Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Antara Yunani, Amerika, Tiongkok, dan Indonesia

Yunani kumat lagi. Kemarin Pemerintah di negeri para dewa tersebut telah mem-PHK tak kurang dari 15,000 PNS, dalam rangka penghematan anggaran. Diluar itu, beberapa media ‘memvonis’ dua negara Eropa yaitu Belanda dan Italia, sebagai negara yang juga telah menyusul Yunani untuk jatuh ke lembah krisis. Kabar buruk? Tentu saja. Tapi ajaibnya, salah satu bursa saham utama dunia yaitu Dow Jones, bukannya terpengaruh dan turun, tetapi justru malah terus saja naik dan sekarang sudah tinggal selangkah lagi untuk menembus new high di level keramat 13,000. Bagaimana dengan IHSG? Sama saja. Ketika artikel ini ditulis, IHSG lagi hebat-hebatnya dan sekarang sudah diatas 4,000 kembali. Sebuah anomali?

Saat ini Yunani memang sedang dilanda krisis, dan bukan lagi sekedar dikhawatirkan akan dilanda krisis. Sementara negara-negara Eropa lainnya, meski indikasinya tidak separah Yunani, namun rata-rata juga turut menunjukkan kemunduran dalam perekonomiannya masing-masing. Satu-satunya negara Eropa yang tampaknya masih jauh dari krisis adalah Jerman. Diluar itu, beberapa negara Eropa termasuk yang besar-besar seperti Spanyol, Italia, Perancis, hingga Inggris, nyaris semuanya mengalami kemunduran ekonomi.

Tapi di Indonesia, efek krisis itu hampir tidak terasa. Kalau di Yunani sana para PNS-nya mulai ketar ketir akan ancaman PHK, para PNS disini malah menikmati kenaikan gaji sebesar 10%. Namun ‘perbedaan nasib’ tersebut bukan tanpa alasan, sebab perekonomian Indonesia pada saat memang sedang bagus-bagusnya. Sepanjang tahun 2011 lalu, perekonomian Indonesia telah tumbuh 6.5%, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar pada tahun 2011 tercatat Rp8,700 per US$, terkuat dalam lima tahun terakhir. Angka inflasi sepanjang tahun 2011 tercatat 3.8%, terbaik dalam lima tahun terakhir. Masih belum cukup? Nilai net foreign direct investment (FDI) yang masuk ke Indonesia hingga akhir kuartal III 2011 tercatat US$ 14.8 milyar, tertinggi dalam lima tahun terakhir! Padahal itu baru hingga akhir kuartal III lho.. Jika ditotal hingga akhir tahun 2011, bisa jadi angkanya lebih besar lagi.

Jadi apakah itu yang membuat IHSG terus berada di posisi puncak seperti sekarang ini? Bisa jadi. Tapi kalau begitu bagaimana dengan pengaruh negatif dari Yunani? Masihkah ada kemungkinan IHSG jatuh berkeping-keping seperti tahun 2008 lalu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan disini.

Pertama, jika ditanyakan seberapa besar pengaruh krisis Yunani terhadap perekonomian Indonesia, maka jawabannya adalah tergantung dari seberapa erat hubungan ekonomi antara kedua negara. Dan hal itu bisa dilihat dari neraca perdagangan ekspor impor antar kedua negara. Jika Yunani merupakan salah satu negara tujuan utama dari ekspor Indonesia, maka ketika Yunani krisis, Indonesia akan langsung terkena imbasnya, dimana perusahaan yang biasa mengekspor produk-produknya ke Yunani akan kehilangan pendapatannya. Dan jika hal itu terjadi secara sekaligus pada banyak perusahaan, maka perekonomian Indonesia secara keseluruhan akan ikut tertekan. Namun jika Indonesia hanya sedikit mengekspor barang-barang ke Yunani, maka separah apapun krisis yang dialami Yunani, Indonesia tidak akan terkena imbasnya, kecuali mungkin hanya sedikit.

Kabar baiknya, berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir tahun 2011, Yunani bukanlah salah satu dari tujuan utama ekspor Indonesia. Negara-negara Eropa yang menjadi tujuan ekspor Indonesia adalah Jerman, Perancis, dan Inggris. Okey, tapi bagaimana kalau Perancis atau Inggris juga terkena krisis? Dan itu memang sudah disebutkan diatas bukan? Untungnya, nilai ekspor produk-produk non migas asal Indonesia ke Perancis dan Inggris hanya US$ 3 milyar. Angka tersebut hanya mencerminkan 1.9% dari nilai total ekspor non migas Indonesia ke negara-negara diseluruh dunia, sangat kecil.

