Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Trada Maritime

Pada Kuartal I 2015, Trada Maritime membukukan laba bersih (yang dapat diatribusikan kepada entitas induk) sebesar US$ 0.4 juta, dimana meski angka tersebut naik signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun tetap saja sangat kecil dibandingkan dengan nilai ekuitas perusahaan sebesar US$ 86.7 juta. Namun demikian, cerita menarik tentang TRAM ini mungkin bukan terkait dengan kinerjanya tersebut, melainkan terkait sahamnya yang pada saat ini terpuruk di level 50-an, padahal tidak sampai setahun yang lalu dia sempat berada di level 1,800-an. Kalau melihat laporan keuangannya yang, meski memang tidak bagus, tapi juga tidak jelek-jelek amat (perusahaannya masih menghasilkan keuntungan, dan ekuitasnya juga masih positif), dan PBV-nya pada harga sekarang tinggal 0.5 kali, maka mungkin timbul pertanyaan: Apakah ada opportunity disini?

TRAM adalah salah satu perusahaan penyewaan kapal dan jasa transportasi laut yang tergolong baru di Indonesia. Perusahaan berdiri pada tahun 1998 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2000, ketika itu dengan memperoleh kontrak dari PT Exspan Nusantara untuk pekerjaan floating storage & offloading (FSO). Tahun 2003, perusahaan membeli kapal tanker untuk mengangkut muatan cair (liquid cargo), dalam hal ini aspal cair. Pada tahun 2008 perusahaan kembali menambah armadanya yakni beberapa unit kapal motor dan tongkang untuk mengangkut muatan kering (dry cargo) seperti batubara dll. Pada tahun 2008 itu pula perusahaan untuk pertama kalinya terdaftar di BEI. Pada akhir tahun 2014, TRAM secara keseluruhan mengoperasikan total 20 kapal yang terdiri dari 5 kapal FSO, 5 kapal pendukung untuk FSO, 3 kapal liquid cargo, 5 bulk carrier, 1 kapal penumpang, dan 1 kapal pengangkut LNG. TRAM hingga saat ini memiliki beberapa pelanggan jangka panjang yang kebanyakan merupakan perusahaan minyak dan gas, dan batubara.


Nah, setelah sampai pada paragraf diatas, maka anda mungkin tidak melihat sesuatu yang istimewa dari TRAM ini. Namun satu hal yang membedakan TRAM dengan banyak perusahaan kapal lainnya di Indonesia adalah, belakangan ini TRAM dilanda oleh setidaknya dua peristiwa luar biasa yang mengganggu operasional perusahaan, yang pada akhirnya menyebabkan kinerja perusahaan mengalami penurunan dalam setahunan terakhir. Berikut adalah penjelasan dari peristiwa luar biasa tersebut.
                                   
1. Musibah kebakaran kapal ‘Lentera Bangsa’

Pada bulan Juni dan Juli 2010, TRAM memperoleh pinjaman dari International Finance Corporation (IFC) dan Bank of Tokyo – Mitsubishi UFJ senilai total US$ 50 juta, yang digunakan untuk membiayai modifikasi kapal FSO ‘Lentera Bangsa’ milik perusahaan. Perusahaan selanjutnya akan membayar utang tersebut dengan cara menyicil setiap tiga bulan. Namun pada September 2011, kapal Lentera Bangsa terbakar hingga terpaksa berhenti beroperasi sama sekali. Alhasil sejak September 2011 tersebut, perusahaan gagal untuk memenuhi kewajibannya untuk menyicil pembayaran utang kepada IFC maupun Bank of Tokyo.

Sebelum mengalami musibah kebakaran, kapal Lentera Bangsa sudah diasuransikan ke PT Asuransi Dayin Mitra, Tbk (ASDM) dan PT Asuransi Purna Artanugraha, dengan broker asuransi PT Marsh Indonesia, dengan nilai total pertanggungan maksimal hingga US$ 75 juta. Namun sejak kapal Lentera Bangsa terbakar sampai dengan saat ini, nilai pertanggungan tersebut masih belum dibayarkan oleh perusahaan asuransi. Permasalahan menjadi rumit setelah pihak IFC dan Bank of Tokyo, pada Mei 2014, sempat hendak melakukan ‘segala cara’ agar TRAM segera membayar utangnya, namun untungnya itu tidak dilakukan karena manajemen TRAM berhasil meyakinkan mereka bahwa perusahaan bukannya tidak mau membayar utang, namun masalahnya terletak di klaim asuransi yang belum dibayar. Hingga saat ini pihak TRAM bersama-sama dengan IFC dan Bank of Tokyo masih dalam posisi berdiskusi dengan pihak perusahaan asuransi untuk sesegera mungkin menyelesaikan klaim yang sudah diajukan (TRAM sudah mengajukan klaim tersebut pada Juni 2014).

