Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Bank CIMB Niaga

Bank CIMB Niaga (BNGA) pertama kali mencuri perhatian penulis pada awal tahun 2015 ketika sahamnya turun dari 1,400-an ke 900-an, ketika itu karena perusahaan melaporkan laba bersih Rp2.3 trilyun pada tahun 2014, atau jeblok hampir separuh dibanding tahun sebelumnya, karena melonjaknya beban cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). However, pada harga 900, PBV BNGA sudah dibawah 1 kali, dan itu sangatlah murah mengingat BNGA bukanlah bank kecil abal-abal gak jelas, melainkan salah satu dari sepuluh bank terbesar di tanah air, dan juga dengan merk bank yang cukup populer.

Kemudian, seperti yang sudah pernah kita bahas disini, CKPN ini bisa timbul karena adanya kredit macet, dimana NPL net BNGA pada tahun 2014 mencapai hampir 2%, melonjak dari tahun sebelumnya yang hanya 1.55%. Jadi asumsinya ketika itu adalah, kalau di tahun 2015 nanti manajemen BNGA bisa mengatasi masalah kredit macet ini, maka beban CKPN-nya akan turun, labanya akan melonjak kembali, dan ketika itulah sahamnya bakal terbang. Namun sayangnya pada laporan keuangannya untuk tahun 2015, beban CKPN ini bukannya turun tapi malah melonjak lagi, sehingga laba bersihnya kembali anjlok menjadi hanya Rp428 milyar saja. Sementara sahamnya? Ya gak usah ditanya lagi lah: Bablas turun sampai mentok di 500-an.

Namun karena BNGA ini sejak awal sudah murah (dan semakin murah), maka dia tetap masuk watchlist penulis. Hingga akhirnya pada Kuartal I 2016, BNGA melaporkan laba bersih Rp269 milyar, dimana meski angkanya masih kecil (sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, normalnya laba bersih BNGA mencapai trilyunan Rupiah), namun minimal sudah lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang cuma Rp83 milyar. Dan yang terpenting adalah, pada harga 540, PBV-nya ketika itu cuma 0.4 kali, which is unbelievably undervalue untuk perusahaan yang notabene merupakan anggota ‘billionaire club’ (perusahaan di BEI dengan market cap US$ 1 milyar atau lebih). Jadi ya sudah: Terhitung sejak Mei 2016 kemarin, BNGA ini menjadi salah satu stockpick penulis (dibahas di Ebook Kuartal I 2016), and indeed dia kemudian naik sampai tembus 1,000 pada bulan Agustus, atau mencetak profit hampir 100% dalam waktu empat bulan.


Tapi kenapa kok belakangan BNGA ini malah turun lagi? Well, penjelasan yang paling logis adalah karena terjadi profit taking. Pada Kuartal II kemarin, BNGA membukukan laba bersih Rp736 milyar, dimana meski angka tersebut naik signifikan dari tahun sebelumnya yakni Rp176 milyar, namun dengan ROE hanya 5% maka kinerja BNGA sejatinya masih kurang bagus. Sehingga jika penulis sendiri sejak awal sudah membeli BNGA ini di harga 500, maka saya akan segera menjualnya di harga 1,000-an, karena dengan memeprtimbangkan kinerja BNGA yang belum sebagus itu, maka normalnya sahamnya belum akan naik lebih tinggi lagi (masih belum waktunya). In fact, dalam sebulanan terakhir ini yang turun gak cuma BNGA, tapi juga banyak lagi saham-saham lainnya, dimana mereka sebelumnya sudah naik banyak.

CIMB Holdings Membayar Dividen?

Tapi peristiwa berikut ini mungkin ada kaitannya dengan penurunan BNGA: Pada tanggal 15 Juni 2016, CIMB Holdings, sebuah perusahaan yang terdaftar di Bursa Malaysia, mengumumkan bahwa mereka akan membagikan dividen non tunai kepada para pemegang sahamnya, dalam bentuk saham BNGA. Untuk diketahui, CIMB Holdings ini adalah induk dari CIMB Group, sementara CIMB Group itu sendiri adalah pemegang saham pengendali BNGA.

