Info Bagi Investor: Buletin analisis dan stock-pick saham bulanan edisi April 2015 akan terbit tanggal 1 April mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.

Teknik Diversifikasi Anti Pusing

Strategi diversifikasi adalah salah satu elemen penting dalam berinvestasi di saham terutama untuk mengurangi risiko kerugian, dan di blog ini kita sudah membahas tema ‘diversifikasi’ tersebut beberapa kali, contohnya pada artikel ini, dan yang ini. Mungkin perlu penulis sampaikan sekali lagi bahwa, kalau anda meniru strategi diversifikasi ala Warren Buffett, maka dalam satu waktu tertentu anda bisa memegang sekitar 15 hingga 20 saham yang berbeda dalam portofolio anda. Pada tahun 1960-an, ketika masih mengelola Buffett Partnership dengan dana kelolaan sekitar US$ 40 juta, Warren Buffett memang hanya memegang sekitar 20-an saham di dalam portofolio-nya.

Mengenal ‘Fed Rate’, dan Pengaruhnya Terhadap IHSG

Pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2015, chairwoman Federal Reserve, Janet Yellen, menyatakan bahwa The Fed (istilah populer dari Federal Reserve, yang merupakan Bank Sentral Amerika Serikat) tidak akan terburu-buru dalam menaikan suku bunga acuan, atau yang dikenal dengan istilah ‘Fed Rate’. Sesaat setelah pernyataan tersebut dirilis, indeks-indeks saham di  Benua Eropa dan juga Asia rata-rata naik signifikan . Sebelumnya, para pelaku pasar di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, khawatir bahwa jika The Fed menaikkan Fed Rate, maka dana asing yang ada di bursa saham lokal akan keluar dan berpindah ke Negeri Paman Sam. Sebab dengan suku bunga acuan yang lebih tinggi, maka dalam pandangan investor-investor global, investasi di Amerika Serikat (AS) dengan sendirinya menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, sementara disisi lain risikonya tetap dianggap sangat rendah mengingat Amerika adalah negara dengan perekonomian paling besar di dunia.

Pelemahan Rupiah, dan Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), pada tanggal 14 Maret 2015, Rupiah ditutup di posisi Rp13,191 per US Dollar, dan ini adalah posisi terendah bagi mata uang Rupiah terhadap US Dollar sejak.. well.. krisis moneter tahun 1998. Jadi meski penulis pribadi dalam satu dua tahun terakhir ini berusaha untuk tutup mata terhadap perkembangan ekonomi makro dan tetap fokus pada faktor fundamental perusahaan dalam berinvestasi di pasar saham, namun hal ini mau tidak mau tetap kelihatan, karena bahkan pada krisis global tahun 2008 sekalipun, posisi nilai tukar Rupiah tidak pernah turun sampai serendah ini. Pada puncak krisis global tahun 2008, Rupiah hanya anjlok sampai Rp12,768 per US Dollar sebagai titik terendahnya, sebelum kemudian segera balik lagi ke level normalnya yakni Rp9,000-an per US Dollar.

Join Our Team

Teguh Hidayat & Partners opens an opportunity for capital market professionals to occupy a position as a Junior and Senior Partner.

Jobdesks:
  1. Build Analysis,
  2. Provide Advice, Consulting, and Training
  3. Managing Private Investment for High Net Worth Clients (for Senior Partner only).

Show Me the Money!

Beberapa waktu lalu penulis ketemu dengan seorang kawan lama (kami rutin ketemu setiap 2 – 3 bulan sekali sambil makan-makan untuk cerita ini dan itu, sekedar ngisi waktu lah), dan seperti biasa kita ngobrol panjang lebar tentang investasi saham dan lain-lain. Kebetulan, kawan penulis ini beberapa hari sebelumnya baru saja ketemu dengan salah seorang tokoh paling hot di Jakarta: Bapak Gubernur Ahok. Jadi ceritanya salah seorang anggota keluarga dari teman penulis ini meninggal dunia, dan Pak Ahok menyempatkan diri datang untuk melayat. Dalam forum tersebut Pak Ahok banyak cerita panjang lebar ngalor ngidul, dan kesan yang diperoleh adalah: Pak Ahok ini, tidak seperti birokrat pada umumnya yang cenderung kaku, beliau orangnya asyik! Sebelumnya, teman penulis ini sama sekali gak pernah memperhatikan soal Pak Ahok ini bagaimana, namun setelah pertemuan tersebut, ia secara gamblang mengatakan bahwa ia menyukai sang Bapak Gubernur.

