Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan ('Ebook Kuartalan') Edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

Jadwal Seminar: Value Investing Pension Class: Cara mempersiapkan Dana Pensiun Melalui Investasi Saham, Menggunakan Kaidah Value Investing. Jakarta, Sabtu 1 September 2018. Info selengkapnya baca disini.

Selamat Datang Era Ekonomi Efisien!

Kalau anda googling istilah efficient economy, atau ekonomi efisien, maka anda akan menemukan banyak definisi serta penjelasan mengenai istilah tersebut, tapi biar disini penulis jelaskan dengan Bahasa sederhana: Ekonomi efisien adalah suatu keadaan dimana setiap sumber daya teralokasikan secara optimal untuk menghasilkan barang dan jasa, sehingga tidak ada sumber daya yang terbuang sia-sia/tidak menghasilkan manfaat apapun. Yang dimaksud dengan sumber daya disini adalah sumber daya manusia, sumber daya alam, modal/capital, waktu, dan seterusnya.

Dan ekonomi yang tidak efisien merupakan hambatan utama pertumbuhan ekonomi suatu negara. Contoh, ketika seorang karyawan digaji oleh perusahaan namun ia tidak benar-benar bekerja melainkan cuma medsos-an di kantor (istilahnya makan gaji buta), artinya ada sejumlah modal/uang gaji yang terbuang sia-sia. Ketika suatu negara memiliki banyak pengangguran, artinya terdapat sumber daya manusia yang terbuang sia-sia. Dan ketika warga Jakarta harus bermacet-macetan di jalan setiap kali berangkat dan pulang kerja, artinya terdapat sumber daya waktu dan juga sumber daya alam (bensin) yang terbuang sia-sia.

Sayangnya kalau di Indonesia, maka memang inilah yang terjadi sejak dulu, dan alhasil ekonomi kita susah maju (tapi mungkin gak cuma Indonesia, melainkan negara lainnya juga sama begitu). Namun beruntung, anda sendiri mungkin memperhatikan bahwa kemajuan teknologi dalam beberapa tahun terakhir telah sangat membantu kegiatan ekonomi menjadi jauh lebih efisien. Yup, kalau berdasarkan pengalaman penulis sendiri:
  1. Sekarang ini ada banyak orang yang kerja dari rumah. Penulis sendiri sebagai investor saham dan blogger praktis gak perlu kemana-mana kecuali buat ketemu orang, dan ini jelas sangat menghemat waktu. Sejak tahun 2012, penulis gak pernah lagi mengeluh soal terjebak macet Jakarta.
  2. Karena saya punya lebih banyak waktu dirumah, maka kita otomatis kerja secara jauh lebih produktif. Salah satu alasan kenapa blog TeguhHidayat.com ini bisa menyajikan analisa-analisa saham yang sangat detail adalah karena penulis setiap harinya punya waktu seharian untuk bongkar-bongkar laporan keuangan dll, dimana saya tidak akan bisa melakukan itu kalau masih harus ‘meluangkan’ waktu 3 – 4 jam untuk nyetir di jalan raya.
  3. Di ruang kerja penulis dirumah ada kulkas kecil yang berisi cemilan dan minuman lengkap, tapi kadang-kadang saya suka pengen ngemil pizza atau makanan berat lainnya (kaya orang ngidam aja). Nah kalau dulu penulis harus keluar rumah, tapi sekarang tinggal buka Go-Food, 30 menit kemudian pizza-nya nyampe, dan juga gak usah bayar atau repot ngitung kembalian, karena udah pake Go-Pay (ini bukan iklan lho).
  4. Demikian pula kalau mau beli ini-itu, pesen tiket kereta, hingga booking hotel, maka semuanya bisa dilakukan dirumah via ponsel, dan gak perlu pergi ke ATM karena untuk pembayarannya bisa pake m-banking atau kartu kredit.
  5. Kalau penulis akhirnya (terpaksa) keluar rumah, maka tetep gak perlu nyetir karena tinggal panggil Gocar, dan saya bisa duduk santai seperti juragan di kursi belakang, dimana dalam perjalanan saya bisa sambil kerja di komputer tablet, atau tidur.
  6. Dan kalau harus keluar kota pun, sekarang gampang banget tinggal pake pesawat terbang atau kereta api (sementara ke bandaranya pake Gojek), dan kalau harus nyetir sendiripun maka waktu perjalanannya juga terbilang singkat, karena bisa langsung lewat jalan tol.

Yang juga penulis perhatikan, harga-harga barang di toko online terbilang jauh lebih murah dibanding toko fisik, dan itu wajar saja, karena ketika seseorang buka toko online maka ia tidak perlu lagi sewa tempat, dan bahkan gak perlu mempekerjakan pegawai delivery karena tinggal pake jasa Gojek atau Grab. Ini artinya terjadi capital efficiency, dimana asalkan anda punya barang dan jasa untuk dijual, maka anda sudah siap untuk buka toko sendiri, nyaris tanpa perlu keluar modal alias gratis! Untuk keperluan iklan dan marketing juga bisa pake jasa Instagram atau Google Adsense, yang biayanya jauh lebih murah dibanding iklan konvensional. Sementara para supir ojek online yang mungkin sebelumnya nganggur, sekarang mereka juga turut berkontribusi terhadap perputaran ekonomi, dimana mereka sangat membantu orang-orang lainnya (termasuk penulis) untuk menghemat waktu dan tenaga, tapi disisi lain juga tidak ada modal/uang gaji yang terbuang sia-sia, karena para supir ojek ini hanya menerima uang jika mereka memperoleh penumpang, atau pesanan untuk mengirim barang.

Dan terakhir, kemajuan teknologi membuat orang-orang work less, produce more. Contohnya ya penulis sendiri, yang cukup sekali menulis sebuah artikel, tapi artikel itu kemudian bisa dibaca terus menerus oleh setiap orang yang membuka blog TeguhHidayat.com ini. Atau dengan kata lain, saya hanya perlu kerja satu kali saja, juga tanpa perlu keluar biaya publikasi atau semacamnya (tinggal posting di blog), tapi manfaat pencerahan, informasi, hingga ilmu pengetahuan yang dihasilkan bagi teman-teman pembaca boleh dibilang tidak terbatas, termasuk anda masih bisa tulisan-tulisan saya di tahun 2010 lalu. Plus, kecuali anda membeli produk berbayar, maka anda juga tidak perlu membayar apapun untuk memperoleh manfaat dari semua artikel di blog ini, sehingga lagi-lagi terjadi capital efficiency.

Kesimpulannya, kita sekarang berada dalam era ekonomi efisien, dan itu adalah kabar yang sangat baik karena ini artinya kita sekarang berpeluang untuk menjadi negara maju dalam beberapa dekade kedepan. Menurut Warren Buffett sendiri, salah satu penyebab Amerika Serikat sukses tumbuh hingga menjadi negara maju dalam 200 tahun terakhir (pada abad 18 dan 19, AS masih merupakan negara miskin, dan masih -secara tidak resmi- dijajah oleh Inggris), itu bukan karena orang-orang pada hari ini bekerja lebih keras dibanding masa lalu, melainkan karena mereka bekerja lebih efisien. Sekitar 100 tahun lalu, lebih dari separuh warga AS berprofesi sebagai petani, namun hari ini hanya 3% warga AS yang masih menjadi petani, tapi produksi panen jagung yang dihasilkan justru meningkat 3 kali lipat. Surplus suplai makanan kemudian menaikkan standar hidup masyarakat, sementara surplus tenaga kerja yang tidak lagi bekerja di sektor pertanian kemudian teralihkan ke sektor lain terutama industri, dan itulah yang kemudian menyebabkan ‘Murica, pada hari ini, menjadi negara adidaya.

Ekonomi Efisien = Percepatan Pertumbuhan Ekonomi

Dan pada hari ini, sepertinya giliran Indonesia yang mengalami hal yang sama. Kalau kita lihat lagi data-fakta ekonomi makro, maka terdapat dua data yang mendukung: Yang pertama adalah rendahnya angka inflasi. Seperti yang kita ketahui, Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat inflasi yang buruk, mungkin hanya lebih baik dibanding Zimbabwe, karena kegiatan ekonomi disini memang sangat tidak efisien. Contohnya ya kalau anda belanja di minimarket, maka sering tiba-tiba nongol preman minta duit parkir bukan? Padahal tukang parkir dadakan ini tidak memberikan kontribusi atau jasa apapun, termasuk kalau kendaraan anda kenapa-napa juga ia tidak akan bertanggung jawab. Sehingga dalam hal ini, meskipun jumlah uang parkirnya hanya dua ribu Rupiah, tapi uang itu kemudian menjadi sia-sia/tidak efisien. Dan ketika sejumlah uang berpindah tangan namun tidak menghasilkan barang atau jasa apapun, maka dari situlah timbul inflasi.

Tapi karena sekarang ini orang-orang gak perlu lagi keluar rumah kalo gak penting-penting banget, termasuk juga gak perlu bayar parkir, maka hampir tidak ada lagi uang yang terbuang sia-sia, dan alhasil tingkat inflasi menjadi turun.

Tingkat inflasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Perhatikan bahwa jika inflasi kita biasanya di level 6%, dan bahkan pernah tembus 12% di tahun 2008, tapi sekarang cuma sekitar 3%. Sumber: www.tradingeconomics.com

Kedua, turunnya angka pengangguran. Seperti yang sudah disebut diatas, sekarang ini kalau orang gak bekerja maka dia bisa buka toko online, dan kalaupun dia gak bisa dagang maka bisa jadi supir ojek online. Kemudian kalau seseorang punya keahlian tertentu, maka ia tidak perlu lagi kerja di perusahaan, melainkan bisa menawarkan jasa keahliannya tersebut secara freelance melalui internet, dimana ia hanya akan dibayar sesuai dengan pekerjaan yang dihasilkan (jadi gak ada lagi istilah magabut). Ilustrasi mudahnya, seandainya di jaman penulis kuliah dulu sudah ada Tokopedia dll, maka seharusnya saya ketika itu sudah kaya raya bahkan sebelum lulus kuliah, dan juga gak perlu ngelamar kerja kesana kemari, karena memang passion penulis adalah dagang (saya sudah cerita soal ini di buku The Calm Investor). Tapi berhubung Toped baru nongol sekarang-sekarang ini, maka jadilah sampai tahun 2008 saya masih gak punya apa-apa, dan juga pernah harus nganggur selama 2 bulan.

Tingkat pengangguran dalam 10 tahun terakhir, yang terus turun dari 8.5% menjadi sekitar 5%. Sumber: www.tradingeconomics.com

Nah, kombinasi antara capital efficiency (yang ditunjukkan oleh rendahnya inflasi, yang artinya setiap Rupiah yang berpindah tangan memang menghasilkan barang dan jasa), dan human resources efficiency (yang ditunjukkan oleh rendahnya angka pengangguran, yang artinya sekarang ini hampir setiap orang bekerja dan berkontribusi terhadap ekonomi), belum lagi efisiensi-efisiensi yang lain, pada akhirnya mendorong ekonomi nasional untuk tumbuh pesat. Sebenarnya, meski secara mata uang Rupiah, GDP kita naik terus dari tahun ke tahun, tapi karena Rupiah itu sendiri melemah terhadap Dollar maka GDP nasional terbilang stagnan sejak tahun 2012 lalu, yakni ketika harga-harga batubara dll mulai turun. Beruntung, memasuki 2016 ekonomi mulai benar-benar tumbuh kembali, dan kalau melihat Gojek dkk yang semakin hari semakin populer, maka harusnya trend pertumbuhan tersebut masih berlanjut di tahun 2018 ini. Informasi selengkapnya bisa dilihat pada gambar berikut:
 
Data GDP Indonesia tahun 2008 - 2016. Perhatikan bahwa sejak tahun 2012, GDP nasional sebenarnya turun dari US$ 918 menjadi hanya 861 milyar di tahun 2015 (makanya di tahun 2015 itu ekonomi terasa lesu banget, dan IHSG sendiri memang drop), dan baru naik lagi di tahun 2016, dan untuk tahun 2017 - 2018 ini seharusnya angkanya sudah tembus US 1,000 milyar. Sumber: www.tradingeconomics.com