2. Kasus penyelundupan minyak mentah, yang melibatkan kapal ‘Jelita Bangsa’

Pada Juni 2014, kapal FSO ‘Jelita Bangsa’ milik perusahaan ditangkap oleh petugas bea dan cukai di Perairan Kepulauan Riau, karena diduga telah memindahkan muatan minyak ke kapal lain secara ilegal. Akibat kasus ini, kapal Jelita Bangsa ditahan oleh pihak berwajib dan praktis berhenti beroperasi.

Investigasi serta penyidikan segera dilakukan oleh pihak berwenang. Dan pada akhir Maret 2015, penyidikan terhadap kasus ini sudah selesai dilakukan, dan hasilnya adalah pihak penyidik menetapkan status tersangka kepada nahkoda dan dua orang awak kapal, namun pihak TRAM sebagai pemilik kapal tidak turut menjadi tersangka karena tiga orang tersangka tersebut bertindak diluar wewenang perusahaan. Meski demikian, hingga saat ini kapal Jelita Bangsa masih tetap ditahan oleh pihak berwajib sebagai barang bukti.

Okay. Kalau anda jeli, maka anda akan menemukan beberapa hal yang mengganjal terkait dua peristiwa diatas. Yang pertama, kapal Lentera Bangsa terbakar pada September 2011, atau hampir empat tahun yang lalu, dan sejak saat itu pula perusahaan berhenti membayar cicilan utangnya ke IFC dan Bank of Tokyo. Lalu kenapa manajemen TRAM pada saat itu tidak langsung mengajukan klaim ke pihak asuransi, melainkan baru melakukannya pada bulan Juni 2014? Dan itupun setelah perusahaan menerima protes dari IFC dan Bank of Tokyo sebulan sebelumnya (Mei 2014), gara-gara mereka kelamaan menunggak cicilan pembayaran utang. Seharusnya kalau pihak TRAM sudah mengajukan klaim ke perusahaan asuransi pada bulan September 2011, maka pada saat ini klaim tersebut sudah dibayarkan. Namun karena TRAM baru mengajukan klaim tersebut pada bulan Juni 2014, maka pihak perusahaan asuransi hingga saat ini kemungkinan masih melakukan investigasi/pemeriksaan terhadap klaim tersebut, karena nilai pertanggungan sebesar US$ 75 juta tentu saja bukan jumlah yang kecil untuk bisa langsung dibayarkan begitu saja.

Anyway, karena sampai saat ini TRAM masih belum menerima pembayaran klaim dari perusahaan asuransi, maka di laporan keuangannya sejak tahun 2012 lalu, TRAM dua kali membukukan kerugian non operasional karena taksiran penurunan nilai aset (‘aset’ disini adalah kapal Lentera Bangsa), yakni sebesar US$ 12 juta pada tahun 2012, dan US$ 23 juta pada tahun 2014, sehingga totalnya adalah US$ 35 juta. Ditambah dengan biaya-biaya yang harus keluar karena berurusan dengan IFC dan Bank of Tokyo, maka perusahaan membukukan kerugian (mayoritas hanya kerugian diatas kertas, bukan kerugian operasional) yang nyaris beruntun selama tiga tahun terakhir, sehingga nilai ekuitas TRAM menyusut tajam dari US$ 152 juta di akhir tahun 2011, menjadi hanya US$ 86 juta pada Kuartal I 2015.

Nah, dari sini tampak jelas bahwa ketika pada akhirnya nanti klaim asuransinya dibayarkan (US$ 75 juta tadi adalah maksimalnya, jadi realisasinya kemungkinan akan kurang dari itu), maka nilai ekuitas TRAM akan melejit kembali, dan valuasi sahamnya yang tampak murah pada saat ini (PBV-nya hanya 0.5 pada harga Rp55 per saham) akan menjadi jauh lebih murah lagi. Namun sekali lagi pertanyaannya, kenapa pihak TRAM baru mengajukan klaim pada bulan Juni 2014, atau nyaris tiga tahun setelah peristiwa kebakarannya?

