Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 ('Ebook Kuartalan') akan terbit hari Senin, 7 Agustus mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Cara Average Down & Average Up

Melanjutkan artikel minggu kemarin berjudul ‘Kenapa Saham Murah Masih Turun?’ (ini link-nya, kalau belum baca sebaiknya baca dulu), ada satu pertanyaan bagus: ‘Seperti yang sudah dijelaskan di artikelnya, ketika kita membeli saham bagus pada harga murah, maka bukan berarti saham tersebut akan langsung naik, melainkan bisa saja naiknya lama kemudian, atau malah justru turun dulu. Pertanyaannya, kalau dia turun dan saya hendak average down, maka bagaimana strateginya? Sebaliknya kalau sahamnya langsung naik tak lama setelah saya membelinya, padahal saya baru beli sedikit, maka bagaimana strateginya kalau saya mau average up?

Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas, pertama-tama kita sepakati dulu, apa itu yang dimaksud dengan average down. Average down adalah jika kita membeli lagi saham yang sama pada harga yang lebih rendah. Misalnya kita beli saham A pada harga 1,000 sebanyak 100 lot. Kemudian alih-alih naik, saham A justru turun 10% ke 900. Tapi setelah kita pelajari/analisa sahamnya sekali lagi, kesimpulannya adalah tidak ada peristiwa penting/perubahan fundamental apapun terkait perusahaan, sehingga kita beli lagi saham A pada harga 900 tersebut, juga sebanyak 100 lot. Jadi sekarang kita memegang 200 lot saham A pada harga rata-rata 950. Karena harga rata-ratanya jadi lebih rendah dibanding sebelumnya (tadinya 1,000, kemudian menjadi 950), maka keputusan untuk membeli lagi saham A pada harga 900, itu disebut averaging down.

Sementara average up adalah sebaliknya: Kita beli saham A pada harga 1,000 sebanyak 100 lot, dan saham A kemudian naik ke katakanlah 1,100, dimana setelah kita analisa sekali lagi, kesimpulannya adalah bahwa saham A masih bisa naik lebih tinggi lagi. Karena itulah kita kemudian beli lagi saham A pada harga 1,100, juga sebanyak 100 lot, sehingga kita sekarang harga rata-ratanya naik menjadi 1,050. Jadi keputusan untuk membeli lagi saham A pada harga 1,100, itu disebut averaging up.

Banyak orang salah kaprah soal average down. Contohnya, ada yang mengatakan bahwa kalau ada saham bagus harganya turun (sehingga kalau kita sudah memegangnya, maka posisinya jadi nyangkut), maka gak apa-apa beli lagi aja. Padahal sebanyak apapun dana cash yang kita miliki, tapi kalau kita terus menerus membeli saham yang sama, maka dana tersebut akan habis juga, dan kita akan terjebak pada situasi dimana sebagian besar portofolio ditempatkan hanya pada satu saham (udah gitu posisinya nyangkut), sehingga kita gak punya dana lagi untuk membeli saham lain. Selain itu, bisa jadi pula satu saham yang dibeli lagi secara terus menerus tadi ternyata tidak juga naik setelah sekian lama, atau malah lanjut turun terus, hingga si investor akan sampai pada satu titik dimana mau cut loss pun sudah nggak bisa, karena nilai kerugiannya sudah kelewat besar (dan kalau seorang investor sudah sampai pada titik ini, artinya game over sudah).

Investor's worst nightmare: Udah average down berkali-kali, tapi tetep aja sahamnya turun terus

Demikian pula dengan average up. Banyak orang yang ketika melihat sahamnya naik, maka dia langsung beli lagi, dan beli lagi, karena berharap kenaikannya akan berlanjut. Problemnya adalah, saham sebagus dan semurah apapun tentu saja tidak akan naik terus setiap hari, melainkan pasti ada turunnya, dimana kalau kita membeli saham tersebut secara asal-asalan sehingga average-nya menjadi kelewat tinggi, maka posisi anda bisa saja malah jadi rugi/nyangkut bahkan meski sahamnya baru turun sedikit/belum sampai balik lagi ke harga awal ketika kita membelinya pertama kali. Contohnya? Well, masih ingat ketika Indika Energy (INDY) tiba-tiba saja naik banyak hingga tembus 1,200-an, beberapa bulan lalu?

Strategi Average Down/Up

Okay, jadi bagaimana strateginya kalau kita mau beli lagi/tambah posisi di saham yang sama, entah itu average down, di harga yang sama, atau average up? Okay, kita langsung ambil contoh riil-nya saja yap. Tapi sebelum itu terdapat setidaknya tiga peraturan yang harus senantiasa anda ingat dan anda terapkan. Pertama, setelah anda memutuskan saham apa yang akan dibeli, misalnya saham A, maka tentukan berapa maksimal dana yang akan anda alokasikan untuk saham A tersebut. Seperti yang sudah penulis jelaskan di salah satu artikel di blog ini, idealnya kita menempatkan 10 – 15% dari total nilai portofolio pada satu saham tertentu, atau maksimal 20%. Jadi jika nilai porto anda adalah Rp100 juta, maka anda harus putuskan, maksimalnya berapa dari jumlah tersebut yang akan anda pakai untuk membeli saham A, apakah Rp10 juta, 15 juta, atau Rp20 juta. Ini untuk mencegah kita menempatkan terlalu banyak dana hanya pada satu saham.

Kedua, karena kita tidak bisa secara persis memprediksi bahwa sebuah saham bisa turun sampai berapa, maka sangat penting untuk membeli saham yang sudah kita pilih secara bertahap alias menyicil. Kalau penulis sendiri, biasanya saya membagi dana yang sudah dialokasikan menjadi dua atau tiga bagian. Misalnya kita mau beli saham A senilai maksimal Rp10 juta, maka kita bisa beli sebanyak Rp3 juta dulu, atau Rp5 juta. Jadi kalau sahamnya turun lagi, maka kita masih punya ‘amunisi’ buat average down. Sangat jarang, kalau tidak mau dikatakan tidak pernah, saya membeli satu saham secara sekaligus dalam jumlah besar, tak peduli seyakin apapun penulis terhadap prospek saham tersebut. Dan ketiga, setiap kali kita hendak membeli lagi saham A, maka lakukan analisa ulang, misalnya dengan melihat lagi chartnya lalu dikaitkan dengan pergerakan IHSG, baca-baca info dan berita terbaru terkait perusahaan (jika ada, karena seringkali suatu saham turun sendiri meski tidak ada berita/sentimen negatif apapun), termasuk cek lagi analisa saham A sejak awal, dimana kalau saham A turun terlalu dalam dari harga belinya maka bisa jadi sejak awal kita salah memilih saham, atau pilihan sahamnya sudah benar tapi salah di harga belinya. Intinya jangan langsung average down hanya karena sahamnya sudah turun 5%, 10%, melainkan selalu lakukan cek ulang sebelum kita beli lagi saham A tadi.

Nah, sekarang kita ke contoh riil-nya. Misalnya setelah mengerjakan analisa yang hati-hati, pada Juli 2016 lalu anda menyimpulkan bahwa Medco Energi Internasional (MEDC) itu layak invest, dimana best buy-nya adalah 1,500 (ketika itu MEDC masih 1,700), dan kita menyiapkan dana sebesar katakanlah Rp15 juta. Analisis MEDC coba baca dulu disini. Sebulan kemudian, yakni pada Agustus 2016, MEDC ternyata beneran turun sampai 1,500, dan ketika itulah kita masuk secara menyicil, katakanlah sebanyak Rp5 juta dulu.

Kemudian MEDC lanjut turun sampai 1,400, dan pada titik inilah kita cek lagi: Apakah MEDC ini secara fundamental dll masih oke seperti analisa sebelumnya? Jika ternyata ada peristiwa penting tertentu, misalnya akuisisi MEDC terhadap Newmont batal, maka jangan average down, melainkan justru harus segera cut loss. Namun karena ketika itu gak ada peristiwa apapun, maka kita kemudian beli lagi MEDC di harga 1,400, juga sebanyak Rp5 juta.

Tapi ternyata MEDC kembali lanjut turun sampai 1,300, atau sudah turun 13% dari 1,500. Nah, berdasarkan pengalaman, meski memang kita tidak bisa memprediksi sebuah saham persisnya bisa turun sampai harga berapa, tapi dengan catatan kita bisa mem-valuasi dengan akurat bahwa bahwa saham A itu murahnya di harga sekian, maka kalaupun dia kemudian turun lebih lanjut dari harga yang kita anggap sudah murah tadi, tapi penurunannya tidak akan terlalu dalam/maksimalnya sekitar 20% (namun berbeda ketika kita menentukan bahwa saham A mahalnya di harga sekian, dimana berdasarkan pengalaman, kadang-kadang saham A justru naik hingga jauh diatas harga yang kita anggap mahal tersebut).

Jadi jika saham yang kita beli turun hingga 20% atau lebih dibanding harga belinya, padahal IHSG-nya masih baik-baik saja, maka terdapat tiga kemungkinan: 1. Gak ada apa-apa, memang sahamnya lagi sepi/belum dapet giliran untuk naik aja, 2. Terdapat perubahan fundamental, force majeure atau semacamnya, 3. Sejak awal kita belinya di harga yang salah/mahal. Nah, jika kemungkinan pertama yang terjadi, maka sahamnya hold saja, tapi jika kita sudah menggunakan maksimal dana yang dialokasikan maka jangan average down lagi. Tapi jika kemungkinan kedua dan ketiga yang terjadi, maka harus siap-siap cut loss (tapi kerugiannya tidak akan terlalu besar karena kita baru memegang MEDC dalam jumlah sedikit).

Namun untungnya pada kasus MEDC, tidak ada perubahan fundamental apapun. Dan memang meski sahamnya sempat turun terus, tapi penurunannya akhirnya mentok di 1,230 (minus 18% dari 1,500, jadi gak sampai tembus batas 20% tadi), sebelum akhirnya naik lagi. So let say kita sudah beli MEDC sebanyak tiga kali pada harga 1,500, 1,400, dan 1,300, maka average-nya jadi 1,400. Sehingga ketika MEDC kemudian balik lagi ke 1,500 saja, posisinya udah cuan. Dan ketika akhirnya MEDC mulai melaju kencang pada awal tahun 2017, maka keuntungan yang anda peroleh jadi lebih besar dari sebelumnya, karena rata-rata harga belinya bukan lagi di 1,500, melainkan lebih rendah di 1,400.

Itu kalau average down. Kalau average up bagaimana? Okay, misalnya kita beli MEDC, juga sebanyak Rp5 juta pada harga 1,500, tapi belinya pada awal tahun 2017 dimana sahamnya langsung naik ke katakanlah 1,600, dimana setelah anda cek lagi (entah itu anda mau average down/up, jangan lupa untuk cek ulang dulu!), MEDC memang masih on track untuk naik lebih lanjut, selain karena harga 1,600 tadi masih belum bisa disebut mahal. Maka anda boleh beli lagi/average up pada harga 1,600 tersebut, dan anda boleh beli lagi hingga MEDC naik maksimal 20% dari harga ketika anda membelinya untuk pertama kali (dari 1,500 tadi).

Dengan kata lain, kalau MEDC sudah naik sampai diatas 1,800, padahal anda baru membelinya dua kali masing-masing senilai Rp5 juta (jadi totalnya Rp10 juta), sedangkan anda menyiapkan dana Rp15 juta untuk membeli MEDC, maka kecuali dalam beberapa waktu berikutnya MEDC turun lagi sampai dibawah 1,800 tadi, sisa dana yang Rp5 juta tadi sebaiknya dipakai buat beli saham lain saja. Ini adalah untuk mencegah kita melakukan average up pada harga yang terlalu tinggi, yang bisa berakibat pada kerugian/nyangkut kalau MEDC sewaktu-waktu kemudian turun lagi. Lalu kenapa 20%? Karena berdasarkan pengalaman, kalau sebuah saham naiknya sudah diatas 20% maka akan rawan profit taking, overbought, atau apapun itu namanya, yang bisa menyebabkan saham tersebut untuk turun lagi bahkan meski valuasinya masih murah. Actually, beberapa saham kadang-kadang bisa naik hingga puluhan atau bahkan lebih dari seratus persen dalam waktu singkat, sebelum kemudian baru turun lagi, jadi batas 20% tadi mungkin tidaklah relevan. Tapi intinya kalau anda melihat/menganggap bahwa saham yang anda beli naiknya terlalu tinggi dan dalam waktu yang terlalu singkat, maka kalaupun anda mau hold saja (istilahnya let the profit run), maka jangan juga tambah posisi/average up, karena itu, sekali lagi, bisa membuat posisi anda berbalik dari cuan besar menjadi rugi besar.

(Hanya memang, kalau anda membeli saham tertentu untuk tujuan investasi jangka panjang hingga 3 - 5 tahun atau lebih lama lagi, dimana anda secara rutin membeli lagi/tambah posisi di saham tersebut setiap beberapa waktu sekali (misalnya karena anda menyetor dana lagi ke sekuritas), maka tidak apa-apa jika harga belinya jauh diatas harga ketika anda membeli saham tersebut pertama kali, selama valuasinya, berdasarkan kinerja fundamental terbaru perusahaan, masih murah. Penjelasannya baca lagi disini).

Dengan demikian, entah itu saham anda naik atau turun setelah anda membelinya, maka sekarang anda tahu apa yang harus dilakukan. Yang juga perlu dicatat, dalam value investing, target harga/harga yang dianggap mahal untuk suatu saham biasanya jauh diatas harga belinya, katakanlah dengan kenaikan 50%, 75%, 100%, atau lebih tinggi lagi (misalnya MEDC tadi, best buy-nya 1,500, best sell-nya sekitar 2,500, berarti potensi upside-nya 60 - 70%), meski juga jangan harap sahamnya bakal naik setinggi itu dalam 2 – 3 hari (sabar!). Jadi, meski memang seorang value investor selalu berusaha untuk membeli saham bagus pada harga serendah mungkin, sehingga kita lebih suka average down ketimbang up, tapi kita sewaktu-waktu boleh average up juga, selama saham yang kita beli masih belum naik banyak/masih jauh dari perkiraan harga mahalnya.

Okay, ada pertanyaan? Buat temen-temen yang udah baca blog ini sejak tahun 2010, 2011, dan 2012, tolong bantu jawab yap :) Untuk minggu depan, kecuali kalau ada topik lain yang lebih menarik, kita akan membahas analisa salah satu saham properti.

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustus mendatang. Anda bisa memesannya dengan cara preorder disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

4 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

minggu depan saham property yang menarik ada 3 pak teguh.
1 APLN
2 LPCK
3 MDLN

ChrisVideo mengatakan... Balas

Mohon kalau bisa, juga dijelaskan strategi take profit yg baik dan benar pak thx

Erose Perwita mengatakan... Balas

Penjelasan yg bagus pak. Saya baru masuk saham 1,5 tahun yang lalu, dan strategi averaging ini memang saya perlukan. Terimakasih pak

DragonLady mengatakan... Balas

Pak..tolong bahas saham CTRA lebih dalam lagi. Tgx