Buletin Analisa IHSG & stockpick saham pilihan edisi September 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Antara Investor Saham, dan Pahlawan Kemerdekaan

Sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Sudirman, yang ketika itu merupakan komandan PETA (pembela tanah air, organisasi militer bentukan Pemerintah Imperial Jepang di Indonesia), bergegas ke Jakarta untuk menemui Presiden Sukarno, untuk menyatakan dukungannya terhadap Negara Republik Indonesia (RI) yang baru berdiri. Pada tanggal 5 Oktober, Pemerintah RI mendirikan Tentara Keamanan Rakjat (TKR) yang menjadi cikal bakal TNI, dan pada tanggal 12 November, para anggota TKR melakukan general meeting pertama untuk memilih siapa yang akan menjadi pimpinan tertinggi/panglima. Sudirman, yang ketika itu baru berusia 29 tahun, terpilih sebagai pimpinan militer, dengan pangkat kolonel.

Awalnya karena usia Sudirman yang dianggap masih sangat muda serta latar belakangnya sebagai guru (sebelum menjadi komandan PETA, Sudirman bekerja sebagai guru di sekolah Muhammadiyah di Cilacap), maka banyak orang meragukan kapabilitas beliau sebagai pemimpin militer. Namun Sudirman segera menunjukkan bahwa ia layak menjadi panglima. Pada tanggal 20 Oktober 1945, Tentara Inggris, yang merupakan bagian dari Tentara Sekutu (allied forces) yang baru saja memenangkan Perang Dunia Kedua, mendarat di Semarang, Jawa Tengah, untuk membebaskan tahanan perang serta melucuti senjata milik Tentara Jepang. Awalnya kedatangan mereka disambut baik, mengingat Sekutu berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan RI. Namun ketika mereka terus bergerak maju menuju Ambarawa hingga Magelang, mereka mulai memberikan senjata kepada tahanan perang Belanda yang baru saja dibebaskan, dan juga berusaha melucuti senjata milik TKR, sehingga barulah kelihatan bahwa mereka membantu Pemerintah Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Tentara TKR kemudian melakukan perlawanan yang memaksa Tentara Sekutu mundur ke Ambarawa, namun Sekutu membalas dengan merangsek maju ke Magelang, dan pertempuran panjang pun tidak terhindarkan.

Hingga akhirnya pada 11 Desember 1945, Sudirman melakukan rapat dengan para komandan TKR, dimana besoknya beliau memimpin langsung pengepungan terhadap tentara Sekutu sejak subuh di Ambarawa, dan suara tembakan senapan mesin dan ledakan bom segera terdengar di seluruh penjuru kota. Dan akhirnya, setelah pertempuran sengit selama empat hari penuh, Sekutu mundur ke Semarang, dan Ambarawa dikuasai penuh oleh RI. Dalam peristiwa Palagan Ambarawa ini, tak kurang dari 2,000 tentara TKR mengorbankan jiwa mereka untuk Indonesia, sementara korban jiwa di pihak sekutu hanya sekitar 200 tentara (tentara sekutu sejak awal kalah jumlah, namun mereka didukung oleh persenjataan yang lengkap plus tank). Namun demikian kemenangan ini menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Negara RI yang baru berdiri tidak bisa dianggap remeh, dan pada 18 Desember, Kol. Sudirman dikukuhkan sebagai Panglima TKR, dimana pangkatnya dinaikkan menjadi Jendral (namun pada reorganisasi tentara beberapa waktu kemudian, dimana TKR menjadi Tentara Nasional Indonesia/TNI, pangkat tersebut diturunkan menjadi Letjend).

