Special Report: Perang Iran – Israel, Saham Apa Yang Diuntungkan?

Pada hari Sabtu, 13 April 2024 (hari Minggu 14 April Waktu Indonesia Barat), militer Iran, dibantu oleh sejumlah sekutu di Iraq, Suriah, dan Yaman, meluncurkan serangan ke tanah Israel dengan roket, rudal balistik, dan drones. Ini adalah kali pertama Iran menyerang Israel secara langsung dan terbuka sejak konflik Iran – Israel dimulai pada tahun 1985, dan merupakan serangan balasan setelah Israel mengebom kedutaan besar Iran di Damascus, Suriah, pada tanggal 1 April 2024, dan menewaskan 16 orang termasuk Mohammad Reza Sahedi, salah seorang perwira tinggi di Angkatan Udara, Islamic Republic of Iran Armed Forces.

***

Live Webinar Value Investing, Sabtu 27 April 2024, pukul 08.00 – 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

***

Dan meski masih di hari yang sama, duta besar Iran untuk Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa serangan balasan terhadap Israel sudah bisa ‘dianggap selesai’, dan bahwa Iran akan melakukan serangan yang lebih besar jika Israel kembali ‘melakukan kesalahan’, namun serangan itu tetap sukses menjadi headline di seluruh duna, dan ditengarai akan berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi dan juga pasar keuangan di seluruh dunia. Nah, tapi inilah menariknya: Bahkan sejak sebelum serangan Iran ke Israel di atas terjadi, maka market sudah mengantisipasinya terlebih dahulu dimana Dow Jones turun dari 39,807 (pada tanggal 28 Maret) ke 37,983, harga minyak naik hingga kembali di atas $85 per barel, dan harga emas juga naik dari $2,000 di bulan Februari hingga sempat tembus $2,400 per oz pada tanggal 11 April. Sebelumnya, secara historis memang setiap kali terjadi peristiwa konflik atau perang yang menyita perhatian masyarakat di seluruh dunia, maka imbasnya pasar saham akan turun (karena investor panik), harga komoditas energi akan naik (karena volume produksi minyak dan gas dikhawatirkan akan turun, terutama jika yang berperang adalah negara-negara Timur Tengah), dan harga emas akan naik (karena dianggap sebagai safe haven, alias instrumen investasi yang paling aman). Tapi dalam kasus serangan Iran ke Israel, maka hal-hal di atas sudah terjadi sejak sebelum serangan itu sendiri dilakukan.

Tinggal sekarang pertanyaannya, kedepannya bagaimana? Apakah dengan berakhirnya serangan ini, maka perangnya sudah bisa dikatakan selesai? Ataukah justru ini baru merupakan awal dari konflik berkepanjangan? Lalu bagaimana dengan pasar saham Indonesia? Apakah IHSG juga akan turun menyusul penurunan Dow Jones? Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, maka mari kita lihat lagi faktor-faktor pentingnya, satu per satu.

Pertama, seperti disebut di atas konflik Iran – Israel sejatinya sudah terjadi sejak lama, dan actually dalam konflik Palestina – Israel, maka Iran menjadi pihak yang mendukung Hamas, sebuah partai politik dan gerakan militer yang mengendalikan Jalur Gaza, Palestina. Jadi ketika perang Palestina – Israel kembali memanas sejak Oktober 2023 lalu, maka mungkin sudah ada pihak-pihak tertentu yang memprediksi bahwa Iran pada akhirnya akan terlibat langsung dalam perangnya melawan Israel, dan memperluas cakupan perang di Timur Tengah itu sendiri, malah ada yang menyebutnya sebagai cikal bakal Perang Dunia ke-III. Dan jika benar demikian, maka itulah alasan kenapa harga emas mulai naik signifikan persisnya sejak Oktober 2023 sampai sekarang, dimana sebelum itu harga emas cenderung flat di $1,800 – 2,000 per oz.

Pergerakan harga emas setahun terakhir. Perhatikan dia mulai naik persisnya pada bulan Oktober 2023

Kedua, meski Iran sudah menyatakan bahwa drone attack-nya ke Israel ‘sudah selesai’ sebagai serangan balasan, tapi tidak ada yang tahu persis tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, karena dari pihak Israel juga sudah menyatakan akan melakukan counter attack. Mengingat konflik Palestina – Israel itu sendiri sampai hari ini masih memanas dan belum ada tanda-tanda akan berakhir, maka penulis sendiri termasuk yang melihat bahwa perang Iran – Israel ini juga akan berkepanjangan, meski tetap dalam bentuk proxy war (perang dingin) dengan hanya sesekali jual beli serangan roket, rudal, dan drones. Sedangkan dua ‘raja terakhir’ di masing-masing kubu, yakni Amerika Serikat (AS) di belakang Israel, dan Rusia di belakang Iran/Palestina, kemungkinan tidak akan sampai ikut meluncurkan serangan, karena mereka juga tidak ingin sampai terjadi WW 3 (actually, tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan Perang Dunia itu terjadi). Dalam hal ini kita bisa berkaca pada invasi Rusia terhadap Ukraina yang dimulai sejak tahun 2022 lalu, dimana meski AS awalnya mengancam akan meng-embargo Rusia dst, tapi pada akhirnya Rusia dibiarkan mengacak-acak Ukraina, sampai hari ini.

