Ebook Rekomendasi Saham edisi Desember, plus analisa window dressing dll sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber. Info telp/WA 0813-1482-2827 (Yanti).

Kemana Arah IHSG Setelah Pemilu & Pilpres?

Tak terasa sekarang sudah tanggal 15 April, dan itu artinya sebentar lagi Indonesia akan menggelar hajatan Pemilu dan Pilpres, tepatnya pada tanggal 17 April mendatang (untuk TPS luar negeri, sudah sejak 14 April kemarin). Bagi investor yang sudah lama di pasar saham, ajang pemilu sejatinya merupakan hal yang biasa karena sudah rutin dilaksanakan setiap lima tahun sekali, dan karena masih ada banyak faktor atau peristiwa penting lainnya yang juga harus diperhatikan ketika kita menganalisis arah pasar, serta menyusun strategi investasi. However, seperti yang pernah penulis sampaikan sebelumnya, kampanye Yuk Nabung Saham! oleh BEI sejak tahun 2015 lalu telah sukses menghadirkan banyak investor baru di bursa, dimana saat ini sekitar dua pertiga pelaku pasar adalah para newbie yang belum memiliki pengalaman berinvestasi di tahun-tahun pemilu sebelumnya (2014 kebelakang). Jadi pada akhirnya pertanyaan diatas tetap penting: Kemana arah IHSG setelah Pemilu tahun 2019 ini?

Nah, sebenarnya kalau kita dengar lagi apa kata Warren Buffett, yang entah sudah berapa kali melewati moment Pemilu di Amerika sejak tahun 1950-an, maka kalau beliau ditanya pertanyaan diatas, maka mungkin ia akan menjawab: ‘Arah pasar tahun ini, atau tahun depan, itu saya tidak tahu. Namun yang saya tahu adalah, pada akhirnya pasar akan bergerak naik tak peduli meski terjadi Pemilu atau peristiwa penting lainnya’.

Hanya saja, kalau penulis menjawab sama ‘tidak tahu’, lalu untuk apa ada artikel ini? Jadi biar penulis berikan jawaban yang sedikit berbeda: Dalam berinvestasi di saham, khususnya dengan metode value investing, maka kita memang tidak bisa melihat atau memprediksi arah pasar kedepan, karena biasanya kita lebih fokus ke fundamental emiten/perusahaan yang akan kita beli sahamnya. Namun demikian kita bisa melihat data historis pergerakan pasar di masa lalu, dimana jika ada pattern/pola tertentu yang terjadi secara berulang-ulang, maka besar peluang bahwa pola tersebut akan kembali terjadi di masa yang akan datang.

Karena Pemilu pertama sejak zaman reformasi digelar pada tahun 1999, maka kita bisa lihat data pergerakan IHSG minimal sejak tahun 1999 tersebut. Dan berikut datanya:

Year
Growth (%)
Year
Growth (%)
1997
-44.3
2008
-50.6
1998
-0.9
2009
87.0
1999
70.1
2010
46.1
2000
-38.5
2011
3.2
2001
-5.8
2012
12.9
2002
8.4
2013
-1.0
2003
62.8
2014
22.3
2004
44.6
2015
-12.1
2005
16.2
2016
15.3
2006
55.3
2017
20.0
2007
52.1
2018
-2.5

Okay, dari data diatas maka langsung kelihatan beberapa pattern bukan? Berikut diantaranya. Pertama, IHSG selalu naik signifikan (minimal 20%) di tahun-tahun Pemilu yakni 1999, 2004, 2009, dan 2014. Bahkan di tahun 1999, dimana ketika itu Indonesia sejatinya belum benar-benar pulih dari krisis moneter, IHSG justru mencatat kenaikan tertingginya dalam sejarah (sebelum kemudian rekor kenaikan tersebut terpecahkan persis 10 tahun berikutnya, pada tahun 2009). Kedua, kecuali sebelum tahun 2004, IHSG selalu turun pada tahun sebelum tahun pemilu, termasuk di tahun 2018 kemarin juga IHSG turun 2.5%. Penurunan ini tidak berhubungan dengan pemilu itu sendiri (ketika IHSG turun pada tahun 1998, 2008, 2013, dan 2018, penyebab penurunannya berbeda-beda), namun kemungkinan ini juga yang menyebabkan kenaikan IHSG pada tahun Pemilu-nya menjadi lebih signifikan, karena di tahun sebelumnya valuasi saham-saham menjadi lebih murah setelah IHSG itu sendiri turun. Dan ketiga, entah ini kebetulan atau bukan, tapi tahun-tahun Pemilu tidak terjadi bersamaan dengan periode krisis, resesi, atau semacamnya, melainkan ekonomi pada tahun-tahun tersebut terbilang lancar. Termasuk di tahun 1999, dimana meski di tahun 1998-nya GDP Indonesia hancur lebur (minus 13.1%), namun di tahun 1999 tersebut GDP kembali tumbuh meski hanya sekitar 1%. Sehingga ada juga teori bahwa justru event Pemilu-lah yang bikin ekonomi bertumbuh, karena ada banyak pengeluaran untuk kampanye, logistik pemilu, dst. Karena ekonomi tumbuh, maka kinerja emiten juga cenderung bagus (atau minimal pulih dibanding tahun sebelumnya, jika di tahun sebelumnya itu terjadi krisis), dan alhasil saham mereka naik. Dan ketika ada banyak saham naik secara bersamaan, maka IHSG pun turut naik signifikan.