Kemudian pada tanggal 26 Juli, CIMB Group menjual 1.4 milyar lembar saham BNGA ke CIMB Holdings, pada harga Rp928 per saham. Oleh CIMB Holdings, 1.4 milyar saham BNGA itu kemudian dijual lagi ke para investor pemegang sahamnya, tapi pada harga yang lebih murah yakni Rp504 per saham. Karena investor pemegang saham CIMB Holdings memperoleh saham BNGA pada harga yang lebih murah dibanding biaya yang dikeluarkan CIMB Holdings untuk membeli saham BNGA tersebut (Rp504 berbanding Rp928), maka dalam hal ini CIMB Holdings seperti membayar dividen kepada para pemegang sahamnya, dalam bentuk saham BNGA (dimana para investor tersebut memperoleh saham BNGA ini pada harga murah). Setelah transaksi ini, maka di komposisi pemegang saham BNGA akan ada 1.4 milyar lembar saham yang tidak lagi dipegang oleh CIMB Group, melainkan dipegang langsung oleh investor publik asal Malaysia sana.

Lalu apa pengaruh perubahan kepemilikan saham ini terdapat kinerja BNGA atau prospek perusahaan kedepannya? Ya nggak ada pengaruh apapun lah, karena transaksi jual beli saham yang dibahas diatas bukanlah aksi korporasi oleh BNGA, melainkan transaksi jual beli saham yang normal antar investor yang memegang saham perusahaan, dan CIMB Group hingga saat ini masih menjadi pemegang saham pengendali di BNGA. Kalau kemudian saham BNGA turun, maka itu lebih karena reaksi investor di BEI yang kebingungan dengan transaksi jual beli saham yang dilakukan oleh CIMB Holdings dan CIMB Group, dimana mereka khawatir bahwa transaksi tersebut akan merugikan BNGA, padahal tidak.

Transaksi Floating Saham

Tapi kalau anda sejak awal sudah memperhatikan BNGA ini, maka anda akan menemukan fakta menarik: Hingga Kuartal II 2016, BNGA memiliki 25.1 milyar lembar saham beredar, dimana 24.4 milyar lembar atau 96.9% diantaranya dipegang oleh CIMB Group, padahal peraturan BEI jelas menyebutkan bahwa sebagai perusahaan Tbk, minimal 7.5% saham BNGA harus dimiliki oleh publik. Karena itulah, CIMB Group memiliki kewajiban untuk melepas sebagian saham BNGA ke publik, atau istilahnya floating. Tapi jika CIMB Group langsung menjual BNGA begitu saja ke investor publik di BEI, maka sudah pasti harga sahamnya bakal tambah jeblok, dan dalam hal ini posisi CIMB Group menjadi rugi karena dia menjual saham BNGA pada harga yang jauh dibawah nilai bukunya.

Jadi kalau gitu gimana solusinya? Ya bagaimana kalau saham BNGA dijual ke ‘atas’, dalam hal ini ke CIMB Holdings? Dengan cara ini CIMB Group bisa langsung melepas saham BNGA dalam jumlah besar (sekaligus 1.4 milyar lembar), dan tidak akan rugi karena harga jualnya cukup tinggi yakni Rp928 per saham. Oleh CIMB Holdings, saham BNGA tersebut kemudian ‘dikasiin’ ke pemegang sahamnya pada harga yang lebih murah, yakni Rp504 per saham. Jadi meski disini posisi CIMB Holdings merugi (karena dia menjual saham BNGA pada harga yang lebih murah dibanding harga belinya), namun dalam hal ini perusahaan seolah-olah memberikan dividen kepada para pemegang sahamnya. Para pemegang saham CIMB Holdings yang memperoleh saham BNGA ini juga langsung berada dalam posisi profit, karena kalau mereka mau, mereka bisa langsung menjual saham BNGA pada harga pasar yakni 800-an, untuk memperoleh keuntungan sekitar 60% (karena modalnya di 504).

