Telkom

Saham PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, atau PT Telkom (TLKM) menjadi pusat perhatian setelah pada bulan September kemarin terus turun hingga sempat menyentuh 2,540 secara intraday, yang merupakan posisi terendahnya dalam 5 tahun terakhir. Sehingga banyak yang kemudian menyebut bahwa TLKM sekarang sudah murah, tapi benarkah demikian? Lalu bagaimana dengan rencana IPO anak usaha TLKM, PT Mitratel?

***

Ebook Investment Planning (EIP) yang berisi kumpulan 30 analisis saham pilihan edisi Kuartal III 2020 akan terbit hari Minggu, 8 November 2020. Anda bisa preorder disini, tersedia diskon khusus selama IHSG masih dibawah 5,500.

Untuk EIP edisi sebelumnya (Kuartal II 2020) juga sudah tersedia dengan harga diskon, dan bisa diperoleh disini.

Jadwal Webinar Value Investing: Sabtu, 17 Oktober 2020, pagi pukul 09.00 WIB. Untuk bergabung, klik infonya disini.

***

Sejarah TLKM dimulai pada tahun 1965, ketika Pemerintah Republik Indonesia mendirikan PN (Perusahaan Negara) Telekomunikasi, yang bergerak di layanan telepon rumah dan kantor, yang kemudian menjadi PT Telkom pada tahun 1991. Pada tahun 1995, seiring dengan mulai berkembangnya teknologi telepon seluler, PT Telkom mendirikan anak usaha PT Telkomsel yang fokus di layanan telepon seluler itu tadi, dan di tahun yang sama perusahaan listing di bursa dengan kode TLKM. Kemudian dengan dukungan penuh dari Pemerintah, TLKM banyak mengerjakan infrastruktur IT (information technology), seperti meluncurkan satelit, dan membangun jaringan kabel optik bawah laut.

Namun hingga awal dekade 2010-an, pendapatan perusahaan hampir sepenuhnya hanya berasal dari layanan telpon rumah, kantor, dan seluler. Dan karena layanan yang diberikan oleh TLKM (dan Telkomsel sebagai anak usahanya) juga sudah relatif menjangkau seluruh Indonesia, maka kinerja perusahaan cenderung stagnan, dan hal itu berpengaruh pada pergerakan sahamnya. Yup, setelah jatuh ke posisi 1,100-an (sudah disesuaikan dengan stocksplit) pada titik terendah krisis 2008, maka ketika IHSG terbang di tahun 2009-nya, TLKM juga ikut naik tapi hanya sampai 2,000 saja (sebagai perbandingan, saham bluechip lainnya yakni Gudang Garam (GGRM), dia terbang dari 4,000 sampai 20,000 lebih, antara tahun 2008 - 2009).

Dan memasuki tahun 2010 – 2011, meski IHSG ketika itu masih melanjutkan kenaikannya, tapi TLKM malah turun sendiri hingga mentok di 1,400-an pada akhir tahun 2011. Ketika penulis membahas sahamnya pada tahun 2011 lalu, bisa anda baca lagi disini, saya mengatakan bahwa meski fundamental TLKM tidak bisa disebut jelek, tapi dia kalah jauh dibanding saham-saham big caps lainnya seperti BBRI, ASII, atau UNVR, dan tidak cocok untuk long term, karena itu tadi: Dia sudah mentok, dan tidak bisa tumbuh lebih besar lagi.

Namun seperti yang kita ketahui, sejak awal dekade 2000-an, penggunaan internet mulai berkembang pesat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Terkait hal ini, TLKM sejak dini sudah mulai membangun infrastruktur broadband yang menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi (masih ingat jaman-jaman anda gak bisa nonton Youtube karena lemot minta ampun? Nah, TLKM adalah perusahaan pertama yang merintis pembangunan fasilitas internet di Indonesia, yang memungkinkan kita bisa streaming Youtube dengan lancar sekarang ini), dan infrastruktur tersebut selesai dibangun dan mulai beroperasi pada tahun 2011. Yep, jadi memasuki tahun 2012-nya, TLKM punya sumber pendapatan baru, yakni jualan kuota internet dan layanan-layanan lainnya yang terkait, diluar bisnis tradisionalnya yakni layanan telepon.

