Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Apa itu ‘Cut Loss’, dan Bagaimana Melakukannya

Sebagai investor atau trader saham, entah itu berstatus newbie ataupun senior, anda pasti sudah hafal dengan istilah cut loss, yaitu ketika kita menjual saham pada harga yang lebih rendah dari harga belinya, sehingga kita mengalami kerugian. Secara harfiah, cut loss bermakna memotong (cut) kerugian (loss), alias untuk mencegah agar anda tidak mengalami kerugian yang lebih dalam lagi. Artinya, ketika anda melakukan cut loss, maka tujuannya bukan untuk merealisasikan kerugian, melainkan untuk mencegah kerugian yang lebih lanjut ketika saham yang anda pegang tersebut terus saja turun.

Sebaliknya, jika anda menjual saham pada harga yang lebih tinggi dibanding harga belinya, maka itu disebut dengan profit taking, alias merealisasikan keuntungan, dan bukan untuk memotong potensi keuntungan yang masih bisa anda raih. Itu berarti, anda hanya boleh menjual saham anda ketika anda melihat bahwa potensi kenaikan harganya sudah terbatas, atau kemungkinan besar kedepannya harganya akan turun. Jika anda menjual saham anda hanya karena merasa sudah memperoleh keuntungan yang cukup, padahal saham tersebut masih berpotensi untuk naik lebih tinggi lagi, maka itu namanya cut profit, bukan profit taking.

Kembali ke masalah cut loss. Sebagian besar investor membenci cut loss ini (Tentu saja! Memangnya siapa yang suka menjual sahamnya dalam posisi rugi?), dan karenanya beberapa investor memilih untuk tidak melakukan cut loss ketika saham yang mereka beli harganya malah turun. Dalam hal ini, mindset yang tertanam di benak si investor adalah jika ia menjual sahamnya tersebut dalam posisi rugi, maka itu berarti merealisasikan potensi kerugian yang terjadi, alias loss taking, dan bukannya cut loss, alias mencegah agar kerugian yang terjadi tidak semakin besar.

Ilustrasi cut loss. Courtesy of www.chasedumont.com

Padahal yang disebut dengan cut loss dan loss taking, meski dua-duanya merupakan istilah untuk menjual saham dalam posisi rugi, namun tujuannya sangat berbeda, dimana anda tidak mungkin menjual saham anda dengan tujuan untuk loss taking. Oleh karena itu, mari kita review lagi istilah-istilah diatas dalam tabel berikut:

Good or Bad?
When Profit
When Loss
Good
Profit Taking
Cut Loss
Bad
Cut Profit
Loss Taking

Nah, berani taruhan, anda pasti jarang atau bahkan belum pernah sama sekali mendengar istilah cut profit atau loss taking sebelumnya, dan itu karena istilah tersebut memang sama sekali tidak populer. Why? Ya karena tidak ada seorang investor pun di dunia ini yang ketika menjual sahamnya, tujuaannya adalah untuk memotong potensi keuntungan, atau untuk merealisasikan kerugian (makanya di tabel diatas, tindakan cut profit dan loss taking dikelompokkan dalam baris ‘bad’). Yang ada, seorang investor hanya akan menjual sahamnya yang dalam posisi untung, jika tujuannya adalah untuk merealisasikan keuntungan. Sebaliknya, seorang investor hanya akan menjual sahamnya yang dalam posisi rugi, jika tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya kerugian yang lebih besar lagi.

Okay, jadi pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar saya mengetahui bahwa ketika saya akan menjual saham saya yang dalam posisi rugi, maka itu adalah cut loss dan bukannya loss taking? Well, teorinya sederhana meski dalam prakteknya mungkin cukup sulit, yaitu: Jika saham yang anda pegang akan turun lebih dalam lagi, maka anda harus segera menjualnya, dan itu adalah cut loss. Tapi jika saham tersebut kemungkinan besar akan naik, maka anda boleh tetap hold, karena jika anda menjualnya, maka itu adalah loss taking. Yap, jadi kuncinya disini adalah dengan berupaya mengetahui arah pergerakan saham tersebut selanjutnya, apakah akan turun lebih dalam lagi, atau sideways, atau akan segera naik lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dan btw, yang dimaksud dengan ‘tidak terlalu lama’ disini adalah kurang dari satu tahun, atau kurang dari beberapa bulan (jika anda adalah trader aktif). Karena kalau anda memegang sebuah saham dalam posisi loss dan setelah setahun saham tersebut akhirnya kembali lagi ke harga semula, maka anda memang tidak rugi dana, tapi anda rugi waktu. Satu tahun itu berharga sekali lho. Ada banyak saham di BEI yang bisa menghasilkan keuntungan 20% atau lebih jika didiamkan selama periode waktu satu tahun tersebut, dan bahkan keuntungan 20% tersebut sudah lebih tinggi dari rata-rata kenaikan IHSG.

Okay, jadi berdasarkan uraian diatas, yang dimaksud dengan cut loss adalah menjual saham yang kemungkinan masih akan turun lebih rendah lagi. Tapi bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui bahwa saham yang kita pegang masih bisa turun lebih rendah lagi? Well, ada beberapa cara. Kalau anda trader, cara tersimpel adalah jika saham tersebut turun lebih rendah dari support-nya (break support). Makanya kalau anda baca rekomendasi saham harian yang suka dikirim oleh sekuritas melalui email, terdapat setidaknya tiga harga penting untuk tiap-tiap saham yang direkomendasikan, yaitu harga beli, target harga, dan harga cut loss. Biasanya bahasanya seperti ini:

Saham ABCD:
Current position 1,000
Buy if break 1,100
Cut loss if 950
Target 1,250.

Sementara jika anda adalah investor, maka cut loss bisa dilakukan ketika terjadi perubahan fundamental. Contoh simpelnya seperti yang pernah penulis lakukan, beberapa bulan yang lalu penulis beli Harum Energy (HRUM) di harga rata-rata 6,200, karena berpendapat bahwa perusahaan batubara ini ketika itu menjadi satu-satunya perusahaan batubara yang kinerjanya masih cukup bagus, sementara perusahaan-perusahaan batubara yang lain mengalami penurunan laba. Tak disangka, kesininya kinerja HRUM malah ikutan turun juga, sehingga akhirnya penulis menjualnya di harga 5,000-an (cut loss), karena berpendapat bahwa kalaupun saham tersebut tidak turun lebih rendah lagi, namun dia juga tidak punya alasan untuk naik kembali ke posisi 6,000-an, mengingat kinerjanya buruk dan sektornya sendiri juga masih belum pulih.

Selain HRUM, penulis juga pernah menjual beberapa saham, entah dalam posisi untung maupun rugi, karena (biasanya) alasan yang simpel: Kinerja perusahaan yang bersangkutan tidak lagi sebagus sebelumnya, sehingga sudah tidak ada alasan lagi bagi saham tersebut untuk melanjutkan kenaikannya (jadi kalau nggak turun ya sideways). Dalam hal ini, penulis menganggap tindakan-tindakan penjualan tersebut sebagai profit taking atau cut loss, dan bukannya cut profit atau loss taking. Tapi memang, ada juga beberapa tindakan penjualan yang dilakukan karena penulis melihat ada saham lain yang lebih menarik.

Selain perubahan fundamental, beberapa hal lainnya yang bisa dijadikan alasan untuk menjual saham adalah jika beredar bad news terkait perusahaan yang bersangkutan (News ya, bukan rumor. Yang dimaksud dengan news adalah informasi yang dikonfirmasi oleh perusahaannya sendiri), atau kemungkinan terjadinya koreksi IHSG, dimana anda sebaiknya menjual semua pegangan saham anda, terutama saham-saham yang pergerakannya mudah dipengaruhi indeks. Nah, kalau yang ini menganalisisnya memang susah susah gampang. Termasuk memprediksi terjadinya koreksi pada IHSG, itu juga tidak mudah. Tapi masalahnya disini adalah, terkadang seorang investor tidak menjual sahamnya ketika indikasi koreksi IHSG tersebut sudah tampak, dan itu bukan karena ia yakin bahwa IHSG dalam waktu dekat akan segera naik lagi, melainkan karena sahamnya tersebut sudah dalam posisi rugi. Dan itu tentu sebuah kesalahan besar. Penulis sendiri pernah mengalami hal ini ketika dulu membeli saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) di harga 42,000, dan saham tersebut sukses naik hingga 45,000. Tapi sejurus kemudian IHSG terkoreksi cukup dalam, dan ITMG turut terseret ke 40,000. Ketika itu, penulis tahu bahwa koreksi IHSG ini akan berlanjut, namun karena ITMG sudah terlanjur rugi, maka dia didiamkan saja. Dan ternyata, ITMG ini terus saja turun sampai 33,000. Meski kemudian saham ini berhasil naik hingga ke 40,000-an kembali setelah market pulih dua bulan kemudian, dan penulis kemudian menjualnya di harga tersebut (sehingga tidak untung, tapi juga tidak rugi), namun penulis seharusnya masih bisa memperoleh keuntungan jika menjual ITMG ini ketika IHSG mulai terkoreksi, dan membelinya kembali di harga 33,000 ketika IHSG sudah terkoreksi hingga ke posisi terendahnya.

Okay, terakhir, berikut ini adalah beberapa tips yang bisa anda praktekkan jika saham yang anda pegang ternyata harganya malah turun.

1. Jika anda beli saham tertentu di harga sekian, tapi kemudian harganya tersebut turun hingga lebih dari 5%, maka coba cek kembali fundamentalnya, laporan keuangannya, dll. Barangkali ada yang terlewat ketika anda menganalisisnya. Jika penurunannya kurang dari 5%, maka tidak perlu khawatir dulu karena kemungkinan itu cuma fluktuasi biasa saja. Disisi lain, sangatlah penting untuk segera melakukan evaluasi jika saham anda turun lebih dari 5% tadi (jadi jangan didiemin aja), termasuk mengevaluasi kenapa dan apa tujuan anda membeli saham tersebut.

2. Jika kemudian anda menemukan bahwa anda keliru dalam menganalisisnya, maka segeralah cut loss. Tapi jika analisisnya benar, maka cobalah perhatikan kabar-kabar terbaru terkait perusahaan, atau sektornya (contohnya jika anda pegang Bumi Serpong Damai/BSDE, maka anda juga harus memperhatikan berita-berita terkait sektor properti), atau pergerakan IHSG. Siapa tahu penurunan saham anda tersebut adalah karena IHSG-nya juga lagi demam panas dingin serta meriang.

3. Jika anda sudah memperhatikan semuanya, tapi tetap saja tidak ada sesuatupun yang salah, maka ya selanjutnya saham anda tersebut bisa didiamkan saja, atau bahkan mungkin bisa beli lagi alias average down.

4. Tapi jika di musim laporan keuangan berikutnya ternyata kinerja perusahaan yang bersangkutan malah jadi jelek, maka jangan buang-buang waktu untuk segera keluar. Hal inilah yang penulis dulu pernah lakukan terhadap HRUM, seperti yang sudah dibahas diatas.

However terkait cut loss ini, terkadang masalah terbesarnya bukan di hal-hal seperti yang sudah disebutkan diatas, melainkan lebih ke faktor psikologis. Ada banyak investor yang tidak mau cut loss karena alasan-alasan yang sifatnya sentimentil, seperti merasa sayang atau ‘tidak tega’ karena kerugiannya sudah kelewat besar, atau masih harap-harap cemas bahwa saham tersebut suatu saat akan naik lagi. Padahal bukan tidak mungkin tindakan untuk tidak segera cut loss tersebut justru bisa menyebabkan kerugian yang lebih besar lagi (karena sahamnya terus saja turun). Well, terkait cara untuk mengatasi masalah ini akan kita bahas lagi kapan-kapan, karena temanya udah beda lagi.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

5 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

IHSG akhir tahun 5600-5700 mas. Skrg ada sedikit koreksi hanya karena overshooting. Ekonomi kita masih bagus. Penurunan outlook oleh S&P hanya akal"an agar dana di AS tidak lari ke Indonesia (Capital control) untuk mencegah capital outflow shg pertumbuhan di AS lambat. Mas jgn percaya analyst" dari sekuritas bobrok. Mereka ga ngerti ekonomi. Ekonomi Indonesia akan terus tumbuh. Dan mesin utama nya adalah sektor properti terutama BKSL. Akhir tahun 600, 2017-2018 3rb, 2020-2021 10rb. Dulu saya blg BKSL 2012 akhir bakalan 300 org blg saya gila padahal saat itu 98-110. Saya yakin 2018 minimal 3000. Jadi mas jgn percaya omongan analyst" begoo. BKSL adalah sleeping beauty... Demikian pandangan saya. Ferry Latuhihin

Edi Khan mengatakan... Balas

Ya komentarnya jgn vulgar dong mas

wisnu mengatakan... Balas

Kalau beli HRUM waktu di harga 6500, memang lebih baik dilepas sih. Tapi HRUM itu managementnya bagus, cuma lagi apes aja sama issue China yang berencana membatasi import Batubara. Kalau rencananya dibatalkan , langsung beli aja. Pasti nanti naik lagi.

Brian Fendy mengatakan... Balas

terima kasih pak , sudah memberikan view.

Anonim mengatakan... Balas

Memang kamu gila, sekarang di may 2015 aja cuma di 111.. Hahahha.. Lebih bego dari analyst