Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Mengenal MP3EI: Seperti Apa Indonesia di Tahun 2025?

Ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, hingga selesainya perang revolusi pada awal tahun 1950-an, negara muda nan kaya sumber daya alam ini belum memiliki blue print rencana pembangunan ekonominya sendiri, sehingga perkembangan ekonomi di Indonesia pada saat itu boleh dibilang tanpa arah dan tidak terkendali. Pemerintah Indonesia baru memiliki rencana pembangunan ekonomi untuk pertama kalinya pada tahun 1969, yaitu pada zaman Pak Harto, dengan diluncurkannya Repelita I, alias rencana pembangunan lima tahun, ketika itu dengan fokus pembangunan di bidang infrastruktur pertanian.

Seiring dengan masih berkuasanya pak Harto, Repelita I ini kemudian dilanjutkan dengan Repelita II pada tahun 1974, dengan fokus pembangunan diluar Jawa, Bali, dan Madura, melalui program transmigrasi. Dan demikian seterusnya, Repelita tersebut diperbaharui setiap lima tahun sekali dengan fokus pembangunannya masing-masing, hingga yang terakhir adalah Repelita VI, yaitu Repelita untuk periode tahun 1994 – 1999. Sayang, pelaksanaan dari Repelita terakhir di era Orde Baru ini tidak pernah selesai seluruhnya, karena di tahun 1997 – 1998 Indonesia dilanda krisis moneter, termasuk Pak Harto sendiri turun dari jabatannya sebagai presiden. Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia yang baru belum memiliki rencana pembangunan lagi, kecuali yang sifatnya hanya protokoler (seperti APBN, RPJM).

Namun semuanya berubah di tahun 2008, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, beserta tokoh-tokoh nasional lainnya, mulai mencetuskan ide tentang rencana pembangunan ekonomi jangka panjang Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yaitu sebuah rencana pembangunan dengan visi bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar nomor sepuluh di dunia pada tahun 2025, dengan pendapatan perkapita yang mencapai US$ 15,000, dari saat ini yang hanya US$ 3,000. Caranya? Dengan meningkatkan pembangunan infrastruktur, pembentukan regulasi yang memudahkan investasi, pemberian insentif bagi para pelaku kegiatan ekonomi, hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkait untuk tiap-tiap jenis industri.  Secara umum, upaya-upaya tersebut dikenal dengan istilah debottlenecking, yaitu upaya untuk ‘memecah leher botol’ agar pembangunan di Indonesia bisa mengalir dengan lancar dan tidak lagi terhambat oleh birokrasi tetek bengek, dan semacamnya.

Peta Koridor Ekonomi Indonesia, klik untuk memperbesar

Kemudian, setelah melalui serangkaian penyempurnaan, draft MP3EI akhirnya rampung pada April 2011. Isinya? Secara umum menyebutkan fokus pembangunan terhadap delapan sektor ekonomi, yakni pertanian, pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, telematika, dan pengembangan kawasan strategis. Sementara alokasi pembangunan itu sendiri dikelompokkan kedalam enam zona, atau dalam hal ini disebut ‘koridor’, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, dan Papua dan Kepulauan Maluku. Berikut detailnya.

1. Sumatera

Untuk koridor Sumatera, Pemerintah memiliki visi untuk menjadikan kawasan ini sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi, dalam hal ini sawit dan karet, serta lumbung energi nasional, dalam hal ini batubara. Beberapa infrastruktur yang akan dibangun guna mewujudkan visi tersebut adalah:

  1. Jalur kereta api yang menghubungkan Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, hingga Bandar Lampung. Jalur kereta api ini sangat penting untuk transportasi batubara.
  2. Kawasan Strategis Nasional Selat Sunda, termasuk didalamnya Jembatan Selat Sunda.
  3. Jalan raya Trans – Sumatera yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung.
  4. Pelabuhan Internasional Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
  5. Kawasan Perdagangan Bebas Batam.
  6. Jalur Pelayaran Domestik yang menghubungkan Banda Aceh, Kuala Tanjung, Dumai, Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, hingga ke Jakarta.
  7. Kawasan-kawasan industri (industrial park), dalam hal ini industri pengolahan CPO menjadi oleochemical dan produk hilir lainnya, di sentra-sentra perkebunan kelapa sawit.
Guna mendukung transportasi laut, di koridor Sumatera ini juga akan dibangun galangan kapal, terutama di kawasan sekitar Selat Malaka, dan Selat Sunda. Sementara untuk memenuhi kebutuhan besi dan baja untuk pembangunan rel kereta api dan berbagai jenis infrastruktur lainnya, maka Pemerintah juga akan membangun fasilitas pabrik besi dan baja, dengan memulainya dari sentra besi dan baja yang sudah ada, yakni di Cilegon, Banten (Krakatau Steel), kemudian menyusul di Kawasan Strategis Nasional Selat Sunda di Provinsi Lampung. Selesai dengan pembangunan di koridor Sumatera ini, selanjutnya akan juga dibangun minimal satu pabrik besi dan baja di tiap-tiap pulau besar di Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan besi dan baja untuk pembangunan infrastruktur di tiap-tiap pulau tersebut. Terkait industri besi dan baja ini, maka targetnya adalah meningkatkan konsumsi baja Indonesia menjadi 100 kilogram per kapita di tahun 2025, dari saat ini yang hanya 35 kilogram per kapita.

2. Jawa

Pulau Jawa sebagai pulau dengan ketersediaan infrastruktur yang paling baik di Indonesia pada saat ini, akan dijadikan sebagai kawasan pengembangan industri dan jasa. Beberapa industri yang akan dikembangkan adalah industri makanan dan minuman, tekstil, kendaraan bermotor, perkapalan, telekomunikasi dan internet, hingga peralatan militer (termasuk industri dirgantara). Berikut adalah infrastruktur yang akan dibangun/dioptimalkan:

  1. Pelabuhan Internasional Tanjung Priok, Jakarta, dan Pelabuhan Internasional Tanjung Perak, Surabaya. Tanjung Priok akan dijadikan ‘pintu gerbang’ koridor Jawa dengan Sumatera Bagian Barat, Batam, dan Pontianak, sementara Tanjung Perak akan mengubungkan koridor Jawa dengan Balikpapan, Samarinda, Sulawesi, dan Indonesia Timur.
  2. Jalur jalan raya, jalan tol, hingga kereta api yang akan menghubungkan Kota Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.
  3. Kawasan-kawasan industri, terutama di Cilegon, Cikarang (Bekasi, Jawa Barat), Bandung, dan Surabaya.
  4. Sentra industri mesin dan kendaraan bermotor di Bogor dan Bekasi.
  5. Sentra industri makanan di Semarang dan Surabaya.
  6. Sentra industri tekstil dan kedirgantaraan di Bandung.
Di koridor Jawa ini, terdapat satu wilayah khusus yakni wilayah Jabodetabek, dimana wilayah ini mengendalikan sekitar 60% arus ekspor impor di seluruh Indonesia, serta mengendalikan sekitar 85% industri jasa dan keuangan nasional (termasuk BEI juga kan adanya disini, di Jakarta). Karenanya, di wilayah ini akan dibangun berbagai infrastruktur khusus seperti bandara, pelabuhan, rel kereta dan lainnya. Well, mungkin bukan dibangun ya, tapi mengembangkan infrastruktur yang sudah ada, seperti kapasitas Bandara Internasional Soekarno – Hatta, yang kemarin baru saja ditingkatkan dengan selesainya pembangunan Terminal 3.

3. Kalimantan

Seperti koridor Sumatera, Kalimantan juga akan dijadikan sebagai lumbung energi nasional, dalam hal ini batubara, minyak dan gas (migas), serta sentra produksi dan pengolahan bijih besi, dan bauksit/alumina. Selain itu, Kalimantan juga akan dijadikan sentra perkebunan kelapa sawit dan industri perkayuan. Namun berbeda dengan Sumatera yang perkebunan kelapa sawitnya sangat luas, yang lebih menonjol di Kalimantan adalah industri batubara, plus jangan lupa migas. Berikut infrastruktur yang akan dibangun.

  1. Jalan raya Trans – Kalimantan yang menghubungkan Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, dan Samarinda.
  2. Pelabuhan di Pontianak, Banjarmasin, dan Balikpapan.
  3. Jalur Kereta Api yang menghubungkan Samarinda dan Banjarmasin.
  4. Sentra Industri Besi dan Baja di Banjarmasin.
  5. Pusat kegiatan industri & tambang migas di Samarinda.
  6. Sentra industri bauksit/alumina, dan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat.
  7. Sentra industri perkayuan di Kalimantan Tengah
  8. Sentra batubara di Banjarmasin dan Balikpapan.
Hal yang paling dicermati terkait koridor Kalimantan ini adalah adanya trend penurunan produksi migas, yang sepertinya belum dapat diatasi karena kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber migas baru membutuhkan biaya besar dan waktu yang sangat lama, sehingga perlu adanya pengembangan sektor ekonomi lain agar pertumbuhan ekonomi Kalimantan tetap terjaga. Dan sektor ekonomi tersebut adalah batubara, dimana sejauh ini industri tambang batubara di Kalimantan sudah berjalan cukup baik, tinggal pengelolaan hasil tambangnya yang masih perlu dikembangkan, agar para produsen batubara tidak melulu mengekspor hasil tambangnya keluar negeri, melainkan mengelolanya terlebih dahulu menjadi produk bernilai tambah, seperti pembangkit listrik, bahan bakar, gas, atau kokas.

Sektor lainnya yang juga akan mendapat perhatian adalah bauksit. Indonesia, mungkin anda belum banyak yang tahu, merupakan produsen bauksit terbesar keempat di dunia, dengan pusatnya di Kalimantan Barat. Bauksit adalah bahan baku pembuatan logam alumunium. Sejauh ini produksi bauksit di Indonesia 100% langsung diekspor, dan kedepannya akan dibangun smelter di Mempawah, Ketapang, dan Sanggau (semuanya di Kalimantan Barat), untuk mengolah bauksit ini menjadi alumina (yang nantinya bisa diolah lagi menjadi alumunium), kemudian baru diekspor. Nilai jual alumina ini adalah sepuluh kali lipat dibanding nilai jual bauksit mentah, sehingga seharusnya investasi di sektor ini akan sangat menarik.

4. Sulawesi

Sulawesi sejak dulu dikenal sebagai pusat produksi bijih nikel, bahkan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan karena itulah, melalui MP3EI ini, Pemerintah akan menjadikan koridor Sulawesi sebagai sentra industri nikel dan olahannya (feronikel). Selain itu, di Sulawesi juga akan dikembangkan industri tanaman padi, jagung, kedelai, ubi kayu, hingga kakao, selain juga industri perikanan, dan tentunya migas. Berikut daftar infrastrukturnya.

  1. Dua pelabuhan internasional, yaitu di Bitung dan Makassar.
  2. Dua kawasan industri di Palu dan Makassar.
  3. Empat sentra perikanan di Manado, Mamuju, Makassar, dan Kendari.
  4. Jalan raya Trans – Sulawesi yang menghubungkan Manado, Gorontalo, Palu, Mamuju, Makassar, dan Kendari
  5. Sentra perkebunan kakao, terutama di Palu
  6. Sentra perkebunan padi, jagung, kedelai, dan ubi kayu, di Gorontalo dan Sulawesi Selatan
  7. Kompleks industri gas alam (LNG), di Sulawesi Tengah
Meski Sulawesi memiliki berbagai jenis sektor ekonomi yang berpotensi untuk dikembangkan, namun tetap saja fokus pembangunannya adalah di industri nikel, dengan alokasi investasi yang mencapai Rp100 trilyun, dari rencana investasi sebesar Rp240 trilyun untuk koridor Sulawesi secara keseluruhan. Indonesia, dengan Sulawesi sebagai pusatnya, merupakan produsen bijih nikel terbesar keempat di dunia. Beberapa kota yang dikenal merupakan lumbung nikel di Sulawesi adalah Sorowako, Morowali, Pomalaa, dan Konawe. Sayangnya, seperti juga jenis barang tambang lainnya, Sulawesi belum memiliki fasilitas pengolahan bijih nikel yang memadai, sehingga sebagian besar produksi bijih nikel langsung diekspor keluar negeri. Jadi kedepannya pembangunan di sektor ini akan difokuskan pada pendirian smelter-smelter untuk mengolah bijih nikel menjadi feronikel atau matte, sebelum kemudian baru diekspor. Jika nantinya smelter-smelter tersebut beroperasi, maka koridor Sulawesi berpotensi memperoleh tambahan pendapatan hingga lebih dari US$ 200 juta per tahun, hasil dari selisih nilai jual antara bijih nikel dan feronikel.

