Buletin Analisa IHSG & stockpick saham pilihan edisi September 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Prospek Batubara: Update Kuartal II 2017

Salah satu kesulitan dalam berinvestasi di saham-saham komoditas, entah itu minyak, batubara, hingga CPO, adalah kita sebagai investor tidak akan memiliki gambaran soal apakah harga minyak kedepannya bakal naik atau turun. Maksud penulis adalah, kita juga memang tidak bisa memprediksi naik turunnya harga saham, tapi naik turunnya harga komoditas, itu lebih tidak bisa diprediksi lagi. Contohnya, meski kita tidak tahu apakah besok-besok saham Astra International (ASII) bakal naik atau turun, tapi penulis cukup pede untuk mengatakan bahwa bahkan kalaupun terjadi force majeure ataupun IHSG drop, tapi ASII gak akan turun sampai dibawah 5,000.

Sementara harga komoditas? Well, ambil contoh harga minyak. Tiga tahun lalu, ketika harga minyak masih strong di level US$ 90 – 100 per barel, maka tidak ada seorangpun yang memprediksi bahwa minyak bakal drop sampai dibawah US$ 50 per barel, tapi nyatanya itulah yang terjadi. Sebaliknya, ketika awal 2016 lalu minyak terus saja turun hingga sempat dibawah US$ 30 per barel hingga menimbulkan kepanikan (anda bisa baca lagi ceritanya disini), maka ketika itu ada banyak analis yang memprediksi bahwa minyak bakal lanjut jeblok sampai US$ 15, tapi justru setelah itu minyak naik lagi, sebelum kemudian sekarang stabil di US$ 40 – 50 per barel.

Jadi kalau kita ambil saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) sebagai perbandingan, dimana ketika sahamnya turun 10 – 15% saja (dari 2,500-an ke 2,100-an) orang-orang sudah pada ribut, maka harga minyak ini bisa dengan mudah terjun bebas hingga 50 – 70%, dan tak lama kemudian langsung naik lagi dengan persentase kenaikan yang sama gilanya. Dan tidak hanya minyak, namun komoditas lainnya, termasuk batubara, juga sama seperti itu. Untuk batubara, penulis masih ingat ketika harga minyak tiba-tiba saja drop ke US$ 40 sebelum libur panjang Idul Fitri beberapa waktu lalu, yang menyebabkan harga batubara benchmark Newcastle ikut drop hingga dibawah US$ 80 dan orang-orang langsung panik. Tapi berapa harga batubara sekarang? Well, tiba-tiba saja sudah diatas US$ 97 per ton. Lalu kedepannya harga batubara ini bakal lanjut naik atau turun lagi?? Why, I have absolutely no idea!

Dan masalahnya adalah, meski dalam jangka yang lebih panjang, pergerakan saham-saham komoditas akan dipengaruhi oleh kinerja keuangan dari perusahaan yang bersangkutan, namun dalam jangka pendek maka kalau harga batubara naik, demikian pula saham-saham batubara akan ikut naik, dan sebaliknya kalau harga batubara turun, maka Adaro Energy (ADRO) dkk akan ikut turun. Kondisi ini menyebabkan saham-saham batubara menjadi sangat berisiko terutama bagi trader yang masih suka melihat naik turunnya saham setiap menitnya, dimana mereka bisa dengan mudah terjebak euforia ketika batubara naik, tapi euforia tersebut bisa langsung berbalik menjadi panik hanya dalam hitungan hari, yakni ketika batubara turun. Risiko karena fluktuasi jangka pendek ini tidak terdapat pada saham-saham di sektor lain, katakanlah seperti properti dan konstruksi, yang meski kinerja fundamental mereka juga bersifat cyclical (baca: kinerjanya bagus di tahun-tahun tertentu, tapi kurang bagus di tahun-tahun lain), tapi naik turun sahamnya nyaris sepenuhnya dipengaruhi oleh kinerja fundamental mereka saja (dan juga valuasi sahamnya, contohnya saham-saham konstruksi dimana meski kinerjanya lebih bagus dibanding properti, tapi sejak awal PBV-nya masih agak tinggi), dan tanpa fluktuasi yang berarti.

However, dengan menggunakan pendekatan value investing, maka risiko karena fluktuasi tersebut bisa diminimalisir jika kita membeli saham-saham batubara pada harga yang sedemikian murahnya, dan itu sebabnya sejak dua tahunan terakhir penulis banyak membahas batubara di blog ini (dimulai dari artikel ini, ditulis pada bulan Juli 2015), yakni ketika harga batubara masih sangat rendah di level US$ 52 – 54 per ton, dan memang kita sendiri kemudian sukses profit besar dari sektor ini. Hanya saja, kondisinya sekarang sama sekali berbeda dengan satu atau dua tahun lalu, dimana setelah naik berlipat-lipat maka valuasi saham-saham batubara tentu saja tidak lagi semurah dulu, dimana beberapa saham sudah dihargai pada PBV 2 – 3 kali atau lebih tinggi lagi, dan masalahnya kinerja keuangan terbaru mereka hingga Kuartal II 2017, meski memang lebih baik dibanding 2015 – 2016, tapi juga masih jauh kalau dibandingkan dengan peak performance mereka di tahun 2011.

Jadi kalau berpatokan pada kinerja terbaru emiten, maka sulit untuk mengharapkan bahwa saham-saham batubara akan naik lebih tinggi lagi. Okay, tapi bagaimana dengan harga batubara yang lagi tinggi-tingginya seperti sekarang? Bukankah dengan demikian ada harapan bahwa kedepannya kinerja emiten batubara bisa saja sama bagusnya dengan kinerja mereka di tahun 2011? Well, kalau anda mikirnya masih seperti itu, maka coba baca lagi artikel ini dari awal! Posisi harga batubara yang sedang tinggi seperti sekarang, terus terang justru membuat penulis khawatir. Karena kalau berdasarkan asumsi konservatif dari manajemen perusahaan-perusahaan batubara itu sendiri, maka meski harga batubara bisa fluktuatif dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang akan stabil di rentang US$ 70 – 75 per ton, atau lumayan jauh dibawah harganya sekarang ini (baca lagi ulasannya disini).

Maksud penulis adalah, kalau saja sekarang ini harga batubara berada di level US$ 70-an per ton, yang kemudian menyebabkan saham-saham batubara turun sedikit sehingga valuasinya lebih reasonable, maka itu artinya opportunity, karena kita bisa expect bahwa harga batubara kedepannya akan naik minimal ke US$ 80-an (meski tetap berisiko karena sekali lagi, kita gak bisa memprediksi naik turunnya harga komoditas). Tapi ketika harga batubara sudah tinggi seperti sekarang, maka anda berharap dia lanjut naik sampe berapa lagi? US$ 150 per ton??

Coal Miners: Operational Update

Terlepas dari fluktuasi harga batubara, yang kemudian menyebabkan pergerakan liar saham-saham perusahaan batubara dalam jangka pendek, namun kinerja para emiten di sektor ini boleh dibilang terus membaik meski, sekali lagi, belum sebaik tahun 2011 lalu. Berikut adalah ikhtisar kinerja operasional dari tiga perusahaan batubara terbesar di BEI, dari sisi volume produksi, angka dalam jutaan ton kecuali growth dalam persen.

Companies
Indicator
First Half 2017
First Half 2016
Growth (%)
BUMI
Coal Mined
40.2
39.8
1.0
Coal Sales
41.5
41.9
(1.0)
ADRO
Coal Mined
25.1
25.9
(2.8)
Coal Sales
25.3
27.1
(6.9)
PTBA
Coal Mined
9.4
7.7
23.3
Coal Sales
11.4
10.0
13.4
Total
Coal Mined
74.8
73.3
2.0
Coal Sales
78.1
79.1
(1.2)

