Saham Tidak Bayar Dividen, Apakah Masih Layak Investasi?

Pak Teguh, sekarang ini kan lagi musim pembayaran dividen, tapi saya perhatikan tidak semua emiten/perusahaan di BEI membayar dividen ke investornya. Jadi untuk saham yang tidak bayar dividen ini, what’s the point of owning it? Betul, selain dividen maka investor juga mendapat keuntungan dalam bentuk capital gain, yakni jika harga sahamnya di pasar naik, tapi keuntungan itu kan hanya akan terealisasi jika kita jual sahamnya, jadi beda dengan dividen yang ditransfer secara langsung dan tunai ke rekening investor. Mohon penjelasannya pak?

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi terbaru Q1 2024 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

***

Jawab:

Bagi investor, memiliki saham dari perusahaan yang tidak bayar dividen adalah kurang lebih sama seperti memiliki logam mulia/emas. Perhatikan: Emas tidak bayar dividen. Emas hanya menghasilkan keuntungan tunai jika dijual pada harga yang lebih tinggi dibanding harga belinya. Meski demikian emas tetap menjadi instrumen investasi yang populer karena harganya hampir selalu naik, baik itu dalam mata uang Rupiah ataupun Dollar, dalam jangka panjang.

Ilustrasi logam mulia/perhiasan emas. Sumber: Materi public expose PT Hartadinata Abadi, Tbk

Hanya bedanya, harga emas sejatinya tidak benar-benar naik. Harga emas tampak naik karena dampak inflasi yang menurunkan nilai mata uang. Atau dengan kata lain, sebenarnya nilai Rupiah/Dollar yang turun, bukan harga emas yang naik. Sedangkan untuk perusahaan yang bagus, maka nilai aset bersih/ekuitasnya akan naik terus karena akumulasi laba bersih. Dan actually kenaikan ekuitas itu bisa lebih tinggi jika perusahaan tidak menggunakan laba bersihnya untuk bayar dividen. Pada ulasan minggu lalu tentang saham PT Mulia Boga Raya (KEJU), saya menulis disitu bahwa ekuitas perusahaan sukses tumbuh pesat dari Rp441 miliar di tahun 2020, menjadi Rp711 miliar per tanggal 31 Maret 2024. Dan meski untuk tahun buku 2020 dan 2021, perusahaan tidak bayar dividen, namun untuk tahun buku 2022 KEJU membayar dividen total Rp113 miliar. Yang itu artinya jika perusahaan kemarin tidak membayar dividen tersebut, maka ekuitasnya pada saat ini akan tercatat Rp824 miliar (711 + 113), alias tumbuh lebih pesat lagi. Therefore bagi investor yang pegang saham KEJU sejak tahun 2020, maka berdasarkan pertumbuhan ekuitasnya, investor tersebut pada hari ini sudah profit 61.2%, atau profit 86.8% jika perusahaan tidak bayar dividen.

Nah, jadi kenapa kita membeli saham tertentu meskipun perusahaannya gak bayar dividen? Ya karena alasan yang sama dengan kita pegang emas, atau class asset lain yang sejenis, yakni karena berharap harganya akan naik setelah periode waktu tertentu. Tapi bedanya, stocks are better. Karena nilai sebuah saham akan benar-benar meningkat seiring berjalannya waktu, yakni seiring meningkatnya nilai aset bersih perusahaannya itu sendiri, yang kemudian tercermin pada kenaikan harga sahamnya. Dan tujuan investasi itu sejak awal adalah untuk meningkatkan nilai aset/kekayaan yang kita miliki, dimana ‘aset’ disini tidak harus dalam bentuk uang cash/dividen. Yang itu artinya kita tidak harus menjual sahamnya untuk merealisasikan peningkatan nilai aset tersebut, kecuali jika kita memang butuh uangnya untuk kebutuhan sehari-hari, atau untuk dibelikan saham lain.

Terakhir, tentunya ini bukan berarti semua saham yang tidak bayar dividen itu layak investasi, melainkan kata kuncinya adalah ‘saham dari perusahaan yang berkinerja bagus’, yakni perusahaan yang konsisten mencetak laba bersih, dan ekuitasnya juga konsisten tumbuh karena akumulasi saldo laba bersih tersebut. Jadi kalau ada emiten gak bayar dividen karena kinerjanya memang minus/rugi, atau saldo labanya defisit, maka sahamnya justru harus dihindari. Di sisi lain perusahaan yang bayar dividen juga bukan berarti jelek, karena dividen tersebut tetap akan diterima oleh kita sebagai pemegang sahamnya (pada contoh profit dari saham KEJU diatas, maka profit yang 61.2% itu belum termasuk menghitung dividen), sehingga menjadi tambahan keuntungan diluar capital gain. Semoga bermanfaat.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi terbaru Q1 2024 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Kuartal I 2024 - Sudah Terbit!

Live Webinar Value Investing, Sabtu 27 April 2024

Indo Tambangraya Megah: Masih Royal Dividen?

Prospek Saham Samudera Indonesia (SMDR): Bisakah Naik Lagi ke 600 - 700?

Mengenal Investor Saham Ritel Perorangan Dengan Aset Hampir Rp4 triliun

Pegang Saham Unilever (UNVR) Sejak Lama di Harga Atas, Hold Atau Cut Loss Saja?

Saham Bank BRI Sudah Murah? Gimana Prospeknya?