalu, sebelum sekarang cenderung stagnan di 700-an.

Tapi yang mungkin juga lupa diperhatikan investor adalah, PNLF tidak men-trading-kan saham PNBN ini untuk memperoleh capital gain, melainkan disimpan dalam jangka panjang untuk memperoleh keuntungan berupa bagian laba bersih dari perusahaan asosiasinya tersebut. Dan sejauh ini bagian laba bersih tersebut masih meningkat dengan stabil. Pada 1Q12, PNFL mencatat bagian laba bersih dari PNBN sebesar Rp256 milyar, meningkat dibanding periode sebelumnya sebesar Rp186 milyar.

So, pilihan yang bisa dipertimbangkan di sektor asuransi, berdasarkan versi blog TeguhHidayat.com ini, adalah ABDA dan PNLF. ABDA mungkin lebih cocok untuk investasi jangka panjang, mengingat sahamnya tidak likuid. Tapi mengingat sahamnya tidak likuid pula, maka jika anda berminat, jangan gunakan dana terlalu banyak. ABDA mungkin akan naik ke posisi 2,750 - 3,000 dalam setahun ke depan, sementara target bagi PNLF adalah 160.

Lalu bagaimana kinerja para emiten asuransi ini dalam secara historis? Nah, tabel berikut adalah data laba bersih sebelas emiten asuransi di bursa, dalam kurun tahun 2007 - 2011, angka dalam milyar Rupiah.

Company
2007
2008
2009
2010
2011






PNLF
503
351
488
745
925
PNIN
355
315
400
595
680
ABDA
13
14
26
45
88
AMAG
19
30
49
59
95
LPGI
15
12
23
54
42
ASRM
16
17
22
24
37
MREI
13
21
32
46
62
ASBI
(12)
7
4
3
9
ASDM
3
5
8
14
22
ASJT
(6)
4
9
12
12
AHAP
1
3
7
9
14
Total
921
778
1,068
1,607
1,986

Berdasarkan tabel diatas, maka akan kelihatan mengapa ABDA bisa dipertimbangkan untuk investasi long term: Total pertumbuhan laba bersihnya paling menonjol diantara semua perusahaan asuransi yang terdaftar di bursa, yaitu 577.1%, dengan kenaikan yang konsisten setiap tahunnya. Memang, masih ada dua perusahaan yang mencatat total pertumbuhan yang lebih besar, yaitu Asuransi Dayin Mitra (ASDM), dan Asuransi Harta Aman Pratama (AHAP). Namun likuiditas dari kedua saham tersebut yang nyaris nol menyebabkan keduanya tidak bisa dipakai untuk investasi. Dan lagi, valuasi mereka juga jauh lebih mahal.

Akan tetapi kalau anda termasuk investor yang memiliki peraturan ketat soal likuiditas, maka tetap saja satu-satunya saham yang bisa dilirik di sektor ini hanya PNLF, dan itulah yang menyebabkan sektor asuransi di BEI sepi peminat. Sayang, karena selain industri ini di Indonesia mulai berkembang pesat, peluang pasarnya juga masih terbuka lebar mengingat tingkat penetrasi kepemilikan asuransi di Indonesia baru sekitar 1 - 2% dari jumlah penduduk. Mau tahu apa yang dikatakan Prudential tentang Indonesia? Here it is:

In South East Asia, our ‘sweet spot’, our growth has been largely led by the rising market of Indonesia as well as the more developed economies of Hong Kong, Singapore and Malaysia. These operations are generating sustainable growth and value, supporting our investments in more emerging markets such as the Philippines, Vietnam and Thailand.

Prudential Indonesia is now our largest business in Asia across virtually all metrics and is the clear market leader in a country where the opportunities for continued growth are significant. It is a market that has low insurance penetration, of just 1 per cent. It is the world’s fourth most populous country and a member of the G20. Indonesia has the largest Muslim population in the world; in Syariah products, which are compliant with Islamic law, we have a 54 per cent market share. With 142,000 licensed agents, we have  the largest agency network in the country. We believe that the opportunities to further  enhance our distribution scale there are significant.

Yap, bahkan Prudential menyebut pasar Asia Tenggara sebagai ‘sweet spot’ mereka, dengan Indonesia sebagai pusatnya. So, see how big the cake is? But unfortunately, this company doesn’t listed on BEI, which means you’ll never get its slices. Begitu juga dengan banyak perusahaan asuransi asing lainnya, dimana justru merekalah yang berukuran besar-besar. Tapi yah, sudahlah.. Bukankah itu sudah biasa? Siapa bilang kita sudah merdeka?

Btw, anda bisa mendownload tabel diatas dalam bentuk file MS Excel disini, gratis! Dengan file tersebut, anda bisa mengetahui PER dan PBV terbaru dari tiap-tiap saham dengan cara memasukkan posisi harga terbaru dari saham yang bersangkutan ke kolom yang disediakan.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

4 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Prudent yg dari Inggris ya ?
Makanya sampai PM-nya bela-belain datang ke kita ... he he he

Kenapa tdk listing di BEI, kadang saya berpikir begini: kalau perusahaan gue tdk ada masalah dan selalu untung, ngapain juga gue mesti share kepemilikan/profit nya ke org lain ? betul ? :)

Anonim mengatakan... Balas

Asuransi2 memang sedang booming di Indonesia, terutama asuransi asing seperti AXA, Prudential dll, tetapi saya pikir itu bukan karena mereka berhasil dalam cara mereka mem-factor risk dari suatu claim, tetapi lebih dari muslihat mereka menjual under-funded premi yg disubsidi oleh pasar saham (and eventually, pemegang polis itu sendiri) dalam bentuk asuransi unit-link.

Agen asuransi tidak akan mengatakan bahwa setiap tahun ada biaya provisi 3-5% dalam mengelola dana investasi unit link. Bayangkan saja, reksadana saja paling banter 1-1.5%. makanya agen asuransi kaya-kaya, bagi hasilnya kaya begitu...

Disamping itu, dengan piggybacking terhadap stock market, premi memang terlihat murah, tetapi bila pasar saham sedang stagnan (tidak usah ngomongin turun) pemegang asuransi akan rugi besar, mungkin mereka harus top-up premi lagi (lagi... Fakta ini tidak akan diungkapkan oleh penjual asuransi).

So... Mungkin masyarakat perlu melihat lebih dalam akan mekanisme investasi2 seperti ini...

Ronald Santoso mengatakan... Balas

Pak teguh PER wajar untuk asuransi itu berapa menurut bpk?
Bukankah industri asuransi ini resikonya besar makanya PER nya kecil,jadi seperti industri kredit macam MFIN,BFIN,ADMF

Wulan Wulianti mengatakan... Balas

pa teguh, saya sedang menyusun skripsi dan membahas tentang PER dan PBV terhadap earnings growth perusahaan asuransi di bei,
saya ingin menanyakan mengenai artikel yang bapa buat iru sumbernya dari mana pa teguh.
mohon informasinya
terima kasih