Jadwal Seminar Value Investing, Basic & Advanced: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu & Minggu 26 - 27 Oktober 2019. Info selengkapnya baca disini.

The Power of Legacy Stock: Berapa Profitnya Jika Kita Beli Saham Ultrajaya di Tahun 2009?

Ada satu pertanyaan menarik ketika beberapa waktu lalu penulis membahas saham Ultrajaya Milk Industry (ULTJ) (ini link artikelnya), dimana kesimpulan akhirnya adalah bahwa ULTJ ini bisa dipertimbangkan sebagai tabungan atau investasi jangka panjang. Atau mengutip istilah Pak Joeliardi Sunendar, sebagai legacy stock yang bisa di-hold as long as possible. Problemnya, dalam lima tahun terakhir yakni 2014 – 2019, ULTJ secara keseluruhan hanya naik dari 1,000 ke 1,200, sehingga total gain-nya hanya sekitar 20% dalam lima tahun, atau jauh lebih rendah dibanding beberapa saham long term lainnya yang lebih populer seperti katakanlah Bank BRI (BBRI). Jadi pertanyaannya kemudian, apa benar bahwa ULTJ ini bagus untuk long term? Karena kalaupun kita katakan bahwa sahamnya aman/low risk, tapi profit segitu dalam jangka waktu selama itu tentu saja kelewat kecil bukan??

***

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.

***

Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas, mari kita sepakati dulu, apa yang dimaksud dengan ‘jangka panjang’ disini. Dalam beberapa kesempatan, penulis katakan bahwa jika anda beli satu saham lalu anda bisa komitmen untuk hold sampai minimal setahun kedepan, maka itu sudah masuk kategori jangka panjang.

However, jika anda misalnya berencana membeli saham Berkshire Hathaway (BRK), maka Warren Buffett mengatakan bahwa anda harus hold saham itu minimal selama 5 tahun. Jadi jika anda mengharapkan profit dalam waktu yang lebih singkat, bahkan meski itu 3 – 4 tahun sekalipun, maka Buffett menyarankan untuk beli saham lain saja. Ini adalah karena, berdasarkan pengalaman, periode waktu 5 tahun adalah periode dimana suatu negara akan mengalami semua siklus ekonominya, baik itu periode krisis, periode datar-datar saja, dan juga periode bullish/euforia, dan demikian pula pasar sahamnya akan naik dan turun mengikuti  siklus ekonomi tersebut. Problemnya, kita tidak bisa tahu secara persis kapan pasar saham akan naik atau turun. Jadi jika anda beli saham BRK lalu hold hingga setahun kedepan, dan ternyata kebetulan dalam waktu setahun itu Amerika mengalami krisis, maka anda hampir pasti akan rugi. Faktanya, meski saham BRK terus naik sejak Buffett mengambil alih perusahaan pada tahun 1965, namun sering juga terjadi saham BRK justru turun pada tahun-tahun tertentu.

Tapi jika anda komitmen untuk hold selama 5 tahun atau lebih lama lagi, maka testimoni dari pemegang saham lama di BRK menyebutkan bahwa mereka semuanya untung besar. Karena meski perekonomian Amerika naik turun secara random setiap tahunnya, terkadang pula dengan fluktuasi yang ekstrim, namun pada akhirnya ekonomi disana tetap tumbuh dalam jangka panjang, dan BRK mampu membukukan tingkat pertumbuhan yang lebih besar lagi.

Jadi kesimpulannya, menurut W. Buffett, yang dimaksud long term adalah minimal 5 tahun, namun kata minimal disini harus digaris bawahi. Karena dalam banyak kasus, Buffett sendiri melalui BRK seringkali memegang aset-asetnya dalam waktu yang jauh lebih lama dibanding sekedar 5 tahun tadi. Contohnya See’s Candies, yang sudah diakuisisi BRK pada tahun 1972, alias 47 tahun yang lalu, dan sampai sekarang masih di-hold.

Lihatnya 10 Tahun Terakhir!

Di salah satu artikel di blog ini, penulis pernah mengatakan bahwa salah satu ciri saham yang bisa dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang adalah jika saham tersebut memang secara historis sudah naik signifikan, dalam hal ini sebanyak total 100% dalam lima tahun terakhir, belum termasuk dividen. Dalam hal ini kita harus mengabaikan pergerakan saham yang bersangkutan pada 1 atau 2 tahun tertentu/lihatnya tetap harus minimal 5 tahun terakhir. Contohnya, saham HM Sampoerna dari Mei 2018 hingga hari ini,justru turun dari 3,700-an ke 3,300-an, sehingga ada kesan bahwa sahamnya nggak bagus.

