Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Saya Ketinggalan Kereta! Gimana Nih?

Pertengahan September lalu, salah satu saham bluechip yang cukup populer di kalangan investor yakni Jasa Marga (JSMR), tiba-tiba saja anjlok ke level 4,500-an, yang merupakan posisi terendahnya dalam setahun terakhir, padahal fundamental perusahaannya keliatannya tidak ada masalah sama sekali (pada Semester I 2016, laba JSMR masih tumbuh 44%). Tapi kemudian diketahui bahwa JSMR bisa jeblok gitu cuma karena right issue saja. Pertanyaannya kemudian, apakah ini merupakan value opportunity alias peluang? Dan jika jawabannya adalah iya, maka pada harga berapa kita boleh beli JSMR ini?

Nah, setelah mengerjakan sedikit analisis, penulis kemudian menyimpulkan bahwa, yap, terdapat peluang di JSMR ini, dan harga beli yang disarankan adalah 4,000 atau dibawahnya. Anda bisa baca lagi analisisnya disini, dimana analisisnya terbit pada tanggal 19 September lalu, yakni ketika JSMR berada di posisi 4,550. Sejurus kemudian JSMR bukannya turun ke harga 4,000 tadi tapi malah naik hingga hampir saja balik lagi ke 5,000-an, sehingga pada titik ini wajar saja jika beberapa orang berujar sinis: Dibawah 4,000 apaan? Turun ke harga dibawah 4,500 aja susah!

Namun tak berapa lama kemudian ternyata JSMR benar-benar turun sampai.. dibawah 4,000! Tepatnya mentok di 3,900 pada akhir November kemarin, sebelum baru kemudian naik lagi ke posisi sekarang yakni 4,360. Ketika JSMR berada di level 4,000 itulah, penulis kemudian masuk, dan ketika artikel ini ditulis, kami masih hold JSMR.

Pertanyaannya, ketika penulis mengatakan bahwa JSMR mungkin akan turun sampai 4,000 atau dibawahnya, dan ternyata benar bahwa JSMR sempat turun sampai serendah itu, maka apakah itu berarti penulis mampu melihat atau memprediksi masa depan? Well, tentu saja tidak, dan sebenarnya sejak beberapa tahun terakhir ini penulis sudah tidak pernah lagi berusaha memprediksi apakah suatu saham akan naik atau turun.

Yang kami lakukan hanyalah menilai berapa kira-kira harga terbaik untuk membeli sebuah saham, kemudian menunggu. Jika saham yang diincar benar-benar turun hingga ke level ‘harga terbaik’ tersebut, maka barulah penulis akan masuk. Tapi jika tidak? Ya sudah, kalau ada pilihan saham lain yang lebih baik, maka kita ambil saham lain itu saja dulu. Balik lagi ke contoh JSMR diatas, kalau dia gak pernah turun sampai 4,000, melainkan katakanlah mentok di 4,500, maka mungkin penulis gak mau ambil risiko masuk di harga tinggi dan lebih memilih saham lain. Tapi karena kebetulan dia benar-benar turun sampai level 4,000 tersebut, maka barulah kita masuk. Actually, selain JSMR, juga ada beberapa saham yang penulis berharap bahwa harganya akan turun sampai level tertentu yang merupakan buying range-nya, contohnya seperti Adhi Karya (ADHI) yang boleh dibeli di harga dibawah 2,000, atau Gajah Tunggal (GJTL) yang sangat atraktif di harga 1,000 pas (analisisnya bisa dibaca di ebook kuartalan). And indeed, baik ADHI maupun GJTL kemarin sempat turun sampai ke level harga terbaik mereka masing-masing, sebelum kemudian naik ke posisi sekarang.

However, tidak semua saham yang penulis incar ‘sukses’ turun hingga ke level yang kami anggap ideal untuk dibeli. Contohnya Bank Jatim (BJTM), yang penulis udah siap-siap ‘menghadangnya’ di harga 450 atau dibawahnya, karena berdasarkan pengalaman, BJTM ini biasanya bakal naik banyak di awal tahun karena pembagian dividennya yang sangat besar (yield-nya bisa mencapai 10%).