5. Bali & Nusa Tenggara

Bicara soal Bali, maka tidak lain dan tidak bukan, kita akan bicara soal industri pariwisata. Sementara untuk Nusa Tenggara, baik Timur maupun Barat, potensi perekonomian yang bisa dikembangkan adalah perikanan dan peternakan, meski tentunya dalam skala investasi yang jauh lebih kecil ketimbang industri pariwisata di Bali (dan tentunya Lombok). Berikut infrastruktur untuk koridor ini.

  1. Sentra pariwisata di Denpasar, Lombok, dan Sumbawa
  2. Sentra perikanan di Kupang, dan Nagekeo
  3. Sentra peternakan sapi dan hewan ternak lainnya, di Sumbawa, Nagekeo, dan Flores Timur
  4. Pelabuhan di Lombok
Salah satu poin utama dalam pengembangan pariwisata di koridor Bali adalah dengan menjadikan Bali sebagai pintu gerbang bagi wisatawan untuk berwisata ke daerah pariwisata lainnya di sekitar Bali, seperti ke Surabaya, Yogyakarta (candi Borobudur dan lainnya), Malang (Gunung Bromo, kawasan wisata Batu), Mataram (Gunung Rinjani), hingga Bima dan Pulau Komodo. Caranya? Dengan menyediakan akses dan membuka rute penerbangan dari Bandara Ngurah Rai ke destinasi-destinasi wisata tersebut. Di koridor Bali ini juga akan dikembangkan jenis wisata bahari yaitu wisata kapal pesiar dan kapal yacht (wah, asyik neh!). Karena, berbeda dengan destinasi wisata terkenal lainnya di seluruh dunia, seperti Phuket, Florida, hingga Southampton, jumlah layanan wisata kapal pesiar di Bali masih sangat sedikit, padahal peminatnya cukup banyak.

6. Papua & Kepulauan Maluku

Koridor nomor enam ini, khususnya Pulau Papua, menawarkan tembaga sebagai sumber daya alam yang jumlahnya paling melimpah (sebenarnya emas juga, namun emas Papua sudah dipegang oleh Freeport), selain juga nikel dan migas dalam jumlah yang lebih sedikit. Pusat tembaga terbesar di Papua adalah di Kota Timika, sehingga di kota ini pula akan dibangun kawasan industri berbasis tembaga. Berikut daftar infrastruktur selengkapnya

  1. Sentra tambang tembaga dan kawasan industri, di Timika
  2. Sentra pertanian tanaman pangan (food estate), plus kawasan industri di Merauke.
  3. Sentra tambang migas di Sorong, dan Teluk Bintuni
  4. Sentra kegiatan perikanan di Ambon dan Halmahera Utara
  5. Jalur Trans – Papua yang menghubungkan Sorong, Timika, Jayapura, dan Merauke
  6. Pelabuhan di Ambon, Manokwari, dan Jayapura
  7. Sentra tambang nikel di Halmahera 
Terkait tembaga, Papua menghasilkan sekitar 45% dari seluruh produksi tembaga nasional. Berbeda dengan nikel, Indonesia sudah bisa mengolah tembaga menjadi produk setengah jadi, yaitu copper catoda, sehingga tidak harus mengekspornya dalam bentuk bijih tembaga mentah, namun satu-satunya smelter tembaga yang dimiliki Indonesia hanya ada di Gresik, Jawa Timur. Jadi kedepannya, beberapa smelter tembaga akan dibangun di Maros (Sulawesi Selatan), Bontang (Kalimantan Timur), dan Timika.