Ketiga, jika kita lihat lagi Perang Rusia – Ukraina yang dimulai pada tahun 2022 lalu, tepatnya di bulan Februari, maka tak lama kemudian harga batubara Newcastle, yang sebelumnya sudah naik tinggi dari hanya $52 di tahun 2020 hingga mencapai $220, meroket lebih tinggi lagi hingga sempat menyentuh $460 per ton di bulan September 2023. Hal ini karena Rusia merupakan salah satu produsen batubara terbesar di dunia, sehingga dengan mereka sekarang sibuk menginvasi Ukraina maka dikhawatirkan akan terjadi kelangkaan pasokan batubara di seluruh dunia. Thus, ketika sekarang giliran Iran menyerang Israel, dan karena Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar maka dampaknya harga minyak yang naik, meski penulis perkirakan kenaikannya tidak akan terlalu tinggi, karena dalam hal ini Iran tidak sampai menginvasi Israel, melainkan hanya menyerang pakai drones saja dan itupun sudah selesai, setidaknya untuk saat ini.

Nah, tapi dengan harga emas dan minyak sudah naik tinggi sejak beberapa bulan lalu, maka itu biasanya akan mendorong kenaikan harga-harga komoditas lainnya secara umum. Dan memang kalau anda perhatikan harga batubara, nikel, dan minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) yang dalam beberapa bulan terakhir ini sebatas tidak turun lebih lanjut saja, tapi juga belum naik lagi, maka persis sejak awal April kemarin (setelah Israel mengebom kedutaan besar Iran di Damascus), harga ketiga jenis komoditas itu mulai beranjak naik.

Sehingga, inilah yang penulis pikirkan: Dalam beberapa kesempatan, penulis sudah mengatakan bahwa prospek saham-saham batubara, nikel, dan CPO terbilang menarik, salah satunya karena harga ketiga jenis komoditas tersebut sudah berhenti turun (baca lagi analisanya dilink-nya di atas), sedangkan volume produksinya tetap naik. Namun demikian agar harga batubara dkk naik lagi, maka harus ada peristiwa pemicunya. Dan perang Iran – Israel diatas bisa menjadi pemicu tersebut, sama seperti dulu ketika Rusia menginvasi Ukraina. Kemudian karena situasi panas di Timur Tengah kemungkinan belum akan mereda dalam waktu dekat ini, maka penulis perkirakan periode dimana harga batubara dkk bergerak mendatar selama beberapa bulan terakhir ini sudah berakhir, dan kedepannya mereka akan naik lagi.

Kesimpulannya, meski pasar saham di seluruh dunia termasuk mungkin juga IHSG akan lanjut tertekan karena ketegangan yang terjadi di Timur Tengah (ketika artikel ini diposting, IHSG drop 2% ke posisi di bawah 7,100), namun situasinya berbeda untuk saham-saham komoditas yang justru diuntungkan karena kenaikan harga komoditas itu sendiri. Kemudian kalau anda juga memperhatikan, maka nilai tukar mata uang di seluruh dunia terhadap Dollar belakangan ini turun, termasuk kurs Rupiah juga anjlok ke Rp16,000 per Dollar, kemungkinan karena imbas kepanikan investor yang menjual seluruh aset mata uang mereka lalu dialihkan ke Dollar, yang juga sama dianggap sebagai safe haven layaknya emas (karena berbeda dengan Timur Tengah, Rusia, atau bahkan Eropa yang bisa saja luluh lantak karena perang, maka hampir tidak mungkin situasi perang itu merembet sampai ke tanah Amerika). Dan pelemahan Rupiah seperti itu juga bisa membuat saham-saham di BEI turun lebih rendah lagi. However, khusus untuk perusahaan komoditas yang rata-rata memperoleh pendapatannya dalam Dollar (karena ekspor), maka pelemahan Rupiah justru akan menguntungkan, dan sahamnya akan naik.

Okay Pak Teguh, jadi buat investor strateginya bagaimana? Well, penulis sudah sejak beberapa bulan lalu lebih banyak mengalokasikan portofolio di saham-saham komoditas, dan juga yang berhubungan dengan emas/logam mulia. Dan kalau melihat perkembangannya sejauh ini maka kita tidak perlu panik lalu jualan, melainkan justru akan tambah lagi dalam waktu dekat. Tapi memang bagi anda yang pegang saham dari emiten-emiten yang tidak diuntungkan karena situasi sekarang ini, maka bisa pertimbangkan untuk keluar dulu. Karena jika benar IHSG kedepannya lanjut turun, maka saham-saham tersebut juga bisa ikut terseret turun. Good luck!

***

Live Webinar Value Investing, Sabtu 27 April 2024, pukul 08.00 – 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

OnePersen mengatakan…
Not necessarily true:

1.Chaos Enthusiasts berharap terjadinya WW3.

2.Weapon Maker Industrial Complex sangat senang dengan munculnya WW3.

3.Short Stock Speculator ingin WW3 prediksinya segera terwujud.

4.Overpopulation activist menilai perlunya pengurangan populasi dunia secara massal dengan metode WW3.

5.Power hungry individual/group ingin mengubah peta tatanan dunia baru dengan WW3 sebagai tangga menuju kekuasaan.

Reguler people ingin hidup tetap berjalan seperti biasa.

The two extreme minority di ujung atas dan bawah piramida minoritas menginginkan jalan skenario yang tidak biasa.

ARTIKEL PILIHAN

Live Webinar Value Investing, Sabtu 27 April 2024

Ebook Investment Planning Kuartal I 2024 - Sudah Terbit!

Indo Tambangraya Megah: Masih Royal Dividen?

Laporan Kinerja Avere Investama 2022

Prospek Saham Samudera Indonesia (SMDR): Bisakah Naik Lagi ke 600 - 700?

Perkiraan Dividen PTBA: Rp1,000 per Saham

Pegang Saham Unilever (UNVR) Sejak Lama di Harga Atas, Hold Atau Cut Loss Saja?