Dan hasilnya, TLKM membukukan laba bersih Rp12.8 trilyun di tahun 2012, naik signifikan dibanding 2011 sebesar Rp10.9 trilyun, dan terus kembali naik di tahun-tahun berikutnya hingga mencapai Rp22.1 trilyun pada tahun 2017. Sedangkan sahamnya? Ya otomatis terbang, dari 1,400 pada Februari 2012, hingga hampir saja tembus 5,000 pada Agustus 2017. TLKM juga kemudian dikenal sebagai salah satu BUMN yang paling royal dividen, memiliki reputasi baik, dan menjadi menu wajib bagi para fund manager pengelola reksadana saham. Pada perkembangannya, TLKM kemudian memiliki lima segmen operasi: Seluler, fixed broadband (Indihome dkk. Termasuk bisnis asli TLKM yakni telepon rumah/kantor, juga dimasukkan kesini), bisnis enterprise, wholesale and international business termasuk jasa penyewaan menara telekomunikasi, dan bisnis digital termasuk platform e-commerce BLANJA.com.

Tapi memasuki 2018, laba perusahaan kembali turun. Penulis tidak menemukan penyebab logis dibalik penurunan tersebut, karena kalau dikatakan bahwa TLKM sekarang menghadapi persaingan yang lebih ketat dari banyak kompetitor, seperti Indosat dan XL Axiata, maka nyatanya sampai hari ini TLKM masih sangat mendominasi industri IT di Indonesia, dengan pangsa pasar minimal 60% untuk seluruh segmen operasinya. Tapi memang sejak tahun 2016 sampai 2019 kemarin, TLKM memang banyak berinvestasi di pembangunan kabel optik, peluncuran satelit, anak usahanya yakni PT Telkomsel memenangkan tender spektrum sebesar 30 MHz di frekuensi 2.3 GHz (saya juga gak ngerti apa maksudnya ini, tapi intinya bagus lah), meningkatkan pelanggan Indihome hingga tembus 7 juta pelanggan, mengakuisisi 2,100 menara telekomunikasi dari PT Indosat, hingga membangun 20,000 lebih menara telekomunikasi milik sendiri.

Jadi bisa dibilang bahwa dalam 5 tahun terakhir, manajemen TLKM bekerja lebih keras dibanding biasanya. Sehingga mungkin, karena kesemua investasi diatas membutuhkan biaya besar sedangkan hasilnya baru akan kelihatan nanti, maka imbasnya kinerja TLKM jadi jalan ditempat. Tapi jika pada akhirnya nanti kesemua proyek diatas sudah menghasilkan, maka laba perusahaan akan naik lagi.

Dampak Covid-19

Dan meski posisi saham TLKM sekarang ini tampak sudah sangat rendah, total turun lebih dari 40% dibanding posisi puncaknya pada 2017 lalu, tapi ketika IHSG crash di bulan Maret 2020 lalu, maka saham TLKM termasuk yang kuat bertahan dengan hanya turun sampai 2,600-an saja, sebelum kemudian langsung naik lagi ke 3,300-an ketika pasar rebound di bulan Aprilnya. Sehingga, jika dihitung hingga bulan April tersebut, maka TLKM hanya turun sekitar 15% sejak awal tahun. Sebagai perbandingan, bahkan saham Bank BRI (BBRI) turunnya lebih dari 30% (dari 4,400 sampai 3,000) pada periode yang sama, dan demikian pula saham-saham lainnya, entah itu bluechip ataupun second liner, rata-rata anjlok 50% atau lebih. Kuatnya posisi saham TLKM ini adalah karena sejak awal muncul ekspektasi bahwa sebagai perusahaan IT, kinerja TLKM tidak terdampak negatif oleh pandemi Covid, malah justru diuntungkan dimana kebutuhan kuota internet melejit karena orang-orang sekarang harus work from home. Faktanya, persis pada tanggal 30 April 2020, saham TLKM bahkan sempat naik sendiri sampai 3,500, karena adanya ekspektasi bahwa setelah sebelumnya labanya turun terus, maka barulah di tahun 2020 ini, laba TLKM akan naik.

