Menghitung Nilai Wajar BRI Syariah Pasca Merger

Setelah pada 13 Oktober lalu, Bank BRI Syariah (BRIS) mengumumkan secara resmi kepastian rencana merger-nya dengan Bank Syariah Mandiri (BSM), dan Bank BNI Syariah (BNIS), maka seminggu kemudian, pada 21 Oktober, perusahaan merilis informasi rancangan merger tersebut, yang menjelaskan tentang mekanisme penggabungan, siapa dapat apa, berapa jumlah saham baru yang akan diterbitkan, dan seterusnya. Dari informasi inilah, kita kemudian bisa dengan jelas menganalisa prospek BRIS pasca merger-nya nanti, dan berikut analisa selengkapnya.

*** 

Ebook Investment Planning yang berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi Kuartal III 2020 akan terbit tanggal 8 November mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

Video Seminar Value Investing, basic and advanced, bisa diperoleh disini. Alumni bisa bergabung dengan layanan webinar (jadwal berikutnya, Sabtu, 21 November) secara gratis.

***

Ketika dua atau lebih perusahaan digabung/di-merger menjadi satu entitas baru, maka pertama-tama nilai wajar dari kesemua perusahaan yang akan digabung tersebut dihitung. Dan berdasarkan laporan dari tiga Kantor Jasa Penilai (KJP) yang ditunjuk, disebutkan bahwa nilai pasar wajar dari BRIS, BSM, dan BNIS adalah masing-masing Rp7.8 trilyun (setara Rp781 per saham), Rp16.3 trilyun, dan Rp8.0 trilyun, sehingga totalnya Rp32.1 trilyun. Berdasarkan laporan keuangan dari ketiga perusahaan pada Kuartal II 2020 (yang dijadikan dasar perhitungan nilai wajar), maka jika nilai ekuitas ketiganya digabung, totalnya adalah Rp20.4 trilyun. Thus, nilai wajar perusahaan baru hasil merger versi KJP diatas adalah setara PBV 1.6 kali (32.1 dibagi 20.4), dan menurut penulis itu masuk akal, mengingat total laba yang dihasilkan perusahaan hasil merger adalah Rp1.1 trilyun, yang mencerminkan annualized ROE 10.8%. Yang itu artinya, dengan asumsi kedepannya BRIS sebagai perusahaan baru hasil merger tetap konsisten menghasilkan ROE segitu, maka dalam waktu empat atau lima tahun kedepan, nilai ekuitas BRIS akan sudah lebih besar dibanding nilai wajarnya diatas, alias sudah break even.

Kemudian BRIS sebagai entitas yang menerima penggabungan akan menerbitkan 31.1 milyar lembar baru, yang setelah ditambah dengan jumlah saham beredar sebelumnya, totalnya menjadi 40.8 milyar lembar, belum termasuk penambahan saham dari MESOP (management and employee stock option program) untuk pegawai BRIS. Saham-saham baru ini akan diambil sepenuhnya oleh Bank Mandiri (BMRI) sebagai pemilik BSM, dan Bank BNI (BBNI) sebagai pemilik BNIS, sesuai porsi kepemilikan mereka di bank baru hasil merger. Nah, karena jumlah saham beredar BRIS nantinya adalah 40.8 milyar lembar, maka dengan ekuitas hasil penggabungan sebesar Rp20.5 trilyun, maka book value BRIS akan menjadi Rp502 per saham. Sedangkan kalau kita pakai nilai pasar wajar versi KJP, yakni Rp32.1 trilyun, maka nilai wajar saham BRIS pasca merger adalah Rp786 per saham, atau hanya naik sedikit saja dibanding sebelum merger (Rp781 per saham).

Okay, lalu berapa harga BRIS sekarang? Rp1,250, alias sudah mahal. Jadi memang yang terkadang investor masih bingung, adalah terkait fakta bahwa BRIS sebagai bank yang menerima penggabungan harus menerbitkan saham baru. Sehingga meski ekuitasnya bertambah signifikan, karena sekarang ekuitas BSM dan BNIS juga dianggap sebagai bagian dari ekuitas BRIS, tapi nilai buku dan juga nilai wajar per lembar sahamnya tidak banyak berubah, karena jumlah saham beredarnya juga meningkat.

Meski demikian, perhitungan nilai wajar diatas belum memasukkan faktor prospek BRIS yang menjadi jauh lebih baik pasca merger. You see, Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, tapi per tahun 2019 kemarin, penetrasi perbankan syariah disini hanya 8% dibanding perbankan umum (artinya dari 100 orang nasabah/debitur bank, hanya 8 diantaranya yang menjadi nasabah bank syariah), dan penyebabnya adalah karena di Indonesia belum ada bank syariah yang cukup besar, yang bisa menjaring nasabah dengan mudah. Yep, kalau anda perhatikan, maka diluar big four BCA, Mandiri, BRI, dan BNI, maka hampir semua bank-bank lainnya di Indonesia, termasuk yang syariah, cenderung struggle untuk sekedar menerima nasabah yang mau menabung disitu.

