Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Logindo Samudramakmur

Pada hari ini, Senin tanggal 23 Februari 2015, IHSG ditutup di posisi 5,403, yang kemudian tercatat sebagai posisi tertingginya sepanjang sejarah. Dalam kondisi pasar yang kondusif seperti sekarang maka mayoritas saham-saham di BEI juga seperti berlomba-lomba untuk mencatat rekor harga tertinggi. However, beberapa saham justru mengalami cerita yang berbeda dimana mereka bukannya naik tapi malah terus turun. Dan salah satunya adalah Logindo Samudramakmur (LEAD), yang saat ini diperdagangkan di level Rp1,845 per lembar saham, atau jauuuh dibawah posisi puncaknya yang dicapai enam bulan lalu yakni 5,325. Berbeda dengan beberapa saham lainnya yang turun entah itu karena sejak awal sahamnya tidak memiliki fundamental yang bagus, atau karena perusahaan mengalami penurunan kinerja, atau karena adanya sentimen negatif tertentu, maka LEAD ini sekilas nggak punya masalah apapun. An opportunity?


LEAD adalah salah satu perusahaan penyewaan kapal laut yang tergolong baru, karena baru berdiri dan beroperasi pada tahun 1997 lalu, ketika perusahaan untuk pertama kalinya memperoleh kontrak penyewaan kapal dari Total E&P Indonesie, salah satu perusahaan minyak asing yang beroperasi di Indonesia, tepatnya di Blok Mahakam, Kalimantan Timur. Selanjutnya perusahaan terus berkembang hingga memiliki dan mengoperasikan 25 kapal pada tahun 2005, yang kesemuanya merupakan jenis kapal untuk menunjang kegiatan tambang minyak lepas pantai. Pada akhir tahun 2013 Logindo sudah mengoperasikan 59 unit kapal, dan pada tahun itu pula perusahaan memutuskan untuk go public, ketika itu dengan harga IPO Rp2,800 per saham.           

Kemudian, entah itu karena mendapat sentimen positif terkait ‘tol laut’ di sektor perkapalan atau karena faktor lainnya, saham LEAD terus menanjak naik hingga menembus 5,000 pada September 2014. Namun bahkan pada harga 5,000 tersebut, dengan PER dan PBV masing-masing 12.1 dan 2.2 kali, maka valuasi LEAD tentunya tampak belum terlalu tinggi. However, memasuki bulan Oktober 2014, tanpa didahului oleh sentimen negatif tertentu atau laporan keuangan yang mengecewakan, LEAD dengan sendirinya mulai bergerak turun, dan terus turun sampai sekarang. Secara teknikal saham ini masih belum menunjukkan tanda-tanda rebound, namun secara valuasi, dengan PER yang kini hanya 4.5 kali, maka LEAD mulai menarik perhatian para bargain hunter termasuk penulis. Pertanyaannya sekarang, okay dia sekilas mungkin tampak murah (penulis mungkin perlu menegaskan kata ‘sekilas’ disini, karena mengingat LEAD ini baru IPO kemarin sore, maka kita sebagai investor belum benar-benar mengetahui berapa seharusnya valuasi yang bisa dikatakan undervalue bagi sahamnya, karena kita belum bisa melihat batas-batas kenaikan atau penurunan harga sahamnya di masa lalu). Tapi bagaimana dengan fundamental perusahaannya? Nah, berikut adalah beberapa poin yang harus anda perhatikan terkait LEAD jika anda tertarik untuk berinvestasi didalamnya.

Pertama, ketika tadi dikatakan bahwa penurunan LEAD ini tanpa sentimen negatif, maka pernyataan tersebut mungkin tidak sepenuhnya tepat. LEAD, seperti yang sudah disebutkan diatas, adalah perusahaan penyewaan kapal spesialis transportasi minyak, dalam hal ini minyak mentah, sementara harga minyak mentah itu sendiri turun drastis dalam enam bulan terakhir, dari US$ 90-an menjadi hanya US$ 50.3 per barel pada saat ini. Dengan kondisi seperti itu, maka adalah wajar jika timbul kekhawatiran bahwa para pelanggan LEAD akan mengalami kesulitan untuk melakukan pembayaran, dan hal itu pada akhirnya akan menurunkan laba perusahaan. Seperti mayoritas perusahaan kapal kelas menengah lainnya, pendapatan LEAD sangat tergantung pada satu atau dua pelanggan saja, dalam hal ini Total E&P Indonesie dan Pertamina Hulu Energi, yang berkontribusi total lebih dari 80% pendapatan perusahaan. Jadi jika salah satu atau kedua perusahaan tersebut menunda pembayaran atau meminta diskon harga karena alasan penurunan harga minyak, maka LEAD akan sulit untuk menolaknya karena mereka nggak punya pelanggan lain. Sepanjang tahun 2014 kemarin LEAD secara rutin mengikuti tender penyediaan kapal bagi perusahaan minyak lain, namun sejauh ini upaya tersebut tampak belum membuahkan hasil yang signifikan.

