Ebook Analisis Kuartal II 2014

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal II 2014 (Q2 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Chitose International

Apa yang terlintas di kepala anda ketika mendengar kata ‘Chitose’? Kalau penulis sih, saya langsung teringat dengan kursi-kursi lipat yang suka ada di acara-acara kondangan. Dan Chitose International (CINT) adalah memang merupakan perusahaan produsen kursi lipat (folding chair) paling terkemuka di Indonesia. Namun pada saat ini CINT tidak hanya membuat kursi lipat saja, melainkan membuat berbagai produk furniture umum untuk dijual ke perusahaan event organizer (untuk mereka sewakan ke acara pernikahan dll), gedung-gedung kantor, residensial, hotel, restoran, sekolah, hingga rumah sakit. Untuk kedepannya perusahaan masih memiliki sejumlah rencana pengembangan usaha, dimana kebutuhan dananya diperoleh dari IPO-nya pada bulan Juni 2014 kemarin.

Antara Pajak, Inflasi, dan Return Investasi

Apa itu inflasi? Saya yakin teman-teman akan setuju jika inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Tapi menurut saya itu hanya mitos. Inflasi menurut saya adalah cara pemerintah menarik pajak dari rakyatnya dengan cara mencetak uang baru sehinga jumlah uang yang beredar lebih banyak dari jumlah barang yang beredar.

Cipaganti Citra Graha

Setelah mengalami keterlambatan pembayaran bunga, plus juga gagal mengembalikan modal pokok milik para investor selama beberapa bulan, pihak penegak hukum akhirnya turun tangan terhadap kasus Koperasi Cipaganti. Tidak tanggung-tanggung, kemarin Polda Jabar menetapkan status tersangka kepada tiga orang sekaligus. Mereka adalah Andianto Setiabudi, Julia Sri Redjeki, dan Yulinda Tjendrawati, yang merupakan pengurus utama koperasi yang masih satu keluarga. Karena ketiga figur ini merupakan juga anggota manajemen langsung dari Cipaganti Citra Graha (CPGT), dalam hal ini sebagai presiden direktur, presiden komisaris, dan komisaris, maka jadilah saham CPGT kena imbasnya dan sempat jatuh hingga ke posisi 54, atau turun lebih dari 70% dibanding harga IPO-nya yakni 190, sebelum kemudian naik lagi ke posisinya saat ini yakni 72.

Akhirnya! Jokowi!

Hari ini, Rabu, tanggal 9 Juli 2014 pukul 16.00, berdasarkan data quick count yang ditampilkan oleh Bloomberg TV (stasiun televisi yang, menurut penulis, boleh dikatakan netral dalam Pilpres kali ini), pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden nomor urut dua, yakni Joko Widodo dan Jusuf Kalla, atau disingkat Jokowi-JK, unggul dalam Pilpres 2014 dengan mengantongi 52.9% suara, berbanding pasangan Prabowo-Hatta yang hanya memperoleh 47.1% suara. Meski kemenangan ini terbilang sangat tipis, dan data quick count yang ditampilkan oleh stasiun televisi lain ada juga yang justru memenangkan Prabowo, namun sebagian besar data hasil quick count lebih berpihak pada Jokowi.

Polling: Prabowo, atau Jokowi? (Forum)

Untuk minggu ini kalau kita bahas soal saham apapun, maka rasa-rasanya itu tidak akan menarik mengingat pandangan, fokus, dan pikiran semua orang tertuju pada Pilpres tanggal 9 Juli mendatang, yang tinggal hitungan hari lagi. Bahkan kalau anda ketemu dengan calon investor dari luar negeri sana, maka yang mereka tanyakan bukan 'Saham apa yang bagus?', melainkan, 'Siapa Presiden yang akan terpilih?'

Tips & Contoh Trading Ala Value Investor

Pada salah satu annual letter-nya di tahun 1960-an, Warren Buffett pernah ngomong begini, ‘Cara kerja kami adalah membeli saham-saham pada harga yang serendah-rendahnya, sehingga jika nanti kami menjualnya pada harga yang tidak terlalu tinggi sekalipun, kami tetap akan memperoleh keuntungan.’ Contoh aplikasinya bagaimana, dalam hal ini kalau di pasar saham Indonesia? Nah, kebetulan ada saham yang belakangan ini sedang penulis amati karena valuasinya sudah cukup murah. Saham tersebut adalah Bank BTN (BBTN).

Strategi Portofolio: Antara Blue Chip dan Second Liner

Beberapa waktu lalu ada seorang teman yang bertanya seperti ini kepada penulis, ‘Pak Teguh, kenapa Warren Buffett nggak suka saham-saham teknologi ya? Padahal kalau dia beli Apple, Google, Microsoft.. dalam jangka panjang untungnya bisa gila-gilaan tuh.’ Dan penulis menjawab. ‘Buffett mengatakan bahwa ia tidak mengerti teknologi. Tapi saya pikir alasan sebenarnya adalah karena ia menyadari bahwa bisnis ini berisiko tinggi. Contohnya, antara tahun 1995 – 1999, di Amerika berkembang banyak sekali perusahaan teknologi, termasuk didalamnya perusahaan internet, hingga sempat terjadi dot com bubble. Tapi setelah dot com bubble tersebut meletus, hampir semuanya bangkrut kecuali Google dan Yahoo’.

Gema Grahasarana

Periode Kuartal I 2014 kemarin merupakan periode dimana kinerja sebagian besar para emiten lapis dua mengalami kemunduran, jika ukurannya adalah laba bersihnya yang turun dibanding periode yang sama tahun 2013. Sementara kondisi yang sebaliknya dialami oleh para emiten besar (saham-saham bluechip), dimana laba bersih mereka naik signifikan. Entah ini merupakan semacam siklus atau hanya kebetulan, namun yang jelas hal ini berdampak pada banyaknya saham-saham lapis dua yang turun dalam satu atau dua bulan terakhir ini. Salah satunya Gema Grahasarana (GEMA), dimana perusahaan mencatatkan penurunan laba sekitar 40% dan alhasil sahamnya terus turun hingga sekarang sudah berada di level 380. Namun dengan PBV yang saat ini tercatat hanya 0.8 kali, maka pertanyaannya adalah apakah sekarang dia sudah cukup murah?

Jika Prabowo Menjadi Presiden..

Kalau kita perhatikan pergerakan IHSG dalam beberapa bulan terakhir ini, dimana indeks naik tajam pada tanggal 14 Maret lalu ketika Jokowi resmi dicalonkan sebagai Presiden, dan sebaliknya turun drastis ketika Prabowo memperoleh dukungan dari Golkar, maka tampak jelas bahwa mayoritas pelaku pasar (terlepas dari pilihan pribadi tiap-tiap investor) lebih memilih Jokowi sebagai Presiden RI. However, pertama-tama anda harus menyadari bahwa jumlah investor di pasar saham Indonesia itu nggak sampai 500 ribu orang, alias sangat sedikit dibanding jumlah total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Jadi bahkan jika seluruh investor saham tanpa terkecuali memilih Jokowi, maka itu tetap tidak menjadi jaminan bahwa Jokowi akan menang.