Hal ini berbeda dengan Tiongkok (China), atau Amerika. Sepanjang tahun 2011 lalu, nilai ekspor non migas Indonesia ke Tiongkok dan Amerika tercatat masing-masing US$ 21.6 dan 15.7 milyar, atau mencerminkan 13.3% dan 7.7% dari total ekspor non migas Indonesia. Jadi wajar ketika tahun 2008 lalu Amerika dilanda krisis, Indonesia langsung terkena dampaknya. Makanya kalau juga anda perhatikan, saat ini sebagian investor lebih mencermati penurunan pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh Tiongkok (dari puncaknya 13% menjadi tinggal 8%), ketimbang pemberitaan soal krisis Yunani. Alasannya jelas: Separah apapun kondisi ekonomi di Yunani, Indonesia tidak akan terkena dampaknya kecuali mungkin hanya sedikit. Sementara jika Tiongkok yang kena, maka bukan tidak mungkin kejadiannya akan sama seperti tahun 2008 lalu, atau bahkan lebih parah.

Selain masalah ‘koneksi’ antar kedua negara, hal kedua yang juga perlu diperhatikan adalah, berapa potensi total kerugian yang bisa terjadi jika Yunani akhirnya mengalami default? Okay, mari kita cek. Posisi utang terakhir Yunani (setelah adjustment) tercatat kurang lebih € 350 milyar, atau sekitar US$ 450 milyar. Sebagai perbandingan, ketika Lehman Brothers bangkrut pada tahun 2008, yang kemudian memicu krisis global ketika itu, perusahaan yang bersangkutan meninggalkan utang sebesar US$ 900 milyar. Jika ditotal dengan utang perusahaan-perusahaan lainnya yang juga bangkrut (termasuk Merrill Lynch yang kemudian diambil alih Bank of America), maka total default-nya adalah US$ 4 trilyun. Dengan nilai kerugian sebesar itu (apakah anda bisa bayangkan uang sebesar US$ 4 trilyun itu sebanyak apa?), maka wajar jika kemudian seluruh dunia pada tahun 2008 jatuh ke dalam jurang krisis, termasuk Indonesia.


Sementara jika Yunani yang mengalami default, maka dengan catatan default tersebut tidak merembet ke negara-negara Eropa lainnya, hampir bisa dipastikan pengaruhnya tidak akan sedahsyat krisis global tahun 2008 lalu, karena nilai kerugian yang terjadi ‘hanya’ kurang lebih US$ 450 milyar, jauh lebih kecil dibanding kerugian sebesar US$ 4 trilyun akibat krisis mortgage pada tahun 2008 lalu.

Hanya memang pertanyaannya disini yang penulis sendiri hingga saat ini masih belum mengerti, memangnya sebuah negara bisa bangkrut ya? Kalau sebuah perusahaan bangkrut kan ceritanya cukup jelas, yaitu perusahaannya bubar atau diambil alih perusahaan lain. Tapi jika Yunani bangkrut, apakah terus kemudian negaranya bubar, atau ‘diakuisisi’ oleh Italia misalnya, atau gimana? Dan jika itu terjadi, lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?

Dampak Sistemik?

Terlepas dari ukuran perekonomiannya yang kecil, tapi ada hal lain yang mungkin tetap perlu dicermati terkait krisis Yunani, yaitu: Bagaimana jika krisis tersebut kemudian menyebar ke seantero penjuru Eropa, atau bahkan dunia? Bagaimana jika kemudian terjadi efek domino setelah Yunani benar-benar dinyatakan default?