Okay, Pak Teguh, jadi apa yang sebenarnya hendak sampeyan sampaikan disini? Well, anda mungkin memperhatikan kalau belakangan ini banyak muncul isu-isu negatif bahwa Rupiah hancur, Indonesia krisis utang, BUMN dijual bla bla bla, sehingga seolah-olah Indonesia sedang krisis, padahal kalau kita luangkan waktu untuk cross check data sedikit saja, maka sebenarnya gak ada problem apapun. Contoh, soal utang Pemerintah yang dikatakan naik terus, ketika itu penulis sudah menjelaskannya disini, dan intinya adalah no problemo (Coba anda baca dulu artikelnya. Mungkin perlu dicatat bahwa artikel tersebut ditulis tahun 2015 lalu, yakni ketika IHSG sedang crash dan semua orang berpikir bahwa akan terjadi krismon seperti tahun 1998, namun fakta bahwa IHSG di tahun-tahun berikutnya malah naik terus membuktikan bahwa apa yang penulis sampaikan ketika itu benar adanya). Malah justru, berdasarkan data-fakta makroekonomi serta pengamatan di lapangan seperti yang sudah penulis paparkan diatas, maka kita justru sedang berada dalam era ekonomi efisien, yang kemudian berujung pada era percepatan pertumbuhan ekonomi.

Hanya memang, kemajuan teknologi menyebabkan era economic efficiency diatas, itu bukannya tanpa efek samping. Yup, kemajuan teknologi juga menyebabkan informasi-informasi mudah sekali menyebar dengan cepat entah itu melalui medsos, media elektronik, Whatsapp dll, dan masalahnya sekarang ini (atau sejak dulu??) ada banyak orang atau organisasi yang dengan sengaja untuk kepentingan tertentu menyebar luaskan informasi palsu, atau informasi yang benar adanya namun dikemas sedemikian rupa hingga menimbulkan perspektif tertentu dari pembacanya (istilahnya news framing, anda bisa baca lagi penjelasannya disini). Dan malahan sekarang ini kita sulit sekali menemukan berita yang netral, dimana ketika koran A bilang bla bla bla terkait isu tertentu, maka koran B ngomongnya beda lagi untuk isu yang sama (jadi yang bener yang mana??).

Nah, bagi investor berpengalaman, sebenarnya ini gak jadi masalah, karena kita sudah terbiasa kritis dalam menyikapi isu-isu tertentu, sama seperti penulis yang rutin menghabiskan waktu berjam-jam hingga berhari-hari untuk menganalisa, untuk kemudian menyimpulkan apakah suatu saham layak invest atau tidak. Actually, penulis sendiri tidak selalu mengatakan bahwa ‘ekonomi kita baik-baik saja’. Karena kalau anda baca-baca lagi arsip blog ini di bulan-bulan tertentu di tahun 2013 dan 2015, maka ketika itu juga saya mengatakan bahwa ada ‘something wrong’ di perekonomian nasional, sehingga kita sebagai investor harus lebih waspada/jangan buru-buru belanja saham dulu.

Tapi bagi investor pemula yang biasanya langsung percaya saja ketika disodori berita/rumor tertentu, maka hal itu bisa membuat seorang investor menjual saham ketika ia seharusnya membeli, dan sebaliknya, membeli saham ketika seharusnya menjual. Dan sudah tentu, ujung-ujungnya adalah cerita kerugian. Anyway, berdasarkan apa yang sudah penulis pelajari sejauh ini, maka sekali lagi kesimpulannya adalah no problemo, malah justru kita harus mengucapkan ‘Selamat Datang Era Ekonomi Efisien!’, dan anda bisa tetap belanja saham seperti biasa. Dan jangan khawatir, kalau nanti ada perubahan analisa yang serius maka tulisan ini akan di-update.

Jadwal Seminar Value Investing (hari Sabtu): Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Jadwal Value Investing – Advanced Class (hari Minggu): Jakarta 1 Juli, Medan 8 Juli, Surabaya 15 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

18 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Bagaimanapun juga, mengartikan data angka pengangguran hanya dengan melihat grafiknya saja itu merupakan sesuatu yang, maaf, sembrono. Sebagai orang terpelajar, seharusnya kita bisa menginterpretasikan data ini dengan lebih baik.

Pertama mari kita bahas istilah PEKERJA(AN)/EMPLOYMENT. Apa definisi BEKERJA dari data BPS ini? BPS mendefinisikannya sebagai: Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang berumur 15 tahun keatas dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 JAM DALAM SEMINGGU. Kegiatan tersebut termasuk POLA KEGIATAN TAK DIBAYAR yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi.