Yang kedua, terkait kasus penyelundupan minyak yang melibatkan kapal Jelita Bangsa. Ketika dikatakan bahwa perusahaan tidak terlibat penyelundupan tersebut, maka kenapa kok kapal Jelita Bangsa-nya sampai sekarang masih ditahan oleh pihak yang berwajib? Dalam materi public expose insidentil yang digelar perusahaan untuk menjelaskan masalah tersebut, juga tidak disebutkan adanya upaya tertentu yang dilakukan perusahaan agar kapal Jelita Bangsa bisa dibebaskan seceparnya, agar kapal tersebut kemudian bisa kembali beroperasi dan kembali memberikan kontribusi pendapatan terhadap perusahaan, melainkan hanya akan menunggu proses hukum. Perusahaan lebih menekankan kepada poin bahwa meski kapal Jelita Bangsa masih belum bisa beroperasi kembali, namun kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan hanya sekitar 5% alias tidak terlalu besar, sehingga kegiatan operasional TRAM tidak akan terlalu terganggu. However, faktanya adalah pendapatan TRAM pada Kuartal I 2015 anjlok 44.2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan itu tentu saja bisa dijelaskan: Kalau penulis adalah salah satu pelanggan TRAM, maka sebelum TRAM bisa benar-benar menyelesaikan kasus hukumnya terkait kapal Jelita Bangsa, saya juga mendingan pilih perusahaan kapal lainnya dulu lah. Saya tentu gak mau ambil risiko dianggap turut ‘terlibat’ dengan kasus penyelundupan atau apapun yang dituduhkan kepada perusahaan.

Diluar dua masalah yang sudah dibahas diatas, maka cerita yang lebih seru terkait TRAM ini adalah mengenai sahamnya. Seperti yang sudah disebut diatas, pada September 2011 TRAM mengalami force majeure yakni kebakaran kapal Lentera Bangsa, yang notabene merupakan salah satu armada utama (dan termahal) milik perusahaan. Biasanya kalau ada peristiwa yang bersifat musibah seperti ini, maka saham dari perusahaan yang bersangkutan akan anjlok (karena investor pada kabur). Namun pada TRAM, yang terjadi justru sebaliknya. Pada September 2011 tersebut, saham TRAM yang sebelumnya sideways cukup lama di rentang 550 – 600, tiba-tiba saja terbang hingga menembus 1,000 pada Januari 2012, dengan volume transaksi yang sangat besar. Dengan PBV yang sudah menembus 6 kali ketika itu, sementara perusahaannya baru saja mengalami musibah, dan kinerja TRAM juga sama sekali tidak bisa dikatakan istimewa, maka jelas bahwa kenaikannya tidak wajar. Apalagi disisi lain volume transaksinya kelewat besar (mencapai 100 juta lembar saham per hari) untuk ukuran saham yang sama sekali tidak pernah masuk radar investor sebagai ‘saham yang mewakili perusahaan dengan fundamental yang cukup baik, sehingga bisa dijadikan pilihan investasi’. Sejak tahun 2010 sampai sekarang, setiap kali penulis membaca-baca laporan keuangan terbaru para emiten di BEI setiap kuartalnya, TRAM ini memang sama sekali tidak pernah lolos screening untuk dijadikan pilihan investasi.

However, TRAM selanjutnya tetap stay di rentang harga 800 – 1,000. Ketika perusahaan akhirnya membukukan rugi bersih pada akhir tahun 2012, saham TRAM sekali lagi bukannya turun tapi malah naik kembali hingga menembus 1,400-an (gak masuk akal!). Karena disisi lain volume transaksinya masih sangat besar, maka akhirnya saham ini masuk indeks LQ45 pada awal tahun 2013. Pada tahun 2013 kinerja perusahaan masih belum membaik, dan valuasi sahamnya sudah tidak masuk akal saking mahalnya. But still, TRAM masih melanjutkan kenaikannya hingga sempat menyentuh 1,800-an. Karena volume transaksi hariannya yang sangat besar, maka biaya trading fee yang harus dibayar oleh siapapun yang memperjual belikan TRAM ini mencapai total Rp500 juta per hari, atau Rp100 milyar per tahun! (dengan asumsi bahwa dalam satu tahun terdapat 200 trading day). Pertanyaannya: Investor/trader mana yang mau mengeluarkan biaya trading fee hingga sebesar itu hanya untuk memperjual belikan saham dari perusahaan kecil seperti TRAM, padahal TRAM ini fundamentalnya buruk dan valuasinya juga amat sangat mahal? Apa untungnya buat dia?

