Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 akan terbit tanggal 11 Mei mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.

Prospek IPO PP Properti

Pada bulan April 2014 lalu, Wijaya Karya (WIKA), salah satu perusahaan BUMN di bidang konstruksi di Indonesia, meng-IPO-kan salah satu anak usahanya yaitu Wijaya Karya Beton (WTON), dimana WTON sukses meraup tambahan modal senilai Rp1.2 trilyun hasil dari menerbitkan 2 milyar lembar saham baru (dan menjualnya ke publik) pada harga Rp590 per saham. Mengingat nilai ekuitas WTON sebelum IPO hanya Rp680 milyar, dimana setelah dibagi 6.7 milyar lembar saham (jumlah saham WTON sebelum IPO) maka hasilnya adalah Rp102 per saham, maka cukup jelas bahwa investor publik telah membayar saham baru WTON pada harga yang sangat mahal, yakni nyaris 6 kali lipat lebih tinggi (590 berbanding 102) dibanding harga yang dibayar WIKA sebagai pemegang saham mayoritas dari WTON.

Ebook Analisis Kuartal I 2015

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2015. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten untuk periode Kuartal I 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

PGAS, Bluechip at Bargain Price

Warren Buffett pernah mengatakan dalam salah satu annual letter-nya, ‘Kami menyukai untuk berinvestasi pada perusahaan yang sudah berdiri dan beroperasi selama lebih dari 100 tahun. Kami tidak mau ambil risiko dengan berinvestasi pada perusahaan start-up yang belum memiliki track-record kinerja yang panjang.’ Pendek kata, Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang sudah mapan ketimbang perusahaan yang baru berdiri ‘kemarin sore’. However, ketika prinsip ini diterapkan di Indonesia maka investor mungkin akan mengalami kesulitan. Sebab, berapa banyak sih perusahaan yang listing di BEI yang sudah berusia lebih dari 100 tahun? Lha wong Republik Indonesia sendiri baru berdiri pada tahun 1945 bukan?

Terjemahan Buffett Annual Letter, Special Edition!

Tahun 2014 kemarin adalah tepat 50 tahun sejak Warren Buffett, guru besar dari investor saham di seluruh dunia, mengambil alih kepemilikan sekaligus kepemimpinan di Berkshire Hathaway. Mungkin dalam rangka merayakan 50 tahun tersebut, Buffett kemudian secara pribadi menulis ‘surat’ khusus di Berkshire Hathaway Annual Letter untuk tahun 2014, yang berisi tentang pengalaman serta kebijaksanaannya dalam berinvestasi, yang telah sukses ‘menyulap’ Berkshire dari sebuah perusahaan tekstil yang hampir bangkrut, menjadi sebuah perusahaan konglomerasi yang amat sangat besar.

Ketika Perusahaan Mengendalikan Harga Sahamnya

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan dari seorang teman (damn I have a lot of friends, thanks to this blog) yang intinya kira-kira begini, ‘Pak Teguh, di BEI ada beberapa perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan kinerja yang konsisten, valuasi sahamnya murah, dan manajemennya menerapkan GCG dengan baik. Namun sahamnya tetap saja tidak mau bergerak atau tidak likuid, salah satunya mungkin Mandala Multifinance (MFIN) yang Pak Teguh rekomendasikan.’

Seminar Value Investing: Jogja

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, kali ini di Yogyakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jogja. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Teknik Diversifikasi Anti Pusing

Strategi diversifikasi adalah salah satu elemen penting dalam berinvestasi di saham terutama untuk mengurangi risiko kerugian, dan di blog ini kita sudah membahas tema ‘diversifikasi’ tersebut beberapa kali, contohnya pada artikel ini, dan yang ini. Mungkin perlu penulis sampaikan sekali lagi bahwa, kalau anda meniru strategi diversifikasi ala Warren Buffett, maka dalam satu waktu tertentu anda bisa memegang sekitar 15 hingga 20 saham yang berbeda dalam portofolio anda. Pada tahun 1960-an, ketika masih mengelola Buffett Partnership dengan dana kelolaan sekitar US$ 40 juta, Warren Buffett memang hanya memegang sekitar 20-an saham di dalam portofolio-nya.

Mengenal ‘Fed Rate’, dan Pengaruhnya Terhadap IHSG

Pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2015, chairwoman Federal Reserve, Janet Yellen, menyatakan bahwa The Fed (istilah populer dari Federal Reserve, yang merupakan Bank Sentral Amerika Serikat) tidak akan terburu-buru dalam menaikan suku bunga acuan, atau yang dikenal dengan istilah ‘Fed Rate’. Sesaat setelah pernyataan tersebut dirilis, indeks-indeks saham di  Benua Eropa dan juga Asia rata-rata naik signifikan . Sebelumnya, para pelaku pasar di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, khawatir bahwa jika The Fed menaikkan Fed Rate, maka dana asing yang ada di bursa saham lokal akan keluar dan berpindah ke Negeri Paman Sam. Sebab dengan suku bunga acuan yang lebih tinggi, maka dalam pandangan investor-investor global, investasi di Amerika Serikat (AS) dengan sendirinya menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, sementara disisi lain risikonya tetap dianggap sangat rendah mengingat Amerika adalah negara dengan perekonomian paling besar di dunia.

Pelemahan Rupiah, dan Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), pada tanggal 14 Maret 2015, Rupiah ditutup di posisi Rp13,191 per US Dollar, dan ini adalah posisi terendah bagi mata uang Rupiah terhadap US Dollar sejak.. well.. krisis moneter tahun 1998. Jadi meski penulis pribadi dalam satu dua tahun terakhir ini berusaha untuk tutup mata terhadap perkembangan ekonomi makro dan tetap fokus pada faktor fundamental perusahaan dalam berinvestasi di pasar saham, namun hal ini mau tidak mau tetap kelihatan, karena bahkan pada krisis global tahun 2008 sekalipun, posisi nilai tukar Rupiah tidak pernah turun sampai serendah ini. Pada puncak krisis global tahun 2008, Rupiah hanya anjlok sampai Rp12,768 per US Dollar sebagai titik terendahnya, sebelum kemudian segera balik lagi ke level normalnya yakni Rp9,000-an per US Dollar.