Logo BJTM, salah satu 'dividend stock' paling bagus di BEI

Tapi kemarin BJTM ini turunnya cuma sampe 480, sebelum kemudian naik ke posisi sekarang (580). Tapi mungkin yang paling mengesalkan adalah ketika awal tahun 2016 lalu penulis sudah mengincar Bukit Asam (PTBA), yang ketika itu sudah sangat rendah di level dibawah 4,500, tapi saya ngotot antri beli di harga 4,000 saja. Sayangnya posisi terendah yang pernah dicapai PTBA hanyalah 4,165, sehingga kami gak pernah dapet barang.

Dan kemudian.. berapa posisi PTBA sekarang???

Nah, jadi apakah dalam hal ini analisis penulis atas JSMR, ADHI, dan GJTL terbilang tepat, sementara di BJTM dan PTBA analisisnya keliru? Well, nggak juga, karena toh sekali lagi, tak peduli sejago apapun anda dalam menganalisa, namun anda tidak akan pernah bisa memprediksi secara persis naik turunnya sebuah saham. Hati-hati kalau ada orang yang mengklaim bisa meramal harga saham di masa depan, malah anda harus periksa, mungkin dia masih muridnya Dimas Kanjeng.

Namun dengan menggunakan metode value investing, maka kita bisa menilai berapa harga wajar, mahal/overvalue, dan murah/undervalue bagi sebuah saham, dimana best price bagi sebuah saham adalah ketika harganya sudah undervalue. Jadi ya sudah, inilah yang kita lakukan: Ketika kita sudah punya kesimpulan bahwa sebuah saham memiliki fundamental bagus dan layak untuk dibeli, maka selanjutnya tentukan berapa kira-kira harga belinya. Dan jika harga pasarnya masih lebih tinggi dari harga beli yang sudah kita tentukan tadi, alias masih mahal/belum undervalue, maka kita tinggal duduk dan tunggu.

Sebab, saham apapun tidak akan selamanya dihargai mahal, melainkan akan selalu ada waktu-waktu dimana dia dihargai wajar atau murah, entah itu karena IHSG turun, atau ada peristiwa penting tertentu (contohnya seperti right issue JSMR tadi). However, karena penilaian ‘mahal’, ‘wajar’, atau ‘murah’ adalah penilaian yang subjektif, dimana seorang investor bisa jadi menganggap bahwa saham A di harga 1,000 masih mahal, tapi investor lainnya menganggap harga segitu sudah murah, maka sering juga terjadi kondisi dimana meski sudah ditunggu cukup lama, tapi saham yang kita incar tidak pernah turun sampai ke harga yang kita anggap ideal.

Dan jika kejadiannya seperti itu maka ya sudah, artinya peluang di saham yang kita incar tersebut sudah tertutup, tapi itu nggak jadi masalah, karena kita bisa alihkan perhatian ke saham lain yang peluangnya masih terbuka. Yup! Jadi kalau JSMR gak pernah turun sampe 4,000, sementara BJTM turun sampai dibawah 450, maka penulis tentu ambilnya BJTM saja. Dan meski penulis ketinggalan kereta di PTBA, namun kita menemukan ‘kereta yang belum berangkat’ di Harum Energy (HRUM), ketika itu pada harga 1,050, dan HRUM inipun sukses memberikan keuntungan lumayan.

Kabar baiknya, asalkan anda cukup jeli dalam menyaring ‘mutiara terpendam’ di jagat BEI, maka akan selalu ada peluang untuk memperoleh saham bagus di harga murah. Jadi anda gak perlu menggerutu ketinggalan kereta ketika saham yang anda incar sudah keburu terbang sebelum anda sempat membelinya, karena toh anda masih bisa cari dan beli saham lain yang ‘belum berangkat’. Sementara kalau anda berada dalam kondisi dimana semua saham bagus dihargai mahal tanpa kecuali, maka itu artinya IHSG sudah naik sangat tinggi hingga bubble, jadi kita tinggal tunggu dia drop aja dulu, dan ketika itulah kita bisa panen saham-saham bagus di harga obralan.

