Buletin analisis IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Juli 2015 sudah terbit tanggal 1 Juli kemarin. Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab langsung dengan penulis untuk member.

Ketika Cuan Bukanlah Segalanya

Dalam value investing, terdapat istilah yang sangat populer yakni nilai intrinsik saham, dimana menurut Mbah Warren, nilai intrinsik dari suatu saham/perusahaan adalah nilai aset bersih/ekuitas perusahaan tersebut plus akumulasi laba bersih yang akan dikumpulkan kedepannya, yaitu selama perusahaan beroperasi. Ini artinya, ketika anda melihat bahwa nilai ekuitas dari PT A adalah Rp1 trilyun, misalnya, dan terdapat asumsi yang kuat bahwa PT A tersebut akan mampu untuk menghasilkan laba bersih sebesar sekian secara konsisten dalam jangka panjang, maka nilai intrinsiknya biasanya lebih besar dari ekuitasnya tersebut.

Megapolitan Developments

Beberapa hari lalu, Pemerintah mengeluarkan setidaknya dua peraturan yang diharapkan akan berdampak positif terhadap industri properti di tanah air, yang sebelumnya mulai meredup seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional. Yang pertama adalah penurunan batas minimum nilai uang muka pembelian properti, dari tadinya 30% menjadi 20% saja. Dan kedua, investor dan warga negara asing kini diperbolehkan untuk membeli aset properti/real estate di Indonesia. Keluarnya dua peraturan ini segera direspon positif oleh para investor di BEI, dimana saham-saham properti melonjak cukup signifikan dalam dua tiga hari terakhir.

History & Future of Indonesia Stock Exchange

Dengan market cap senilai Rp5,070 trilyun atau setara US$ 381 milyar pada 19 Juni kemarin, Bursa Efek Indonesia atau BEI sama sekali bukan merupakan salah satu bursa saham terbesar di dunia. However, kalau kita bicara sejarah, maka BEI memiliki latar belakang sejarah yang ternyata lebih kompleks dari yang mungkin anda bayangkan. Termasuk, believe it or not, perusahaan pertama di dunia yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Saham, mereka bukan berkantor di London, New York, ataupun Tokyo, melainkan.. Jakarta!

'Drama Queen' of Stock Market

Beberapa hari lalu penulis mengalami peristiwa yang cukup unik dengan keluarga di rumah. Jadi ceritanya si teteh (panggilan untuk kakak perempuan, urang Bandung pasti ngerti), yang berusia 3 tahun, lari-lari dan terjatuh hingga lututnya lecet dan harus dipasang plester. Besok paginya, si teteh menolak untuk mandi karena takut lututnya yang lecet tersebut akan terasa perih kalau terkena air. Mamanya berkali-kali menjelaskan bahwa itu cuma lecet kecil jadi gak apa-apa kena air juga, tapi si teteh berkali-kali juga berteriak ‘gak mau!’. Kehilangan kesabaran, si mama juga ikutan teriak. Alhasil jadilah pagi itu rumah gempar hanya gara-gara lecet kecil di lutut, dan si papa (penulis) harus intervensi. Setelah pendekatan persuasif dengan mengajaknya makan-makan di HokBen (meniru caranya Presiden Jokowi) dan main perosotan, si teteh akhirnya bersedia mandi, tapi dengan syarat lututnya yang lecet itu harus dibungkus dulu pake plastik wrapping biar gak kena air.

Tips & Strategi Menghadapi Penurunan IHSG

Setelah sempat ‘absen’ dari peristiwa koreksi yang signifikan sepanjang tahun 2014 lalu, pada pertengahan tahun 2015 ini IHSG kembali membara. Ketika artikel ini ditulis, posisi IHSG tercatat 5,055, atau turun total 3.2% dibanding posisi awal tahun yakni 5,227. Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dll yang memang tidak begitu bagus (kita sudah berkali-kali membahasnya di website ini, coba baca lagi artikel-artikel sejak Maret lalu), maka penurunan ini sama sekali tidak mengejutkan dan sejak awal memang sudah diantisipasi. Jika tidak ada perubahan fundamental kedepannya, kemungkinan kondisi ini akan terus berlanjut, dan alhasil IHSG pada tahun 2015 ini bisa kembali ditutup turun dibanding tahun sebelumnya. Pertanyaannya, what should we do?

Trada Maritime

Pada Kuartal I 2015, Trada Maritime membukukan laba bersih (yang dapat diatribusikan kepada entitas induk) sebesar US$ 0.4 juta, dimana meski angka tersebut naik signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun tetap saja sangat kecil dibandingkan dengan nilai ekuitas perusahaan sebesar US$ 86.7 juta. Namun demikian, cerita menarik tentang TRAM ini mungkin bukan terkait dengan kinerjanya tersebut, melainkan terkait sahamnya yang pada saat ini terpuruk di level 50-an, padahal tidak sampai setahun yang lalu dia sempat berada di level 1,800-an. Kalau melihat laporan keuangannya yang, meski memang tidak bagus, tapi juga tidak jelek-jelek amat (perusahaannya masih menghasilkan keuntungan, dan ekuitasnya juga masih positif), dan PBV-nya pada harga sekarang tinggal 0.5 kali, maka mungkin timbul pertanyaan: Apakah ada opportunity disini?

Seminar Value Investing - Jakarta, 13 Juni 2015

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Penerapan & Hasilnya’, kali ini di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Indonesia Meraih Investment Grade?

Pada hari Kamis, tanggal 21 Mei kemarin, salah satu dari tiga lembaga pemeringkat terbesar di dunia, Standard & Poor’s (S&P), merilis perubahan credit rating bagi Indonesia, dari tadinya BB+ dengan outlook stabil, menjadi BB+ dengan outlook positif. Jadi sebenarnya ratingnya masih tetap sama, hanya outlook-nya saja yang berubah menjadi lebih baik. Meski demikian kabar ini tetap direspon oleh investor di pasar saham, dimana pada hari kamis tersebut IHSG ditutup naik meski pada pagi harinya sempat tertekan. Dan pada hari kamis itu pula, asing untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir kembali mencatatkan net buy (tapi pada hari jumatnya langsung net sell lagi). Pertanyaannya mungkin, apa itu yang dimaksud dengan credit rating? Dan bagaimana itu mempengaruhi perekonomian di Indonesia, khususnya IHSG itu sendiri?

Mengenal Waran: Peluang Serta Risikonya

Pada November 2014 kemarin penulis memutuskan untuk membeli saham di sektor konstruksi, dalam hal ini Nusa Raya Cipta (NRCA) pada harga rata-rata 910, karena saya melihat bahwa sektor ini mungkin akan diuntungkan dengan rencana pembangunan infrastruktur jangka panjang oleh Presiden Jokowi yang baru saja dilantik sebulan sebelumnya. Lalu kenapa NRCA yang dipilih? Well, itu karena, setelah mempertimbangkan 1. Kualitas fundamental perusahaan, baik secara historis maupun kinerja terbarunya, serta 2. Valuasi sahamnya (dalam value investing, cuma dua itu saja yang kita lihat, abis itu baru liat prospeknya jika ada), maka NRCA memang merupakan pilihan yang paling masuk akal dibanding tujuh saham konstruksi lainnya yang tersedia di pasar. Lebih detail terkait NRCA, baca lagi analisisnya disini.