Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Peluang Investasi di Sektor Kabel

Tak terasa sekarang sudah di penghujung Oktober, dan itu artinya sudah waktunya bagi investor untuk mengecek kembali kinerja keuangan terbaru dari para emiten, dan juga mencari ‘mutiara terpendam’ alias saham-saham berfundamental bagus yang valuasinya masih murah. Nah, di artikel kali ini kita akan membahas salah satu ‘saham mutiara’ tersebut, dimana saham ini sejatinya sudah penulis discover sejak beberapa waktu lalu, dan untungnya sejauh ini kinerja fundamentalnya terbilang sangat memuaskan.

Saham tersebut adalah KMI Wire & Cable (KBLI). KBLI adalah perusahaan produsen kabel yang bermarkas di Cakung, Jakarta Timur, dan merupakan salah satu perusahaan kabel tertua, terbesar, serta paling terkenal di tanah air, sekaligus salah satu pemasok kabel utama untuk PLN. Penulis pertama kali memperhatikan KBLI ini pada tahun 2013 lalu, tepatnya di bulan April, dimana ketika itu sedang booming cerita ‘pembangunan infrastruktur’ (yang kurang lebih sama booming-nya seperti cerita tax amnesty beberapa waktu lalu), yang menyebabkan kenaikan yang luar biasa pada saham-saham infrastruktur, terutama konstruksi. Dan karena salah satu cerita infra tersebut adalah terkait megaproyek pembangunan pembangkit listrik 10,000 MW (yang blueprint-nya sudah diluncurkan sejak tahun 2011), maka beberapa orang ketika itu mulai berspekulasi: Harusnya saham-saham kabel bakalan ikut naik dong? Sementara diantara saham-saham kabel yang ada di BEI, yang fundamentalnya paling bagus (sekaligus sahamnya paling likuid) ya KBLI ini. Namun setelah penulis cek lagi, industri kabel, meski sekilas tampak prospektif karena adanya proyek 10,000 MW tadi, namun risikonya juga sangat besar terutama terkait fluktuasi harga bahan baku logam tembaga yang harus diimpor dari luar negeri, dan itu artinya laba bersih KBLI juga rentan terhadap perubahan kurs Rupiah. Anda bisa baca lagi analisisnya disini.


Sayangnya memasuki paruh kedua tahun 2013, Rupiah ternyata beneran melemah hingga ditutup di level Rp11,000-an per US Dollar, dan terus saja melemah hingga hampir saja mencapai Rp15,000 pada Agustus 2015 lalu. Jadi ya sudah, penulis kemudian melupakan KBLI ini, dimana sahamnya sendiri memang jeblok dari 290 – 300 hingga sempat dibawah 100 pada pertengahan tahun 2015.

Untungnya memasuki tahun 2016, kondisi ekonomi perlahan tapi pasti mulai pulih, Rupiah kembali menguat untuk kemudian stabil di level Rp12,500 – 13,000 per USD, dan KBLI kembali membukukan kenaikan laba. Karena itulah penulis sendiri sejak beberapa bulan lalu mulai kembali mengamati KBLI ini (sahamnya juga masuk ke daftar 30 saham yang dibahas di Ebook Kuartal II 2016), dimana penulis baru ‘sadar’ dengan KBLI ini ketika dia sudah berada di level 270-an (sudah naik banyak dari posisi 120 di awal tahun), tapi bahkan sekarang dia sudah naik lebih tinggi lagi ke level 320-an.

Pertanyaannya tentu, apakah kenaikan KBLI tersebut akan berlanjut? Well, mari kita cek KBLI ini dari sisi perusahaannya dulu. Pertama, KBLI sukses membukukan kenaikan laba pada tahun 2015 meski kurs Rupiah ketika itu sedang rendah-rendahnya, karena pendapatan perusahaan memang meningkat cukup tajam menjadi Rp2.7 trilyun (dari sebelumnya Rp2.4 trilyun di tahun 2014) seiring dengan dipercepatnya proyek pembangunan listrik oleh PLN (dibawah pemerintahan/presiden baru yang dilantik tahun 2014, semua proyek infrastruktur dipercepat pengerjaannya, termasuk proyek 10,000 MW milik PLN dkk). Kedua, tidak hanya dipercepat, proyek 10,000 MW tersebut bahkan ditingkatkan menjadi 35,000 MW, sehingga praktis omzet KBLI akan semakin bertambah. Dan ketiga, hingga saat ini KBLI memproduksi kabel tegangan rendah, kabel tegangan menengah, kabel telepon, serta kawat alumunium dan tembaga untuk bahan baku pembuatan kabel itu sendiri.

Namun sejak tahun 2013 kemarin KBLI sudah punya rencana untuk memproduksi varian produk baru yakni kabel tegangan tinggi, untuk mensuplai kebutuhan pembangunan jaringan listrik milik PLN. Untuk diketahui, kabel tegangan rendah adalah untuk kabel listrik yang ada di rumah-rumah atau gedung, kabel tegangan menengah adalah untuk gardu/tiang listrik di jalan raya atau perumahan, sementara kabel tegangan tinggi adalah untuk gardu listrik yang lebih besar, yang menyalurkan listrik dari pusat daya ke satu wilayah tertentu, misalnya perkotaan (sebenarnya masih ada satu macam kabel lagi yakni kabel tegangan ekstra tinggi, yang dipakai untuk sutet atau menara transmisi listrik yang gede banget itu, tapi KBLI tidak memproduksi kabel tegangan ekstra tinggi tersebut).

