Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

A 'Grown Up' Stock Market

Dalam mengevaluasi kinerja investasi di tahun 2015, mayoritas analis dan investor di pasar saham biasanya hanya fokus pada fakta bahwa IHSG turun signifikan, dalam hal ini sekitar 13%, dan itu membuat 2015 tampak sebagai tahun yang buruk dan sulit. However, terdapat beberapa alasan bahwa tahun 2015 ini sejatinya merupakan salah satu tahun terbaik dalam sejarah perkembangan pasar modal di Indonesia. Terkait hal ini, penulis sengaja membandingkan tahun 2015 dengan 2008, yakni tahun dimana IHSG juga turun signifikan (IHSG juga turun di tahun 2013, namun penurunannya hanya 1%).

Yang pertama, pada tahun 2008, IHSG sempat anjlok hingga 60% dari posisi tertingginya, padahal kondisi ekonomi serta kinerja emiten ketika itu hanya sedikit melambat, dimana pertumbuhan ekonomi turun menjadi 4.2% pada awal 2009 karena imbas krisis global, tapi tidak sampai minus seperti ketika terjadi krisis moneter di tahun 1997 – 1998. Lalu kenapa kok IHSG sampai hancur lebur begitu?

Dan jawabannya adalah karena ketika itu belum ada aturan yang ketat dari otoritas bursa terkait margin dan short selling, dimana investor bisa membeli saham menggunakan dana pinjaman yang sangat besar (margin), atau menjual saham tanpa perlu memilikinya (short selling). Dua jenis transaksi tersebut menyebabkan harga-harga saham seringkali naik secara ekstrim, dan sebaliknya jatuh berantakan hanya dalam hitungan hari. Pada Oktober 2008 IHSG sempat turun 20% hanya dalam tiga hari, gara-gara ada banyak investor yang mengalami force sell karena mereka membeli saham pakai dana margin. Kondisi ini pada akhirnya membuat pasar saham di Indonesia lebih mirip tempat judi ketimbang wadah untuk berinvestasi.

Kedua, di tahun 2008, otoritas pengawas bursa ketika itu nyaris tidak berkutik menghadapi para ‘bandar’, dimana kasus-kasus ‘goreng saham’ seperti saham AGIS (TMPI), yang sangat merugikan investor ritel, dibiarkan begitu saja. Atau kasus penggelapan dana nasabah oleh Sarijaya Sekuritas, yang sampai sekarang tidak jelas penyelesaiannya. Dan ketiga, ketika itu sedikit sekali investor saham yang benar-benar merupakan investor, karena mayoritas justru spekulan yang membeli saham tanpa analisa apapun. Penulis masih ingat seorang teman yang berkata, ‘Peduli amat soal fundamental atau saham-saham lurus kaya Astra, Bank Mandiri, Bank BCA.. Pokoknya kalau BUMI hari itu naik, maka yang lain juga bakal naik!’ Lah, logikanya dimana coba???

Logo PT AGIS, Tbk, yang sekarang bernama PT Sigmagold Inti Perkasa (TMPI), perusahaan paling legendaris di kalangan spekulan pencinta saham gorengan

Lalu bagaimana untuk tahun 2015 ini? Well, sejak market crash 2008, aturan bursa terkait margin dan short selling diperketat, dan alhasil meski pertumbuhan ekonomi juga melambat seperti tahun 2008, tapi IHSG hanya turun belasan persen saja. Beberapa aturan lain seperti perubahan fraksi harga saham dan batas auto-reject, meski tentunya belum sempurna, tapi juga mampu menekan tingkat fluktuasi pasar. Pada tahun-tahun sebelum 2015, anda mungkin terbiasa melihat IHSG naik atau turun sebesar 7 – 8% dalam sehari, tapi sepanjang 2015 ini IHSG hanya pernah sekali turun sebesar 4% dalam sehari di bulan Agustus, sementara selebihnya dia bergerak normal. Setelah kasus Sarijaya, kemudian diberlakukan sistem rekening dana investor (RDI), dimana dana milik investor tidak lagi dipegang oleh sekuritas melainkan ditempatkan di bank, dan hasilnya hingga saat ini belum pernah terjadi lagi kasus yang serupa.

