Buletin Analisis IHSG & stockpick saham pilihan edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Indika Energy

Bulan Mei baru saja beberapa hari, but the game difficulty has already switched from ‘easy’ to ‘hard’. Yup, kalau anda perhatikan beberapa waktu ini ada banyak saham-saham, terutama di kelompok second liner, yang turun signifikan meski IHSG sekilas nggak kemana-mana. Namun untuk beberapa saham, katakanlah Indika Energy (INDY), dia malah naik sendiri. Tapi untungnya secara fundamental kenaikan tersebut bisa dijelaskan (karena banyak juga kasus dimana saham-saham naik sendiri padahal fundamentalnya zonk), dan karena itulah kita akan membahas INDY disini. Okay, kita langsung aja.

INDY adalah perusahaan holding dengan kepemilikan aset di bidang tambang minyak, batubara dan infrastruktur pendukungnya, serta pembangkit listrik. Aset terbesar perusahaan adalah 46% saham di Kideco Jaya Agung, perusahaan tambang batubara terbesar ketiga (setelah Kaltim Prima Coal dan Adaro) di Indonesia. INDY juga merupakan pemegang saham pengendali di Mitra Energi Agung, Multi Tambangjaya Utama, Tripatra Engineering, Tripatra Constructors, dan Petrosea (PTRO), serta memegang 35% saham di Santan Batubara. Di bidang infrastruktur tambang dan energi, INDY merupakan pemegang saham pengendali di Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS, perusahaan kapal), Kuala Pelabuhan Indonesia (perusahaan pelabuhan), dan Petrosea Offshore (perusahaan logistik lepas pantai), serta memegang 20% saham di Cirebon Electric Power (perusahaan pembangkit listrik), 46% saham di Sea Bridge Shipping (perusahaan kapal), dan 45% saham di Cotrans Asia (perusahaan jasa pengangkutan batubara).


Jika penulis perhatikan, INDY ini memiliki beberapa kesamaan dibanding Bumi Resources (BUMI). Perhatikan: Meski merupakan perusahaan besar (beberapa tahun lalu market cap INDY pernah mencapai US$ 3 milyar, dan BUMI lebih besar lagi), tapi keduanya merupakan bagian dari grup usaha yang lebih besar lagi. BUMI adalah anak usaha dari Grup Bakrie, sementara INDY merupakan bagian dari Grup Indika milik Keluarga Sudwikatmono, dimana kedua perusahaan merupakan ‘wadah’ bagi aset-aset milik kedua grup diatas di bidang tambang batubara dan energi. Dan seperti halnya BUMI, perusahaan mengakuisisi aset-asetnya menggunakan utang. Alhasil ketika sektor batubara mulai lesu sejak tahun 2012, maka INDY langsung menderita kerugian karena beban bunga ketika mayoritas perusahaan batubara lainnya hanya mengalami penurunan laba. Dan sahamnya pun tanpa ampun terjun bebas dari Rp5,000-an (yup, dulu INDY pernah dihargai setinggi itu) hingga mentok di Rp100-an per saham, tahun 2015 lalu.

Hanya bedanya, jika dibanding BUMI, maka INDY dikelola dengan lebih konservatif, dan juga tidak terlalu ambisius dalam mengambil alih aset-aset. Pada periode puncak industri batubara di tahun 2011, INDY hanya memiliki utang sebanyak 2.5 kali nilai ekuitasnya, atau jauh dibawah BUMI yang mencapai 6 kali. Jika BUMI selalu berusaha untuk mengambil alih kepemilikan mayoritas di banyak perusahaan, salah satunya di Newmont Nusa Tenggara (melalui Bumi Resources Minerals/BRMS) namun gagal, maka INDY tidak pernah kedengaran berusaha untuk mengambil alih kendali atas Kideco (mereka sudah cukup puas dengan 46% saham), demikian pula di beberapa aset-aset lainnya, mereka hanya menjadi pemegang saham minoritas saja. Cara kerja yang berbeda ini menyebabkan INDY, meski sempat mengalami masa-masa sulit beberapa tahun lalu dan menderita kerugian hingga 4 tahun berturut-turut (2013 – 2016), tapi tidak sampai kedengaran gagal bayar utang ataupun terpaksa menjual asetnya seperti halnya BUMI. Dan sahamnya pun, meski sempat terpuruk sampai hanya 100-an, tapi gak pernah sampai mati di gocapan.

Nah, ketika industri batubara mencapai titik terendahnya pada pertengahan tahun 2015 lalu, ketika itu ditandai dengan ditutupnya atau berhentinya operasional dari beberapa perusahaan batubara skala kecil, dan ada beberapa perusahaan batubara yang berpindah kepemilikan, dalam hal ini Berau Coal Energy (BRAU) yang diakuisisi Grup Sinarmas (investing lesson #167: Jika suatu sektor/industri sudah sedemikian terpuruknya hingga beberapa perusahaan berhenti beroperasional atau bangkrut sama sekali, dan perusahaan-perusahaan yang bangkrut tersebut diakuisisi oleh perusahaan yang lebih besar dan mapan, maka itu biasanya merupakan titik balik dari sektor tersebut), maka penulis langsung mengecek lagi valuasi saham-saham batubara, dan ketemulah salah satunya INDY ini, yang ketika itu pada harga 100-an (130 lebih tepatnya), PBV-nya hanya 0.1 kali.

(Catatan: Pada Juli 2015, penulis sudah kasih hint tentang peluang di sektor batubara.  Anda bisa baca lagi analisisnya di artikel yang ini, coba baca juga komentar-komentarnya).

However, penulis ketika itu hanya memasukkan INDY kedalam watchlist saja, dan tidak/belum benar-benar berminat untuk membeli sahamnya, karena nggak pede dengan utang perusahaan yang segunung (utang INDY, meski masih lebih kecil dibanding utangnya BUMI, tapi tetep aja gede banget). Termasuk ketika sahamnya mulai merangkak naik hingga akhirnya konsolidasi di level 700 – 800, penulis tetap ambil posisi menonton saja, terutama karena INDY, seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, hingga akhir tahun 2016 masih membukukan kerugian hingga US$ 67.6 juta, dimana angka itu kembali naik dibanding kerugian di tahun sebelumnya (2015), padahal sepanjang tahun 2016 harga batubara sejatinya mulai naik.

Nah, mungkin anda bertanya, bagaimana kita bisa melihat/memperkirakan bahwa INDY mungkin belum akan profit dulu meski harga batubara mulai naik? Jawabannya simpel: Sebagian besar aset INDY bergerak di bidang mining service dan infrastruktur tambang, jadi bukan tambang batubara itu sendiri, sementara untuk perusahaan mining service yang kerjaannya menggali batubara/minyak milik perusahaan lain, maka pendapatan/labanya baru akan dicatat setelah pekerjaan menggalinya selesai dilakukan, bukan ketika kontrak pekerjaannya diterima. Jadi ketika harga batubara naik, maka anak-anak usaha INDY juga bakal kebanjiran order lagi untuk menggali batubara, tapi pendapatan mereka baru akan akan tampak naik pada 1 – 2 tahun kemudian. Contoh kasus yang bisa menjelaskan hal ini adalah ketika Petrosea (PTRO), salah satu anak usaha INDY di bidang mining service, masih membukukan pendapatan dan laba yang cukup besar di tahun 2013, padahal ketika itu harga batubara sudah mulai turun. Dan pendapatan PTRO yang besar tersebut memang berasal dari pekerjaan menggali batubara yang dilakukan perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya, yakni ketika harga batubara masih tinggi.