Tapi jika BRIS nanti menjadi bank besar, dengan kantor cabang dan mesin ATM yang juga mudah ditemukan di banyak tempat, maka BRIS akan lebih mudah dalam mengembangkan usahanya. Actually, hal yang sama juga terjadi pada Bank Mandiri, yang sejatinya merupakan penggabungan dari empat bank swasta kecil yang bangkrut pada krisis moneter 1998 lalu (sehingga keempat bank ini kemudian diambil alih pemerintah, dan di-merger), dan memang setelah digabung inilah, BMRI pada hari ini sukses menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia.

Dan karena minat masyarakat muslim untuk bertransaksi syariah dalam beberapa tahun terakhir memang meningkat, terlihat dari pertumbuhan pembiayaan dan dana pihak ketiga di perbankan syariah yang mencapai 12 – 14% per tahun dalam lima tahun terakhir (lebih tinggi dibanding pertumbuhan bank konvensional), maka tidak diragukan lagi bahwa prospek BRIS akan semakin baik, dan ROE-nya yang 10% tadi bisa naik signifikan di tahun 2021 nanti dan seterusnya, sehingga perhitungan nilai wajarnya juga akan berubah. Yup, jika katakanlah pada tahun depan setelah merger-nya tuntas, dan kinerja BRIS pasca merger memang menjadi lebih baik, maka nilai wajarnya tentu tidak lagi hanya Rp786 per saham, melainkan lebih dari itu. Sebagai perbandingan, saham BTPN Syariah (BTPS), yang kinerjanya selama ini memang lebih baik dibanding BRIS, maka valuasinya juga jauh lebih tinggi dibanding BRIS, dengan PBV mencapai 4 – 5 kali.

Disisi lain proyeksi ini bukannya tanpa risiko, karena mungkin juga sinergi yang diharapkan ternyata tidak tercapai, dan kinerja BRIS tetap segitu-gitu saja. Dan kalau itu yang terjadi, maka nilai wajarnya tentu tidak berubah, masih di Rp786.

Nah, sekarang kita ke sejumlah pertanyaan yang banyak diajukan terkait merger BRIS ini:

Kapan proses merger BRIS selesai? Dan bagaimana proyeksi pergerakan sahamnya sampai tanggal selesainya merger tersebut?

Menurut rencana, tanggal efektif penggabungan adalah 1 Februari 2021, tapi bisa juga lebih lama dari itu, meski perbedaan waktunya gak akan terlalu jauh (mungkin diundur jadi Maret, atau April). Selama merger-nya masih on progress, maka pergerakan saham BRIS di pasar akan dipengaruhi oleh isu/berita/rumor yang beredar terkait prospeknya pasca merger dll, yang karena hampir semuanya menyebutkan bahwa prospeknya bagus, maka BRIS juga tidak akan turun sampai ‘harga wajar’-nya yakni 786 itu tadi, tapi untuk turun misalnya sampai 1,000, maka itu masih mungkin. Disisi lain, jika pemberitaan yang beredar menyebut bahwa prospek BRIS ini bakal lebih bagus lagi, maka bisa juga BRIS bertahan di kisaran harganya sekarang (1,200), atau naik lagi.

Dan setelah nanti mergernya akhirnya tuntas, maka investor akan kembali fokus ke perkembangan kinerja/laporan keuangan perusahaan, dimana jika hasilnya bagus/ROE-nya meningkat, maka saham BRIS juga akan bertahan minimal di harga sekarang, alias tidak turun lagi, dan selanjutnya dia akan pelan-pelan naik dalam jangka panjang. Tapi jika misalnya hingga akhir 2021 nanti, kinerja BRIS belum berubah signifikan, maka sahamnya akan pelan-pelan turun, seiring dengan meredupnya optimisme investor terhadap prospek perusahaan.

Jadi apa yang harus saya lakukan?

Sebagai anak usaha dari bank terbesar di Indonesia (BBRI), plus merupakan satu dari hanya dua bank syariah di BEI (satunya lagi BTPS. Sebenarnya ada satu lagi yakni Bank Panin Syariah/PNBS, tapi sahamnya mati di gocap), maka BRIS ini sejak IPO-nya di harga 550 tahun 2018 lalu sudah merupakan salah satu saham paling populer di bursa, karena kalau ada investor yang pegang rekening syariah yang mau beli saham bank, maka pilihannya ya cuma BRIS ini saja (atau BTPS). Unfortunately, karena secara fundamental BRIS ini sebenarnya kurang bagus (dulu pernah dibahas disini), maka sahamnya bukannya naik tapi justru turun, hingga mentok di 155 pada Maret 2020 lalu. Namun karena pada harga segitu, valuasi BRIS sudah amat sangat murah, plus kinerjanya pada tahun 2020 ini secara tidak terduga justru membaik ketika bank-bank lainnya mengalami penurunan laba, maka jadilah sahamnya naik lagi, dan ada banyak investor yang sudah membeli BRIS ini di harga 200, 300, atau 400, dan masih pegang sampai hari ini. Para investor ini membeli BRIS bukan karena rencana merger-nya, tapi murni berdasarkan analisa fundamental perusahaan.