Di tahun-tahun berikutnya, ketika Presiden Sukarno bersama jajaran kabinetnya terus mengupayakan negosiasi dengan Pemerintah Belanda (yang masih terus berusaha menguasai Indonesia), termasuk memindahkan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta, maka Sudirman terus memimpin perlawanan secara militer. However, ketika Belanda melakukan operasi militer besar-besaran dengan membawa lebih dari 120,000 tentara pada Juli 1947, yang dikenal sebagai Agresi Militer I, maka TNI yang inferior segala-galanya segera menderita kekalahan, dimana dari 200,000 tentara dan relawan yang dimiliki TNI, sekitar 150,000 diantaranya terluka atau tewas (berbanding 6,000 korban dari pihak Belanda), dan Belanda kemudian sukses menguasai seluruh Sumatera dan sebagian Jawa. Namun demikian Sudirman tetap tidak menyerah, dan terus melakukan perlawanan dengan taktik perang gerilya, yang kemudian memaksa Belanda untuk membuat perjanjian dengan Pemerintah RI, dimana sebagian wilayah Jawa, dalam hal ini Banten, Jogja, dan sebagian Jawa Timur (termasuk Madiun), tetap berada dalam naungan RI. Sudirman kemudian memimpin tentaranya untuk pulang dari persembunyian di hutan-hutan menuju Kota Jogja.

Namun situasi Indonesia masih jauh dari kata damai. Pasca Agresi Belanda, kondisi politik dalam negeri juga sama sekali tidak stabil, termasuk terjadi pemberontakan di Madiun oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), pada September 1948. Sudirman, yang ketika itu jatuh sakit, mengirim deputi-nya, Kolonel Abdul Haris Nasution, untuk menumpas pemberontakan dan berhasil, dimana pasukan TNI menembak mati 300 tentara pemberontak dan menawan ribuan lainnya. Sudirman kemudian mengunjungi Madiun, dan beliau sempat mengatakan pada istrinya bahwa ia sama sekali tidak bisa tidur sepanjang terjadinya pertempuran. Pada 5 Oktober 1948, setelah upacara hari ulang tahun TNI yang ke-3, Sudirman jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, dan barulah ketahuan kalau beliau menderita tuberkulosis. Selama di RS, Sudirman menyerahkan sebagian besar tugas-tugasnya ke Kol. Nasution.

Sayangnya Sudirman tidak bisa beristirahat lama-lama. Pasukan Belanda, yang mungkin karena melihat militer Indonesia melemah pasca pemberontakan Madiun, kembali melakukan aksi militer, kali ini bertujuan untuk menumpas RI sama sekali, termasuk menguasai Jogja sebagai Ibukota RI. Pada 17 Desember 1948, Sudirman, yang ketika itu baru saja kembali bertugas sebagai panglima militer, segera memerintahkan latihan militer besar-besaran, untuk menunjukkan kepada Belanda bahwa TNI masih terlalu kuat untuk diserang, namun gagal karena hanya dua hari kemudian, Belanda keburu melancarkan Agresi Militer II dengan menyerang langsung ke Jogja, dan mereka segera menguasai seluruh penjuru kota. Sudirman bergegas menuju Istana Presiden di pusat kota Jogja untuk menemui para pejabat negara RI, untuk mengajak mereka untuk terus bertempur, namun ajakan tersebut ditolak, dan Sudirman sendiri tidak diizinkan oleh dokternya untuk melanjutkan peperangan, mengingat tuberkulosis-nya yang semakin parah.

Dan andai saja ketika itu Sudirman memutuskan untuk tetap di Jogja, untuk meletakkan senjata dan menyerah, maka mungkin Indonesia akhirnya akan bubar sama sekali, dan Nusantara kembali dikuasai Belanda. Namun Sudirman bersikukuh untuk melanjutkan perjuangan, sehingga akhirnya disepakati bahwa, Sudirman beserta pasukannya akan terus berperang, kali ini dengan taktik gerilya, namun Presiden Sukarno dan para pejabat Pemerintah RI akan tetap tinggal di kota dan membiarkan mereka ditangkap Belanda, sekaligus membuat Belanda sibuk sehingga pasukan Sudirman punya cukup waktu untuk meninggalkan kota. Rencana tersebut berhasil, dimana ketika Presiden Sukarno dan jajaran pemerintah RI ditangkap dan dikirim ke pengasingan, di waktu yang bersamaan Sudirman beserta pasukannya bergerak ke selatan menuju Bantul, lalu lanjut ke Trenggalek.

