Penulis menyelenggarakan program Boutique Asset Management. Info selengkapnya baca disini.

Penulis menyelenggarakan Seminar Value Investing: Basic & Advanced Class, di Jakarta, Hotel Amaris Thamrin City, hari Sabtu & Minggu, 6 & 7 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini, dan disini. Bonus: Ebook How to be a Full Time Investor, setebal 13 halaman.

Prospek IPO Garudafood

IPO dari perusahaan consumer goods dengan brand produk yang kuat tentunya selalu menarik perhatian investor, karena perusahaan dengan ciri-ciri demikian umumnya memiliki fundamental yang bagus serta cocok untuk investasi jangka panjang. Jadi ketika PT Garudafood Putra Putri Jaya mengumumkan bahwa perusahaan akan go public, maka penulis sendiri langsung meluangkan waktu untuk menganalisanya. However, setelah membaca prospektusnya, saya malah jadi bingung sendiri. Ada apa?


Sejarah Garudafood dimulai pada tahun 1958, ketika Bapak Darmo Putro beserta keluarga memulai usaha produksi tepung tapioka di Pati, Jawa Tengah, dan pada tahun 1979 usaha tersebut ditempatkan dibawah bendera PT Tudung Putra Jaya. Namun lompatan besar perusahaan terjadi pada tahun 1987, yakni ketika TPJ memproduksi kacang tanah kemasan dengan merk ‘Kacang Garing Garuda’, yang kemudian lebih dikenal sebagai ‘Kacang Garuda’, dan sukses besar di pasaran. Hingga pada tahun 1994, didirikanlah PT Garudafood Putra Putri Jaya, dimana TPJ digabung kedalamnya. Dibawah pimpinan Bapak Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, yang merupakan generasi kedua pemilik perusahaan (Pak Sudhamek adalah putra dari Pak Darmo), Garudafood kemudian berekspansi dengan meluncurkan produk-produk makanan dan minuman diluar kacang, seperti biskuit, pilus, keripik, confectionery, minuman susu, dan serbuk coklat, dengan merk-nya masing-masing seperti Gery, Chocolatos, Leo, dan Clevo, dan kesemuanya sukses besar. Thus, saat ini Garudafood tidak lagi hanya dikenal sebagai produsen kacang garing merk Garuda, tapi juga sebagai salah satu perusahaan makanan dan minuman terbesar dan paling terkemuka di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa keunggulan perusahaan dibanding perusahaan lain yang sejenis, adalah kemampuan manajemen dalam menciptakan dan mempopulerkan merk-merk produknya, dan saat ini produk makanan dan minuman dengan merk ‘Garuda’ dan ‘Chocolatos’ sudah menjadi pemimpin pasar di segmennya masing-masing. Jika dibanding dengan sesama produsen makanan ringan seperti Kino Indonesia (KINO), atau Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), maka cukup jelas bahwa Garudafood menang telak dalam hal kepemilikan intangiable asset berupa power of brand.

However, setelah membaca prospektusnya, penulis sempat bingung dengan IPO Garudafood ini, tapi ya sekarang sih saya udah ngerti. Okay, berikut penjelasannya.

MCB Pelican?

Kalau anda baca-baca berita soal IPO Garudafood ini di internet, maka disebutkan bahwa perusahaan akan menerbitkan 766 juta lembar saham, atau setara 10.34% dari modal ditempatkan dan disetor, dengan nilai IPO yang cukup besar yakni US$ 200 juta, atau sekitar Rp2.8 trilyun. Namun hampir tidak ada wartawan yang menulis lebih rinci lagi, yakni bahwa dari 766 juta lembar saham anyar tersebut, hanya sebagian kecil diantaranya yang benar-benar ‘dikasiin’ ke investor ritel. Yup, jadi pada hajatan IPO-nya kali ini, Garudafood memang menerbitkan 766 juta lembar saham baru, namun dengan rincian sebagai berikut:

Jatah Untuk:
Jumlah Saham (lembar)
Konversi MCB Pelican
727,841,290
Investor Publik
35,000,000
Karyawan Perusahaan
3,500,000
Total Saham Baru
766,341,290

Jadi dari sekian ratus juta lembar saham baru yang diterbitkan, yang bisa dibeli oleh investor ritel hanya 35 juta lembar saja. Sementara sebagian besar lainnya yakni sebanyak 728 juta lembar, adalah hasil konversi mandatory convertible bonds (MCB), alias obligasi wajib konversi (baca lagi penjelasan soal OWK ini disini) dari perusahaan bernama Pelican Company Ltd, yang otomatis merupakan jatah dari pemegang MCB Pelican tersebut, sehingga tidak bisa diambil oleh investor publik. Nah, bingung kan? Tapi biar kita jelaskan lagi:

Jadi pada tanggal 28 Maret 2018 (baru beberapa bulan lalu), Garudafood menerbitkan obligasi MCB senilai Rp935 milyar di Singapura, yang kesemuanya diambil oleh perusahaan bernama Pelican Company Limited, dan uangnya dipakai untuk keperluan umum perusahaan. Tidak ada penjelasan lebih detil soal Pelican ini siapa, dan apa yang dimaksud dengan ‘keperluan umum’ diatas. Namun yang jelas obligasi yang kemudian diberi nama ‘MCB Pelican’ ini diterbitkan tanpa bunga, tanpa jatuh tempo, dan tidak bisa ditagih kembali ke perusahaan. Dengan kata lain, Garudafood tidak memiliki kewajiban untuk membayar kembali Rp935 milyar diatas. Namun pihak pemegang obligasi bisa mengkonversi obligasi tersebut menjadi saham sebanyak total 723 juta lembar, pada harga konversi Rp1,285 per saham, sehingga total nilai saham baru hasil konversi adalah Rp935 milyar, atau sama dengan nilai obligasinya diatas. Thus, jika Pelican Company menginginkan uangnya kembali, maka mereka bisa menjual saham hasil konversi tersebut ke investor publik di pasar, normalnya tentu saja pada harga yang lebih tinggi dari Rp1,285 tadi, atau bahkan sangat tinggi.

Sebab mengingat saham yang dilepas ke publik hanya 35 juta lembar (Seriously? Itu kan berarti cuma 350 ribu lot!), sementara peminatnya membludak, maka harga saham Garudafood di market bisa langsung terbang menggapai langit, bahkan tanpa perlu digoreng sama sekali. Nah, ketika itulah, ‘investor’ Garudafood yang memperoleh sahamnya dari konversi MCB Pelican diatas bisa pelan-pelan melepas saham mereka ke publik, dan memperoleh keuntungan substansial. Yang penulis khawatirkan adalah tentu saja, jika para pemegang MCB Pelican tadi akhirnya selesai jualan dan sudah memperoleh keuntungan yang mereka inginkan, maka tidak ada alasan lagi bagi saham Garudafood untuk lanjut naik, melainkan selanjutnya dia akan turun pelan-pelan, terutama jika valuasinya sejak awal overvalue.

Dan memang valuasi saham Garudafood itu sendiri sejak awal sudah overvalue, atau paling tidak, tidak bisa disebut murah. Informasi terakhir, saham Garudafood akan dilepas pada harga perdana Rp1,100 – 1,400, dan itu adalah range harga yang masuk akal, mengingat diatas sudah disebutkan bahwa harga konversi MCB Pelican adalah Rp1,285 per saham. Let say, harga IPO Garudafood adalah sama dengan harga konversi MCB-nya: 1,285. Maka perusahaan akan memperoleh dana Rp985 milyar, namun itu sudah termasuk Rp935 milyar hasil penerbitan MCB Pelican diatas, sehingga dana yang benar-benar diperoleh dari investor publik (dan juga karyawan perusahaan sendiri) adalah hanya Rp50 milyar. Per tanggal 30 April 2018, ekuitas Garudafood tercatat Rp2,138 milyar, yang setelah IPO menjadi Rp2,188 milyar. Karena jumlah saham Garudafood setelah IPO adalah 7.4 milyar lembar, maka book value Garudafood adalah Rp2,188 / 7.4 = Rp296 per saham. Karena harga sahamnya adalah Rp1,285, maka PBV-nya 1,285 / 296 = 4.3 kali.

Kesimpulannya, jika pihak owner Garudafood menggelar IPO dengan cara yang ‘normal’ dimana perusahaan menerbitkan sekian ratus juta lembar saham baru pada harga 1,285, yang kesemuanya dilempar ke publik, maka sebenarnya itu saja sudah sangat menguntungkan, dimana nilai pasar/market cap Garudafood akan melonjak menjadi sekitar Rp10 trilyun, dan nama Pak Sudhamek di daftar Majalah Forbes akan langsung naik beberapa peringkat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. However, pemilik perusahaan mungkin tetap saja nggak puas kalo ‘cuma dapet segitu’, sehingga kemudian dibuat sedikit akal-akalan dengan MCB Pelican ini, dan memang dengan cara inilah mereka bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar, yang ironisnya bisa saja berasal dari kerugian investor publik, yakni jika investor membeli saham Garudafood di market pada harga 2,000 – 3,000 atau lebih tinggi lagi, tapi setelah itu sahamnya turun lagi, yakni ketika pemegang MCB Pelican selesai jualan.