Okay, lalu bagaimana realisasi dari rencana diatas? Ini dia: Pada tahun 2015 kemarin perusahaan mulai membeli mesin-mesin untuk membuat kabel tegangan tinggi, dimana jika progress-nya lancar maka pada tahun 2016 – 2017 mendatang KBLI akan sudah mampu memproduksi kabel tegangan tinggi tersebut, dan praktis itu akan kembali meningkatkan pendapatan perusahaan.

Jadi yah, kalau bicara prospek maka KBLI ini menawarkan prospek jangka panjang yang sangat menarik, terutama karena manajemen perusahaan merupakan tipe tradisional yang hanya membuat kabel kemudian dijual, dan tidak pernah mengambil banyak utang. Karena ke-tradisional-annya tersebut, KBLI selama ini hanya tumbuh secara moderat, dimana nilai ekuitasnya hanya naik dari Rp720 milyar di tahun 2011 menjadi Rp1 trilyun pada 2015, sehingga growth rate-nya hanya 9.2% per tahun. Namun sepertinya mulai tahun 2016 ini dan seterusnya, perusahaan sedang dalam momentum untuk tumbuh lebih cepat dari biasanya. Selain akan memproduksi kabel tegangan tinggi, KBLI juga tengah meningkatkan volume produksi kabel tegangan rendah hingga 50% mulai tahun 2016 ini, sesuai dengan peningkatan permintaan dari PLN.

Lalu bagaimana dengan kinerja terbaru perusahaan? Here we go: KBLI membukukan laba bersih Rp228 milyar hingga Kuartal III 2016, yang mencerminkan annualized ROE 24.8%, atau terbilang sangat bagus untuk ukuran saham second liner. Ekuitas KBLI sendiri sudah tumbuh 19.5% sepanjang sembilan bulan pertama 2016, atau sudah lebih cepat dari biasanya, padahal perusahaan masih belum memproduksi kabel tegangan tinggi yang disebut diatas (sebenarnya sudah, tapi baru sebatas kabel tegangan tinggi untuk instalasi bawah tanah). Kalau melihat track recordnya dimasa lalu yang sebenarnya cukup stabil, dimana perolehan laba KBLI hanya turun pada tahun 2013 dan 2014 karena melemahnya Rupiah namun sejatinya pendapatannya masih naik, maka penulis optimis KBLI akan mampu mempertahankan kinerja apiknya hingga akhir tahun 2016 ini, dan demikian pula di tahun-tahun berikutnya pendapatan perusahaan akan naik terus, karena proyek pembangunan pembangkit listrik 35,000 MW juga membutuhkan waktu yang cukup lama hingga tuntas, yakni direncanakan hingga tahun 2019 (tapi pada realisasinya penulis kira bakal butuh waktu lebih lama lagi, karena 35,000 MW itu gede banget lho).

Terakhir, sahamnya? Well, meski sahamnya sudah naik banyak, namun pada harga 328 valuasi KBLI masih rendah di PBV 1.1 kali dan PER 4.3 kali, dimana dengan mempertimbangkan kinerja terbaru perusahaan serta prospek jangka panjangnya, maka normalnya kenaikan tersebut akan berlanjut (meski sahamnya tidak akan naik setiap hari, tentu saja), selain karena hingga saat ini volume transaksi KBLI masih belum begitu likuid dan sahamnya juga belum diperhatikan oleh banyak orang. Jika pada awal tahun 2017 nanti pasar kembali dipenuhi dengan cerita dan sentimen positif terkait pembangunan infrastruktur dll (kalau akhir tahun seperti sekarang pasar memang biasanya sepi dari sentimen-sentimen tertentu), maka cerita soal 35,000 MW diatas akan kembali ramai dibicarakan, dan ketika itulah KBLI mungkin akan benar-benar rally. We’ll see.

PT KMI Wire & Cable, Tbk (KBLI)
Rating Kinerja pada Q3 2016: AA
Rating Saham pada 328: AA

Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang KBLI di average 290. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi November 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Penulis membuat buku kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2016. Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

5 komentar:

ganeshadieselinjection mengatakan... Balas

Mas Teguh , Tolong dibahas Saham ERAA karena kinerja Q3 2016 Baik, namun harga ditekan terus,menurut perhitungan saya,harga wajar ERAA di Rp.1200,terima kasih.

Mang Amsi mengatakan... Balas

terima kasih kang atas ulasan saham kabelnya. Salam kenal dari Cianjur

Sinar Fashion mengatakan... Balas

Salam pak Teguh. Analisa yang sangat berguna pak. Kalau boleh pak mohon di bantu untuk analisa saham NRCA pak Teguh. Terima kasih banyak pak


Salam

M.Tatuhas mengatakan... Balas

seminggu setelah tulisan ini terbit, di suatu koran investasi dengan huruf awal K membahas saham yang sama juga. Great Analysis, one step ahead. hehehe

adrian nurcahyo mengatakan... Balas

Pak Teguh, Sehubungan dengan intruksi Presiden bahwa target 35000MW direvisi menjadi 19000MW apakah berpengaruh terhadap valuasi KBLI?