Prospek Saham Perkapalan Jika Batubara dan Nikel Booming Lagi

Dalam beberapa waktu terakhir kita sudah membahas prospek sektor komoditas, dalam hal ini batubara, nikel, dan CPO, dimana Indonesia memang merupakan salah satu produsen terbesar di dunia untuk ketiga jenis komoditas tersebut (untuk nikel dan CPO malah memang nomor satu terbesar), dan kesimpulannya semuanya sama: Ketiganya berpotensi untuk booming lagi di tahun 2024 ini. Diluar itu ada satu sektor lagi yang masih terkait dengan komoditas dan kinerjanya juga sangat bagus terutama sejak komoditas itu sendiri mulai booming pada tahun 2021 lalu, namun bisa dikatakan luput dari perhatian analis dan investor karena mayoritas perusahaan di bidang ini merupakan perusahaan kecil – menengah, dengan volume transaksi saham yang juga kurang likuid.

***

Ebook Market Planning (EMP) edisi April 2024 berisi update analisa pasar/IHSG, rekomendasi saham bulanan, dan info jual beli saham sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

***

Aaaand yep, seperti judul artikel di atas, sektor tersebut adalah perkapalan, lebih spesifiknya kapal tongkang pengangkut batubara, nikel, dan barang-barang sumber daya alam lainnya, yang beroperasi di sungai-sungai besar di Kalimantan. Sebelumnya mungkin perlu dicatat bahwa di BEI terdapat setidaknya tiga jenis perusahaan kapal. Yang pertama adalah kapal kargo kontainer yang beroperasi di laut lepas, yang mengangkut komoditas dan barang-barang lain secara umum dalam jumlah besar termasuk melayani jasa ekspor impor, contohnya Samudera Indonesia (SMDR). Kedua, kapal tanker pengangkut minyak dan gas serta barang-barang cair lainnya, contohnya Soechi Lines (SOCI). Dan ketiga, kapal tongkang yang berukuran lebih kecil, yang mengangkut batubara dll dari lokasi tambang di hulu sungai ke pelabuhan di hilir sungai, sebelum kemudian dipindahkan ke kapal yang lebih besar lalu diekspor keluar negeri.

Ilustrasi kapal tongkang

Nah, dari tiga kelompok perusahaan kapal tersebut, maka yang kinerjanya terbilang sangat bagus dalam beberapa tahun terakhir pasca pandemi adalah perusahaan-perusahaan kapal tongkang ini, thanks to kenaikan harga batubara yang menyebabkan para coal miner menggali batubara lebih banyak lagi, sehingga turut menaikkan permintaan untuk jasa pengangkutan batubara itu sendiri. Termasuk, meski di tahun 2023 kemarin kita tahu harga batubara kembali turun, namun volume produksinya tetap tumbuh signifikan sehingga volume pengangkutannya juga tetap naik. Alhasil meski perusahaan batubara itu sendiri banyak yang mengalami penurunan laba di sepanjang tahun 2023, namun dari sejumlah emiten kapal tongkang yang sudah merilis laporan keuangan untuk tahun penuh 2023, seperti PT Hasnur Internasional Shipping, Tbk (HAIS), PT Trans Power Marine, Tbk (TPMA), dan PT Pelayaran Nelly Dwi Putri, Tbk (NELY), maka laba bersihnya masih tumbuh masing-masing 35.7%, 37.8%, dan 81.2% dibanding tahun 2022. Sedangkan untuk satu perusahaan kapal tongkang lainnya, yakni PT IMC Pelita Logistik, Tbk (PSSI), maka laba bersihnya di 2023 agak turun dibanding 2022, namun tetap naik signifikan dibanding 2021. Menariknya, jika kita tarik lebih jauh ke belakang sampai tahun 2020, maka keempat emiten kapal tongkang ini sukses membukukan kenaikan ekuitas, pendapatan, dan laba bersih hampir setiap tahun. Berikut data selengkapnya, klik gambar untuk memperbesar.

Catatan: Untuk HAIS dan NELY, angkanya dalam miliaran Rupiah. Sedangkan untuk TPMA dan PSSI, angkanya dalam jutaan US Dollar.

Nah, perhatikan: Keempat perusahaan kapal tongkang di atas semuanya menunjukkan pertumbuhan kinerja yang signifikan, terutama di tahun 2022 di mana memang pada tahun 2022 itulah booming batubara mencapai puncaknya. Namun memasuki tahun 2023, maka ternyata kinerja HAIS, NELY, dan TPMA masih lanjut bertumbuh tidak hanya karena masih meningkatnya volume pengangkutan batubara, tapi juga karena khusus untuk NELY dan TPMA, maka kedua perusahaan memperoleh sumber pendapatan baru dari pengangkutan nikel, yang juga tumbuh pesat. Dan meski untuk PSSI pendapatan serta laba bersihnya turun di 2023 ini, namun penurunannya tipis saja, alias tetap terhitung lebih baik dibanding kinerja laba bersih emiten-emiten batubara, yang rata-rata drop signifikan (selain batubara, PSSI juga mengangkut nikel).