Nah, jika dilihat dari sini maka ceritanya bisa berbeda. Indonesia memang tidak memiliki hubungan dagang yang signifikan dengan Yunani. Namun nilai ekspor non migas Indonesia ke Uni Eropa secara keseluruhan tercatat 12.6% dari total nilai ekspor non migas Indonesia ke seluruh dunia. Yup, ekspor Indonesia ke Uni Eropa kalau ditotal, nilainya tidak kalah besarnya dengan nilai ekspor Indonesia ke Amerika. Jadi jika yang bermasalah adalah seluruh Uni Eropa, tidak hanya Yunani, maka mau tidak mau Indonesia akan terkena imbasnya. Dan kemungkinan terjadinya efek domino tersebut memang tidak bisa diabaikan. Faktanya dulu ketika cerita soal krisis ini dimulai pada tahun 2009, aktornya hanya Yunani dan Portugal. Tapi kesininya krisis tersebut menular ke Irlandia, Italia, dan Spanyol. Dan kini, hampir seluruh negara di Eropa terancam oleh krisis kecuali Jerman. Okay, ukuran Yunani mungkin kecil. Tapi bagaimana jika yang mengalami default adalah Uni Eropa secara keseluruhan?

Mungkin itu pula sebabnya ketika Presiden SBY mengatakan bahwa Pemerintah mentargetkan pertumbuhan ekonomi 6.7% pada tahun 2012 ini, namun itu dengan catatan perekonomian global tidak terguncyang, yang itu berarti Pemerintah pun sadar betul bahwa the risk of the global crisis is still out there.

Jadi terkait IHSG, bagaimana kesimpulannya?

Salah satu penyebab IHSG bisa bertahan dari ‘serangan’ Krisis Eropa, termasuk langsung bangkit dengan cepat meski sempat tersungkur pada Agustus – September 2010 lalu, adalah karena kondisi perekonomian Indonesia pada saat ini memang sedang bagus-bagusnya (atau setidaknya begitulah yang dikatakan data-data statistik). Disisi lain, ancaman dampak sistemik jika Krisis Yunani benar-benar bermuara pada default, juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan itu akan menghambat IHSG untuk naik lebih tinggi lagi. Jadi IHSG pada sepanjang tahun 2012 ini kemungkinan hanya akan mondar-mandir saja di sekitar level 4,000-an. Jika nanti sewaktu-waktu IHSG jatuh karena koreksi periodik (koreksi rutin yang biasa terjadi 2 – 3 kali setahun), maka dengan mempertimbangkan posisi wajar IHSG di 3,800-an, paling dalam jatuhnya ke level 3,600-an, sebelum kemudian akan langsung naik lagi.

Sementara skenario terburuknya, IHSG bisa saja jeblok sampai 3,000, atau bahkan lebih rendah lagi. Namun kondisi tersebut hanya akan terjadi jika terdapat trigger atau pemicu, misalnya jika Yunani akhirnya benar-benar di-cap default, yang kemudian memicu dampak sistemik tadi. Sama seperti krisis global tahun 2008 lalu, dimana pemicunya adalah kebangkrutan Lehman Brothers. Soal trigger ini, terdapat dua pendapat dominan. Pertama, ada yang bilang kalau default-nya Yunani cuma soal waktu. Sebab sekuat apapun pihak-pihak yang terkait menjaga Yunani agar tidak sampai default, tapi tetap saja Yunani tidak akan pernah punya cukup uang untuk membayar utang-utangnya. Pendapat kedua, sebuah negara tidak akan bisa bangkrut seperti layaknya perusahaan, jadi Yunani memang tidak akan bangkrut. Kalau masalahnya cuma soal utang, emangnya negara-negara besar seperti Amerika dan Jepang, mereka itu utangnya berapa? Sama aja parahnya!

Apapun itu, yang jelas hingga saat ini Yunani belum default. Jadi kita juga nggak perlu jauh-jauh dari market. Jika nanti IHSG terkoreksi sampai 3,600, dan ketika itu masih tidak ada trigger apapun, maka itu justru merupakan kesempatan yang bagus sekali untuk belanja besar-besaran. Disisi lain, target yang cukup realistis bagi IHSG untuk tahun ini adalah 4,200. IHSG tentunya juga bukan tidak mungkin bisa naik lebih tinggi dari itu, tapi kalau menurut hemat penulis, akan sangat berisiko kalau anda masih nyebur ke kolam ketika IHSG kembali mampu menembus new high-nya tersebut. Just remember, the crisis is still out there.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

4 komentar:

masnop mengatakan... Balas

Thanks mas teguh atas ulasannya. Sy ingin menanyakan terkait anomali IHSG +- 2 pekan ini yaitu pergerakan IHSG seakan nyeleneh dibandingkan index global (asia, eropa, US). Maksud sy ketika index global naik signifikan di atas 1%, IHSG kenaikan tipis2 sj atau malah turun. Mohon penjelasannya.
Thanks pertamax nya :)

Anonim mengatakan... Balas

Sekedar berbagi ilmu saja, mohon dibetulkan jika salah. Jika suatu negara menyatakan default atas pinjamannya, efek utama yang terjadi adalah penurunan peringkat hutang untuk negara tersebut menjadi SD(Selective Default). Mungkin banyak orang bertanya-tanya, apa sih untungnya peringkat hutang negara kalau tinggi?

