Book a meeting with Teguh! Baca keterangan selengkapnya disini.

Bank BTN, an Opportunity for Short-Term Play

Bank BTN (BBTN) mencatatkan kinerja yang kurang bagus sepanjang tahun 2014 dimana labanya turun dari Rp1.6 trilyun di tahun 2013, menjadi hanya Rp1.1 trilyun pada tahun 2014, atau turun 28.6%. Meski tampak mengecewakan, namun faktanya ini adalah kali pertama dalam delapan tahun terakhir dimana perusahaan mencatat laba bersih yang turun dibanding tahun sebelumnya (pada tahun 2006 laba BBTN turun dibanding tahun 2005, namun itu karena pada tahun 2005 perusahaan tidak melakukan penyisihan untuk pembayaran pajak, sehingga labanya tampak sangat besar). Sementara antara 2006 hingga 2013, laba BBTN terus naik secara konsisten, demikian juga dengan ekuitasnya.

Logindo Samudramakmur

Pada hari ini, Senin tanggal 23 Februari 2015, IHSG ditutup di posisi 5,403, yang kemudian tercatat sebagai posisi tertingginya sepanjang sejarah. Dalam kondisi pasar yang kondusif seperti sekarang maka mayoritas saham-saham di BEI juga seperti berlomba-lomba untuk mencatat rekor harga tertinggi. However, beberapa saham justru mengalami cerita yang berbeda dimana mereka bukannya naik tapi malah terus turun. Dan salah satunya adalah Logindo Samudramakmur (LEAD), yang saat ini diperdagangkan di level Rp1,845 per lembar saham, atau jauuuh dibawah posisi puncaknya yang dicapai enam bulan lalu yakni 5,325. Berbeda dengan beberapa saham lainnya yang turun entah itu karena sejak awal sahamnya tidak memiliki fundamental yang bagus, atau karena perusahaan mengalami penurunan kinerja, atau karena adanya sentimen negatif tertentu, maka LEAD ini sekilas nggak punya masalah apapun. An opportunity?

'Wonderful Company at a Wonderful Price'

Warren Buffett pernah menyampaikan salah satu quote-nya yang terkenal: ‘It is far better to buy a wonderful company at a fair price, than a fair company at a wonderful price.’ Kalau kita cermati, dalam kalimatnya tersebut Buffett menyatakan bahwa ketika menyeleksi saham untuk dibeli maka kita harus memilih salah satu faktor, entah itu harga yang serendah-rendahnya ataupun kualitas fundamental perusahaan yang setinggi-tingginya. Adalah nyaris tidak mungkin bagi value investor manapun untuk bisa menemukan perusahaan dengan fundamental yang amat sangat bagus, tapi disisi lain dijual pada harga yang justru amat sangat rendah. So, dalam hal ini, Opa Warren lebih memilih ‘wonderful company at a fair price’. Jadi harga saham dari perusahaan yang sangat bagus tidak perlu terlalu murah, yang penting asal jangan terlalu mahal saja.

Saham Terbaik dari Sisi Pertumbuhan Riil Perusahaan

Jika anda hendak berinvestasi di pasar saham melalui reksadana, maka salah satu indikator utama yang dipakai dalam menentukan reksadana mana yang terbaik adalah dengan melihat track record kinerjanya dalam jangka panjang, katakanlah lima tahun terakhir. Jika CAGR (compound annual growth rate, alias rata-rata pertumbuhan tahunan) dari suatu reksadana tercatat lebih baik dari kenaikan IHSG pada periode waktu yang sama, maka simpelnya bisa kita katakan bahwa reksadana tersebut memiliki kinerja yang bagus. Jika selisihnya terbilang besar, katakanlah rata-rata 17% per tahun sementara rata-rata kenaikan IHSG pada periode yang sama hanya 7% (sehingga selisihnya mencapai 10%), maka itu lebih bagus lagi.

Ebook Analisis Kuartal IV 2014

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal IV 2014. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten pada periode Kuartal IV 2014. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Capital Expenditure, dan Prospek Saham

Beberapa waktu lalu seorang teman bertanya kepada penulis, ‘Apa itu capital expenditure?’ Dan penulis baru sadar bahwa meski di website ini kita sudah membahas banyak hal, tapi belum pernah sekalipun membahas soal capital expenditure, atau yang biasa disingkat capex. Padahal capex adalah sesuatu yang sering sekali diperhatikan para analis ketika mereka menganalisis prospek sebuah saham, karena itu menyangkut ‘apa-apa saja yang dikerjakan perusahaan untuk memperoleh kenaikan laba di masa yang akan datang’. Karena itulah, kita juga akan membahasnya disini, tentunya menggunakan bahasa yang lebih mudah. Here we go.

Peluang Investasi di Saham-Saham Semen

Pada hari Jumat tanggal 16 Januari lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pemerintah mengintervensi industri semen dengan mengumumkan penurunan harga semen sebesar maksimal Rp3,000 per sak. Dan hasilnya mudah ditebak: Seketika itu juga saham-saham semen di BEI langsung bertumbangan. Pada hari Jumat tersebut saham Semen Indonesia (SMGR) anjlok 7.4% dari 16,200 ke 15,000, dan berlanjut turun ke level 14,100 pada hari perdagangan berikutnya. Saham-saham semen lainnya yakni Semen Baturaja (SMBR), Holcim Indonesia (SMCB), dan Indocement (INTP), tiga-tiganya juga turun antara 4.9 hingga 12.2% dalam dua hari perdagangan setelah kebijakan penurunan harga semen tadi diumumkan.

Pertanyaan Investor Pemula, dan Jawabannya (Forum)

Setiap kali penulis menyelenggarakan seminar/training value investing, penulis memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya melalui email tentang apa saja, selama itu masih ada hubungannya dengan investasi di saham. Nah, kebetulan ada satu email yang masuk yang sepertinya mewakili mayoritas pertanyaan dari teman-teman investor, khususnya investor yang merasa masih pemula alias newbie. Karena itulah, sekalian saya bikin saja artikelnya. Actually, bagi anda yang baru masuk pasar kurang dari 1 tahun, maka pertanyaan-pertanyaan soal ini dan itu memang seperti tidak pernah ada habisnya. Namun mudah-mudahan artikel ini paling tidak bisa menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tidak Apa Menjadi Berbeda, Asalkan..

Beberapa waktu lalu penulis ketemu dan diskusi dengan seorang investor senior, dan dalam diskusi tersebut kita sedikit membahas soal salah seorang investor saham paling terkenal di Indonesia: Pak Lo Kheng Hong. Menurut kawan penulis ini, LKH tidak layak disebut sebagai ‘Warren Buffett Indonesia’, karena terdapat beberapa perbedaan mendasar antara cara investasi LKH dengan Buffett. Sebagai contoh, LKH sama sekali bukan investor jangka panjang seperti layaknya Buffett. Pada tahun 2002, ketika ia membeli United Tractors (UNTR) pada harga Rp400 per saham,  hanya dalam tempo 3 tahun kemudian UNTR tersebut sudah dijual. Bandingkan dengan Buffett yang sejak membeli saham Coca Cola pada tahun 1989, hingga saat ini atau lebih dari 25 tahun kemudian, saham tersebut masih dipegang.