Nah, jadi kalau anda termasuk yang sudah pegang BRIS ini sejak harga 400-an atau lebih rendah lagi, maka ya sudah hold saja. Karena apapun skenario yang terjadi pada BRIS kedepannya, tapi tidak ada skenario bahwa dia bakal turun lagi kesitu, sedangkan skenario terbaiknya adalah bahwa BRIS ini akan terus bertumbuh hingga benar-benar menjadi bank besar (mungkin bisa jadi bank terbesar kelima di Indonesia, setelah big four) dalam jangka panjang. However, jika harga beli anda diatas itu, atau lebih spesifiknya diatas harga wajar versi KJP diatas yakni Rp786 per saham, maka barulah anda harus hati-hati dengan proses merger-nya (apakah bisa tuntas tepat waktu atau tidak), plus kinerjanya pasca merger nanti. Karena jika kinerja perusahaan tidak sesuai ekspektasi, maka BRIS otomatis akan turun lagi secara terus menerus seperti di tahun 2018 – 2019 lalu, hingga dibawah 786 juga bisa saja, karena sejak awal valuasinya sekarang ini terbilang premium.

Dari tiga bank pemilik BRIS pasca merger nanti, yakni Bank BRI, Bank Mandiri, dan Bank BNI, maka bank mana yang paling diuntungkan jika merger ini memang berdampak positif terhadap fundamental BRIS itu sendiri?

Meski BRIS menjadi bank yang menerima penggabungan, tapi karena bank terbesar dari ketiga bank yang digabung adalah BSM, maka Bank Mandiri sebagai pemilik BSM juga akan menerima porsi saham terbesar di BRIS pasca merger, tepatnya 51.2%. Yup, jadi nantinya BRIS tidak hanya berganti nama, tapi pemegang saham pengendalinya juga berubah dari sebelumnya Bank BRI, menjadi Bank Mandiri (albeit BBRI dan BBNI juga tetap mengendalikan perusahaan, hanya porsi kendalinya tidak sebesar BMRI). Sehingga, jika BRIS sukses menjadi bank besar, maka dalam hal ini yang paling diuntungkan adalah Bank Mandiri.

Seberapa besar dampak merger ini terhadap Bank BRI, Bank Mandiri, dan Bank BNI sebagai pemilik dari BRIS?

Nilai aset BRIS pasca merger (per Kuartal II 2020) adalah Rp221 trilyun, dan itu memang cukup besar, tapi masih jauh lebih kecil dibanding total aset dari BBRI, BMRI, dan BBNI itu sendiri, yang mencapai Rp3,599 trilyun. Jadi kalaupun BRIS sukses berkembang, tapi dampaknya terhadap ketiga bank induknya tidak akan terlalu besar.

Okay, penulis kira sudah cukup. Dan ntuk memperoleh dokumen informasi merger-nya untuk nanti anda analisa sendiri, maka download file-nya disini, lalu boleh anda sampaikan kesimpulan analisanya melalui kolom komentar dibawah, silahkan!

***

Ebook Market Planning edisi November 2020 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

Komentar

Ibrahim F mengatakan…
Bagaimana dampak ketentuan freefloat 7,5% pak mengingat based on struktur shareholder pasca merger yg telah dipublikasikan saham yg beredar di masyarakat hanya sekitar 4%?
Arif N mengatakan…
KJPP pak bukan KJP
Anonim mengatakan…
4 bank yg merger mandiri bukan bank swasta yang kecil-kecil tapi 4 bank bumn yang besar. BBD, BDN, EXIM, dan Bapindo bukanlah bank-bank yang kecil ketika itu. mereka setara dgn BRI, BNI, BTN. Dan kenapa BRI dan BNI gak ikutan merger. krn BNI sudah go publik jadi lebih rumit prosesnya kalo ikutan merger dan BRI emang dari awal fokusnya jadi banknya wong cilik pedesaan dan BTN emang fokusnya utk kredit rumah. keempat bank mandiri itu emang dari awal adalah bank-bank segmen korporasi yang kemudian mengalami masalah karena imbas krisis 1998.

ARTIKEL PILIHAN

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Peluang Mutiara Terpendam di Saham Batubara

Seminar: Berburu Saham ‘Mutiara Terpendam’

Webinar Value Investing, Sabtu 19 Desember 2020

Peluang Multibagger di Saham yang Terdampak Covid-19

Alasan Utama Kenapa W. Buffett Terus Menjual Saham, dan Menambah Cash