Namun karena masalah utangnya yang besar, maka bahkan kalaupun kita asumsikan bahwa mulai tahun 2017 ini pendapatan INDY secara overall bakal naik, tapi laba bersihnya belum tentu bakal ikut naik/mungkin masih rugi, karena masih tekor sama beban bunga utangnya. Pendek kata, berbeda dengan perusahaan-perusahaan batubara lainnya yang bisa langsung diprediksi bakal profit, maka sangat sulit bagi investor/analis manapun untuk melihat apakah INDY bakal profit atau tidak di awal tahun 2017 ini. Dan itu sebabnya ketika ada banyak saham batubara yang naik signifikan sejak awal tahun kemarin, namun saham INDY cenderung gak kemana-mana di level 700-an, tapi dia nggak turun juga, karena semua orang termasuk penulis masih wait n see tentang bagaimana kira-kira kinerja INDY di Kuartal I 2017 nanti.

Jadi ketika INDY akhirnya merilis LK-nya akhir April kemarin, dan ternyata pendapatannya naik sementara laba bersihnya juga solid positif di angka US$ 22 juta, maka itulah signal yang sudah ditunggu-tunggu semua orang: INDY kemudian dengan cepat melejit, dan ketika artikel ini ditulis dia sudah berada di level 1,125 dari sebelumnya 700, seminggu lalu. Sekilas, kenaikan hingga 60% hanya dalam seminggu tentu saja tampak tidak wajar, tapi sebenarnya INDY hanya menyusul ketertinggalannya saja dari saham-saham batubara yang lain. Jika kita lihat lagi kenaikan saham-saham batubara termasuk INDY dalam setahun terakhir, maka posisi INDY saat ini sama seperti saham-saham batubara lainnya: Sudah naik sekitar dua kali lipat.

Terus apakah itu artinya INDY masih bisa naik lagi? Apalagi meski sahamnya sudah naik banyak, tapi PBV-nya pada harga 1,125 masih 0.7 kali, alias masih murah? Well, kalau anda melihatnya agak panjang, let say hingga akhir tahun 2017 maka iya, INDY mungkin masih bisa naik lagi. Tapi kalau dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu kedepan, maka tentu saja INDY mungkin akan cooling down dulu. Ingat pula bahwa sekarang sudah bulan Mei, dimana pasar normalnya tidak akan lagi serame awal tahun lalu.

Jadi Strateginya Bagaimana?

Jadi kalau anda tertarik dengan INDY ini, maka strateginya gini aja: Pertama, seperti juga kalau kita beli saham-saham lainnya, jadikan INDY ini simpanan untuk jangka menengah, alias paling pendek 3 bulan kedepan. Jika anda tertarik dengan INDY ini hanya karena dia kemarin terbang, dan juga berharap bahwa dia akan terbang lebih tinggi lagi dalam 2 – 3 hari kedepan, maka anda boleh coba saham lain saja seperti FPNI, BEKS, TRAM, MAMI, atau sebangsanya. Remember, INDY ini bukan untuk begituan.

Kedua, berapapun dana yang anda siapkan, maka bagi dana tersebut minimal jadi tiga bagian (atau empat bagian juga boleh). Bagian pertama boleh langsung dipake untuk hajar kanan, berapapun harga INDY ketika itu. Bagian kedua simpan untuk bulan depan. Jika pergerakan INDY ini sama seperti saham-saham murah lain yang melompat ketika laporan keuangannya bagus (dan prospeknya juga bagus), maka setinggi apapun kenaikannya, pada akhirnya dia akan turun lagi untuk konsolidasi, tapi penurunannya gak akan sampai balik lagi ke level sebelum dia naik (700-an). Proses konsolidasi tersebut, atau penulis suka menyebutnya cooling down, biasanya terjadi selama beberapa minggu hingga 1 – 2 bulan, tergantung IHSG-nya juga. Jika INDY kemudian turun sampai 900 – 1,000, kemudian stabil disitu katakanlah selama 2 – 3 minggu, maka anda bisa beli INDY ini sekali lagi. Tapi kalo malah naik lagi maka jangan dikejar, melainkan tunggu saja dulu sampai dia sampai ke fase stabilnya tadi.

Btw, dalam value investing, dan mungkin juga dalam metode investasi saham manapun, kita tidak bisa memprediksi arah pergerakan saham dalam jangka pendek. Tapi yang penting entah itu dia mau naik atau turun (dalam jangka pendek tersebut), kita tahu apa yang harus dilakukan. Inilah yang disebut strategi if what, then what.

Dan bagian ketiga atau terakhir, anda bisa menggunakannya pada akhir Juni (atau awal Agustus) nanti, yakni ketika INDY akan segera (atau baru saja) merilis laporan keuangannya untuk Kuartal II 2017. Dengan keluarnya LK Kuartal I, dan ternyata hasilnya positif, maka sekarang terdapat optimisme bahwa di Kuartal II nanti LK INDY bakal sama bagusnya, atau bahkan lebih bagus, karena disisi lain perusahaan baru saja merestrukturisasi sebagian utangnya (INDY barusan menerbitkan obligasi senilai US$ 265 juta dengan bunga yang lebih rendah, untuk refinancing/membayar utang sebelumnya), beberapa unit tambang batubaranya mulai beroperasi/meningkatkan volume produksi seiring dengan stabilnya harga batubara, demikian pula unit usaha mining service-nya kembali menerima banyak orderan. Optimisme investor karena poin-poin diatas akan menjaga INDY untuk setidaknya tidak balik lagi ke level 700-an, but still, untuk jangka panjang sahamnya tetap akan butuh sentimen lanjutan agar bisa naik lebih tinggi lagi. Dan sentimen yang paling bagus adalah LK Kuartal II tadi. Thus, jika semuanya berjalan lancar, maka INDY mungkin akan naik sampai level 2,000-an pada akhir tahun 2017 nanti.

Jadi yap, sepertinya kita baru dapet barang bagus lagi disini. But remember bahwa berlian yang paling cemerlang sekalipun tidak akan langsung tampak berkilau ketika kita menemukannya dari dalam tanah, melainkan harus diasah terlebih dahulu, dan tidak sesederhana itu untuk mengasah sebuah berlian. Saham juga sama: Mau sebagus apapun fundamentalnya, semurah apapun valuasinya, tapi kalau kita asal-asalan dalam membeli sahamnya (misalnya karena buru-buru ‘mengejar kereta’) maka tetap saja ujungnya malah bakal rugi. Contoh paling gampang adalah saham KMI Wire & Cable (KBLI), yang sudah kita recommend di blog ini pada Oktober 2016 lalu ketika sahamnya masih di 300-an (anda bisa baca lagi analisisnya disini), dan memang dia kemudian naik tinggi sampai sempat tembus 800, tapi kemudian malah banyak trader yang baru masuk di KBLI ini di harga 700 – 800 (udah telat banget!), sehingga sekarang mereka malah nyangkut.

Anyway, the lesson has been learned, jadi mudah-mudahan kali ini untuk INDY kita lebih beruntung.

PT Indika Energy, Tbk (INDY)
Rating Kinerja Kuartal I 2017: A
Rating Saham pada 1,125: A

Disclosure: Ketika artikel ini dipublish, Avere sedang dalam posisi memegang INDY di harga 780. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

3 komentar:

Jeremy Micky mengatakan... Balas

Pak teguh, bahas INKP dongsss, naik terus dan PEnya seperti INDY serta masih murah

Christopher Wijaya mengatakan... Balas

Salam kenal pak, sbg pakar investasi, apa bpk bersedia mengulas dunia cryptocurrency & Tekhnologi blockchain berdasarkan pengalaman & relasi bpk. Mengingat guyuran uang yang sudah sangat byk +/- $ 40 bln. Sblmnya sy ucapkan byk terimakasih

Reing mengatakan... Balas

Mantapz Pak Teguh ulasannya, sangat bermanfaat. Two Thumbs Up