Tapi ketika laporan keuangan (LK) TLKM untuk Kuartal I (Q1) 2020 akhirnya dirilis, dan ternyata laba TLKM masih turun, maka barulah saham TLKM macet di 3,100-an, meski juga tidak turun. Karena, mengingat peraturan work from home dll baru mencapai puncaknya pada Kuartal II, maka mayoritas investor masih berharap bahwa laba TLKM tetap akan naik pada Q2 2020. However, setelah pada awal Agustus lalu, kinerja TLKM di Q2 kembali tidak sesuai harapan dimana labanya masih turun (albeit turunnya tipis cuma 0.8%, sehingga lebih cocok disebut stagnan), maka kemungkinan investor menjadi give up sama sekali. Sebab memasuki Q3, seiring dengan penerapan new normal dimana para pekerja juga sudah mulai masuk kantor lagi, maka ya sudah, sepertinya memang kinerja TLKM akan kembali turun di tahun 2020 ini.

Prospek TLKM: Masih Oke!

Namun pada analisis yang penulis sampaikan di EIP Q2, saya katakan bahwa meski fundamental TLKM belum sesuai ekspektasi, tapi prospeknya tetap cerah, karena pandemi Covid telah menyebabkan perubahan permanen terhadap kebutuhan masyarakat akan layanan IT. Contohnya, sejak seminar tatap muka tidak lagi bisa lagi dilakukan karena efek pandemi, maka layanan kelas webinar langsung booming. Dan penulis kira kelas-kelas webinar, termasuk konten video di Youtube tetap akan ramai bahkan ketika nanti seminar tatap muka kembali bisa diadakan, karena memang webinar ini memiliki kelebihan dalam hal jangkauannya yang tidak dibatasi oleh jarak dan waktu. Yang itu artinya, ketika kebutuhan kuota internet melejit karena peristiwa pandemi, maka ketika nanti pandeminya berakhir, volume kebutuhan internet ini tidak akan turun lagi, dan tetap akan lanjut naik dalam jangka panjang.

Sehingga, meski kinerja TLKM masih belum sesuai harapan hingga Q2 kemarin, tapi kinerja tersebut tetap berpeluang untuk naik, terutama karena seperti yang disebut diatas, TLKM sebenarnya sejak sebelum pandemi ini sudah banyak membangun ini itu untuk menyambut era industry 4.0, jadi tinggal tunggu hasilnya saja, kalau nggak di tahun 2020 ini ya 2021 nanti. Malah jika dibanding saham perbankan, misalnya, yang prospeknya masih abu-abu karena pandeminya sampai hari ini belum benar-benar berakhir, maka prospek TLKM tentu saja lebih baik.

Hanya memang, sekali lagi karena kinerja perusahaan sampai Q2 belum sesuai ekspektasi, melainkan sama saja turun seperti perusahaan-perusahaan lain, sedangkan valuasi TLKM sejak awal tidak terlalu murah karena belum turun terlalu dalam, maka dalam hal ini harga beli ideal untuk sahamnya harus diturunkan. Sebab pada harga 3,000-an, PER dan PBV TLKM tercatat masing-masing 13.5 dan 3.1 kali, dimana meski itu tidak bisa disebut mahal juga (biasanya PBV TLKM diatas 4 kali), tapi boleh anda bandingkan dengan misalnya BBNI dan GGRM, yang sama-sama bluechip namun sudah jauh lebih murah.

Okay, lalu turunnya sampai berapa? Well, let say sampai PER-nya 10 – 11 kali, alias 2,200 – 2,400. Dalam hal ini penulis tidak mengatakan bahwa TLKM akan kesitu, karena pada akhirnya, kita gak bisa prediksi harga saham. Melainkan, jika TLKM tidak kesitu sebelum perusahaan akhirnya membukukan kenaikan laba di laporan keuangannya, entah itu di Q3 atau lebih lama lagi, maka boleh pertimbangkan saham lain dulu. Nah, tapi bagaimana kalau saya sejak awal sudah pegang dan nyangkut? Maka hold saja, tapi anda baru boleh average down jika terjadi minimal salah satu dari dua skenario berikut: 1. TLKM turun sampai 2,400, atau 2. Perusahaan pada akhirnya membukukan kenaikan kinerja/laba.