Kedua, meski memiliki track record operasional yang cukup bagus sejak perusahaan berdiri pada tahun 1997, namun LEAD, dalam rangka mengejar target untuk mengubah statusnya dari perusahaan kapal kecil menjadi perusahaan kapal kelas atas, telah melakukan beberapa ‘lompatan’ yang terbilang berisiko dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu lompatan tersebut adalah ketika perusahaan melakukan kemitraan strategis dengan Pacific Radiance (PR), sebuah perusahaan perkapalan asal Singapura, dimana PR menempatkan 50% saham di LEAD (menjadi 35% setelah IPO), dan alhasil direktur utama PR yakni Pang Yoke Min, menjadi komisaris utama perusahaan. Kemitraan strategis ini membuka peluang bagi LEAD untuk menjadi besar dan mampu menembus pasar internasional, dan sebaliknya, membuka peluang bagi PR untuk masuk ke pasar penyewaan kapal di Indonesia.

However, pasca kerjasama ini, tidak ada kejelasan soal siapa ultimate shareholder dari LEAD, karena porsi saham dari tiga bersaudara pendiri perusahaan, yakni Eddy Kurniawan Logam, Rudy Kurniawan Logam, dan Merna Logam, secara keseluruhan adalah sama persis dengan porsi saham yang dipegang PR. Berdasarkan pengalaman, ketika sebuah perusahaan dikuasai secara merata oleh dua belah pihak, maka besar kemungkinan terjadinya konflik dimana satu pihak maunya perusahaan bergerak kesini, sementara pihak lainnya menginginkan perusahaan bergerak kesono. Dan kalau begitu caranya maka perusahaan akan sulit untuk bergerak maju. Ceritanya baru bakal berbeda jika salah satu dari PR atau Keluarga Logam dinobatkan menjadi pemegang saham mayoritas, dimana si pemegang saham mayoritas ini akan menjadi pengambil keputusan akhir dari setiap rencana kerja perusahaan.

Dalam hal ini penulis melihat bahwa Eddy Kurniawan dkk mungkin sebenarnya menginginkan bahwa mereka tetap menjadi pemegang saham mayoritas di LEAD, namun sayangnya posisi mereka terlalu lemah dihadapan PR untuk bisa tetap menjadi pengendali tunggal perusahaan.

Ketiga, sejak tahun 2008 (atau bahkan mungkin juga tahun-tahun sebelumnya) sampai sekarang, perusahaan terbilang berani dalam mengambil pinjaman bank dalam jumlah besar (senilai lebih dari US$ 120 juta). Dan ini adalah ‘lompatan berisiko’ lainnya diluar kerjasama perusahaan dengan PR tadi. Penulis katakan berisiko, karena pada laporan keuangan terakhir perusahaan yakni per Kuartal III 2014, posisi utang jangka pendek perusahaan tercatat US$ 41 juta, sementara nilai aset lancar perusahaan hanya US$ 29 juta. Ini artinya perusahaan mengalami masalah likuiditas, dimana jika terjadi sesuatu yang menyebabkan perusahaan tidak bisa membayar hutang jangka pendeknya, maka LEAD akan dipaksa untuk menjual aset jangka panjangnya, dalam hal ini unit-unit kapal, pada harga yang lebih rendah dari yang seharusnya! Atau bahkan mungkin jauh lebih rendah. Hal ini pernah terjadi pada duo raksasa perkapalan yakni Berlian Laju Tanker (BLTA) dan Arpeni Pratama Ocean Line (APOL), yang gagal dalam membayar hutangnya dan hingga saat ini masih berjuang untuk terhindar dari kebangkrutan. Actually, ketika kemarin LEAD menggelar IPO, maka sebagian dana hasil IPO-nya memang digunakan untuk membayar utang bank.

