Buletin Analisa IHSG & stockpick saham pilihan edisi September 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Mengatasi Rasa Takut dalam Berinvestasi

Salah satu musuh terbesar investor dalam berinvestasi saham adalah timbulnya rasa takut, entah itu ketika akan mulai berinvestasi/membuka rekening di sekuritas, atau ketika membeli/meng-hold saham sendiri, dimana sumber ketakutan itu hanya satu: Takut rugi, dan takut kehilangan uang. Bahkan lebih dari itu: Ketika anda beli saham di harga 1,000, kemudian dia naik ke 1,200 (sehingga anda untung 20%), maka tetap saja anda akan takut kalau-kalau sahamnya nanti turun lagi, sehingga untung 20% tersebut akan hilang lagi. Jadi meski posisi anda sebenarnya tidak rugi, tapi anda tetap takut kalau-kalau keuntungan yang sudah diperoleh sebelumnya akan hilang.

Masalahnya, ketika seorang investor mulai merasa takut, maka itu akan mendorongnya untuk bertindak secara tidak rasional, seperti contoh diatas: Menjual saham bagus dalam posisi profit hanya karena ‘khawatir besok turun lagi’, padahal saham tersebut dalam jangka panjang masih bisa naik lagi, dan bisa jadi ternyata dia malah tidak pernah turun, sehingga dalam hal ini anda justru sudah ‘cut profit’. Sebaliknya, banyak juga orang yang tidak mau cut loss di saham karena takut merealisasikan kerugian, padahal itu justru menyebabkan ruginya tambah besar ketika sahamnya lanjut turun.

Jadi pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar kita bisa mengatasi rasa takut ini, sehingga pada akhirnya kita bisa tetap mengelola portofolio dengan rasional sesuai dengan analisa yang sudah kita buat dengan hati-hati sebelumnya? Well, tentunya ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, termasuk saya juga pernah membahas soal ini di buku ‘The Calm Investor’. Tapi dalam artikel kali ini kita hanya membahas satu diantaranya saja.

The ‘Real Fear' Experience

So here’s the story. Pada Desember 2016 lalu, penulis bersama teman-teman sesama traveller pergi selama empat hari ke Pulau Derawan, Kalimantan Timur, untuk bermain pasir, berenang di pantai, melihat ikan Manta dan Hiu Paus, serta nyebur ke Danau Labuan Cermin yang airnya sebening Raisa. Pada hari pertama, kedua, dan ketiga, semuanya berjalan lancar dan menyenangkan, dimana setiap kali kita berpindah dari satu pulau ke pulau lain dengan menggunakan speedboat, maka penulis selalu mengobrol dan tertawa lepas bersama semua teman-teman yang lain.

Penulis (kaos merah) dengan teman-teman yang lain di sebuah pulau kecil dengan laguna ditengahnya.

Namun pada hari keempat, ketika kami akan pulang menuju Pelabuhan Tanjung Batu (untuk selanjutnya naik mobil carteran menuju Bandara Kota Berau, lalu terbang pulang), terjadilah satu peristiwa yang tidak akan pernah penulis lupakan seumur hidup. Jadi sore itu, sekitar pukul 16.00, speedboat yang kami tumpangi berhenti di sebuah pulau untuk mengisi bensin, kemudian jalan lagi. Pengemudi kapal mengatakan bahwa perjalanan menuju Tanjung Batu akan menempuh waktu 4 jam, alias lumayan lama, jadi kami akan tiba di Pelabuhan pukul 20.00 malam. Dua jam pertama perjalanan terasa menyenangkan, dan penulis sempat melihat sunset dari tengah-tengah laut.

Namun sekitar pukul 19.00, ketika langit sudah gelap sama sekali, mulai turun hujan, lama kelamaan semakin deras, dan lautpun mulai bergelombang sehingga pengemudi speedboat menurunkan kecepatan. Ketika itu penulis sendiri mulai merasa was-was, terutama karena meski speedboat-nya melaju dengan kecepatan pelan, namun tetap saja tingginya ombak laut membuat kapal lebih goyang dibanding biasanya. Suasana ceria di dalam kapal mulai berubah menjadi mencekam, apalagi hujannya tidak juga mereda setelah beberapa waktu.

Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, alias sudah terlambat satu jam tapi kami masih berada di tengah laut, dalam situasi hujan deras dan laut bergelombang, dan sejauh mata memandang tidak nampak apapun kecuali kegelapan. Pada saat itulah, kapal berhenti, si pengemudi berdiri dari tempat duduknya, celingak celinguk, kemudian berdiskusi dengan co-pilotnya. Dan penulis, yang kebetulan duduk persis dibelakang kursi pengemudi, bisa mendengar si pengemudi bertanya ke temannya dengan nada berbisik, ‘Kayanya kita nyasar, ini dimana ya?’ WHAAAATT?? Kalau supirnya aja udah gak tau ini dimana, apalagi para penumpang yang gak ngerti apa-apa?? Kemudian si co-pilot ke belakang kapal sebentar lalu balik lagi, dan dia mengatakan, ‘Bensinnya tinggal segini lagi.’

