Buletin analisis & rekomendasi saham bulanan edisi Februari 2015 akan terbit tanggal 1 Februari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini. Bonus bagi member baru: Gratis tiga edisi buletin Desember, November, dan Oktober 2014 untuk bahan bacaan.

Seminar Value Investing: Surabaya & Jakarta

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, kali ini di Surabaya dan Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Peluang Investasi di Saham-Saham Semen

Pada hari Jumat tanggal 16 Januari lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pemerintah mengintervensi industri semen dengan mengumumkan penurunan harga semen sebesar maksimal Rp3,000 per sak. Dan hasilnya mudah ditebak: Seketika itu juga saham-saham semen di BEI langsung bertumbangan. Pada hari Jumat tersebut saham Semen Indonesia (SMGR) anjlok 7.4% dari 16,200 ke 15,000, dan berlanjut turun ke level 14,100 pada hari perdagangan berikutnya. Saham-saham semen lainnya yakni Semen Baturaja (SMBR), Holcim Indonesia (SMCB), dan Indocement (INTP), tiga-tiganya juga turun antara 4.9 hingga 12.2% dalam dua hari perdagangan setelah kebijakan penurunan harga semen tadi diumumkan.

Pertanyaan Investor Pemula, dan Jawabannya (Forum)

Setiap kali penulis menyelenggarakan seminar/training value investing, penulis memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya melalui email tentang apa saja, selama itu masih ada hubungannya dengan investasi di saham. Nah, kebetulan ada satu email yang masuk yang sepertinya mewakili mayoritas pertanyaan dari teman-teman investor, khususnya investor yang merasa masih pemula alias newbie. Karena itulah, sekalian saya bikin saja artikelnya. Actually, bagi anda yang baru masuk pasar kurang dari 1 tahun, maka pertanyaan-pertanyaan soal ini dan itu memang seperti tidak pernah ada habisnya. Namun mudah-mudahan artikel ini paling tidak bisa menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tidak Apa Menjadi Berbeda, Asalkan..

Beberapa waktu lalu penulis ketemu dan diskusi dengan seorang investor senior, dan dalam diskusi tersebut kita sedikit membahas soal salah seorang investor saham paling terkenal di Indonesia: Pak Lo Kheng Hong. Menurut kawan penulis ini, LKH tidak layak disebut sebagai ‘Warren Buffett Indonesia’, karena terdapat beberapa perbedaan mendasar antara cara investasi LKH dengan Buffett. Sebagai contoh, LKH sama sekali bukan investor jangka panjang seperti layaknya Buffett. Pada tahun 2002, ketika ia membeli United Tractors (UNTR) pada harga Rp400 per saham,  hanya dalam tempo 3 tahun kemudian UNTR tersebut sudah dijual. Bandingkan dengan Buffett yang sejak membeli saham Coca Cola pada tahun 1989, hingga saat ini atau lebih dari 25 tahun kemudian, saham tersebut masih dipegang.

As a Stock/Value Investor..

What my mom thinks I do

Tantangan Ekonomi Presiden Jokowi

Jumat kemarin, Presiden Jokowi meresmikan pembukaan pasar saham di hari perdagangan pertama di tahun 2015, di Gedung BEI, Jakarta. Meski sejak beberapa tahun terakhir, pembukaan pasar saham di awal tahun memang rutin dihadiri oleh Presiden RI, namun kehadiran Jokowi terasa istimewa karena kita semua tahu persis bahwa sebelumnya beliau, terkait tragedi Air Asia, sampai harus bolak-balik Papua – Jakarta – Pangkalan Bun – Surabaya, dan ke Jakarta lagi hanya dalam hitungan hari, dan itu belum termasuk melakukan tugas kenegaraan seperti menerima George Soros di Istana, rapat dengan para menteri terkait penurunan harga BBM, dan melantik beberapa petinggi TNI yang baru. Tapi toh, jumat kemarin beliau masih sempat-sempatnya mampir ke SCBD dan juga hadir tepat waktu (sebelum pasar dibuka pukul 09.00 WIB), padahal pagi harinya beliau berkunjung ke Pasar Tanah Abang dulu! Untuk blusukan seperti biasa, dan juga membuka kegiatan perdagangan di Pasar Tanah Abang tersebut.

Inspirasi Awal Tahun 2015

Beberapa waktu lalu penulis iseng-iseng membuka kembali arsip foto-foto jaman saya masih muda dulu, dan saya menemukan foto yang menarik. Nih, anda langsung lihat saja sendiri:

'Follow the Trend' dalam Analisis Fundamental

Beberapa waktu lalu penulis menerima saran dari seorang teman, ‘Mas Teguh, saya tahu Mas Teguh ini tipe value investor yang lebih banyak pake analisis fundamental. Tapi sebagaimana yang kita ketahui, di market terdapat lebih banyak trader yang pake teknikal. Jadi gimana kalau Mas Teguh nulis juga soal analisis saham dari sisi teknikal? Pasti blog-nya bakal lebih banyak lagi yang baca’

Meraup Untung dari Saham Dividen

Saham dividen, atau dividend stock, adalah istilah untuk menyebut saham yang perusahaannya membagikan dividen dalam jumlah besar, katakanlah lebih dari separuh perolehan laba bersihnya dalam satu tahun tertentu, sementara disisi lain harga sahamnya juga tidak terlalu tinggi sehingga yield-nya lebih besar dibanding saham lain pada umumnya. Contohnya? Bank BJB (BJBR). Sejak tahun buku 2007 hingga 2013, BJBR selalu membagikan dividen rata-rata sebesar 65% dari laba bersihnya di tahun yang bersangkutan. Pada tahun 2013 lalu, nilai dividen BJBR tercatat Rp78 per saham. Dengan harga saham Rp965 menjelang tanggal cum-nya, maka dividend yield BJBR adalah 965 / 78 = 0.081, alias 8.1%. Angka tersebut terbilang cukup besar jika dibandingkan dengan dividend yield dari saham-saham blue chip, yang rata-rata hanya 2 – 4%.