Tapi dari sini penulis bisa katakan bahwa, diluar fundamental perusahaannya yang luar biasa serta prospek jangka panjangnya yang cerah (bisnis makanan ringan, selama perusahaannya dikelola secara normal dan tanpa leverage yang berlebihan, akan terus menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang tak peduli meski terjadi krisis sekalipun, apalagi jika sudah punya merk-merk yang kuat), namun sayangnya manajemen Garudafood tidak berpihak kepada investor, dimana mereka tidak menganggap kita investor publik sebagai mitra pemegang saham dengan posisi setara, melainkan tidak lebih dari komoditas yang mereka bisa mengambil keuntungan darinya. Actually, di prospektus sudah disebutkan bahwa Pelican Company Ltd tidak memiliki hubungan afiliasi apapun dengan perusahaan, sehingga memang gak ada buktinya kalau penulis katakan bahwa Pelican itu sebenarnya juga dimiliki oleh owner-nya Garudafood. Namun entah Pelican itu adalah ada hubungannya dengan perusahaan atau tidak, tapi tetap saja: Dengan investor publik hanya memperoleh jatah saham 350 ribu lot saja, maka itu sangat sangat ridiculous: Elu niat IPO apa kagak sih? Gimana gua bisa dapet jatah IPO-nya kalau saham yang dilepas cuma segitu?? Lu kira Garudafood ini cuma tukang jualan kacang rebus di Istora Senayan waktu Asian Games kemarin? Ini perusahaan gede dan beken cuy! Dan hey, BEI dan OJK! Kenapa kok IPO model gini dikasih pernyataan efektif juga? Ente kira ini tahun 2000-an dimana orang-orang di market cuma trading tik tok gak jelas tanpa membaca dokumen prospektus sama sekali? Ini sudah tahun 2018!

Kesimpulan akhirnya.. ya sutralah, penulis juga bisa ngomong apa lagi. Karena sejak awal almost impossible untuk bisa dapet jatah saham IPO-nya, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah biarken saja saham Garudafood melantai di bursa, tanggal 10 Oktober nanti, termasuk biarkan saja kalau kemudian sahamnya benar-benar terbang. Sebab mau dia naik setinggi apapun, pada akhirnya akan turun lagi. Dan setelah itu tunggu saja barang 2 – 3 tahun, sambil tentunya tetap melihat perkembangan kinerja perusahaan. Jika berkaca pada pengalaman IPO Sido Muncul tahun 2013 lalu, dimana ketika itu sahamnya juga sempat naik banyak dari 400-an sampai 900-an, tapi beberapa tahun kemudian turun lagi ke 400-an (dan setelah itu naik lagi), dan kita harus tunggu sampai sekitar 4 tahun sebelum akhirnya menyimpulkan bahwa SIDO ini memang layak invest (penulis baru merekomendasikan lagi SIDO ini tahun 2017 kemarin, di artikel ini), maka mungkin untuk Garudafood ini juga sama begitu: Untuk saat ini kita ignore saja dulu sahamnya, dan nanti kita lihat lagi sekitar tahun 2022.

Dan mudah-mudahan ketika itu kita tidak akan lagi menemukan nama-nama Eagle, Dove, Penguin, Seagull Company Ltd atau semacamnya di laporan keuangan perusahan.

Penulis membuat buku kumpulan analisa saham-saham pilihan, lengkap dengan harga beli yang disarankan, target harga, hingga tingkat risiko untuk tiap-tiap saham. Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar Value Investing: Basic & Advanced, Jakarta, 6 - 7 Oktober 2018. Pembicara Teguh Hidayat. Info selengkapnya baca disini.

Bagi anda dari perusahaan atau institusi tertentu, maka anda bisa mengundang penulis langsung (Teguh Hidayat) ke kantor anda untuk 'sharing session', yakni sesi dimana saya akan berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang investasi saham, termasuk menjadi narasumber untuk tanya jawab saham. Caranya kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek: Sharing session. Jangan lupa untuk menyebutkan nama anda, nama perusahaan/institusi, serta kapan jadwal yang anda inginkan (sebaiknya jangan mendadak, minimal dua minggu sebelumnya). Untuk sharing session ini penulis tidak memungut biaya, kecuali untuk akomodasi.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

Tidak ada komentar: