Buletin Analisis IHSG & stockpick saham pilihan edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Rekomendasi Buku untuk Value Investor

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan ke penulis adalah, kalau mau belajar tentang investasi saham, khususnya metode value investing, maka buku apa saja yang disarankan terutama untuk investor pemula? Dan penulis seneng kalau ada yang bertanya seperti itu, karena itu artinya si investor, atau si calon investor ini sepenuhnya menyadari bahwa ia tidak akan memperoleh apa-apa di belantara pasar modal tanpa bekal pengetahuan. Karena, you know, adalah konyol jika kita pergi ke sungai untuk menangkap ikan tanpa membawa jaring atau alat pancing sama sekali bukan?

Namun terus terang, meski penulis sendiri suka membaca, namun hingga ketika artikel ini ditulis saya belum pernah membaca satupun buku tentang investasi saham hingga selesai. Di toko buku ada banyak sekali buku tentang investasi dan trading saham, baik itu tentang value investing atau metode lainnya, yang ditulis entah itu oleh penulis profesional, akademisi, ataupun oleh investor/praktisi investasi itu sendiri. Penulis dirumah juga punya beberapa buku karya Ben Graham, Joel Greenblatt, Peter Lynch, dan Seth Klarman (versi asli dalam Bahasa Inggris. Karena kalau ada versi bahasa Indonesia-nya, biasanya hasil terjemahannya kurang bagus, yang mungkin karena si penerjemah hanya ngerti cara men-translate English ke Bahasa, tapi gak ngerti soal investasi saham itu sendiri).

Tapi buku-buku itu kebanyakan cuma jadi pajangan saja di meja kerja penulis (biar keliatan pinter aja gitu). Termasuk buku Intelligent Investor karya gurunya Warren Buffett, Ben Graham, saya baru selesai baca kurang lebih tiga perempatnya saja. Sebab di buku tersebut konsep value investing dan margin of safety sudah cukup dijelaskan di dua bab pertamanya, sementara bab bab selanjutnya lebih banyak menyampaikan contoh-contoh aplikasi/penggunaan dari metode value investing itu sendiri di Bursa Wall Street di Amerika Serikat. Masalahnya adalah, kalau anda sudah cukup lama wara wiri di bursa saham di tanah air, maka anda akan melihat bahwa ada banyak contoh di buku tersebut yang tidak terlalu relevan dengan kondisi bursa disini (selain karena buku itu ditulis tahun 1934, alias udah lama banget), sehingga akan lebih baik jika kita sekedar memahami konsep dasarnya saja dulu, kemudian untuk penerapannya kita belajar lagi dari pengalaman dalam melakukan investasi itu sendiri.

Anda belum kelar baca buku The Intelligent Investor?? Sama!

Tapi kalau ada tulisan (bukan ‘buku’) yang banyak penulis baca, maka itu adalah Annual Letter yang ditulis langsung oleh Warren Buffett, yakni sejak ia memulai partnership-nya pada tahun 1956, hingga yang terbaru tahun 2016. Anda bisa memperolehnya di www.berkshirehathaway.com. Berbeda dengan buku-buku tentang investasi saham yang seringkali isinya cuma teori, di annual letter ini anda akan bisa merasakan sendiri perjalanan dan progress dari kegiatan investasi yang dilakukan oleh Buffett, dimana ada banyak sekali pelajaran dan wisdom yang bisa diperoleh dari situ (tulisannya dibuat dengan gaya bertutur/bercerita, sehingga seolah-olah Buffett bercerita langsung kepada anda tentang ia dapet profit dan menderita rugi di saham apa aja). Bonusnya adalah, dari dulu sampai sekarang Buffett selalu menulis letter-nya dalam bahasa yang santai dan mudah dimengerti, nyaris tanpa pernah menyertakan istilah-istilah keuangan yang biasanya sulit dipahami oleh orang awam.

Selain annual letter diatas (belum penulis baca semuanya sih, soalnya ada lebih dari 50 letter), penulis juga banyak menghabiskan waktu untuk membaca Wikipedia, Investopedia (kalau ada istilah tentang saham yang tidak anda pahami, maka investopedia biasanya punya penjelasannya), dan annual report terbaru dari emiten-emiten di BEI. Beberapa investor mungkin ingin lebih memperdalam pengetahuan dan informasi yang ia peroleh dengan juga membaca Bloomberg, Forbes, The Economist, hingga langganan koran bisnis & ekonomi, tapi terus terang penulis sendiri nggak se-rajin itu (padahal saya juga kolumnis di Forbes Indonesia). At the end, I’m just an investor, not a minister of finance.

‘Buku’ Paling Bagus sekaligus Paling Mahal: Pengalaman

Dan terakhir, seperti yang sudah disebut diatas, ‘buku’ yang senantiasa penulis baca setiap harinya adalah pengalaman dalam melakukan investasi saham itu sendiri. Boleh dibilang dari ‘buku’ inilah penulis memperoleh pelajaran yang paling berharga dan juga paling bisa diterapkan untuk kegiatan investasi selanjutnya, tapi disisi lain ‘buku’ ini ‘harganya’ jauuuuuh lebih mahal dibanding buku lain manapun yang pernah penulis baca. Yup, karena untuk memperoleh pengalaman berharga maka anda biasanya harus melewati satu peristiwa yang tidak akan pernah disukai oleh investor manapun: Jual saham dalam posisi rugi.

Contohnya, pada tahun 2014 lalu, penulis menemukan bahwa Salim Ivomas Pratama (SIMP), sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit, minyak goreng, dan margarine, PBV-nya hanya 0.9 kali pada harga 900 ketika itu. SIMP adalah anak usaha dari Indofood Sukses Makmur (INDF), induk dari PP London Sumatera (LSIP), dan sister company dari Indofood CBP (ICBP). Ketika itu, penulis masih ingat, PBV dari INDF 1.7 kali, ICBP 4.9 kali, dan LSIP 2.4 kali. Alhasil penulis kemudian berkesimpulan bahwa SIMP ini undervalue, karena kalau ada orang yang mau beli INDF pada harga yang mencerminkan PBV 1.7 kali, maka tentu lebih baik ambil SIMP yang valuasinya hanya setengahnya, mengingat sekitar separuh dari aset INDF ya terletak di SIMP.

Penulis kemudian menempatkan tidak kurang dari 30% dana kelolaan di SIMP ini, pada harga 900, di bulan Maret 2014. Kemudian untuk sesaat dia naik sampai 1,000-an, tapi nggak kita jual (target kita ketika itu minimal 1,200), apalagi kemudian perusahaan merilis laporan keuangannya untuk Kuartal I 2014 dimana labanya naik signifikan. Tapi memasuki bulan Juli, entah kenapa SIMP mulai turun.. dan terus saja turun sampai level 750. Penulis katakan ‘entah kenapa’, karena ketika itu IHSG baik-baik saja, malah lagi naik, jadi saya sama sekali tidak ada clue soal penurunan SIMP tersebut. Namun karena ketika itu penulis tetap bersikukuh bahwa SIMP ini sudah kelewat murah, maka saya tetap hold.

Tapi beberapa waktu kemudian barulah penulis mengerti apa yang menyebabkan SIMP turun: Penurunan harga CPO, yang terjadi persis mulai bulan Maret 2014 dimana harga CPO ketika itu masih di level US$ 861, tapi kemudian terus saja turun hingga level US$ 600-an per ton. Dan setelah penulis pelajari lagi, ketika itu trend harga-harga komoditas memang lagi turun semua, termasuk harga CPO juga kemungkinan bakal terus turun, dan saham SIMP sebagai perusahaan sawit biar gimana ikut terpengaruh. Jadi ya sudah, dengan berat hati kita jual SIMP di harga 700 pas, dan penulis terpaksa menderita kerugian yang nilainya sama dengan uang belanja bulanan buat ibunya anak-anak di rumah selama setahun penuh (but as you might guess, penulis gak cerita apa-apa sama orang rumah karena saya gak mau tidur di teras depan. Saya baru cerita soal ini sekitar dua tahun kemudian).

Tapi dari pengalaman diatas penulis kemudian memperoleh setidaknya tiga pelajaran. Pertama, menganggap bahwa sebuah saham murah hanya karena PBV-nya lebih rendah dibanding PBV dari saham lain dalam satu grup usaha (SIMP lebih murah dibanding INDF, ICBP, dan LSIP), maka itu adalah anggapan yang keliru. Pada akhirnya orang hanya akan melihat kinerja perusahaan serta prospeknya kedepan, dalam hal ini terkait dengan harga CPO, sementara kinerja SIMP ini sejak awal gak begitu bagus jika dibanding INDF, ICBP, dan juga LSIP. Kedua, kalau ada saham turun sendiri ketika kinerjanya (sekilas) masih bagus, dan IHSG-nya juga lagi naik, maka segera lakukan evaluasi/jangan diem aja, karena bisa jadi ada sesuatu yang nggak beres (penulis ketika itu telat melakukan evaluasi setelah SIMP ini di harga 750. Harusnya waktu dia turun dari 1,000 ke 900, saya sudah mengeceknya lagi). Dan ketiga, seyakin apapun kita terhadap prospek suatu saham, sebaiknya jangan langsung hajar pake duit besar, melainkan bisa nyicil saja dulu, dimana kalau perkembangannya bagus maka boleh beli lagi, tapi kalo ternyata gak bagus/malah turun maka kita gak akan merasa berat untuk cut loss (alasan saya masih hold SIMP sampai harga 700-an ketika itu, salah satunya adalah karena merasa berat untuk jual rugi). Sejak kasus SIMP, maka kecuali untuk satu dua kasus, penulis paling banyak hanya menempatkan 15 – 20% dana kelolaan pada satu saham tertentu.