Secara umum, BUMI dkk sukses membukukan kenaikan laba yang signifikan pada Semester I 2017 ini berkat beberapa faktor seperti kenaikan harga jual batubara, efisiensi biaya produksi (selain karena turunnya harga minyak diesel untuk bahan bakar alat-alat berat, efisiensi produksi juga dihasilkan dari keberadaan infrastruktur tambang yang jauh lebih lengkap dibanding lima tahun lalu), hingga meningkatnya demand terutama dari pasar domestik. Tapi disisi lain volume produksi serta penjualan masih belum banyak berubah dibanding 2016, terutama karena curah hujan yang lebih tinggi dibanding biasanya di daerah Kalimantan sehingga mengganggu operasional tambang, sehingga dengan demikian terdapat dua kemungkinan: BUMI dan ADRO, dan juga perusahaan-perusahaan batubara lainnya yang beroperasi di Kalimantan (meski juga punya tambang di Kalimantan, namun tambang batubara terbesar milik PTBA berlokasi di Sumatera), mereka baru saja melewatkan kesempatan untuk menjual batubara pada harga bagus sepanjang Semester I 2017 kemarin, atau sebaliknya, mereka sekarang masih punya stockpile yang melimpah yang bakal jadi duit gede dalam waktu dekat, dengan asumsi kondisi cuaca akan lebih baik pada Semester II, sementara harga batubara tetap stabil di kisaran harganya saat ini.

Pelabuhan Batubara Tarahan milik PTBA di Sumatera Selatan. Bayangkan jika batubara sebanyak itu kena hujan, maka tentu pengirimannya bakal terhambat

Namun demikian, kalau dari bahasa presentasi manajemen di public expose, juga tampak bahwa perusahaan masih berhati-hati dalam meningkatkan volume produksi dan penjualan karena dikhawatirkan itu akan menurunkan kembali harga jual batubara, karena mereka masih menjual sebagian besar batubaranya ke pasar ekspor sehingga mempengaruhi supply batubara global. Hal berbeda dialami oleh PTBA, yang 65% penjualannya berasal dari pasar domestik termasuk dari pembangkit listrik milik sendiri, sehingga perusahaan bisa memaksimalkan volume penjualan tanpa perlu khawatir harga jualnya bakal drop, selain karena permintaan batubara domestik terus meningkat seiring dengan banyaknya pembangkit listrik baru. However, PTBA merupakan satu dari hanya sedikit coal miner di Indonesia, jika tidak mau dibilang satu-satunya, yang tidak terlalu mengandalkan pasar ekspor.

Jadi untuk BUMI, ADRO, dan lainnya, maka kita mungkin belum akan melihat mereka meningkatkan volume produksi setidaknya sampai akhir tahun 2017 ini, yakni sampai pihak manajemen melihat bahwa harga batubara sudah cukup stabil dan strong. Thus, untuk tahun 2017 ini sepertinya kita hanya bisa mengharapkan kenaikan atau stabilnya harga batubara plus efisiensi produksi, agar laba para emiten tetap meningkat dibanding 2016, namun para emiten batubara mungkin baru akan benar-benar membukukan laba yang besar di tahun 2018, dengan asumsi pada tahun tersebut mereka meningkatkan volume produksinya. Kalau anda baca lagi ulasan batubara pada Kuartal I kemarin (ini link-nya), disitu juga disampaikan bahwa meski kinerja coal miner hampir pasti bakal improve signifikan pada tahun 2017 ini, namun belum jelas apakah trend peningkatan kinerja tersebut bakal berlanjut atau tidak di tahun-tahun yang akan datang, terutama karena satu pertimbangan logis: Apapun alasannya, kita tidak bisa mengharapkan bahwa harga jual batubara bakal naik terus, atau sebaliknya bakal turun terus, melainkan nanti pasti akan ketemu titik keseimbangannya. Dan kalau melihat harga batubara yang masih sangat fluktuatif dalam beberapa bulan terakhir, maka cukup jelas bahwa titik keseimbangan tersebut masih belum ketemu di berapa.