Dan sketika itulah penulis mulai berpikir macam-macam, termasuk ingat dengan keluarga di rumah, ingat dengan senyum dan tawa anak-anak dirumah! Penulis untuk pertama kalinya setelah sekian lama merasa takut, dan saya sempat meraih ponsel untuk mengirim pesan terakhir ke orang rumah, tapi tidak ada sinyal. Kapal tetap berhenti dan terombang ambing di tengah laut selama sekitar setengah jam, dan itu adalah setengah jam terlama yang pernah penulis alami. Penulis, termasuk teman-teman lainnya, sama sekali tidak ada yang berani bertanya kepada para awak kapal, tentang apa yang sebenarnya terjadi, melainkan kami semua hanya diam saja, tapi tidak ada seorangpun yang bisa rileks apalagi tidur.

Hingga sekitar pukul 21.30, hujan mulai reda, dan di kejauhan mulai tampak cahaya lampu kerlap kerlip. Pengemudi kapal kemudian kemudian memberikan pengumuman, ‘Maaf udah menunggu lama, tapi itu Tanjung Batu udah keliatan didepan, paling 15 menit lagi lah kita sampai..’ ALHAMDULILLAAAAAHHH! Penulis dan teman-teman yang lain spontan berucap, dan suasana mencekam didalam kapal langsung cair. Penulis sempat bertanya lagi, ‘Bensinnya cukup mas?’, dan si awak kapal tersenyum, ‘Cukup kok’. Kapal kemudian melaju lagi, dan semua orang mendadak ceria lagi. Sekitar 15 menit kemudian kami akhirnya mendarat di pelabuhan, dan semua ketakutan serta kekhawatiran seketika hilang begitu saja, dan penulis sempat saling berpelukan dengan semua teman, satu per satu, bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk hidup. Daaan sekitar seminggu kemudian (sebelum pulang, penulis mampir dan jalan-jalan dulu ke Samarinda dan Balikpapan), penulis akhirnya bisa ketemu lagi sama anak-anak, dan Alhamdulillah saya sehat-sehat saja sampai sekarang.

To Beat the Fear: Live A ‘Dangerous Life’

Okay, balik lagi ke soal investasi saham. Jadi kenapa anda takut invest di saham? Ya karena takut rugi. Dan jangankan hilang duit begitu saja karena saham, hilang duit karena membeli sesuatu sekalipun terkadang tetap terasa menakutkan (kalo bisa gratis, atau hanya perlu bayar murah, maka kenapa musti bayar mahal?). Bagi seseorang dengan kehidupan yang penuh rutinitas, yang setiap bulan menerima penghasilan sekian, yang sehat secara mental maupun fisik serta tidak kurang suatu apapun, maka kehilangan uang, entah itu di saham atau lainnya, sudah merupakan sesuatu yang sangat menakutkan, karena diluar itu maka tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, karena hidup mereka ‘lempeng-lempeng’ saja.

However, kalau anda belum pernah menghadapi sesuatu yang lain yang lebih menakutkan, maka anda akan gampang ‘meledak’ meski menderita rugi sedikit saja. Contoh, penulis pernah menerima email seperti ini, ‘Pak Teguh, itu kenapa ya saham A dibanting keras sekali sampe sedalem itu? Ada berita apa??’ Setelah penulis cek, saham A itu ternyata cuma turun dari 880 ke 855, atau turun 2.8%, dan sebelumnya saham A ini udah naik banyak dari 700. Tapi bagi teman penulis ini, ketika ia melihat sahamnya turun segitu, maka ia sudah merasa bahwa dirinya ‘dibanting keras sekali’ hingga hilang keseimbangan, dan akhirnya jatuh K.O (baca: panik, kemudian hilang fokus). Dan kalo sudah hilang fokus begitu maka ya sudah, selanjutnya portofolio anda bakal berantakan.