Sehingga, jika benar bahwa di tahun 2024 ini volume produksi (dan pengangkutan) batubara dan nikel akan kembali tumbuh signifikan dibanding 2023 lalu, maka hampir bisa dipastikan bahwa para emiten kapal tongkang ini akan kembali mencatatkan pertumbuhan kinerja, apalagi jika harga dua jenis komoditas tersebut pada akhirnya berhenti turun lalu balik arah alias naik. Yang juga penulis perhatikan, keempat emiten kapal tongkang di atas semuanya memiliki utang yang kecil (sehingga laba bersihnya tidak tergerus oleh beban bunga utang), rutin bayar dividen (dengan nilai dividen yang juga naik tiap tahun seiring kenaikan laba bersih itu tadi), dan tetap rutin berekspansi dengan menambah unit armada kapalnya, atau meremajakan armada yang sudah ada. Kesemua poin-poin tersebut menunjukkan bahwa sektor kapal tongkang ini menawarkan banyak growth stock, yakni saham yang bisa diharapkan akan naik tinggi seiring pertumbuhan perusahaannya itu sendiri, yang terbukti cukup konsisten dalam empat tahun terakhir (sejak 2020).

Dan memang jika anda cek lagi harga saham keempat perusahaan, maka rata-rata sudah naik cukup signifikan sejak tahun 2020 lalu. Misalnya TPMA, yang ketika artikel ini ditulis berada di posisi 710, naik lebih dari dua kali lipat dibanding posisi 350 pada akhir 2020. Nah, tapi kembali inilah menariknya: Karena kinerja perusahaan sejatinya tumbuh lebih tinggi lagi, dimana laba bersih TPMA di tahun 2023 naik sembilan kali lipat dibanding 2020, maka jadilah valuasi sahamnya masih murah dengan PER hanya 6 kali. Dan demikian pula untuk HAIS, NELY, dan PSSI, maka valuasi ketiganya masih murah dengan PER 5 - 6 kali, atau lebih rendah lagi. Jadi sepertinya, ketika pada tahun 2022 lalu ramai saham-saham batubara terbang tinggi hingga terjadi euforia, maka saham-saham kapal tongkang ini cenderung ketinggalan yang mungkin karena mereka rata-rata kurang likuid sehingga kurang diminati investor, padahal kinerja fundamentalnya tidak kalah bagusnya. Namun memasuki tahun 2023 ketika saham batubara itu sendiri mulai balik arah dan turun, maka saham-saham kapal tongkang ini tetap naik karena seperti bisa dilihat di atas kinerja mereka di tahun 2023 tersebut masih bagus, meskipun kenaikan sahamnya bisa dibilang tidak maksimal, kemungkinan karena HAIS dkk tetap terkena sentimen negatif dari penurunan harga batubara dan juga nikel di sepanjang tahun 2023 tersebut.

Nah, tapi itu cerita di masa lalu. Jadi bagaimana untuk tahun 2024 ini? Ya mari kita lihat lagi: Penurunan harga batubara dan juga nikel mulai berhenti, sedangkan disisi lain volume produksi keduanya kemungkinan masih akan tumbuh signifikan dan alhasil seperti disebut di atas, para emiten kapal tongkang berpeluang untuk kembali membukukan kenaikan pendapatan serta laba. Dan jika di tahun 2024 ini sentimen negatif terkait penurunan harga komoditas itu sendiri akhirnya mereda, maka bisa dibayangkan sahamnya akan naik sampai berapa, albeit itu tetap akan bergantung pada seberapa tinggi kenaikan kinerja dari tiap-tiap perusahaan kapal tongkang itu sendiri di tahun 2024 ini.

Okay Pak Teguh, jadi dari empat saham yang disebut di atas, yang mana yang paling bagus? Well, penulis sudah menyampaikan garis besar analisanya secara cukup jelas, dengan pilihan saham yang juga sudah cukup tersaring (di BEI ada banyak emiten kapal, jadi gak cuma empat emiten di atas). Jadi soal mana yang terbaik dari empat saham yang dibahas di atas, silahkan anda pelajari sendiri lebih lanjut.

***

Ebook Market Planning (EMP) edisi April 2024 berisi update analisa pasar/IHSG, rekomendasi saham bulanan, dan info jual beli saham sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

Anonim mengatakan…
Jelas TPMA :) 2024 kinerja akan makin melesat. Lihat saja periode Q4 2023, dimana investasi di entitas asosiasi sdh mulai menghasilkan $1 juta, padahal akuisisi kapal bekas (oleh entitas asosiasi) baru 2 bulan (Nov dan Des). Di thn 2024, entitas asosiasi akan menambahkan $6 juta net profit bagi TPMA. Selain itu, penambahan armada secara organik terus berlanjut di thn 2024, baik di induk (TPMA) dan di entitas asosiasi.

Yg lebih menarik lagi, corporate action yg sedang diproses utk RUSPLB di April depan. Tentunya untuk tujuan growth lebih lanjut di 2024 ini.
Patrick mengatakan…
Kok HATM gk diikutsetakan, termasuk perusahaan besar
Anonim mengatakan…
Pak Teguh.
Mohon di bahas tentang "kebijakan full periodic call auction".
Lebih detail dari sisi positif dan negatif nya.
Terima kasih.

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Kuartal II 2024 - Terbit 8 Agustus

Live Webinar Value Investing Saham Indonesia, Sabtu 20 Juli 2024

Indo Tambangraya Megah: Masih Royal Dividen?

Prospek Saham Samudera Indonesia (SMDR): Bisakah Naik Lagi ke 600 - 700?

Mengenal Investor Saham Ritel Perorangan Dengan Aset Hampir Rp4 triliun

Saham Telkom Masih Prospek? Dan Apakah Sudah Murah?

Prospek IPO Barito Renewables Energy (BREN): Lebih Cuan dari PGEO?