Jadi orang yang bekerja, entah dibayar atau tidak dibayar selama 1 jam saja dalam 7 hari itu sudah dimasukkan sebagai PEKERJA alias TIDAK MENGANGGUR.

Artinya apa? Orang yang bekerja sebagai ojek online, selebgram, vlogger, youtuber, dan orang-orang unskilled sekarang naik statusnya menjadi PEKERJA, bukan lagi sbg PENGANGGURAN.
Nah, dari sini tentu lucu kalau kita mencomot mentah2 data dari BPS. Jangan-jangan data penyerapan tenaga kerja itu terserap pada sektor-sektor tidak produktif seperti yang sudah disebutkan diatas tadi? Kalau memang benar, ya berarti ini bukan prestasi namanya. Ini kemunduran dan Indonesia dalam bahaya. Karena angkatan kerjanya dipenuhi orang-orang yang asal bekerja, sekedar mengisi waktu, punya skill rendah, yang hanya bisa nyetir sepeda motor buat nganterin barang (padahal mungkin gelarnya sarjana).

Pertanyaannya sekarang, apakah benar Unemployment Rate yang turun ini krn prestasi pemerintah akibat perbaikan ekonomi, atau malah karena banyaknya orang yg masuk dlm kategori 'yang penting kerja' diatas?

Nah, untuk menyelidiki lebih mendalam kita harus lihat datanya secara holistik. Tapi sebelumnya, kamu juga harus tahu dlm hal bekerja, badan statistik menggunakan 3 istilah:
1. Employment = Pekerjaan wajar dgn jam kerja 35 jam atau lebih per minggu. Pelakunya disebut Pekerja Penuh;
2. Unemployment = Yang masuk dalam kategori ini adalah orang2 yg bekerja kurang dari 1 jam selama seminggu. Pelakunya disebut Pengangguran;
3. UNDEREMPLOYMENT = Setengah menganggur. Pekerjaan yg membutuhkan waktu 1 jam atau lebih dalam 1 minggu (1 < x < 35). Pelakunya disebut Pekerja Tidak Penuh. Pengemudi ojol dan selebgram masuk kategori ini.
Fyi, UNDEREMPLOYMENT sendiri dibagi menjadi 2: Disguised Unemployment dan Under Unemployment. Tapi gue nggak akan bahas ini sekarang.

Anonim mengatakan... Balas

Nah dari definisi diatas dan standard yg digunakan BPS, sekarang jelas bahwa Underemployment DIHITUNG sbg bagian tidak menganggur.

Sekarang mari kita lihat data lengkapnya. Alih-alih hanya melihat grafik angka pengangguran, kita bisa melihat gambaran utuhnya dari rate PEKERJA PENUH dan PEKERJA TIDAK PENUH dalam 3 tahun terakhir ini.
Faktanya, dari tahun ke tahun jumlah pekerja penuh ini SELALU MENURUN (catat ini!) dan pekerja tidak penuh kita selalu meningkat, painting a grim picture of the availability of permanent jobs.

2016
https://www.merdeka.com/uang/meski-pengangguran-turun-kondisi-ketenagakerjaan-ri-dinilai-rapuh.html
Pekerja penuh turun dari 69,89% menjadi 69,86%
Pekerja tidak penuh meningkat dari 30,11% menjadi 30,14%
Yup... the number of people working less than 35 hours a week rose to 36.3 million, from 35.7 million (in 2015).

2017
http://menara62.com/2017/11/11/indef-kualitas-pertumbuhan-ekonomi-dan-penyerapan-tenaga-kerja/
Pekerja penuh turun dari 72.78% menjadi 72.05%
Pekerja tidak penuh meningkat dari 27.22% menjadi 27.95%

2018
http://validnews.co/Jumlah-Pekerja-Paruh-Waktu-dan-Setengah-Menganggur-Meningkat-oUY
Pekerja tidak penuh melompat naik menjadi 31,47%.