Jadi agar kita tidak terjebak dalam situasi seperti itu, maka kita harus memiliki atau melakukan sesuatu yang bisa jadi lebih menakutkan, dan lebih menaikkan adrenalin! Dibanding sekedar takut rugi karena berinvestasi di saham. Contohnya?? Ya seperti yang penulis lakukan: Dengan travelling, dengan pergi berpetualang! Actually, selain pernah nyasar di laut seperti yang diceritakan diatas, penulis pernah sore-sore turun sendirian dari Gunung Slamet tanpa ada seorangpun yang menemani (rombongan penulis terbagi jadi dua, dan entah gimana ceritanya penulis tidak bergabung dengan rombongan didepan maupun belakang, melainkan jalan sendirian saja di tengah-tengah), sementara ketika itu langit mulai gelap padahal penulis masih di tengah hutan. Beruntung, 15 menit kemudian penulis sampai di sebuah pos dimana disitu ada banyak pendaki-pendaki lain, dan saya kemudian bergabung dengan salah satu rombongan untuk lanjut turun, tapi penulis tidak akan pernah melupakan 15 menit tersebut. Kemudian penulis pernah juga nyetir mobil sendirian melintasi Alas Roban di Jawa Tengah, pada waktu antara Magrib dan Isya, dalam kondisi jalan yang amat sangat sepi. Dan meski penulis (untungnya) tidak melihat, mendengar, atau merasakan apapun, tapi rasa takut yang penulis alami ketika melewati jalan yang terkenal angker tersebut sungguh sangat sulit untuk dijelaskan.

Dan seterusnya, dan seterusnya. Pendek kata, dengan terus bepergian kesana kemari, dengan menjalani banyak pengalaman baru,? maka anda akan menyadari bahwa ada banyak hal di dunia ini yang jauh lebih menakutkan ketimbang sekedar kehilangan uang! Dan hal itu dengan sendirinya menguatkan mental anda sebagai investor dalam menghadapi ‘kejamnya’ pasar saham karena, coba pikir, kalau misalnya anda sewaktu-waktu menderita rugi, maka anda tetap bisa untung lagi di waktu yang lain. Tapi bagaimana kalau anda nyasar di tengah laut dan gak bisa kembali di darat?? Apakah ketika terombang ambing di tengah laut anda masih bisa mikir, ‘besok saham gue bakal naik atau turun ya’???

Hanya masalahnya, beberapa orang mungkin tidak punya cukup waktu untuk jalan-jalan, tapi intinya disini bukan jalan-jalannya, melainkan anda bisa melakukan sesuatu yang anda anggap menakutkan, entah itu nangkep tokek di rumah pake tangan kosong, naik ke rooftop sebuah gedung tinggi kemudian melihat ke bawah, mencoba berbicara di depan umum (bagi yang sudah biasa, berbicara di depan umum sama sekali tidak menakutkan. Tapi bagi mereka yang belum pernah melakukannya, maka itu akan menjadi pengalaman yang menakutkan), atau anda bisa bergabung dengan korps marinir untuk ikut latihan militer (yang ini penulis belum pernah, tapi terus terang saya tertarik juga). Trust me, dengan ‘live a dangerous life’, atau melakukan hal-hal yang belum pernah anda lakukan sebelumnya, maka itu akan membuat anda menjadi strong secara mental, dan anda akan sampai pada satu titik dimana anda menganggap bahwa rasa takut karena rugi di saham, itu sama sekali gak ada apa-apanya.

Dan kalau anda sudah sampai pada titik tersebut, well, welcome to the fearless club! :D

Btw penulis tadinya mau membahas soal semen, tapi saya belum melihat adanya peluang di sektor ini, jadi diganti tulisan ini saja. Minggu depan mungkin kita akan membahas saham-saham mineral non batubara (ANTM, TINS, INCO).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

7 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

super sekali pak Teguh,saya setuju... masih banyak hal yang lebih menakutkan dibandingkan kehilangan uang.

Martinus Johan Wahyudi mengatakan... Balas

Menunggu ulasan emiten pak, skrg lagi lebih banyak nulis motivasi ya?

Tanah Kavling Singaraja mengatakan... Balas

intinya harus berani keluar dari zona nyaman ya pak teguh

Tovan Saputra mengatakan... Balas

Menurut saya, ini tulisan terbaik dari pak teguh hidayat.. top!
Banyak sekali artikel tentang bagaimana memilih investasi (saham) terbaik, tapi sangat sedikit yg membahas bagaimana menjadi investor (saham)terbaik..

Anonim mengatakan... Balas

foto danaunya bagus

Anonim mengatakan... Balas

Selamat pagi Pak Teguh.

Saya ada pertanyaan yang lumayan membingungkan sehingga ingin meminta pencerahan dari anda .
Singkatnya , saya membeli buku anda berjudul Value Investing "Beat The Market in Five Minutes" .
Saya terapkan metode anda dalam menganalisis sebuah saham , tapi saya menemukan jika perhitungan ROE yang disajikan dalam ikhtisar keuangan perusahaan (laporan tahunan) tidak sesuai dengan yang saya hitung di laporan keuangannya di laporan tersebut .

Apa yang menjadi perbedaan tersebut ?
Terima kasih .

Anonim mengatakan... Balas

helo pak teguh,tolong analisa saham ipo GMF aero asia, apakah layak dibeli atau tidak. terima kasih. anton