Bank BTN, an Opportunity for Short-Term Play

Bank BTN (BBTN) mencatatkan kinerja yang kurang bagus sepanjang tahun 2014 dimana labanya turun dari Rp1.6 trilyun di tahun 2013, menjadi hanya Rp1.1 trilyun pada tahun 2014, atau turun 28.6%. Meski tampak mengecewakan, namun faktanya ini adalah kali pertama dalam delapan tahun terakhir dimana perusahaan mencatat laba bersih yang turun dibanding tahun sebelumnya (pada tahun 2006 laba BBTN turun dibanding tahun 2005, namun itu karena pada tahun 2005 perusahaan tidak melakukan penyisihan untuk pembayaran pajak, sehingga labanya tampak sangat besar). Sementara antara 2006 hingga 2013, laba BBTN terus naik secara konsisten, demikian juga dengan ekuitasnya.

Logindo Samudramakmur

Pada hari ini, Senin tanggal 23 Februari 2015, IHSG ditutup di posisi 5,403, yang kemudian tercatat sebagai posisi tertingginya sepanjang sejarah. Dalam kondisi pasar yang kondusif seperti sekarang maka mayoritas saham-saham di BEI juga seperti berlomba-lomba untuk mencatat rekor harga tertinggi. However, beberapa saham justru mengalami cerita yang berbeda dimana mereka bukannya naik tapi malah terus turun. Dan salah satunya adalah Logindo Samudramakmur (LEAD), yang saat ini diperdagangkan di level Rp1,845 per lembar saham, atau jauuuh dibawah posisi puncaknya yang dicapai enam bulan lalu yakni 5,325. Berbeda dengan beberapa saham lainnya yang turun entah itu karena sejak awal sahamnya tidak memiliki fundamental yang bagus, atau karena perusahaan mengalami penurunan kinerja, atau karena adanya sentimen negatif tertentu, maka LEAD ini sekilas nggak punya masalah apapun. An opportunity?

'Wonderful Company at a Wonderful Price'

Warren Buffett pernah menyampaikan salah satu quote-nya yang terkenal: ‘It is far better to buy a wonderful company at a fair price, than a fair company at a wonderful price.’ Kalau kita cermati, dalam kalimatnya tersebut Buffett menyatakan bahwa ketika menyeleksi saham untuk dibeli maka kita harus memilih salah satu faktor, entah itu harga yang serendah-rendahnya ataupun kualitas fundamental perusahaan yang setinggi-tingginya. Adalah nyaris tidak mungkin bagi value investor manapun untuk bisa menemukan perusahaan dengan fundamental yang amat sangat bagus, tapi disisi lain dijual pada harga yang justru amat sangat rendah. So, dalam hal ini, Opa Warren lebih memilih ‘wonderful company at a fair price’. Jadi harga saham dari perusahaan yang sangat bagus tidak perlu terlalu murah, yang penting asal jangan terlalu mahal saja.

Saham Terbaik dari Sisi Pertumbuhan Riil Perusahaan

Jika anda hendak berinvestasi di pasar saham melalui reksadana, maka salah satu indikator utama yang dipakai dalam menentukan reksadana mana yang terbaik adalah dengan melihat track record kinerjanya dalam jangka panjang, katakanlah lima tahun terakhir. Jika CAGR (compound annual growth rate, alias rata-rata pertumbuhan tahunan) dari suatu reksadana tercatat lebih baik dari kenaikan IHSG pada periode waktu yang sama, maka simpelnya bisa kita katakan bahwa reksadana tersebut memiliki kinerja yang bagus. Jika selisihnya terbilang besar, katakanlah rata-rata 17% per tahun sementara rata-rata kenaikan IHSG pada periode yang sama hanya 7% (sehingga selisihnya mencapai 10%), maka itu lebih bagus lagi.