Terkait masalah likuiditas ini, LEAD kemarin sukses menerbitkan obligasi senilai US$ 37 juta di Singapura dengan tingkat suku bunga yang jauh lebih murah dibanding utang bank (kemungkinan berkat koneksinya dengan Pacific Radiance). Tadinya penulis mengira bahwa dana hasil obligasinya akan digunakan untuk melunasi pinjaman bank yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat, tapi ternyata bukan, melainkan untuk terus membeli unit-unit kapal baru, karena perusahaan berencana untuk menambah 4 – 5 unit kapal baru setiap tahunnya. Well, mungkin pihak manajemen punya pandangan sendiri soal ini, tapi kalau bagi kita sebagai investor, maka ini adalah salah satu ‘lompatan berisiko’ yang lainnya lagi.

Terakhir, keempat. Selain utang bank, LEAD juga memiliki utang dari dua kreditor, yakni SACLP Investment dan ASEAN China Investment Fund (ACIF), masing-masing senilai US$ 11 dan 5 juta. Menariknya, utang tersebut berbentuk convertible loan yang bisa dikonversi menjadi saham LEAD, yakni ketika LEAD sukses menggelar IPO di Bursa Efek Indonesia. Dan ternyata, baik SACLP maupun ACIF memang mengkonversi piutang mereka menjadi saham perusahaan, dimana ketika perusahaan menggelar IPO pada tangga 11 Desember 2013, kedua perusahaan tersebut mengkonversi utangnya berdasarkan harga IPO Rp2,800 per saham, sehingga SACLP memegang 45.3 juta lembar saham LEAD, sementara ACIF memegang 20.6 juta lembar saham.

Dan per tanggal 30 September 2014, kedua perusahaan ini masing-masing tinggal memegang 35.3 dan 14.6 juta lembar saham LEAD, yang itu berarti antara Desember 2013 dan September 2014, baik SACLP maupun ACIF telah melepas sebagian saham mereka ke publik. Namun pada tanggal 30 September tersebut, saham LEAD justru tengah berada di salah satu posisi tertingginya yakni 5,100. Got the point? Jadi ketika saham LEAD terus naik dalam waktu beberapa bulan pasca IPO-nya, maka sebenarnya itu karena bandarnya sedang distribusi di harga atas! Yakni agar mereka memperoleh keuntungan dari trading jangka pendek.

Dan ketika kemudian LEAD turun hingga ke posisi sekarang, maka si bandar ini mulai akumulasi barang lagi. Berdasarkan data registrasi pemegang saham perusahaan, jumlah saham LEAD yang dipegang SACLP dan ACIF telah meningkat dari totalnya 54.6 juta lembar pada akhir November 2014, menjadi 57.9 juta lembar pada akhir Januari 2015. Kalau melihat trend saham LEAD yang masih tertekan sampai sekarang, maka ada kemungkinan bahwa bandar LEAD masih dalam tahap akumulasi, dimana tentunya mereka lebih suka akumulasi di harga bawah.

Jadi kesimpulannya, LEAD ini sedikit banyak bisa disebut saham gorengan karena pergerakan harganya dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu dan bukannya oleh mekanisme pasar, dan itu mungkin sekaligus menjelaskan kenapa kok sahamnya gampang sekali turun bablas hingga ke posisi serendah ini nyaris tanpa ada perlawanan sama sekali. Jadi dalam kasus ini, bahkan kalau anda menganggap bahwa LEAD ini sudah cukup murah dan fundamentalnya juga bagus, namun sahamnya tetap tidak akan naik jika harganya sengaja ditahan pada level bawah. Dan penulis, terus terang, paling nggak suka saham model begini.