Sementara soal saham-saham gorengan, hingga tahun 2015 ini memang masih ada saja beberapa kasus seperti saham Trada Maritime (TRAM), Inovisi Infracom (INVS), atau Sekawan Intipratama (SIAP), dan penulis kira sampai kapanpun akan selalu ada saham-saham seperti itu. Namun dalam kasus terakhir yakni saham SIAP, pihak OJK dan BEI sudah mulai menerapkan sanksi kepada pihak yang terlibat, dalam hal ini sekuritas, meski hanya dalam bentuk suspensi sesaat. Tapi jika trend ini berlanjut maka penulis optimis bahwa kedepannya investor publik akan lebih terlindungi.

Dan ketiga, jika dulu semua orang hanya swing, swing, dan swing, beli pagi jual sore, dan saham dari perusahaan kecil gak jelas yang terbang 20% dalam sehari jauh lebih diminati ketimbang saham blue chip berfundamental bagus yang menawarkan profit konsisten dalam jangka panjang, maka belakangan ini para investor sudah lebih ter-edukasi, dimana penggunaan analisa fundamental, yang merupakan inti terpenting dari investasi, juga mulai populer (meski belum sepopuler analisa teknikal). Lima tahun lalu nyaris tidak ada seorangpun yang berbicara soal ‘membaca laporan keuangan’, atau ‘menghitung valuasi saham’, tapi sekarang dua hal tersebut sudah mulai umum dikalangan pelaku pasar.

Singkatnya, kalau melihat ‘aturan main’ pasar modal yang lebih tertata, mulai terdapat proteksi terhadap investor publik, dan meningkatnya kesadaran dari investor itu sendiri untuk benar-benar berinvestasi dan bukan malah terjebak dalam permainan spekulasi, maka jelas bahwa pasar modal Indonesia di tahun 2015 ini sudah jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Soal IHSG yang turun, itu hanyalah bagian dari siklus yang normal. Di Amerika Serikat, dalam 50 tahun terakhir (1965 – 2014), indeks S&P500 tercatat turun 15 kali pada tahun-tahun tertentu, sementara di tahun-tahun selebihnya dia naik. Dengan kata lain, indeks S&P500 rata-rata turun sekali setiap tiga tahun. Dan tahukah anda bahwa dalam 20 tahun terakhir (1996 – 2015), IHSG totalnya turun 7 kali termasuk di tahun 2015 ini, dan naik di 13 tahun lainnya?

Jadi berdasarkan statistik sederhana diatas, plus dengan mempertimbangkan beberapa faktor fundamental seperti Fed Rate, naiknya status mata uang Yuan menjadi world currency, kondisi ekonomi makro dalam negeri, kondisi ekonomi di lapangan, realisasi pembangunan infrastruktur, kinerja terbaru emiten, posisi kurs Rupiah, harga komoditas, daaan seterusnya (silahkan anda baca-baca lagi artikel sepanjang tahun 2015 ini), maka di tahun 2016 mendatang IHSG berpeluang untuk naik, karena memang ‘sudah gilirannya’ bagi dia untuk naik. Namun mau IHSG naik atau turun, yang terpenting disini adalah bahwa pasar saham di Indonesia, baik itu otoritasnya maupun para investor didalamnya, sekarang ini sudah lebih dewasa, dan akan semakin dewasa seiring dengan berjalannya waktu, karena seringkali proses pendewasaan itu memang cuma soal waktu saja. Jadi dalam 10 atau 20 tahun kedepan kita akan menyaksikan banyak billionaire yang terlahir dari lantai bursa dan.. pertanyaannya, sudah siapkah anda untuk menjadi salah satu diantaranya? :)

Info Investor: Buletin Analisa IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Januari 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disinigratis konsultasi untuk member.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

11 komentar:

Subur Makmur mengatakan... Balas

Mas Teguh yang baik, kalo Anda bilang bahwa tahun 2016 jatahnya IHSG naik CUMA karena tahun 2015 IHSG sudah turun (berdasarkan rata2 historis 20 tahun terakhir), dan tidak melibatkan faktor2 lain seperti pelambatan ekonomi Cina, penguatan USD, turunnya harga komoditas, dsb (fundamental makro), maka Anda tidak lah jauh beda dengan teman Anda yang bilang "bumi naik, semua naik"

hady mengatakan... Balas

Ulasan yang sangat bagus, dan sekarang saham BUMI sudah mati konyol, hihihi...
Fundamental memang agak ribet tp akan bertahan dalam jangka waktu yg lama