Selain tembaga, potensi yang sedang dikembangkan di koridor ini adalah food estate di Merauke, dengan nama proyeknya yaitu MIFEE, kependekan dari Merauke Integrated Food & Energy Estate, seluas tak kurang dari 1.2 juta hektar. Jika pembangunannya berjalan lancar, maka di masa depan Merauke akan menjadi sentra pangan Indonesia, dengan komoditas utamanya yakni padi, jagung, kedelai, gandum, tebu, dan sawit, dan belum termasuk peternakan ayam, sapi, kambing, dan kelinci. Khusus untuk tebu, Merauke juga berpotensi menjadi pusat produksi gula di Indonesia, mengingat jumlah lahan yang disiapkan untuk kebon tebu di MIFEE mencapai 500 ribu hektar, paling besar diantara tanaman lainnya.

Nilai Investasi

Berdasarkan revisi MP3EI terakhir pada tahun 2011, hingga tahun 2025 nanti Indonesia akan menginvestasikan tidak kurang dari Rp3,941 trilyun, untuk berbagai pembangunan di enam koridor yang sudah dibahas diatas. Dana tersebut terutama berasal dari pihak swasta, disusul BUMN, dan Pemerintah melalui APBN. Berikut detail alokasi investasinya, angka dalam trilyunan Rupiah. Catat bahwa S = Sumatera, J = Jawa, K = Kalimantan, SW = Sulawesi, BNT = Bali & Nusa Tenggara, dan PM = Papua & Maluku.

Koridor
S
J
K
SW
BNT
PM
Total
Infrastruktur Umum
414
856
167
111
67
171
1,786
Minyak & Gas
-
-
344
-
-
50
394
Jabodetabek Area
-
352
-
-
-
-
352
Batubara
32
-
181
-
-
-
213
Tembaga
-
-
-
-
-
197
197
Nikel & Olahannya
-
-
-
100
-
83
183
Jembatan Selat Sunda
150
-
-
-
-
-
150
Bauksit
-
-
137
-
-
-
137
Tanaman Pangan
-
-
-
19
-
89
108
Besi & Baja
64
-
37
-
-
-
101
Kelapa Sawit
44
-
48
-
-
-
92
Pariwisata
-
-
-
-
58
-
58
Perikanan
-
-
-
9
1
31
41
Perkayuan
-
-
32
-
-
-
32
Kendaraan Bermotor
-
32
-
-
-
-
32
Makanan & Minuman
-
25
-
-
-
-
25
Perkapalan
7
9
-
-
-
-
16
Tekstil
-
9
-
-
-
-
9
Peternakan
-
-
-
-
7
-
7
Telekomunikasi & Internet
-
4
-
-
-
-
4
Karet
3
-
-
-
-
-
3
Kakao (Cokelat)
-
-
-
1
-
-
1
Total
714
1,287
946
240
133
621
3,941

Perhatikan, sektor yang mendapat prioritas pembangunan, setelah infrastruktur umum, ternyata adalah sektor migas, disusul kawasan khusus Jabodetabek, batubara, tembaga, dan nikel. Untuk migas, pembangunannya fokus pada kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber migas baru, sementara pembangunan di batubara lebih banyak ke penyediaan infrastruktur jalan kereta api, dan tentunya pelabuhan. Sedangkan untuk tembaga dan nikel, fokus pembangunannya adalah mendirikan smelter-smelter untuk menciptakan produk hilir yang memiliki nilai tambah.