Kemudian, setelah perjalanan panjang melalui hutan lebat selama berbulan-bulan, termasuk beberapa kali melakukan kontak baku tembak dengan pasukan Belanda, pada 18 Februari 1949 pasukan Sudirman tiba di Sobo, dekat Gunung Lawu, dimana beliau menilai bahwa daerah tersebut aman dari kejaran Belanda namun sekaligus tidak terlalu jauh dari Jogja. Setelah rapat dengan para komandan, diputuskan bahwa TNI akan melakukan serangan besar-besaran ke Pusat Kota Jogja untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia beserta TNI-nya masih ada! Strateginya adalah, pasukan gerilya TNI akan melakukan serangan-serangan kecil ke desa-desa di sekitar Jogja, agar Belanda menempatkan lebih banyak tentara di daerah sehingga otomatis penjagaan di Kota Jogja akan berkurang, dan setelah itu barulah pasukan utama TNI bakal menyerang pusat kota. Sudirman kemudian menunjuk Letkol Suharto sebagai komandan lapangan untuk serangan utama tersebut.

Dan pada 1 Maret 1949, pukul 06.00 pagi, pasukan TNI melakukan serangan mendadak hingga Tentara Belanda terpaksa mundur meninggalkan kota, dan pada siang hari pukul 12.00, pasukan TNI berhasil menduduki dan menguasai pusat Kota Jogja! Sebelum kemudian mundur kembali pada sore hari (ketika bantuan tentara Belanda dari daerah sudah kembali tiba di Jogja, pasukan TNI sudah keburu mundur).

Tapi meski hanya menguasai kota selama sekitar enam jam, serangan tersebut sukses merusak reputasi Pemerintah Belanda di mata dunia internasional, mengingat Belanda sebelumnya mengklaim bahwa mereka sudah membabat habis TNI. Setelah menerima tekanan dari United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB), pada Mei 1949 diadakan Perjanjian Roem-Royen, dimana Tentara Belanda diharuskan untuk mundur sama sekali dari Jogja dan seluruh wilayah nusantara paling lambat bulan Juli, dan jajaran Pemerintah RI bisa kembali dari pengasingan. Setelah kembali berada di Jogja, Presiden Sukarno secara personal memerintahkan Sudirman untuk pulang, namun Sudirman memilih untuk tetap bertahan di markas gerilya-nya, dengan argumen bahwa Belanda bisa saja melanggar perjanjian dan kembali melakukan agresi militer (sebelum Roem-Royen, Pemerintah Belanda dan RI sebelumnya sudah membuat Perjanjian Renville dan Linggadjati, namun Belanda melanggar kedua perjanjian tersebut).

Barulah setelah dijemput langsung oleh Letkol Suharto, pada bulan Agustus 1949, Sudirman akhirnya bersedia pulang, dimana beliau disambut langsung oleh Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta dan lainnya, dan juga disambut upacara militer besar-besaran di alun-alun Jogja. Masih menderita tuberkulosis, Sudirman kemudian dirawat di RS Panti Ratih, sebelum kemudian dipindahkan ke rumah peristirahatan di Magelang, namun kesehatannya terus memburuk. Pada 27 Desember 1949, Belanda akhirnya mengakui Kemerdekaan Indonesia, dan sebulan kemudian pada 29 Januari 1950, Sudirman menghembuskan nafas terakhir, dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Jogja. Ketika itu usianya baru 34 tahun. Letjend Sudirman kemudian dipromosikan menjadi Jendral, dan pada tahun 1997, beliau kembali dipromosikan ke pangkat tertinggi militer yakni Jendral Besar (General of the Army).

Jendral Sudirman didampingi ajudannya, Letkol Suharto

‘Perjuangan’ Kita Sekarang Ini, dibanding Perjuangan Para Pahlawan

Sebagai investor, seperti yang pernah penulis sampaikan di artikel lain, saya sangat suka membaca cerita-cerita sejarah, khususnya kisah perjuangan Jendral Sudirman diatas dimana penulis sudah hafal diluar kepala. Karena hanya dengan mengingat kembali jasa-jasa pahlawan seperti itulah, maka kita akan menyadari bahwa kita sangat beruntung hidup di jaman yang serba mudah seperti sekarang ini. Termasuk ketika penulis mulai stress ketika melihat kinerja portofolio yang tidak sesuai harapan, maka penulis biasanya bilang ke diri sendiri: Dibanding perjuangan pahlawan-pahlawan kita dulu, kesulitan yang kamu alami sekarang ini sama sekali gak ada apa-apanya!