Tapi bagaimana jika saham TLKM tidak pernah turun sampai kesitu, melainkan mentoknya di di posisi sekarang 2,600-an, kemudian di Q3 nanti kinerja perusahaan naik? Maka, jika anda belum masuk dan bisa komitmen untuk long term, boleh beli separuh dulu di harga sekarang, kemudian lihat saja perkembangannya di Q3 atau Q4 nanti. Sebab kalau melihat historis valuasinya selama ini, maka PER TLKM dalam kondisi pasar yang normal adalah 14 – 16 kali, alias harga 3,100 – 3,500 berdasarkan kinerjanya di Q2. Yup, jadi pada harga 2,680, TLKM sudah murah, dan kalau benar dia ke 2,400 maka tentunya jadi lebih murah lagi. Yang sekarang dibutuhkan adalah kinerjanya naik saja, dan barulah investor akan kembali confident dengan prospek jangka panjangnya. Malah, jika TLKM bisa mengakhiri tahun 2020 ini dengan kenaikan laba bersih sebesar 20% dibanding 2019 (bisa saja kan? Toh tahun 2020 masih ada dua kuartal lagi), maka sahamnya tidak akan butuh lama untuk naik sampai 4,000, yang mencerminkan PER sekitar 16 kali.

Kemudian, let say besok-besok TLKM ke 2,400, atau bahkan 2,200. Lalu bagaimana kita bisa yakin kalau itu bottom-nya? Tentunya itu juga tidak bisa kita prediksi, dimana kalau nanti TLKM kesitu maka pasti ada saja orang yang bilang bahwa dia bakal ke 1,500. Tapi boleh anda lihat lagi: TLKM baru turun signifikan sekarang ini, setelah IHSG memang anjlok sampai hampir 10% sepanjang September kemarin. Artinya, jika pasarnya aman-aman saja, maka TLKM juga tidak punya alasan untuk turun, bahkan meski kinerjanya belum sesuai ekspektasi. Sedangkan kalau pasar/IHSG-nya turun, maka sedalam apapun penurunannya, pada akhirnya dia akan naik lagi, dan demikian pula TLKM akan ikut naik. Asumsi ini memang bisa berubah jika pada Q3 nanti, TLKM ternyata membukukan penurunan kinerja yang lebih buruk lagi, dimana misalnya labanya anjlok 20 - 30%, atau lebih besar lagi. Tapi tentu, kecil kemungkinan itu untuk terjadi.

Okay, terakhir Pak Teguh, bagaimana dengan rencana IPO PT Mitratel? Nah, informasi terakhir dari perusahaan menyebut bahwa itu masih wacana, dan belum ada jadwal yang pasti. Kemudian kalaupun nanti Mitratel jadi IPO, maka bahkan kalau dari hasil IPO-nya perusahaan dapet tambahan modal Rp1 – 2 trilyun, maka itu nggak signifikan dibanding ekuitas TLKM yang mencapai Rp95.9 trilyun per Q2 2020. Jadi ya, soal Mitratel ini gak penting, mending kita fokus lagi pada planning yang sudah disampaikan diatas.

***

Ebook Market Planning yang berisi analisa IHSG & rekomendasi saham edisi Oktober 2020 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon khusus selama IHSG dibawah 5,500, dan juga gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk subscriber.

Jadwal Webinar: Sabtu, 17 Oktober 2020, pagi pukul 09.00 WIB. Untuk bergabung, klik infonya disini.

Komentar

Ibrahim F mengatakan…
Tahun 2020 tinggal 1 kuartal lagi pak šŸ˜

Btw, terkait kinerja, apakah mungkin ada imbas dari sisi kualitas manajemen pak?
Anonim mengatakan…
Terimakasih banyak pak pandangannya, saya termasuk pemegang setia TLKM yg tetap sabar dibully sana sini ��

ARTIKEL PILIHAN

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Special Report: Menggali Laporan Keuangan Hanson International

Membedah Laporan Keuangan Jiwasraya

Seminar: Berburu Saham ‘Mutiara Terpendam’

Peluang Mutiara Terpendam di Saham Batubara

Kasus Jiwasraya & Bumiputera, dan Saham Gorengan

Hanson International vs OJK