Disisi lain, kenaikan saham-saham batubara sebesar tiga, empat, hingga lima kali lipat dalam satu hingga dua tahun terakhir menyebabkan valuasi mereka, seperti yang sudah disebut diatas, tidak lagi semurah dulu, malah beberapa sudah overvalue kalau berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal II 2017. Dan penulis kira kondisi ini akan menyebabkan naik turunnya saham batubara, setidaknya sampai akhir tahun 2017 ini, hanya akan dipengaruhi oleh naik turunnya harga batubara saja. Kecuali tentu, jika ADRO dkk ternyata sukses membukukan laba bersih yang lebih baik di Kuartal III dan IV nanti, dimana ROE mereka menjadi katakanlah 25 – 30%, maka barulah itu bisa dijadikan justifikasi untuk menghargai sahamnya pada valuasi yang lebih tinggi lagi dari sekarang.

Kesimpulannya, kinerja fundamental emiten-emiten batubara sejauh ini masih sesuai ekspektasi, dan kemungkinan akan tetap bagus hingga akhir tahun nanti, dimana laba mereka akan tetap naik signifikan dibanding 2016. Namun disisi lain, tidak realistis jika kita mengharapkan bahwa kinerja PTBA dkk akan langsung menyamai pencapaian mereka di tahun 2011, setidaknya untuk sekarang ini, dan itu berarti bahwa harga saham mereka pada saat ini sudah selaras (istilahnya price in) dengan fundamental maupun outlook perusahaan. Jadi kecuali untuk saham-saham batubara tertentu yang PBV atau PER-nya masih rendah sendiri, maka penulis tidak berharap bahwa saham-saham batubara di BEI bakal naik lebih tinggi lagi pada tahun 2017 ini.

Namun seperti halnya anda, penulis juga masih berharap bahwa kinerja emiten-emiten batubara di Kuartal III nanti bakal beat the expectation, dimana itu mungkin saja terjadi kalau Indonesia tidak lagi dilanda hujan lebat terus dalam beberapa bulan kedepan. Anyway, kita lihat lagi nanti update analisanya tiga bulan dari sekarang.

Untuk artikel minggu depan kita akan bahas sektor semen.

Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 9 Oktober 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

7 komentar:

iru mengatakan... Balas

Sumbang ide, bahas bnli, seperti nya menarik

Ahmad Raihan mengatakan... Balas

Gamau nyoba bahas sektor asuransi pak? Setau saya sejauh ini sektor asuransi belum pernah dibahas(kalaupun udah mungkin belum detail seperti sektor banking)...
Mengingat kinerja sektor asuransi, pembiayaan, dan banking adalah sektor yang senantiasa terus bertumbuh dari tahun ke tahun dan karena baru baca2 annual letter berkshire yang membahas beberapa kali mengenai asuransi sih..

Fadli Yandra mengatakan... Balas

Minggu depan Bahas SSIA aja mas, bagaimana prospek perusahaan setelah devestasi tol cipali?
Dari segi fundamental menurut saya terlalu bagus untuk di abaikan tapi pergerakan sahamnya masih adem ayem aja

Anonim mengatakan... Balas

Jadi lebih terang sekarang, tak berharap banyak namun tetap optimis. Pak Teguh, emiten yg ekspansi buat pembangkit listrik itu apakah lebih kuat secara fundamental terhadap pengaruh harga komoditas globalnya??

Andre Setiadi mengatakan... Balas

request sektor sawit donk pak Teguh,hehehe.

Anonim mengatakan... Balas

Saya selalu mengikuti update blog pak teguh, hanya ada satu hal yang bikin sy bertanya2 soal porto pak teguh, maksud saya.... paling tidak kinerja portofolio per tahun dari pak teguh dishare atau di buat menu khusus, biar kita yang mau pakai jasa analisanya bisa lebih yakin... kayak Bolasalju misalnya...

ini cuma saran pak....

Marta mengatakan... Balas

Setuju dengan @Anonim, kalau boleh hasil kinerja porto Avere Investama/Pak Teguh di share juga, ngga usah buka komposisi portonya deh, tapi kumulatip return nya saja. Biar kita2 lebih yakin mau jadi premium member gitu.
Kalau bisa yg paling meyakinkan sih Audited Result ya.