Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Apa Itu Tapering?

Bulan Desember ini mungkin menjadi ‘bulan harap-harap cemas’ bagi para investor dan trader (meski bagi investor tertentu, mereka cemas setiap bulan, setiap hari), karena terdapat banyak isu yang dikhawatirkan bakal menyebabkan IHSG rontok lagi, padahal posisi IHSG sendiri sudah sangat rendah. Salah satu isu tersebut adalah masalah tapering, dan memang soal tapering itulah yang akan kita bahas di artikel kali ini.

Sebelum kita masuk ke pembahasan soal tapering, saya ingin terlebih dahulu mengomentari soal kenaikan BI Rate, yang terakhir sudah mencapai 7.50% (dan masih bisa naik lagi). Kenaikan BI Rate, seperti yang anda ketahui, bertujuan untuk mengurangi jumlah uang Rupiah yang beredar, dimana itu diharapkan akan mampu menekan tingkat inflasi (baca lagi penjelasannya disini) sekaligus menguatkan kembali nilai Rupiah, yang pada saat ini sudah sempat menembus level Rp12,000-an per US Dollar. Jadi jika dilihat dari sisi ini maka kenaikan BI Rate sebenarnya bagus buat perekonomian.

Tapi disisi lain kenaikan BI Rate juga bisa berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi, karena bisa menyebabkan bank-bank menjadi lebih ketat dalam menyalurkan kreditnya, termasuk juga ke sektor properti (kredit KPR). Kenaikan tingkat suku bunga karena kenaikan BI Rate juga bisa menyebabkan usaha perbankan menjadi lebih rawan terhadap risiko kredit macet, yang pada akhirnya menyebabkan bank yang bersangkutan menjadi merugi. Tapi sejauh ini hal tersebut tidak terbukti dimana secara historis, kinerja sektor perbankan dalam jangka panjang tetap saja bagus, tak peduli BI Rate naik atau turun (baca penjelasannya disini).


Karena itulah, ketika BI Rate entah itu dinaikkan, tetap, atau diturunkan, sebenarnya tidak bisa langsung ditafsirkan apakah akan berdampak baik atau buruk terhadap perekonomian. Kenaikan BI Rate bisa berarti baik jika tujuannya tercapai sementara ‘efek samping’ yang dihasilkan tidak terlalu signifikan. Disisi lain, kenaikan BI Rate juga bisa berarti buruk jika gagal mencapai tujuannya, sementara efek samping yang dihasilkan malah lebih dominan.

Tapi jika kita mengasumsikan bahwa orang-orang di BI tentunya sangat paham tentang arah kebijakan moneter, maka berapapun posisi BI Rate pada saat ini dan juga posisi BI Rate di masa yang akan datang, maka itu adalah yang terbaik bagi perekonomian nasional, atau setidaknya begitulah menurut Agus Marto dkk. Intinya adalah, mau BI Rate berada di posisi 5%, 6%, 7%, atau berapapun, maka itu adalah yang paling sesuai dengan situasi ekonomi Indonesia. I mean, anda tentu sepakat bahwa Agus Marto bukanlah tipe pengangguran banyak omong macam Farhat, atau politisi tukang debat macam Ruhut, melainkan dia memang ngerti ekonomi.

Okay, lalu apa hubungan hal ini dengan Tapering?

Istilah ‘tapering’ sebenarnya merupakan istilah dalam dunia olahraga, yaitu situasi dimana sang atlet beristirahat/mengurangi porsi latihan pada satu hari persis sebelum pertandingan. Misalnya jika Mike Tyson akan tanding tinju pada tanggal 5 Juni, maka tentu ia akan dengan disiplin berlatih jauh-jauh hari sebelumnya, bisa sampai berbulan-bulan sebelum pertandingan. Tapi persis satu hari sebelum pertandingannya, yakni pada tanggal 4 Juni, ia akan beristirahat total, mungkin dengan hanya menonton televisi seharian dirumah. Kondisi istirahat itulah yang disebut dengan tapering.