Nah, jadi dalam hal ini penulis melihat bahwa transaksi ‘pembayaran dividen’ yang dilakukan oleh CIMB Holdings diatas sejatinya bertujuan untuk floating, alias melepas saham BNGA ke publik namun tanpa harus membuat harga sahamnya jatuh. Pasca aksi jual beli saham ini, CIMB Group masih memegang 23.0 milyar lembar atau 91.5% saham BNGA, sementara 8.5% sisanya dipegang oleh publik, atau sudah memenuhi peraturan BEI tentang floating tadi. Dan karena kepemilikan publik di BNGA sekarang menjadi jauh lebih besar (meningkat dari 701 juta menjadi 2.1 milyar lembar), maka kedepannya transaksi perdagangan sahamnya akan menjadi lebih likuid, dimana pergerakan saham yang likuid biasanya akan lebih mencerminkan/sesuai dengan fundamental perusahaan. Sebenarnya ketika kemarin penulis sangat tertarik dengan BNGA ini, namun fakta bahwa CIMB Group memegang sahamnya terlalu banyak membuat saya menjadi ragu-ragu, karena kalau mereka jualan saham BNGA ke publik (dalam rangka floating) maka BNGA mau gak mau bakal jatuh. Namun setelah transaksi ini maka BNGA sekarang menjadi lebih menarik, karena CIMB Group sudah memenuhi kewajiban floating-nya (jadi mereka gak akan jualan BNGA lagi). Sementara kalaupun investor publik asal Malaysia yang sekarang memegang BNGA ramai-ramai melepas sahamnya, maka gak mungkin juga 1.4 milyar lembar saham itu bakal dilego sekaligus, karena toh pada harganya saat inipun, valuasi BNGA masih sangat murah.

Okay, lalu bagaimana dengan fundamental BNGA itu sendiri? Well, seperti yang sudah disebut diatas, kinerja BNGA di tahun 2016 ini mulai pulih seiring dengan membaiknya catatan kredit macet perusahaan meski, kalau boleh jujur, masih jauh kalau dibandingkan dengan catatan kinerja terbaik mereka di tahun 2012 – 2013. Pihak manajemen jelas menyebutkan bahwa kinerja buruk perusahaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh kredit macet di sektor pertambangan, karena penurunan harga batubara. Namun berhubung belakangan ini harga batubara perlahan tapi pasti mulai merangkak naik, maka mungkin masa-masa sulit bagi BNGA memang sudah lewat, jadi untuk kedepannya kita tinggal wait n see saja, apakah BNGA bisa terus mempertahankan momentum pemulihan kinerjanya sejak awal tahun 2016 kemarin, atau malah nyungsep lagi.

Sementara terkait sahamnya, cukup jelas bahwa harga 500-an sudah menjadi bottom bagi BNGA ini, dan harga sekarang yakni 800-an juga masih murah, tapi secara fundamental belum ada momentum apapun bagi BNGA ini naik lebih tinggi lagi, soalnya kinerjanya juga belum bagus-bagus amat. Jadi sekarang strateginya begini saja: Jika besok-besok BNGA ini turun lagi sampai dekat-dekat 500 – 600, maka anda bisa langsung hajar kanan tanpa perlu menunggu perusahaan untuk menyampaikan laporan keuangan yang lebih bagus, toh harga segitu udah murah buanget. Tapi jika BNGA tetap bertahan di posisinya saat ini, atau bahkan malah naik, maka akan lebih aman jika kita tunggu sampai perusahaan melaporkan catatan laba bersih yang lebih baik, mungkin awal tahun depan nanti.

PT Bank CIMB Niaga, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2016: BBB
Rating Saham pada 805: A

Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi Oktober 2016 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

3 komentar:

Bla-Bla Miko mengatakan... Balas

Pak Teguh, saya perhatikan BNGA sejak akhir 2015, terutama soal kewajiban floating sahamnya. Dari berita yg saya baca, seharusnya Februari 2016 adalah batas akhirnya, dan jika tidak maka dikenakan sanksi. Saya tunggu sampai Juni ternyata masih blm ada pengumuman/keterbukaan info soal ini. Selanjutnya ternyata yg terjadi mungkin mekanisme perpindahan saham spt artikel diatas. Menyisakan pertanyaan, apakah 'memindahkan' 1,4 miliar saham nggak perlu lapor OJK? Fakta ini baru saya tahu dari artikel Mas Teguh saja hehe. Ohya, saya baca berita ternyata sanksi atas terlambat refloat saham itu cuma Rp 50 juta ktnya.. jadi mungkin emiten2 di BEI bisa cuek saja krn cukup ringan sanksi nya. Dalam hal ini saya pikir OJK pun terkesan kurang tegas.

John cool mengatakan... Balas

Terima kasih analisanya pak Teguh, bagaimana dengan prospek BEKS pak Teguh?

Indro Ario Prakoso mengatakan... Balas

Selamat sore, Pak Teguh.

Apa parameter yg menjadi tolak ukur Bapak untuk menilai apakah kinerja suatu perusahaan bagus, biasa saja, atau jelek?

Terima kasih.