Sementara berdasarkan alokasi investasi per koridor, koridor Jawa tetap memperoleh investasi terbesar, yakni mencapai 32.7% dari seluruh investasi yang direncanakan, namun pembangunan infrastruktur di koridor Sumatera juga akan ditingkatkan, termasuk diantaranya Jembatan Selat Sunda, yang diperkirakan akan selesai tahun 2025 (masih lama banget, pembangunannya sendiri emang belum dimulai). Sementara untuk koridor lainnya, masing-masing memiliki fokus pembangunannya sendiri-sendiri, seperti migas dan batubara di Kalimantan, nikel di Sulawesi, Pariwisata di Bali & Nusa Tenggara, dan Tembaga di Papua & Maluku. Mau lihat bagaimana hasilnya? Tunggu beberapa tahun lagi dari sekarang, maksimal hingga tahun 2025.

However, berbagai rencana pembangunan jangka panjang yang sudah diuraikan diatas tentunya memerlukan kerja keras yang luar biasa untuk mewujudkannya, baik dari pihak swasta maupun Pemerintah, termasuk Pemerintah juga harus bisa ‘membereskan’ orang-orang yang mengganggu seperti para politisi korup yang doyan minta jatah preman. Tapi, bolehlah untuk sekarang ini kita berandai-andai: Katakanlah dari pembangunan yang menelan investasi sekian ribu trilyun Rupiah diatas, paling tidak yang sukses adalah separuhnya saja. Maka, akan seperti apa Indonesia nantinya, termasuk kira-kira akan berada di posisi berapa IHSG di tahun 2025 nanti???

Kalau bagi penulis sendiri, pemaparan terkait MP3EI ini adalah seperti prospektus yang diterbitkan Pemerintah sebagai ‘manajemen’ negara, untuk kita para rakyat sebagai ‘pemegang saham’ negara. Well, I apreciate that, thanks! Tapi kalau bisa, Pihak Pemerintah entah melalui Kemenkominfo atau Kemenkeu, secara rutin, katakanlah setiap kuartal sekali, mempublikasikan laporan perkembangan/progress dari implementasi MP3EI tersebut, agar kami sebagai rakyat bisa mengetahui bahwa MP3EI yang luar biasa ini tidak sekedar wacana, melainkan memang berjalan seperti yang diharapkan.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

8 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

small correction,
bandara sumut: kuala namu, mas teguh.
-eko sukmono-

Anonim mengatakan... Balas

lagi2 artikel yg bagus pak teguh


pak teguh boleh request artikel tentang tingkat kapitalisasi pasar dan tingkat likuid dalam dunia persahaman

Anonim mengatakan... Balas

Kendalanya di DPR. Mereka lebih suka kebijakan populis : anggaran lebih baik dihabiskan "demi rakyat" untuk subsidi BBM daripada buat pembangunan infrastructur

Rafael lemuel mengatakan... Balas

om teguh, artikel buat minggu depan, tentang hasil bincang-bincang om sama Lo Kheng Hong dong.. Apa yang didapat dari WB nya indonesia tersebut... Thx Om

TJ Corps

Anonim mengatakan... Balas

Maju terusss Indonesia, jangan mau dibodohi asing melulu. Indonesia adalah negara yg kaya dgn sumber daya alamnya makanya harus pintar mengelolanya. Kalo bisa diprivatisasi semua tambang2 termasuk freeport juga pengeboran minyak seperti di venezuela dimana harga minyak 700perak/liter.
Dan jangan lupa kembangkan penelitian berbasis teknologi sehingga bisa mengelola sumber daya alam yg melimpah ini unutk kesejahteraan rakyatnya...
SAYA BANGGA JADI BANGSA INDONESIA

Anonim mengatakan... Balas

Mas Teguh sekarang sudah Rabu di mingggu ini, kenapa belum posting artikel? Puasa jangan dijadikan alasan untuk malas posting artikel.......

Anonim mengatakan... Balas

Halo Pak Teguh, salam kenal. Terima kasih banyak untuk artikelnya. Boleh tahu sumber datanya, terutama mengenai anggaran untuk MP3EI? Terima kasih sebelumnya.

Stephen

Gudwinner Sitorus mengatakan... Balas

penulis seharusnya menulis kelebihan dan kelemahan MP3EI.Nah,kelemahannya dimana menurut penulis?