Jadwal Seminar Value Investing: Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Wijaya Karya Gedung

Wika Gedung (WEGE) menjadi salah satu saham anyar di BEI yang menarik untuk diperhatikan setelah perusahaan melaporkan laba bersih Rp295 milyar untuk tahun penuh 2017, dimana kalau kita bandingkan dengan ekuitasnya setelah dikurangi dana hasil IPO-nya (karena perusahaan baru menggelar IPO pada November 2017, sehingga dana hasil IPO-nya masih belum digunakan), yakni 1,698 – 833 = Rp865 milyar, maka laba tersebut mencerminkan return on equity (ROE) 34.1%, alias sangat besar baik itu jika dibandingkan dengan emiten-emiten konstruksi yang lain, ataupun dibandingkan dengan semua emiten di BEI secara umum. Disisi lain dengan PBV 1.5 kali pada harga saham 264, maka valuasi WEGE juga tidak bisa dikatakan mahal. Prospek kedepan?


PT Wijaya Karya Bangunan Gedung, Tbk (WEGE) adalah salah satu anak usaha dari Wijaya Karya (WIKA), yang spesialis bergerak di bidang konstruksi bangunan gedung dan properti seperti apartemen, hotel, mall & pusat perbelanjaan, menara perkantoran, gedung kampus, kompleks olahraga, hingga rumah sakit. Berbeda dengan WIKA itu sendiri yang sebagian besar pendapatannya berasal dari proyek-proyek pekerjaan umum milik pemerintah termasuk dari sesama BUMN dan BUMD, sekitar 80% pendapatan WEGE berasal dari swasta. Jadi jika WIKA adalah kompetitor dari Waskita Karya (WSKT) dan Adhi Karya (ADHI), dalam hal membangun infrastruktur/fasilitas umum milik negara, maka WEGE sebagai konstruktor gedung properti milik swasta adalah kompetitor dari Total Bangun Persada (TOTL), Nusa Raya Cipta (NRCA), Acset Indonusa (ACST), hingga Totalindo Eka Persada (TOPS), tapi posisi WEGE secara umum lebih unggul dibanding para kompetitornya tersebut. Berdasarkan pangsa pasarnya baik itu dari pelanggan pemerintah maupun swasta, maka WEGE adalah perusahaan konstruksi gedung terbesar ketiga di tanah air, setelah Pembangunan Perumahan (PTPP), dan Adhi Persada Gedung, anak usaha dari ADHI. Selain menjual jasa konstruksi, WEGE juga jualan beton pracetak (precast) khusus untuk kontruksi gedung, tapi kontribusinya berdasarkan nilai laba bersih tidak signifikan/hanya sekitar 1% dari total laba perusahaan.

Selain usaha konstruksi dan beton pracetak, sejak tahun 2013 WEGE juga punya usaha usaha properti milik sendiri jenis apartemen dan hotel di beberapa kota di Pulau Jawa, dan kontribusi usaha properti ini terbilang signifikan, dimana dari laba bersih WEGE sebesar Rp295 milyar di tahun 2017, Rp80 milyar berasal dari properti, dan angka tersebut melonjak dari Rp32 milyar di tahun 2016. Berhubung perusahaan masih punya cukup banyak stok apartemen yang siap dijual maupun masih dalam tahap pembangunan, dan sektor properti itu sendiri secara umum mulai hot lagi sejak tahun 2017 kemarin, maka seharusnya momentum lonjakan kinerja WEGE dari unit usaha propertinya bisa berlanjut pada tahun 2018 ini.

Kembali ke usaha konstruksi WEGE. Dibanding konstruksi infrastruktur yang rata-rata berskala besar (bisa mencapai belasan trilyun untuk satu proyek) serta butuh waktu pengerjaan hingga bertahun-tahun, konstruksi gedung nilainya lebih kecil (ratusan milyar), tapi disisi lain: 1. Margin labanya lebih besar, dan 2. Waktu pengerjaannya lebih singkat yakni hanya hitungan bulan, sehingga WEGE bisa lebih cepat menerima pembayaran dari pemilik proyek. Yup, awalnya penulis bingung, kenapa WEGE labanya terbilang besar padahal WIKA itu sendiri dari dulu ROE-nya paling besar hanya di kisaran 20 – 24%, tapi kemudian saya sadar bahwa WEGE ini, kalau melihat fokus usahanya, maka lebih cocok dibandingkan dengan TOTL dkk, ketimbang WSKT dkk, dan ROE TOTL sejak dulu memang selalu diatas rata-rata. Karena, you know, ketika perusahaan konstruksi BUMN membangun jalan tol dll milik pemerintah, maka mereka tidak mengambil keuntungan terlalu besar karena sebagai badan usaha milik pemerintah itu sendiri, maka sejak awal tujuannya bukan untuk meraup profit sebesar-besarnya, melainkan untuk membangun infrastruktur untuk kepentingan umum. Ini berbeda dengan konstruksi gedung milik swasta, katakanlah gedung apartemen, dimana perusahaan konstruksi bisa mengambil margin yang besar, karena pemilik gedung itu juga nanti bakal untung lebih besar lagi ketika mereka menjual unit-unit apartemennya ke konsumen akhir.