Dan akhirnya, pada bulan Juni 2014, ketika saham TRAM sudah berada di level 1,800-an, perusahaan mengalami peristiwa kedua yakni ditangkapnya kapal Jelita Bangsa oleh petugas bea dan cukai di Perairan Kepulauan Riau (dilanjut dengan pemutusan kontrak sewa dari Pertamina, yang merupakan pengguna jasa kapal Jelita Bangsa tersebut), dan manajemen TRAM juga menerima surat tuntutan dari IFC untuk segera melunasi tunggakan utangnya. Merespon kejadian ini, pihak BEI kemudian segera menghentikan/men-suspensi perdagangan saham TRAM di market. Ketika suspensi tersebut akhirnya dicabut pada November 2014, mulailah TRAM longsor tanpa ampun! Nyaris dengan mengalami auto reject kiri setiap hari.

Namun ketika sebuah saham longsor gila-gilaan, maka berdasarkan pengalaman, terlepas dari faktor fundamental maupun valuasinya, pada waktu tertentu dia biasanya akan mengalami technical rebound. Dan memang itulah yang terjadi pada saham TRAM, dimana ketika penurunannya sampai pada harga 400-an, dia sempat naik signifikan pada hari-hari tertentu. Salahnya adalah, ketika itu ada banyak investor (atau lebih tepatnya spekulan) yang ikut masuk ke TRAM ini hanya karena tertarik dengan kenaikannya tersebut, padahal mereka mengetahui secara persis masalah apa yang sedang terjadi pada perusahaan. Selain itu pada harga 400-an tersebut, valuasi saham TRAM juga sama sekali belum bisa disebut murah karena PER dan PBV-nya masih sangat tinggi. Ada banyak investor ketika itu yang menyangka bahwa TRAM ini sudah murah, hanya karena harganya sudah turun banyak (dari 1,800 ke 400, berarti sudah turun lebih dari 75%).

Tapi yah.. nasi sudah jadi bubur, dan sekarang TRAM sepertinya tinggal sesaat lagi menuju level kematian alias gocap. Pertanyaannya, okay, kalau di harga 400 TRAM ini mungkin masih mahal. Tapi di harganya saat ini yaitu 55, maka harusnya dia udah murah dong? PBV-nya aja cuma 0.5 kali bukan? Selain itu, seperti yang tadi sudah dibahas diatas, kalau nanti perusahaan pada akhirnya menerima klaim asuransinya, maka ekuitasnya akan meningkat dan valuasi sahamnya akan menjadi lebih murah lagi.

Jadi kesimpulannya saya boleh average down dong? Well, ya nggak sesimpel itu juga lah, Kalau anda baca lagi pembahasannya diatas, masalah yang dihadapi TRAM ini bukan sekedar masalah kebakaran kapal Lentera Bangsa, atau soal ditahannya kapal Jelita Bangsa oleh pihak yang berwajib, melainkan terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab, seperti: 1. Kenapa manajemen TRAM baru mengajukan klaim asuransi ke perusahaan asuransi, hampir tiga tahun setelah kejadian kebakarannya? 2. Kenapa manajemen TRAM seperti membiarkan masalah tunggakan utangnya ke IFC dan Bank of Tokyo, hingga akhirnya IFC terpaksa mengajukan surat tuntutan? 3. Kapan klaim asuransi itu akan dibayarkan? 4. Bagaimana sebenarnya detail dari kasus penyelundupan minyak yang melibatkan kapal Jelita Bangsa? Lalu kapan kapal tersebut akan dibebaskan dan mulai kembali beroperasi? 5. Sebelum mencuatnya kasus kapal Jelita Bangsa dan surat tuntutan dari IFC, bagaimana mungkin saham TRAM bisa terus bergerak naik secara tidak wajar, dan dengan volume transaksi yang tidak wajar pula? Dan 6. Berdasarkan data registrasi pemegang efek, pada akhir April 2015, PT Trada Resources dan PT Trada International hanya memegang total 36% saham TRAM, atau kurang dari 51%, sementara selebihnya dipegang oleh publik. Jadi sebenarnya yang jadi pemegang saham pengendali di TRAM ini siapa???

Nah, sekarang kita pakai logika saja: Berinvestasi di saham itu tak ubahnya seperti mempercayakan dana ke seorang pengusaha/perusahaan. Kalau anda hendak mempercayakan dana sebesar katakanlah Rp100 juta ke seorang pengusaha untuk nantinya diinvestasikan ke bidang usaha tertentu, maka sudah tentu anda akan menginterogasi orang tersebut dengan berbagai pertanyaan bukan? Dan jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka apakah anda masih akan mempercayakan dana anda kepadanya?

