Book a meeting with Teguh! Baca keterangan selengkapnya disini.

'Follow the Trend' dalam Analisis Fundamental

Beberapa waktu lalu penulis menerima saran dari seorang teman, ‘Mas Teguh, saya tahu Mas Teguh ini tipe value investor yang lebih banyak pake analisis fundamental. Tapi sebagaimana yang kita ketahui, di market terdapat lebih banyak trader yang pake teknikal. Jadi gimana kalau Mas Teguh nulis juga soal analisis saham dari sisi teknikal? Pasti blog-nya bakal lebih banyak lagi yang baca’

Meraup Untung dari Saham Dividen

Saham dividen, atau dividend stock, adalah istilah untuk menyebut saham yang perusahaannya membagikan dividen dalam jumlah besar, katakanlah lebih dari separuh perolehan laba bersihnya dalam satu tahun tertentu, sementara disisi lain harga sahamnya juga tidak terlalu tinggi sehingga yield-nya lebih besar dibanding saham lain pada umumnya. Contohnya? Bank BJB (BJBR). Sejak tahun buku 2007 hingga 2013, BJBR selalu membagikan dividen rata-rata sebesar 65% dari laba bersihnya di tahun yang bersangkutan. Pada tahun 2013 lalu, nilai dividen BJBR tercatat Rp78 per saham. Dengan harga saham Rp965 menjelang tanggal cum-nya, maka dividend yield BJBR adalah 965 / 78 = 0.081, alias 8.1%. Angka tersebut terbilang cukup besar jika dibandingkan dengan dividend yield dari saham-saham blue chip, yang rata-rata hanya 2 – 4%.

Investor Meeting: Market Outlook 2015

Dear investor, tak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, yang itu artinya sebentar lagi tahun 2014 ini akan berakhir. Sejauh ini, tahun 2014 relatif merupakan tahun yang cukup baik bagi investor saham, terutama jika perbandingannya adalah tahun 2013 kemarin dimana pasar/IHSG sempat hancur lebur. Pertanyaannya, bagaimana dengan tahun 2015 mendatang? Nah, bagi anda investor yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya (dari luar kota juga boleh kalau mau datang kesini), penulis mengajak anda untuk ketemu, kumpul-kumpul dan berdiskusi soal ‘Market Outlook’ untuk tahun 2015, tentunya dari sudut pandang seorang value investor.

Prospek Saham Farmasi Terkait BPJS

Selain sektor konstruksi yang sudah kita bahas minggu lalu, email pertanyaan yang cukup sering penulis terima beberapa waktu terakhir ini adalah soal bagaimana prospek dari Kalbe Farma (KLBF), Tempo Scan Pacific (TSPC), dll, alias saham-saham farmasi, terkait program pemerintah yang dinamakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), yang sudah berjalan sejak awal tahun 2014 lalu. Kemudian sejak Jokowi dilantik sebagai Presiden tanggal 20 Oktober kemarin, tak lama kemudian beliau langsung meluncurkan program ‘kartu sakti’ andalannya, salah satunya Kartu Indonesia Sehat (KIS), yang mungkin semakin membuat anda penasaran, bagaimana kira-kira dampaknya terhadap saham-saham farmasi di BEI. Nah, sebelum itu, mari kita bahas dulu tema ‘kesehatan’ ini sejak awal.

Foto-Foto Seminar Value Investing

Dear investor, berikut ini adalah foto-foto penulis bersama para peserta seminar value investing, ketika kami melakukan ‘Value Investing Tour 2014’ mulai dari Medan, Sumatera Utara, hingga Legian, Bali, antara tanggal 30 Agustus hingga 22 November 2014. Klik tiap-tiap foto untuk memperbesar.

Medan, Sumatera Utara, 30 Agustus

Saham Terbaik di Sektor Konstruksi

Jika anda termasuk salah satu dari sekian banyak warga Indonesia yang tidak telalu terpengaruh oleh berbagai pemberitaan negatif oleh TvOon dan Metro Mini selama Indonesia dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, maka anda akan bisa melihat bahwa selama sepuluh tahun terakhir, atau khususnya dalam lima tahun terakhir (2009 – 2014), Indonesia telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam hal pembangunan infrastruktur. Yang paling gampang dilihat, Indonesia kini merupakan salah satu negara dengan jumlah bandara paling banyak di dunia, termasuk bandara internasional, dimana kebanyakan dari bandara-bandara tersebut baru dibangun dalam sepuluh tahun terakhir. Jika dulu naik pesawat terbang merupakan suatu hal yang terbilang mewah, maka pada saat ini, seperti yang dikatakan Air Asia, ‘now everyone can fly’.

Conservative? What is That?

Di hari Senin pagi yang cerah ini, di Kota Jogja yang amat sangat bersahabat ini, penulis iseng-iseng mengecek lagi harga dari saham-saham Grup Bakrie. Andd.. whoaaa.. Bumi Resources (BUMI) sepertinya tinggal selangkah lagi menuju gocap! Sebab saat ini harganya tinggal Rp103 per saham. Sebelumnya, beberapa saham Grup Bakrie lainnya seperti Darma Henwa (DEWA), Bakrie Sumatra Plantations (UNSP), Bakrie Telecom (BTEL), Bakrie & Brothers (BNBR), hingga Bakrieland Development (ELTY), mereka semua sudah lebih dulu mencapai level gocap tersebut. Dan kalau mengingat bahwa di tahun 2009 – 2010 lalu, saham-saham Grup Bakrie begitu mendominasi volume perdagangan saham di BEI dimana orang-orang bahkan lebih tertarik untuk melihat arah pergerakan BUMI ketimbang pergerakan IHSG itu sendiri, maka ini tentu saja menimbulkan pertanyaan: What the hell happen???

Prospek IPO Soechi Lines

PT Soechi Lines adalah perusahaan yang penulis sendiri baru mendengar namanya semingguan terakhir ini setelah perusahaan menggelar IPO. However, IPO Soechi mungkin menarik untuk diperhatikan mengingat perusahaan bergerak di bidang perkapalan, dan kita tahu bahwa saham-saham di sektor perkapalan di BEI terus bergerak naik dalam beberapa bulan terakhir ini karena didorong oleh sentimen positif yang timbul dari rencana serta visi Pemerintah RI, dibawah Presiden Jokowi, untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu ‘poros maritim’ dunia. Jadi pertanyaannya tentu, apakah layar Soechi juga akan ikut mengembang ketika listing perdana tanggal 2 Desember nanti?

United Tractors: Another Blue Chip Opportunity

Bicara tentang United Tractors (UNTR), maka kita berbicara tentang perusahaan terbesar di Indonesia di dua bidang sekaligus yakni jual beli alat-alat berat dan jasa kontraktor tambang batubara, dan merupakan salah satu dari sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI (berfluktuatif, terkadang UNTR keluar dari daftar sepuluh besar tersebut kalau harga sahamnya lagi turun). UNTR juga memiliki sejarah kinerja yang sangat solid dalam jangka panjang, dimana sejak industri batubara mulai booming di Indonesia sejak awal dekade 2000-an, UNTR terus berkembang hingga kini berstatus sebagai anak perusahaan sekaligus kontributor pendapatan terbesar kedua (setelah bisnis otomotif) dari Astra International (ASII). Yup, dari total pendapatan ASII senilai Rp150.6 trilyun hingga Kuartal III 2014, Rp40.8 trilyun diantaranya berasal dari UNTR.