Baiklah, lalu bagaimana untuk tahun 2019 ini? Well, mari kita cek lagi: Tahun 2018 kemarin IHSG turun, alias mirip dengan sebelum Tahun Pemilu 1999, 2009, dan 2014, dan kondisi ekonomi tahun ini bisa penulis katakan cukup baik, memang tidak sebagus tahun 2011 lalu ketika terjadi booming komoditas, tapi juga jauh lebih baik dibanding ketika Indonesia hampir saja krisis tahun 2015 lalu. Untuk kinerja emiten di tahun 2019 ini kita belum tahu bakal bagaimana (masih tunggu laporan keuangan Kuartal I 2019, sebentar lagi), tapi kalau melihat kinerja emiten-emiten besar (ASII dkk) sepanjang tahun 2018 kemarin, rata-rata laba mereka naik semua. Sehingga bisa dikatakan bahwa pattern yang terjadi sejak tahun 1999 lalu kembali terjadi di tahun 2019 ini. Dan itu artinya? Yep, di tahun 2019 ini IHSG akan naik, mungkin kenaikannya tidak akan setinggi tahun-tahun pemilu sebelumnya, namun kecuali ada force majeure tertentu, maka juga kecil kemungkinan IHSG akan tumbuh negatif.

Astra International, yang merupakan 'miniatur ekonomi Indonesia', membukukan kenaikan laba dobel digit serta ROE diatas 15% sepanjang tahun 2018

Terakhir, mungkin ini tidak begitu diperhatikan orang, namun di pemilu-pemilu sebelumnya selalu muncul optimisme di masyarakat bahwa setelah Pemilu itu sendiri dilaksanakan, maka kondisi ekonomi dll akan lebih baik, karena memang semua politisi berlomba-lomba memberikan janji manis kepada konstituennya, seperti bahwa mereka akan membuka lapangan pekerjaan, sembako murah, dan seterusnya. Anda mungkin masih ingat di tahun 1999 lalu (penulis sendiri ketika itu masih SMP, tapi saya masih mengingatnya sampai sekarang), dimana dalam kondisi ada jutaan orang yang terkena PHK, maka munculnya tokoh politik tertentu yang mengatakan bahwa ia bisa memperbaiki keadaan akan otomatis disambut hangat, dan semua orang mendadak menjadi optimis kembali.

Namun sejak tahun pemilu 2014 lalu, trend ‘munculnya optimisme’ di masyarakat ini mulai berubah: Bukannya disambut hangat, kehadiran pemilu justru menimbulkan kekhawatiran bahwa akan terjadi kerusuhan atau semacamnya, karena ‘perang’ antara kubu-kubu yang bertarung di pemilu/pilpres itu sendiri semakin terasa di masyarakat, terutama karena kehadiran media sosial. Dengan kata lain, jika di pemilu-pemilu sebelumnya masyarakat optimis bahwa setelah pemilu tersebut, keadaan akan menjadi lebih baik, maka sejak lima tahun lalu, orang justru khawatir bahwa keadaan akan menjadi lebih buruk setelah pemilu. Ini juga yang mungkin menjelaskan, kenapa kenaikan IHSG di tahun 2014 tidak setinggi tahun-tahun pemilu sebelumnya (meski sejatinya, kenaikan sebanyak 22.3% tetap terbilang tinggi).

But still, di tahun 2014 tersebut IHSG tetap naik signifikan. Dan meski suhu politik dalam negeri beberapa tahun terakhir ini terasa lebih panas dibanding sebelumnya, namun tetap saja tidak sepanas tahun 1998 – 1999 lalu dimana ketika itu ada banyak aksi massa yang menimbulkan korban jiwa (istilahnya John D. Rockefeller, there’s blood in the street). Atau kalau mau perbandingan yang lebih ekstrim lagi, panasnya suhu politik sekarang ini juga gak ada apa-apanya dibanding dibanding krisis politik di Indonesia tahun 1966 lalu (peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru), dimana ketika itu tak kurang dari setengah juta jiwa penduduk Indonesia meninggal dunia karena kekerasan dll, dan jutaan lainnya nyaris kelaparan karena harga beras sangat mahal. Actually, penulis termasuk yang melihat bahwa politik Indonesia sekarang ini tampak ‘berisik’ dan ‘mengkhawatirkan’ hanya karena kehadiran medsos saja. Karena dilihat dari sisi manapun, kondisi Indonesia hari ini sangat-sangat berbeda dibanding tahun 1998 atau 1966 tersebut.

Jadi kesimpulannya, still there’s nothing to worry about. Dan karena sebentar lagi kita akan memasuki musim laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2019, maka setelah mencoblos tanggal 17 April nanti, mari kita kembali ke pekerjaan rutin kita sebagai investor: Menganalisa laporan keuangan, pilih yang LK-nya bagus, hitung valuasinya, tentukan saham-saham yang akan anda beli, lalu buat keputusan, done! Setelah itu? Ya liburan lagi!

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 akan terbit hari Selasa, 7 Mei 2019 mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara pre-order, pada link berikut.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

1 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Makasih sharingnya pak