Pengumuman: Ebook Kumpulan Analisa Kuartal IV 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Mengenal LQ45 Futures

Tanggal 1 Februari kemarin, BEI bersama dengan KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia) mengaktifkan kembali perdagangan LQ45 Futures. Perdagangan LQ45 Futures sebenarnya sudah ada sejak tahun 2001 lalu, namun dihentikan pada tahun 2009 karena berbagai alasan, dan sekarang diaktifkan lagi dengan beberapa penyempurnaan regulasi. Namun pertanyaannya, apa sih yang dimaksud dengan LQ45 Futures ini? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap IHSG?

Seminar Value Investing, Jakarta, 20 Februari 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Apa itu Indeks LQ45?

Tanggal 25 Januari kemarin, Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar terbaru dari saham-saham yang menjadi komponen Indeks LQ45. Dalam daftar tersebut ada tiga saham baru yang menjadi komponen indeks, yakni Aneka Tambang (ANTM), HM Sampoerna (HMSP), dan Hanson International (MYRX), dimana mereka menggantikan tiga saham yang keluar yakni XL Axiata (EXCL), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Wika Beton (WTON). Tak lama kemudian penulis menerima banyak email pertanyaan: Bukannya ANTM di Kuartal III 2015 kemarin menderita rugi Rp1 trilyun, atau dengan kata lain fundamentalnya jelek? Bagaimana bisa dia masuk indeks LQ45?

Penurunan Harga Minyak, dan IHSG

Selama hampir satu dekade terakhir, kita terbiasa melihat harga minyak di kisaran US$ 100 per barel, dengan hanya sekali turun ke level US$ 45 pada tahun 2008 lalu, tapi tak lama kemudian langsung naik lagi untuk kemudian bertahan di rentang US$ 100 – 120 per barel. Memasuki tahun 2015 barulah harga minyak mulai turun dan.. tiba-tiba saja, sekarang dia sudah berada di bawah level US$ 30 per barel. Pertanyaannya, what happen? Dan apakah ini ada hubungannya dengan penurunan bursa China, Amerika, dan juga IHSG pada awal tahun 2016 ini?

Ebook Analisis Kuartal IV 2015

Dear investor, setiap tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal IV 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Mengenal ‘Nilai Kualitatif’ Saham

Sebagai investor, penulis rutin membaca annual letter Berkshire Hathway yang ditulis sendiri oleh Warren Buffett, yang biasanya terbit pada bulan Januari atau Februari setiap tahunnya, karena dari situ ada banyak sekali wisdom tentang investasi yang bisa kita peroleh. Nah, Pada annual letter-nya yang terakhir yakni edisi tahun 2014, Buffett menceritakan pengalamannya membeli saham dari See’s Candies, perusahaan pembuat cokelat dalam kotak dan cemilan manis lainnya, pada tahun 1972. Dan setelah beberapa dekade kemudian investasi tersebut sukses menghasilkan keuntungan yang sangat besar bagi Berkshire.

Elnusa

IHSG memulai perjalanannya di tahun 2016 ini dengan kurang mulus. Ketika artikel ini ditulis, IHSG masih turun 2% secara year to date. Meski penurunan tersebut masih jauh lebih baik dibanding penurunan Bursa China dan juga Amerika, dimana Indeks Shanghai dan Dow Jones  masing-masing turun 16.7 dan 6.2%, namun beberapa saham di sektor migas dan tambang sudah jatuh lebih dalam. Salah satunya, Elnusa (ELSA), yang terakhir ditutup di posisi 200 atau sudah turun hampir 20% sejak awal tahun, dan cukup jelas bahwa penyebabnya adalah penurunan harga minyak yang sekarang sudah menyentuh US$ 30 per barel.

Fase Putus Asa Sudah Lewat, Lalu?

Agustus lalu, tepatnya 24 Agustus 2015 ketika IHSG anjlok 4% dalam sehari dan ditutup di posisi 4,164, dan sudah tentu ketika itu dengan diiringi oleh teriakan panik para investor (panic selling), penulis membuat artikel berjudul Antara Euforia dan Putus Asa. Pada artikel tersebut dipaparkan beberapa fase pada periode bear market, yakni denial, bull trap, return to ‘normal’, fear, capitulation, dan terakhir, despair. Dan dengan merujuk pada fakta bahwa IHSG sudah turun banyak dari puncaknya yakni 5,500-an hingga ketika itu sudah mencapai 4,100-an, dan juga sudah melalui beberapa fase mulai dari denial hingga kepanikan (fear, atau capitulation), maka pada bagian akhir artikel penulis bertanya, apakah posisi IHSG saat itu sudah despair alias putus asa?

Masyarakat Ekonomi ASEAN: Good or Bad?

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), atau ASEAN Economic Society, adalah suatu integrasi/penyatuan kegiatan ekonomi dari negara-negara anggota ASEAN, dimana kegiatan perdagangan dan ekspor impor antar negara, termasuk keluar masuknya tenaga kerja dan penanaman modal/investasi, tidak lagi dibatasi oleh peraturan-peraturan tertentu (atau masih dibatasi, tapi dengan peraturan yang jauh lebih longgar dari sebelumnya). Contoh, kalau anda pergi ke Singapura dan pulang membawa oleh-oleh, maka anda mungkin harus membayar bea masuk di imigrasi bandara di tanah air, dan karena itulah beberapa orang mungkin jadi malas bawa oleh-oleh dari luar negeri. Tapi setelah berlakunya MEA ini maka tarif bea masuk tersebut bisa diturunkan, atau bahkan dihapus sama sekali.

A 'Grown Up' Stock Market

Dalam mengevaluasi kinerja investasi di tahun 2015, mayoritas analis dan investor di pasar saham biasanya hanya fokus pada fakta bahwa IHSG turun signifikan, dalam hal ini sekitar 13%, dan itu membuat 2015 tampak sebagai tahun yang buruk dan sulit. However, terdapat beberapa alasan bahwa tahun 2015 ini sejatinya merupakan salah satu tahun terbaik dalam sejarah perkembangan pasar modal di Indonesia. Terkait hal ini, penulis sengaja membandingkan tahun 2015 dengan 2008, yakni tahun dimana IHSG juga turun signifikan (IHSG juga turun di tahun 2013, namun penurunannya hanya 1%).