Fungsi utama dari peringkat hutang negara ini adalah untuk menilai kemampuan suatu negara membayar hutang. Kalau peringkat ini turun, maka bunga yang didapat ketika negara ini meminjam hutang dari negara lain akan naik, dan yang lebih buruk, akan semakin sedikit negara lain yang percaya untuk meminjamkan uangnya ke negara ini. Selain itu, hutang negara ini akan semakin bertambah secara signifikan di masa pembayaran selanjutnya(sama seperti ketika anda tidak mampu membayar tagihan kartu kredit anda. Anda akan terkena penalti secara signifikan pada masa pembayaran selanjutnya.)

Efek utama yang dirasakan setelah ini terjadi adalah negara tersebut akan semakin sulit untuk membiayai pengeluaran negaranya(negara manapun di dunia menggunakan hutang untuk membiayai pengeluarannya, bukan karena penghasilan negara mereka kurang, tetapi karena uang tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan nilai yang lebih besar dibanding jika digunakan untuk membiayai pengeluaran, seperti dengan dipinjamkan ke negara lain dengan bunga lebih tinggi dari bunga yang didapat negara tersebut ketika mendapatkan pinjaman). Jika hal ini terjadi, negara harus menaikkan pajak yang menyebabkan rakyat di negara tersebut semakin miskin, dan mata uang negara tersebut mengalami devaluasi(selain efek yang sudah sangat jelas terjadi, negara lain yang meminjamkan uangnya ke negara tersebut tidak akan mendapatkan pembayaran bunga atas pinjamannya).

Nah, efek yang terakhir inilah yang sangat ingin dihindari oleh negara Uni-Eropa karena Yunani menggunakan mata uang bersama dengan mata uang Uni-Eropa yang lain. Bayangkan, jika Euro mengalami devaluasi hingga 2 kali lipat akibat default Yunani dalam jangka waktu yang cukup panjang, maka harga bahan baku yang harus dibayar oleh negara-negara uni-eropa yang tidak terkena krisis akan naik 2 kali lipat(perkiraan kasar, mungkin tidak sebesar ini karena sebagian harta di treasury suatu negara berada dalam bentuk mata uang asing). Akibatnya, harga-harga barang akan naik secara drastis yang mempengaruhi daya beli masyarakat di negara tersebut dan membuat negara tersebut mengalami krisis.Karena inilah Uni-Eropa mati-matian berusaha agar Yunani tidak mengalami default.

Surya Widyantara mengatakan... Balas

Artikel dari pak teguh memang sangat simple dan mudah dipahami. banyak sekali pengeahuan baru yang saya dapatkan dari pak teguh. yang plg saya kagumi adlah, mesikpn kuliah bukan dri jurusan ekonomi tp baliau sngt expert di bdang investasi.

Anonim mengatakan... Balas

Pak Teguh yang baik, di tengah naik daunnya (lagi) krisis Yunani, apakah Pak Teguh berminat untuk meng-update artikel ini? Sekedar catatan saya jika dibandingkan dengan kasus Lehman Brothers (LB), menurut Wikipedia saat itu hutang mereka terdiri atas $619M hutang bank dan $155M hutang bond. Namun mereka masih punya aset senilai $639M. Sehingga saya kira jika aset tersebut dijual semuanya, nilai defaultnya bisa lebih kecil. Sedangkan dalam kasus Yunani, hutang mereka memang lebih kecil dibandingkan LB. Namun apakah mereka punya aset yang bisa (berani) dijual (puing2 kuil dewa dewi)? Oya satu lagi tentang perbandingan antara Yunai dengan US dan Jepang saya kira kurang pas karena US dan Jepang adalah negara industri maju dengan SDM dan inovasi (dan militer) yang luar biasa, sehingga berapapun besarnya hutang mereka orang masih punya confidence. Sedangkan Yunani, apa yang mereka punya selain pariwisata (= puing2 kuil dewa dewi)? Terima kasih banyak atas perkenan Pak Teguh.