Jadi, terjawab sudah masalah angka pengangguran BPS yang turun dari tahun ke tahun, tapi di satu sisi banyak terjadi PHK dan pabrik-pabrik besar macam Ford tutup. Ini sekaligus juga menjawab misteri kenapa sekarang banyak nongkrong mas-mas jaket hijau bersepeda motor di sekitar rumah kalian. Jika ini mau dikatakan sebuah kesuksesan pemerintah dalam menyerap tenaga kerja, maka pemerintah bisa disebut sukses besar merubah rakyatnya menjadi tukang ojek (tukang becak zaman modern) secara massal.

Anonim mengatakan... Balas

Terimaksih sama sandiaga uno pak. Karna beliau lah yang membuat indonesia maju pak.
Bukannya bapak mengidolakan sandiaga pak?

eka nanda mengatakan... Balas

Masih belum efisien pak teguh, karena indonesia
1. Belum menganut ekonomi pasar bebas, setidaknya contoh paling berhasil seperti negara Singapore, Hongkong yg barang dan jasa mengalir bebas dari dalam maupun luar negeri.
2.Ekonomi kita masih banyak di intervensi pemerintah, contohnya harga beras saja diatur. Liat saja vietnam berasnya 5k sekilo sementara indonesia 10k kilo. Kalau ekonomi kita efisien harusnya kita mengimpor beras dari Vietnam karena petani beras indonesia tidak efisien dalam memproduksi beras, bahkan setelah diberi pelatihan, subsidi. Dari sini saja apanya yg efisien.
3.Seperti yg bapak teguh katakan indonesia masih belum industrialisasi layaknya china sekarang, atau amerika tahun 50an. Indonesia terlalu bergantung pada commodity based economy seperti mining, and farming. Migrasi kita dari ekonomi agraris ke industialisasi masih tersendat kebijkan interventionist pemerintah.

Anonim mengatakan... Balas

Ha..ha..ujung-2xnya ada yang gerah dengan artikel ini dan politik lagi kapan warga indo bisa berpikir kritis & logis. Memang benar pertanyaan pontius pilatus "Apakah kebenaran itu?" benar yang bagaimana? Menurut siapa?

Anonim mengatakan... Balas

Itulah efisiensi, dimana orang tidak harus lagi bekerja 35 jam atau lebih per minggu untuk menghasilkan uang. Kenapa harus kerja puluhan jam kalau kerja hanya beberapa jam sudah bisa menghasilkan gaji yang sama bahkan mungkin lebih besar?

Anonim mengatakan... Balas

@Anonim:

Iklan Sandiaga, mas??

Anonim mengatakan... Balas

Banyak ahli pakar dadakan yg berpolitik
Contohnya yg barusan komen

Wkwkwk
Oh ironis...
Netral dulu , baru komen

Anonim mengatakan... Balas

@Anonim:jaaaah. Ada orang partai dari gerindra atau pks. Wkwkkw....
Orang kalau buta, tuli, hati batu . Udah susah.. Ane kasian ama elu

Anonim mengatakan... Balas

Saya setuju gojek atau tokopedia menaikkan efficiency (khususnya orang orang tidak perlu lagi repot repot buka toko sehingga harga dari barang barang bisa jadi lebih murah). Namun dengan catatan transaksi online ini gede sekali yah. Maka pasti akan sangat membantu. Masalahnya per 2018 transaksi e commerce online ini diprediksi hanya 114 triliun (https://www.google.co.id/amp/s/m.liputan6.com/amp/3057134/2018-transaksi-e-commerce-indonesia-akan-capai-rp-144-triliun). Taukah anda GDP Indonesia per 2016 adalah 12000triliun? Berarti nilai e commerce itu hanya kurang dari 1% dari seluruh transaksi yang ada. Angka ini tidak dapat menjadikan ekonomi lebih produktif dalam skala aggregate, karena pengaruhnya hanya kurang dari 1% bagaimana mungkin dia menjadikan inflasi lebih rendah. Inflasi adalah kenaikan harga dari barang barang pada umumnya. Inflasi yang rendah ini adalah bukti dari rendahnya daya beli masyarakat yang menimbulkan harga barang yang tidak banyak naik (inflasi rendah), serta tingkat supply yang naik (banyak orang berlomba lomba jualan tapi tidak laku akibatnya banyak yang bangkrut, boro boro naikin harga malah turun harga sampe rugi) makanya inflasinya rendah. Faktor inflasi sangat banyak sekali. Namun yang pasti inflasi rendah gara gara ekonomy efficient? Big NO NO.