Hingga ketika artikel ini ditulis, LEAD masih belum merilis laporan keuangannya untuk Kuartal IV 2014. Namun berdasarkan LK Kuartal III, perusahaan masih mencatat trend pertumbuhan yang bagus dimana pendapatan serta labanya naik masing-masing 27.7 dan 53.0%, dan ekuitasnya juga tumbuh 14.0%. Dengan return yang mencapai 18.0% padahal perusahaannya baru saja IPO (yang itu berari LEAD terbilang cepat dalam menggunakan dana IPO-nya), maka PBV 0.8 kali bagi LEAD ini tampak sangat menarik. However, setelah dipelajari lebih lanjut, maka cukup jelas bahwa faktor fundamental serta valuasi bagi saham ini mungkin tidak berarti apapun. Jika anda berani ambil risiko ‘digencet’ oleh bandar, termasuk risiko bahwa kinerja LEAD kedepannya mungkin akan sedikit turun karena faktor penurunan harga minyak, maka anda mungkin boleh ikut akumulasi LEAD ini, karena mau dia dijongkokin sampai seribu perak sekalipun, tapi seharusnya pada akhirnya dia akan kembali naik. Namun kalau dari sudut pandang value investing, well, kita tidak mau ambil risiko semacam itu, kecuali mungkin jika dikasih harga yang benar-benar murah, let say, 1,500.

Buletin Analisis & Rekomendasi Saham bulanan edisi Maret 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

8 komentar:

Okim Rahardja mengatakan... Balas

Bravo. Sengkyu somad mas Teguh buat artikel2 yang mencerahkan. Btw, sekilas insight tentang komposisi shareholder pada artikel diatas buat saya sangat inspiratif (EUREKA!). Barangkali, ini barangkali saja, informasi tentang adu kuat shareholder saja sudah cukup buat kita bilang "ogah deh" untuk analisis lebih lanjut. Kecuali, keluarga Logam bersaudara ternyata misalnya punya pengaruh di PR juga..hehe, seperti umumnya 'penyamaran' shareholder di banyak emiten BEI..

Anonim mengatakan... Balas

saya setuju kalau lead ini ada bandarnya.
Pak teguh tolong bahas wintermar (wins) dong. thank you

Davi Sukses mengatakan... Balas

Pak Teguh, temennya LEAD keq WINS & MBSS, pergerakan harga sahamnya juga seperti itu dalam 6 bulan terakhir, apa WINS & MBSS juga ada bandar2an, atau memang sektor kapal ini mank lag begitu?

Anonim mengatakan... Balas

Ternyata dibalik angka laporan keuangan itu ada cerita yg menarik soal LEAD. Angka dan harganya terlihat bagus dan sangat menarik. Ternyata cerita dr pak Teguh jg tidak kalah menarik.
Sebenarnya ketika stock screen, saham ini muncul terus dan membuat sy penasaran.
Namun ketika dihadapkan pada pilihan, beli perusahaan yg akan dimiliki selamanya, saham ini gagal. Sy ga terlalu paham bisnis sewa kapal utk migas. Jadi batal deh. Baca laporan keuangan nya cuman buat latihan analisis saja. Hanya saja ga perhatikan di bagian kepemilikan saham.
Thanks utk edukasi nya.

Anonim mengatakan... Balas

terima kasih untuk ulasannya yg sangat bagus.
Sebagai pengguna service LEAD, saya juga merasa LEAD ini terlalu beresiko karena hanya ada 2 customer besar mereka.
Business attitude mereka juga tidak terlalu excellent. Sehingga untuk memegang LEAD benar-benar sangat beresiko saat ini.

Dian Abdi Wahyudillah mengatakan... Balas

terima kasih mas, pandangan mas dalam menganalisis LEAD jauh lebih luas jika dibandingkan dengan pandangan saya yang hanya sebatas investor jalanan, , , bisa di liat http://tabungdisaham.blogspot.com/2015/01/lead-bertumbuh-bersama-permintaan-minyak.html tapi saya tetap yakin mas,,, harganya pasti akan kembai pada fundamentalnya,, entah kapan ya kita tunggu saja.. . . terima kasih

Anonim mengatakan... Balas

Pak, request dong bahas INVS. Lagi anjlok banget itu katanya. Labanya lagi anjlok karena rugi kurs, tapi laba usahanya naik. Mau ekspansi ke oil n gas sama batu bara. PBV nya sekitar 1/3. Mohon analisis sama pencerahannya, terimakasih :)

Anonim mengatakan... Balas

pak ini kenapa laba bersih lead amblas 80% di lk tw 1 nya jadi 1 juta doang dari 5 juta an