Sementara dalam dunia ekonomi khususnya moneter, tapering adalah pengurangan pembelian obligasi oleh Federal Reserve (The Fed, bank sentral Amerika). Jadi awalnya, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, The Fed mencetak uang Dollar dalam jumlah tertentu untuk kemudian disalurkan ke masayarkat, dengan cara membeli obligasi yang diterbitkan perusahaan-perusahaan. Kebijakan ini dikenal dengan istilah quantitative easing (QE). Dengan meningkatnya uang beredar di masyarakat, maka diharapkan tingkat konsumsi dll juga akan meningkat, yang pada akhirnya menumbuhkan perekonomian.

Jumlah uang baru yang dicetak dan disalurkan mencapai US$ 80 milyar setiap bulannya, atau ada juga yang bilang US$ 85 milyar. Sudah tentu, The Fed tidak bisa terus menerus menyalurkan uang sebanyak itu ke pasar, karena bisa menyebabkan inflasi dan melemahkan nilai mata uang US Dollar itu sendiri.

Jadi setelah mencapai batas tertentu, penyaluran uang tersebut harus dikurangi, dan inilah yang dimaksud dengan tapering. Kenapa disebut tapering? Ya karena tujuannya untuk ‘mengistirahatkan’ perekonomian setelah sebelumnya didorong untuk ‘berlatih’ terus menerus. Berlatih untuk apa? Untuk bisa bertumbuh. Ketika perusahaan/masyarakat Amerika menerima duit dari The Fed, maka itu bukan berarti perekonomian secara otomatis bisa langsung tumbuh lagi, melainkan masyarakat harus memutar uang tersebut untuk konsumsi, investasi dll, kemudian baru perekonomian akan tumbuh. Upaya masyarakat dalam ‘memutar’ uang itulah, seperti contohnya pengusaha yang segera membangun pabrik setelah memperoleh pinjaman bank, yang bisa dianalogikan sebagai ‘latihan’ untuk tujuan untuk meningkatkan taraf hidup mereka sendiri, dan pada akhirnya menumbuhkan perekonomian negara secara keseluruhan.

Tapi sudah tentu, seperti halnya atlet olahraga sungguhan, masyarakat juga harus beristirahat dari kegiatan ‘memutar uang’ ini setelah beberapa waktu tertentu, dan itulah kenapa tapering ini diperlukan. Sebab jika The Fed terus menerus menyalurkan uang baru ke masyarakat sementara masyarakat itu sendiri sudah ‘kecapean’, maka uang baru tersebut tidak akan membantu menumbuhkan perekonomian, melainkan hanya akan menyebabkan inflasi.

Jadi sedikit berbeda dengan kenaikan BI Rate dimana tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah uang Rupiah yang beredar, tapering ini bertujuan untuk mengurangi kenaikan dari jumlah uang Dollar yang beredar (jadi The Fed tetap menyalurkan/menambah jumlah uang Dollar yang beredar masyarakat, hanya saja jumlah penambahannya yang dikurangi). Namun kekhawatiran pasar tetap sama: Jika jumlah uang yang beredar berkurang, maka artinya tidak ada uang baru yang bisa dibelanjakan, dan itu bisa menghambat perekonomian. Alhasil ketika BI Rate bulan lalu dinaikkan, IHSG langsung jatuh. Demikian pula jika nanti tapering benar-benar jadi diberlakukan, maka Dow Jones bisa jatuh juga. Dan jika Dow udah jatuh, biasanya IHSG akan ikut terseret turun.

Tapi apakah kejatuhan/penurunan indeks saham tersebut terjadi untuk jangka waktu yang cukup panjang ataukah hanya sementara? Well, itulah yang kita nggak tahu. Kalau pake contoh IHSG, posisi BI Rate kita pada saat ini sudah sangat jauh dibanding posisi awalnya sebelum mulai dinaikkan, yakni 5.75% (sekarang sudah 7.50%), dan alhasil IHSG juga sudah turun lumayan dalam jika dibandingkan dengan posisi puncaknya yakni 5,200-an (malah sempat sampai 3,900, tapi langsung naik lagi). Meski satu hal yang juga perlu dicatat disini adalah bahwa IHSG bisa naik sampai 5,200 pada April lalu lebih karena didorong oleh euforia masuknya dana asing, ketimbang faktor fundamental.