Maksud penulis, coba lihat Jendral Sudirman: Dalam keadaan sakit parah dan tanpa pengobatan yang memadai, beliau tetap memaksakan diri untuk berjuang, meninggalkan keluarga dan seluruh harta bendanya, menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lainnya dalam kondisi yang jauh dari kata nyaman, sambil terus menanggung risiko ditangkap (atau bahkan ditembak mati) oleh Tentara Belanda, dan selama itu beliau harus kehilangan entah berapa anak buah karena terluka, tewas, atau tertangkap. Namun hebatnya beliau mampu untuk tetap fokus, tidak takut, dan dalam pikiran beliau ketika itu hanya ada satu sumpah: Sampai titik darah penghabisan, Indonesia harus benar-benar merdeka!

Sementara kita? Well, kalo penulis sendiri, ketika ‘berjuang’ (baca: bekerja), maka saya menghabiskan banyak waktu untuk membaca laporan keuangan dll sambil duduk nyaman di kursi empuk dalam ruangan sejuk ber-AC, dan saya bisa istirahat, makan, dan tidur kapan saja, termasuk kita bisa pergi ke hutan tapi bukan untuk gerilya, melainkan untuk piknik menghirup udara segar. Dan satu-satunya risiko yang dihadapi hanyalah kalo saham kita turun sehingga terpaksa menderita rugi, tapi tidak lebih dari itu. Kita sama sekali tidak perlu khawatir ditangkap atau ditembak mati oleh tentara musuh, dan bahkan risiko jatuh sakit pun nyaris tidak ada, karena kita bekerja dalam lingkungan yang serba nyaman, bersih, dan sehat.

Jadi kalau ada teman mengeluh, ‘Pak Teguh, gimana caranya ya biar bisa tenang liat saham? Saya masih suka stress nih, sampe gak bisa tidur gara-gara nyangkut..’, maka penulis akan bilang, really? Kalau cuma karena itu saja anda gak kuat mental sampai gak bisa tidur, lalu bagaimana kalau seandainya anda berada dalam posisi bertanggung jawab untuk menumpas pemberontakan di Madiun?? Atau harus bertahan di hutan-hutan untuk menghadapi Agresi Militer Belanda??? Bisa-bisa baru jadi panglima militer sehari, besoknya anda langsung menyerah ke Belanda, dan Indonesia langsung bubar! Actually, balik lagi ke investasi saham: Kalau anda gak bisa tenang dalam memegang dana anda yang sekarang, maka bagaimana mungkin anda berharap bisa mengelola dana yang lebih besar di masa yang akan datang?

Tapi intinya sekali lagi, seperti yang sudah disampaikan diatas, kita sangat beruntung hidup di jaman dimana kita, sebagai investor, hanya perlu memikul tanggung jawab yang amat-sangat-ringan, dimana kalaupun kita gagal dan rugi maka kita akan tetap sehat-sehat saja, dan selalu ada kesempatan untuk kembali mencoba asalkan anda pantang menyerah. Sudah tentu, tidak semua orang mampu berkontribusi bagi bangsa dan negara, apalagi menjadi pahlawan seperti Jendral Besar Sudirman. Tapi kalau sampai gak bisa tidur cuma karena takut rugi di saham?? Well, anda bisa lebih baik dari itu!

Dirgahayu Indonesia-ku! Selamat Hari Ulang Tahun RI yang Ke-72!

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

3 komentar:

Helmus Paulus mengatakan... Balas

Artikelnya bagus....setau sy ngk apa2 klo saham nyangkut...yg penting tdk salah analisa ...ya kan Mas Teguh?...saham LKH jg pernah nyangkut kok...

Anonim mengatakan... Balas

Merdeka Indonesia dan Investor Saham

Tanah Kavling Singaraja mengatakan... Balas

intinya harus berani keluar dari zona nyaman ya pak teguh