Hendrikus Endrianto mengatakan... Balas

Pas bagian akhir bikin kebelet pak... tapi juga sekaligus mikir duitnya.. gaji udah pas bgt soalnya :D

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

@Subur Makmur: Dalam menganalisa outlook IHSG di tahun 2016, kita tentu saja mempelajari semua faktor fundamental pak, mulai dari kenaikan Fed Rate, naiknya status mata uang Yuan, kondisi makro ekonomi dalam negeri, perkembangan nilai tukar Rupiah, harga komoditas, realisasi pembangunan infrastruktur, update terbaru kinerja emiten, dan tentunya faktor statistik naik turunnya IHSG seperti yang sudah disebut diatas. Semua poin-poin tersebut sudah dibahas secara terpisah di artikel-artikel di website ini sepanjang 2015, coba baca lagi aja. Actually, dalam membuat planning serta analisa pasar kedepannya (untuk kegiatan investasi kami sendiri), kami mempelajari lebih banyak lagi faktor-faktor lainnya, dan tidak semuanya sempat ditulis disini.

Tapi di artikel diatas tidak disebut soal Fed Rate dll, karena artikelnya memang bukan soal bagaimana pergerakan IHSG di tahun 2016. Anyway, thanks buat masukannya, pada artikel diatas di bagian ‘IHSG di tahun 2016’ sudah dilengkapi dengan link-link ke artikel terkait.

Unknown mengatakan... Balas

Sekali2 seminar diadakan di bekasi dong pak teguh.. kalau jakarta saya males macet.. hahaha..

DonChicco mengatakan... Balas

Tulisan yang sangat bagus, Pak Teguh.
Dan salah satu pioneer yang mempopulerkan aliran fundamental di pasar modal Indonesia tentunya adalah Pak Teguh sendiri.
Dalam hal ini pasar modal Indonesia, diakui atau tidak, berhutang budi kepada Pak Teguh selain juga kepada sang maestro Lo Kheng Hong.

Alangkah baiknya seandainya kita-kita sesama anak-murid dan cucu-murid dari Warren Buffet saling berbagi semangat, ide, dan informasi mengenai pasar modal seperti yang telah dilakukan Pak Teguh dalam blog ini.

Salam longterm investing.

Roni Hastomo mengatakan... Balas

saya rasa tahun 2016 adalah tahunnya semua bubbles akan pecah, di china ataupun di amerika. ihsg ikut arus saja..

Edy Subroto mengatakan... Balas

Artikel yg bagus pak teguh.. Ihsg naik atau turun itu sudah biasa.. tp selama kita membeli saham dg fundamental yg bagus, cepat atau lambat akan naik jg terutama untuk jangka panjang. Maka mindsetnya jadilah investor sejati, bukan mjd spekulan

Dana mengatakan... Balas

Semoga aturan makin ditegakkan setahun kedepan. Percuma promosi investasi di bursa jika ternyata aturan awut-awutan. Yang ada, yg dah masuk ke bursa ya kabur lagi.

Vicky Laurentina mengatakan... Balas

Saya malah nggak pernah beli saham kalau nggak baca laporan keuangannya dulu. Biarpun saya lebih dulu belajar analisa teknikal ketimbang belajar analisa fundamental. Tapi saya setuju bahwa analisa fundamental memang inti dari investasi pada saham.

Yohanes budi mengatakan... Balas

Tips in stock market.
1. Pick/choice stock2 from financial statement. Fundamental analaysis.
2. Learn fase support, konsolidasi,and resistant every stocks picks/no.1 from historical traded or grafis. Teknical analaysis.
3. Close your eyes from every stocks traded, except your pick stocks/no.1.
4. Evaluated every stocks in 3 month from financial statement Q1-Q4 in years.
5. Pray to God and give a little from your gain to others needed/like orphans, poor man, disability man.

Good luck..GBU
Nb. My english is C, any tips from mr.teguh or else?? Thks bef