Sementara untuk Dow Jones, karena tapering itu sendiri sampai sekarang masih belum diberlakukan, maka indeksnya masih naik terus. Tapi sejak meredanya isu ‘United States Shutdown’ beberapa waktu lalu, sudah banyak pengamat/analis yang mengingatkan akan ‘bahaya-nya’ tapering ini. Well, kalau kita baca lagi penjelasan diatas, sebenarnya tapering itu justru akan berdampak positif. Jika nanti The Fed akhirnya memberlakukan tapering, maka itu berarti Amerika sudah sampai pada kondisi dimana tapering itu diperlukan. Jika sampai sekarang The Fed belum memberlakukan tapering, maka itu berarti tapering tersebut belum dibutuhkan. As simple as that, and nothing is to worry about.

However, ini bukan berarti Dow Jones tidak akan terkoreksi sewaktu-waktu nanti, entah ketika tapering itu akhirnya diberlakukan, atau ditunda lagi. Kalau anda cek valuasi saham-saham yang menjadi komponen Dow, banyak diantaranya yang sudah mencatat PER diatas 20 kali, alias sudah mahal. Sebagai perbandingan, rata-rata PER di BEI saat ini, untuk kesepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar diluar UNVR dan HMSP (sebab dua saham ini naudzubilah mahalnya), adalah kurang dari 11 kali.

Karena itulah kalau dari sisi valuasi, Dow memang rawan untuk terkoreksi, meski tentunya kita tidak tahu kapan itu akan terjadi. Tapi intinya adalah, soal tapering itu sama sekali tidak menjadi masalah, dimana itu hanyalah cerita lainnya lagi setelah Euro Crisis, Greek Crisis, Debt Ceiling, Fiscal Cliff, dan United States Shutdown. Trust me, nanti setelah cerita tapering ini menghilang dengan sendirinya pasti akan ada cerita lainnya lagi, dan cerita lainnya lagi, dan begitu terus sampai.. selamanya, yakni selama pasar saham itu sendiri ada. Jika anda termasuk yang masih mudah khawatir oleh cerita-cerita seperti ini, maka tenang saja, nanti juga anda akan terbiasa kok :)

Anyway, melalui blog ini penulis akan berusaha untuk terus menyampaikan update mengenai isu-isu terbaru terkait perekonomian nasional maupun global, so just stay tune.

NB: Penulis membuat buku berjudul ‘Superinvestor’, anda bisa memperolehnya disini. Penulis juga membuat buku berisi kumpulan analisis dan rekomendasi saham berdasarkan analisis fundamental, dan anda bisa memperolehnya disini.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

6 komentar:

Ikbal mengatakan... Balas

Nice insight on tapering and why it is not something we have to worry about, Pak teguh. Cuma yang saya bingung, kenapa ya begitu isu tapering muncul di sekitar bulan Juli, capital outflow dari IDX sangat tinggi dan IHSG terus-menerus turun?

Mohon pencerahannya y Pak.
Btw, Pak, I regret I couldn't meet you in the Investor Summit. Maklum Pak, PNS g bebas keluar kantor di jam kerja. :(


Best regards,
Ikbal

InvestArt mengatakan... Balas

QE tapering issue ini tidak lebih dari sekedar formalitas / wacana saja yg pada prakteknya sulit dieksekusi secara serius. The Fed sudah kehilangan peluru krn walau sudah expand balance sheetnya via QE 1,2, dan 3 "unlimited", dana2 tsb mayoritas nyangkut di bank2 US dan kebanyakan TIDAK disalurkan sebagai kredit ke perusahaan2 amerika. So it is very clear QE is not effective, dan janet yellen as next fed chief akan tetap maintain QE dan hanya akan reduce sedikit utk sekedar "makeup tapering". Lebih baik hold cash for the time being and wait for momentum short term trade.
-clara

Dana mengatakan... Balas

Bagi saya tapering adalah kesempatan. Kesempatan untuk dapat membeli saham diharga murah. :D

Anna maria mengatakan... Balas

pembahsaan detail dan jelas soal tappering , pertanyaanya tidak di sebutkan kapan FED akan tappering di mana isu yang beredar pengantti bernake si yellen pro terhadap QE , jadi siapa pembuat isu tappering ???

Anonim mengatakan... Balas

Kok sekarang tapering sudah dikonfirmasi, indeks dow jones malah naek tinggi? Ini gimana ya? Kok kebalik sama yg di perkirain? Sebenarnya pasar itu berharap tapering dijalankan atau nggak sih?

batik indonesia mengatakan... Balas

Selama ada issue, selama itulah pasar bergerak hehehe