Kemudian, jika ADHI katakanlah harus menunggu sampai 3 – 4 tahun untuk menerima pembayaran dari proyek light rail transit (LRT) yang mereka kerjakan, karena proyek LRT tersebut memang butuh waktu selama itu untuk bisa selesai seluruhnya, maka WEGE tidak perlu menunggu selama itu karena mayoritas proyek-proyeknya bisa diselesaikan hanya dalam hitungan bulan saja, sehingga omzet/perputaran usahanya jauh lebih cepat, dan otomatis labanya pun lebih besar. Dan berbeda dengan proyek infra skala besar yang berisiko tinggi untuk mangkrak karena kurangnya dana, ketidak stabilan politik, dll, maka konstruksi gedung skala kecil risikonya lebih rendah/tidak akan mangkrak kecuali perusahaan pemilik proyeknya tiba-tiba bangkrut/gak bisa bayar.

Kesimpulannya, yep, sepertinya kita baru saja ketemu ‘BUMN konstruksi rasa swasta’ di WEGE ini, dimana margin laba WEGE tidak kalah dibanding TOTL dkk, tapi perusahaan tetap diuntungkan karena statusnya sebagai anak usaha BUMN, dimana jika WIKA dapet proyek membangun jalan tol, misalnya, maka WEGE bisa dapet jatah membangun fasilitas rest area­-nya. Demikian pula jika kawasan tertentu berkembang pesat karena sudah ada infrastruktur yang lebih lengkap disitu (yang dibangun oleh WIKA), maka daripada repot-repot cari kontraktor baru, para developer properti yang hendak membangun apartemen dll di kawasan tersebut bisa langsung menunjuk WIKA saja, dimana WIKA kemudian memberikan pekerjaan konstruksi tersebut kepada WEGE, atau bahkan WEGE bisa membangun apartemen miliknya sendiri.

Dan yang paling menarik adalah valuasi sahamnya: Dengan PBV 1.5 dan PER 8.6 kali pada harga saham 264, maka WEGE, meski valuasinya tampak belum begitu murah dibanding sesama anak usaha BUMN konstruksi seperti Wika Beton (WTON), Waskita Beton (WSBP), hingga PP Precast (PPRE), tapi dia jelas lebih murah dibanding TOTL dkk. Jadi kalau pada Kuartal I 2018 nanti WEGE kembali membukukan kenaikan laba yang signifikan, maka sahamnya bisa naik banyak.. entah sampai berapa, meski mungkin naiknya tidak akan sekaligus/cenderung pelan-pelan, karena orang-orang di market masih akan perlu waktu untuk menyadari bahwa WEGE, sekali lagi, lebih cocok untuk dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan konstruksi swasta, dibanding konstruksi BUMN lainnya.

Hanya saja, mengingat perusahaan belum punya track record jangka panjang yang solid (WEGE sudah berdiri dan beroperasi sejak tahun 2008, tapi kinerjanya baru lompat 2 tahunan terakhir ini saja) maka mungkin ada baiknya juga kita tunggu sampai perusahaan benar-benar merilis LK Kuartal I 2018 nanti, kalau labanya beneran naik maka baru kita masuk. Juga pertanyaan selanjutnya adalah, seberapa cepat perusahaan dalam menggunakan dana Rp833 milyar hasil IPO-nya kemarin? Sebab jika dana ini tidak segera diputar untuk menghasilkan laba/dibiarkan menganggur, maka dana tersebut cuma bikin ROE WEGE jadi tampak kecil, dan sayangnya belum ada informasi soal berapa total nilai kontrak anyar yang diperoleh WEGE untuk tahun 2018 ini. Tapi jika melihat mulai bangkitnya industri properti, serta masih gencarnya pembangunan infra, maka momentum pertumbuhan kinerja WEGE yang terjadi sejak 2016 kemarin harusnya masih berlanjut pada tahun 2018, dan demikian pula dana hasil IPO-nya bisa digunakan lebih cepat. We’ll see!

PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung, Tbk (WEGE)
Rating Kinerja pada 2017: AA
Rating Saham pada 264: A

Jadwal seminar/workshop Value Investing: Advanced Class. Bali, Rivavi Hotel Pantai Kuta, 28 April (masih available). Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

3 komentar:

ivanaj mengatakan... Balas

Info tambahan pak (dari sebuah sekuritas):

Wika Gedung (WEGE) membukukan kontrak baru senilai Rp 2,6 triliun per 5 April 2018. Kontrak baru itu mencapai 33% dari target tahun 2018 yang sebesar Rp 7,8 triliun.

milhan insani mengatakan... Balas

ralat pak PER nya bukannya 5.3 pada harga saham 264

Mohammad Yasser mengatakan... Balas

saham WEGE sprnya kurang likuid