Tapi bahkan kalau kita mengabaikan faktor kepercayaan ini, maka dengan track record kinerja yang amburadul, rasio profitabilitas yang sangat rendah, jumlah utangnya yang cukup tinggi (dan juga bermasalah), dan tidak ada kepastian soal masa depan perusahaan, maka tetap saja TRAM ini tidak bagus untuk pilihan investasi. I mean, untuk apa anda membeli saham dari perusahaan perkapalan yang baru saja kehilangan mayoritas sumber pendapatannya, karena para pelanggannya sudah tentu tidak mau turut terlibat dengan.. well.. kasus apapun itu yang sedang dihadapi perusahaan?

Jadi seperti yang sudah pernah penulis sampaikan pada salah satu artikel di website ini, kami tidak tertarik dengan TRAM ini. Sementara jika anda sudah terlanjur masuk, maka pilihannya ada dua: 1. Get out while you can, atau 2. Tunggu saja hingga akhirnya perusahaan merilis dua kabar positif, yakni bahwa perusahaan akhirnya menerima pembayaran klaim asuransi, dan kapal Jelita Bangsa juga dibebaskan dan kembali beroperasi. Ketika itulah saham TRAM akan memiliki alasan yang sangat bagus untuk bisa naik kembali.

However, penulis sendiri terus terang tidak tahu kapan itu akan terjadi, mungkin bisa sangat lama dari sekarang atau malah tidak terjadi sama sekali. Jadi mungkin opsi pertama tetap merupakan pilihan terbaik. Nevertheless, the choice is yours.

Penulis menyelenggarakan Seminar Investasi Saham: Value Investing, di Ibis Styles Hotel - Jakarta, hari Sabtu tanggal 13 Juni 2015. Biayanya hanya Rp750,000 per peserta. Keterangan mengenai materi seminarnya dll bisa dibaca disini.

Buletin Analisis IHSG dan stock-pick saham bulanan edisi Juni 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

10 komentar:

soepri yanto mengatakan... Balas

Salam kenal pak teguh, Dari loporan kepemilikan saham, tercatat PT Trada resources Indonesia telah melakukan penjual saham TRAM dalam jumlah yang sangat besar, dan sebagian kepilikannya di TRAM ber type "Blocked". Saya menduga pemegang saham pengendali sengaja menurunkan harga TRAM karena hubungannya dengan type "Blocked" tadi. Apakah ini transaksi repo pak teguh? terima kasih. penjelasannya. dari soepriyanto.

Anonim mengatakan... Balas

Dear Mas Teguh,

Terima kasih mas Teguh untuk ulasannya. Apabila mas Teguh tidak keberatan dan juga tertarik, mohon di ulas tentang WINS.
Terima kasih.

WG

Anonim mengatakan... Balas

pak mohon bangett dibahas tentng emiten ap aja yg msh undervalue n pny prospek bgus di bidang konsumer n maritim, secara sy heran INDX laba naek terus tp hrganya kisaan 400 500 meluluu.

rudiefek mengatakan... Balas

Pak Teguh yang terhormat , bisa minta tolong pembahsan tentang saham IGAR ( Champions pacific) ? Trimakasih

bilalthaibsyah mengatakan... Balas

mas teguh buat artikel tentang siloam hospital (SILO) dong.. PBVnya bisa ampe sampe angka 230 dengan kinerja yang biasa biasa aja patut dipertanyakan tuh..

Anonim mengatakan... Balas

Pak teguh, mohon diulas untuk CPRO juga donk. Perusahaam sebesar itu rugi terus tapi kok masih bisa beroperasi terus ?trims

Anonim mengatakan... Balas

Tram masalah emng bertubi2. Sejak susp maka terjadi gagal byr. Krn itu hany oper kanan kiri u jual bl saham. Blm kasus u repony. Semakin trn suatu saham...maka hrs top up. Bila gak top up...ya forcesell. Bknkah itu yg terjadi pak teguh?. U saham naik sampai 1800 rasany semua pelaku saham jg sdh tau itu hany orderan semu. Dan knp sampai saham naik trs, krn emng itu seperti gali lubang tutup lubang u menutup fee ...repo dll. Bisa ulas saham cnko pak teguh?

Anonim mengatakan... Balas

salut deh sama kemampuan analisis pak teguh terutama yg sifatnya kualitatif kayak gini, ajarin doong

Anonim mengatakan... Balas

logikanya saham tram ini sudah diserap oleh masyarakat, kalau jadi emiten cukup reverse stock saham emiten juga kembali, jadi saya tentu pilih 1,Get out while you can

soepri yanto mengatakan... Balas

Sepertinya ada transaksi reverse repo, halaman 19 lapkeu ...http://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/Brokers/Financial_Report/2015/TW1/CC/MS_Laporan%20Keuangan%20Triwulan%20I%20_%2031%20Maret%202015.pdf...gimana nich pak teguh.