Hanya memang, seringkali kesulitan terbesarnya adalah di bagian menunggu-nya ini. Meski diatas disebutkan bahwa selalu ada peluang untuk memperoleh saham bagus di harga murah, tapi peluang itu tentu saja tidak akan muncul setiap hari, melainkan hanya beberapa waktu sekali saja. Dan ketika tidak ada peluang inilah, maka seorang investor dituntut untuk bersabar, tapi yaa gitu deh.. Setelah wara wiri di market selama beberapa tahun ini, bisa penulis simpulkan bahwa mayoritas trader saham di BEI itu lebih gak sabaran dibanding para pengendara sepeda motor di lampu merah Kota Jakarta pada jam pulang kantor.

Tapi ketika anda bisa bersabar inilah, ketika anda bisa duduk santai menunggu ‘jadwal kereta selanjutnya’ dan bukannya malah ngejar-ngejar kereta yang udah jalan duluan (tapi kebanyakan orang ya seperti itu: Saham murah gak dilirik hanya karena ‘gak gerak-gerak’, sementara saham yang udah terbang malah dikejar), then trust me, hasilnya tidak akan mengecewakan!

Okay, untuk minggu depan, kecuali ada tema lain yang lebih menarik, kita akan membahas sedikit soal sektor konstruksi. Dan, setelah membaca tulisan diatas, anda mengerti kan kenapa yang kita bahas nanti adalah konstruksi dan bukannya sektor lain?

Info Investor: Penulis membuat buku kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan fundamental dan valuasi sahamnya. Dan anda bisa memperolehnya disini.
Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

5 komentar:

Agnes Tj mengatakan... Balas

Di ebook oktober anda menulis GJTL sangat menarik diharga saat itu Rp 1400 an dan anda sdh membelinya. Ketika harganya turun ke 1300 an anda bilang masih oke, mentok-mentoknya 1150. Hhmm...kenapa diartikel ini anda mengatakan GJTL sangat menarik dibawah 1000?

David Ng mengatakan... Balas

Thank you bgt mas Teguh, gara2 baca article anda di bulan september lalu saya bersabar dan berhasil peroleh jsmr di 4000. Skg ya tinggal lets the profit run hehe Thank you sekali lagi.

Ikhsan Rizki Kurniawan mengatakan... Balas

analisa yang jujur tentang analisa harga saham

Jul Harbi mengatakan... Balas

Saya mengerti pak teguh, karna konstruksi belum bnyak dlirik dan belum bnyak gerak

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

@Agnes Tj: Di Kuartal III kemarin GJTL mengalami force majeure, dimana perusahaan harus menarik salah satu produk bannya di Amerika dan itu menyebabkan cadangan kerugian sebesar Rp200-an milyar, yang menyebabkan EPS-nya turun, dan valuasi sahamnya dari sisi PER naik.

Diluar itu GJTL ini gak ada masalah, dia masih bagus dan karenanya masih bisa dilirik. Tapi karena faktor force majeure itulah maka 'best buy'-nya harus diturunkan, dimana kita keluar dlu untuk kemudian masuk lagi di harga bawah.

Actually, faktor force majeure/peristiwa tidak terduga ini pula yang bikin kita gak akan pernah bisa meramal harga saham, dan pada kasus tertentu kita mungkin harus cut loss dulu. Tapi asalkan kita bisa kembali menentukan best buy yang baru bagi saham yang kita pegang, maka dengan strategi 'keluar dulu kemudian masuk lagi', maka kerugian yang terjadi akan tertutup oleh profit yang lebih besar, yang akan diperoleh kemudian.