Layanan preorder ebook analisis edisi Kuartal I 2016 sudah dibuka. Keterangan lebih lanjut klik disini, ebooknya nanti akan terbit tanggal 9 Mei 2016.

The Calm Investor, buku tentang kontrol emosi & psikologis dalam berinvestasi di pasar modal, sudah terbit! Harganya hanya Rp55,000, dan anda bisa membelinya disini.

Prospek Saham Komoditas

Hingga Selasa, 26 April kemarin, IHSG ditutup di posisi 4,814, atau secara keseluruhan naik 4.8% sejak awal tahun, namun indeks sektor tambang, termasuk tambang batubara, tercatat naik lebih tinggi yakni 20.5%. Penyebab kenaikan saham-saham batubara sebenarnya cukup jelas: Rebound-nya harga minyak, yang dua bulan lalu sempat nyungsep hingga US$ 27 per barel, tapi sekarang sudah naik menjadi US$ 42. Namun disisi lain, barusan salah perusahaan batubara yakni United Tractors (UNTR), sudah merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal I 2016, dan labanya masih anjlok 55.3%. Sementara perusahaan batubara lainnya, Resource Alam Indonesia (KKGI), labanya sukses naik namun hanya karena adanya keuntungan kurs, sementara pendapatannya masih turun.

Ebook Analisis Kuartal I 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal I 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Mengenal BI 7-day Rate, dan Dampaknya ke Perbankan

Pada Jumat, tanggal 15 April kemarin, Bank Indonesia (BI) mengumumkan formula baru suku bunga acuan perbankan, yakni BI 7-day Reverse Repo Rate, yang akan menggantikan formula sebelumnya yakni BI Rate. Ini adalah kali pertama BI sebagai bank sentral melakukan perubahan kebijakan yang tampak radikal, dan itu tentu membuat bingung para investor (jangankan ‘BI 7-day Reverse Repo Rate’, sebagian dari anda mungkin bahkan belum mengerti apa itu ‘BI Rate’), dan alhasil saham-saham perbankan langsung berjatuhan Jumat lalu, karena investor menjadi unsure soal bagaimana dampak dari penetapan formula baru ini terhadap kinerja perbankan.

Antara Panama Papers, Tax Amnesty, dan Ekonomi Nasional

Senin kemarin, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, mengatakan bahwa Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menurunkan tarif pajak penghasilan korporasi dari 25% menjadi hanya 20%. Sebetulnya ini tentu kabar baik bagi perusahaan-perusahaan, namun karena sebelumnya ada banyak cerita bahwa Pemerintah masih belum berhasil dalam mencapai target pendapatan pajak, maka yang disoroti pelaku pasar adalah bahwa penurunan tarif pajak tersebut berdampak negatif bagi keuangan negara, dan tentunya ekonomi nasional secara keseluruhan, dan alhasil kemarin IHSG turun lumayan. Namun disini kita gak akan membahas soal IHSG-nya.

Tips u/ Tetap Rileks ketika Menganalisis

Seseorang pernah mengatakan, ‘Ketika kamu senang dengan pekerjaanmu, maka setiap hari adalah hari libur.’ Jadi jika pekerjaan anda adalah berinvestasi di pasar saham (baca: menganalisis), dan anda menyukai pekerjaan tersebut, maka anda sejatinya tidak pernah bekerja barang sedetik pun. Namun inilah kenyataannya: Jika pasar sedang bersahabat dan saham-saham sedang naik, maka pekerjaan menganalisis akan tampak menyenangkan bagi investor manapun. Tapi bagaimana kalau gilirannya saham anda turun? Apakah anda masih bisa menata portofolio anda dengan perasaan riang gembira, atau minimal tidak menggerutu?

Penguatan Rupiah: Peluang!

Sepanjang tahun 2015 lalu, pasar saham Indonesia hampir selalu dihantui oleh berbagai cerita buruk tentang perlambatan ekonomi, salah satunya terkait kurs Rupiah yang terus saja melemah dari Rp12,500 pada awal tahun, hingga hampir saja menembus Rp15,000 pada bulan September. Dan IHSG sendiri terus saja drop dari 5,500-an hingga posisi 4,120 pada September tersebut, dan kondisi psikologis market ketika itu sedemikian buruknya sampai-sampai hampir semua orang berpikir bahwa Indonesia bisa saja jatuh krisis seperti tahun 1998 (namun penulis sendiri ketika itu sudah mengatakan bahwa tidak akan terjadi krisis, anda bisa baca lagi artikelnya disini).

'Mumpung Murah' Opportunity - Bank Bukopin

Selasa kemarin para supir taksi, terutama dari dua perusahaan yakni Blue Bird (BIRD) dan Express Transindo Utama (TAXI), melakukan aksi unjuk rasa di pusat kota Jakarta yang hampir saja berujung pada ‘civil war’, antara mereka dengan pengemudi Gojek (lah, apa hubungannya ama Gojek coba? Bukannya yang didemo itu Uber dan Grab?). Tak lama kemudian media sosial segera dipenuhi oleh opini para pengamat dadakan soal taksi konvensional vs taksi online ini. Sementara di pasar saham, saham BIRD dan TAXI juga menjadi pusat perhatian, dimana TAXI yang sebelumnya terjun bebas dari 1,200-an hingga dibawah 100, tiba-tiba saja sudah diatas 200 lagi. Demikian pula dengan BIRD, yang pada Januari lalu jeblok ke 5,400, tapi terakhir sudah naik ke 6,800.

Indonesia, Sepuluh Tahun Mendatang

Berkshire Hathaway sudah merilis annual letter-nya untuk tahun 2015 pada 27 Februari lalu (beruntung bagi kita, di usianya yang ke-85 tahun, Opa Buffett masih sehat walafiat dan juga masih rutin menulis), dan ada beberapa poin dalam annual letter tersebut yang cukup menarik. Salah satunya, yang akan kita bahas disini, adalah tentang sudut pandang Buffett tentang perekonomian Amerika yang, menurut penulis, juga bisa kita jadikan acuan untuk memandang bagaimana perekonomian di Indonesia di masa yang akan datang. Okay, kita langsung saja.

‘Smart Money’ of Stock Market

Tanggal 8 Januari lalu, ketika IHSG berada di level 4,500-an, penulis membuat artikel berjudul Fase Putus Asa Sudah Lewat, Lalu?, dimana intinya adalah bahwa IHSG sedang dalam periode konsolidasi, dan periode konsolidasi ini bisa berujung pada kenaikan atau lanjut turun lagi. Namun dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dll, penulis mengatakan bahwa bahwa konsolidasi tersebut akan berujung pada kenaikan (anda bisa baca lagi artikelnya disini). And here we are: Ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah naik signifikan dan berada di level 4,800-an.

PP Properti

Seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2015 lalu, mayoritas perusahaan di BEI mengalami penurunan kinerja, atau bahkan menderita kerugian. However, beberapa dari mereka, seperti PT PP Properti Tbk (PPRO), masih berada dalam momentum pertumbuhan. Hingga September 2015, PPRO mencatat laba bersih Rp206 milyar, naik empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2014.