Untungnya penulis tidak perlu membayar terlalu mahal untuk memperoleh lessons diatas, karena saya sudah keluar dari SIMP ini di harga 700, sementara SIMP ini sendiri kemudian lanjut turun sampai 300-an. Dan meski sekarang dia naik lagi (waktu SIMP di mentok harga 300-an, penulis gak beli lagi), tapi dalam dua tahun terakhir penulis sudah menginvestasikan kembali uang hasil cut loss di SIMP ini pada saham-saham lain, yang kemudian menghasilkan profit lebih besar. Dari pengalaman di SIMP inilah, dan juga pengalaman di saham-saham lain, penulis menabung ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi bekal penting dalam berinvestasi itu sendiri, dan penulis menuangkan sebagian diantaranya dalam bentuk tulisan entah itu di blog ini maupun di beberapa buku yang saya tulis. Kalau anda baca buku karya penulis yang berjudul ‘Value Investing: Beat the Market in Five Minutes!’ (bisa dibeli di Gramedia), anda bisa lihat disitu kalau penulis nyaris tidak mengutip tulisan dari buku/sumber lain manapun, melainkan hampir sepenuhnya bersumber dari pengalaman penulis sebagai value investor itu sendiri.

Hanya memang, di bab bab awal tentang konsep dasar dari value investing, penulis banyak meng-quote pernyataan dari Warren Buffett. Sebab sebelum kita mulai ke bagian dari contoh-contoh penerapan value investing itu sendiri, maka tentu pertama-tama kita harus ngerti dulu, apa sih value investing itu? Seperti apa konsep dasarnya? Dan tidak ada sumber yang lebih baik untuk memahami konsep value investing selain mendengar langsung penjelasan dari Ben Graham dan Buffett sebagai ‘mbah-nya’ value investing itu sendiri.

Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas: Buku atau tulisan apa saja yang disarankan untuk dibaca terutama untuk value investor pemula? Jawabannya adalah annual letter yang ditulis langsung oleh Warren Buffett, artikel-artikel tentang investasi dan dunia keuangan di Wikipedia, dan Investopedia. Anda tentu boleh juga beli buku-buku tentang investasi saham di toko buku, tapi kalo misalnya bukunya bikin ngantuk maka gak usah ngotot untuk membaca semuanya sampai selesai, karena yang penting anda memperoleh konsep serta dasar pemikiran yang disampaikan di buku tersebut tentang investasi secara umum, investasi saham, dan juga value investing itu sendiri.

Sementara untuk penerapannya, maka anda bisa belajar dari pengalaman. Dan ‘buku’ bernama pengalaman ini harganya gak murah, bisa mencapai puluhan, ratusan juta, bahkan milyaran Rupiah (dalam bentuk kerugian. Karena biasanya seorang investor harus menderita rugi dulu, baru dia mau belajar. Sebab kalo belum apa-apa udah cuan, terus ngapain lagi saya harus belajar?). Bandingkan dengan rata-rata harga buku di Gramedia yang bahkan gak nyampe seratus ribu (buku penulis diatas harganya cuma Rp58,800). Namun demikian buku bernama pengalaman inilah yang akan benar-benar memberikan anda pelajaran yang bakal diingat seumur hidup. Thus, tak peduli seberapa besar ‘biaya’ yang harus anda keluarkan untuk memperolehnya, tapi asalkan anda kemudian bisa menangkap pelajarannya dengan baik dan juga menerapkannya dengan sama baiknya, then trust me, hasil profitnya akan jauh lebih besar lagi :)

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

8 komentar:

Victor Ferdianto mengatakan... Balas
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Marta mengatakan... Balas
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Marta mengatakan... Balas

Unless you are buying fixed income securities in some condition, PBV is useless metric right now if it is applied in common stock purchase/analysis.
It may be popular in Graham's day but not in nowadays.

Yogihaditya mengatakan... Balas

Makasi jawabannya pak Teguh.. makasi juga udh sharing pengalaman yg bernilai 'uang belanja bulanan selama setahun' itu wkwkwk
Sy sangat bisa ngrasain jalannya bapak dulu itu, yg rugi besar tpi gk usah bilang ke oranglain dulu itu sama persis sm sy pak wkwkwk. Oke sekarang sy lebih yakin pak pasti bisa menutupi kerugian yg dilakuin dulu dengan invest dgn cara yg lebih bener skarang. Thanks a lot pak Teguh.

david mengatakan... Balas

Terimakasih pak teguh. Buat apa juga baca banyak buku kalau tidak pernah di praktekkan. Pengalaman memang buku yang paling mahal

Andreas Purwo Santoso mengatakan... Balas

saya sudah memiliki dan membaca buku karangan bapak... benar benar buku terbaik sebagai pengantar sebelum membaca "The Intellegent Investor"nya Ben Graham... trmksh pak Teguh

Agung Prasetija mengatakan... Balas

Saya mau beli bukunya apa . Di gramedia ada kan ya?

YUSUF SAYYID ATHIF mengatakan... Balas

Mas teguh saya mau nanya, saya masih awam mas di dunia investasi ada gak sih may jumlah modal ideal buat memulai investasi khususnya di saham?