Marlon mengatakan... Balas

Pak yg Murica itu maksudnya America yah?
Atau kl bener tdk salah Murica itu artinya apa Pak?

Amri Aman mengatakan... Balas

Terima kasih utk pemikiran kritis & positifnya pak. Sangat membantu & terbukti membawa keuntungan dlm bertransaksi. Selamat hari raya idul Fitri pak. Mohon maaf lahir & bathin..

Anonim mengatakan... Balas

Sayang sekali bila tulisan mas Teguh yg bagus ini diseret komentarnya untuk ke arah politik.

Saya pribadi setuju dgn mas teguh bahwa kita sudah masuk ke era ekonomi efisien saat ini.

Buat saya ini semua berkat semua pihak baik pemerintah maupun oposisi yg memberikan kritik membangun.

Untuk kasus ojek online dan taxi online tidak sedikit mereka yg bisa mencicil motor dan mobil yg mereka gunakan. Suatu hal yg mungkin sulit saat mereka bekerja sebelumnya. Banyak opal yg bekerja tidak efisien akhirnya pindah ke ojol krn lebih efisien dan membuat pendapatan mereka lebih baik.

Semua ada plus minusnya tinggal mau dibawa ke sisi positif atau ke sisi negatif dari kita pribadi yang membacanya.

Maju terus Indonesia siapa pun pemerintahnya.

PintarSaham.id mengatakan... Balas

@Anonim: Wah setiap orang mungkin punya pandangan yang berbeda termasuk dari Pak Teguh sendiri yang memiliki pandangan lain tentang perkembangan perekonomian dan saya termasuk orang yang menyukai pandangan Pak Teguh dan buku beliau yang simpel tapi dalem..mungkin karena saya aliran the future is bright and always being Mr.Brightside whereever and whenever I can. Berbeda pandangan ga masalah tapi alangkah baiknya jangan anonim sehingga terlihat lebih elegan opininya.

Saya sendiri termasuk orang yang merasakan kita bisa menjadi apapun dan smart dengan hanya bermodalkan laptop dan smartphone, bayangkan jaman dulu hape cuman sms dan telpon doank jadi kalau mau informasi cepat via internet harus ke warnet...(riweh dan ga efisien kan, btw warnet masih ada gak ya sekarang)... dan salah satu yang menurut saya bisa menjadi perhatian adalah dengan efisiennya dan egitu cepatnya informasi diterima apakah pasar modal akan menjadi efisien sesuai dengan teori keuangan yang ada? atau malah makin asimetrik informasinya...

Two thumbs up buat Pak Teguh..

mr nobody mengatakan... Balas

Bukannya ekonomi efisien itu justru mengurangi kebutuhan akan tenaga pekerja?
Menurut saya ekonomi efisien justru membuat yg kaya makin kayak yang miskin makin miskin. Kalo misalnya biasanya pak Teguh perlu bayar 20 ribu lebih mahal ketika membeli pakaian di toko,sekarang dengan belanja online pak Teguh bisa menyimpan uang 20 ribu itu.Menurut saya ekonomi efisien hanya akan mengurangi persebaran uang di masyarakat dan hanya menguntungkan sebagian pihak saja

Pak saya masih tidak paham hubungan GDP dengan hutang negara.Mengapa kadar keamanan hutang dipatok dari GDP, emangnya kita bayar hutang pakai GDP?

Anonim mengatakan... Balas

@Anonim:

Dan menurut saya, itulah yg sedang diusahakan untuk diatasi oleh pemerintah dengan mempermudah investasi. Tapi saat pemerintah mempermudah investasi, maka ada saja yang mengompori bahwa pemerintah "menjual negara".

Anonim mengatakan... Balas

Hahahaha ada yg gerah nih, santai aja mas bro sekalian, setuju atau tidak, marilah kita berbuat hal2 yg positif utk negara ini, demi kemajuan bangsa dan negara.

Anonim mengatakan... Balas

GDP suatu negara adalah kemampuan negara tsb utk menghasilkan. Bahasa awam nya "gaji", jadi kalau utang anda 30jt per bulan, tp gaji anda 100jt per bulan, problem kah?