Padahal berdasarkan analisa fundamental secara menyeluruh, maka HMSP termasuk wonderful company yang ideal untuk investasi jangka panjang. Jadi kenapa sahamnya kok setahun terakhir ini malah turun? Nah, dalam hal inilah, seperti yang disebut diatas, kita jangan melihat pergerakan HMSP dalam setahun terakhir saja, tapi tetap minimal kita harus melihatnya dalam 5 tahun terakhir. Dan memang benar: Pada Mei 2014, atau lima tahun yang lalu, HMSP masih berada di posisi 2,500-an, sehingga total profitnya hingga hari ini masih cukup lumayan, sudah termasuk loss dalam setahun terakhir.

However, jika anda perhatikan lagi, maka untuk beberapa saham terutama yang tidak terlalu likuid, maka seringkali kita harus melihat historis pergerakan sahamnya lebih jauh dibanding sekedar 5 tahun, dalam hal ini selama 10 tahun terakhir. Contohnya? Ya saham Ultrajaya tadi: Jika kita melihat kenaikannya sejak tahun 2014, maka memang ULTJ tampak mengecewakan. Tapi jika kita lihat lagi kenaikannya sejak 2009, maka ketika itu ULTJ masih berada di level 150 - 170 (sesudah stocksplit), dimana jika dibandingkan dengan posisinya hari ini yakni 1,300-an, maka artinya ULTJ sudah memberikan profit sekitar 7 - 8 kali lipat dalam waktu 10 tahun, belum termasuk dividen. Sebagai perbandingan, pada Mei 2009, BBRI berada di 600-an, sehingga total profitnya hingga hari ini, berdasarkan harga sahamnya saat ini yakni 3,800, hanya sekitar 6 kali lipat belum termasuk dividen.

Dan fakta menarik lainnya adalah, dibanding BBRI yang dikenal low risk sekalipun, ULTJ ini bahkan lebih low risk lagi. Sekarang gini: Ketika IHSG sepanjang bulan Mei ini turun, maka BBRI juga ikut turun bukan? Dan penurunannya pun cukup signifikan/lebih dari 10%. Demikian pula ketika sepanjang tahun 2018 kemarin IHSG mengalami bearish berkepanjangan, maka BBRI juga drop dari 3,900 sampai 2,900. Problemnya, meski BBRI memang kemudian naik lagi ketika pasar pulih, tapi bagaimana jika anda kebetulan sudah masuk di harga yang tinggi? Apakah anda mampu untuk tidak panik, dan tetap komitmen untuk hold sahamnya untuk ‘jangka panjang’ ketika anda melihat BBRI drop sampai 3,000, sementara anda sudah pegang barangnya sejak di harga 4,000?? Faktanya, ada banyak investor yang rugi bukan karena mereka salah pilih saham dengan fundamental jelek, tapi cuma karena gak kuat saja menghadapi naik turunnya pasar, atau masuknya kebetulan persis sebelum pasar terkoreksi.


Tapi bagaimana jika anda belinya ULTJ? Well, mari kita lihat lagi: Ketika pada tahun 2018 kemarin IHSG sempat drop dari 6,600 sampai mentok di 5,600, demikian pula saham-saham pada hancur lebur semua, maka posisi terendah yang dicapai ULTJ di tahun 2018 tersebut adalah 1,120, atau hanya turun sedikit saja dibanding posisi tengahnya sepanjang setahun sebelumnya di level 1,200-an. Demikian pula ketika pasar saham mengalami crash tahun 2015 lalu, maka ULTJ ketika itu nyaris tidak bergeming di level 900-an. Ini artinya, ULTJ tidak hanya low risk dari sisi fundamental perusahaannya, tapi sahamnya juga kebal terhadap risiko fluktuasi pasar. Tapi bahkan dengan risiko yang lebih rendah dibanding saham sekelas BBRI sekalipun, ternyata profitnya malah lebih besar, tentunya dengan asumsi jika anda menjadikan kedua saham tersebut (BBRI dan ULTJ) sama-sama sebagai pegangan jangka panjang.

Kesimpulannya, ketika kita hendak membeli saham untuk tabungan jangka panjang, maka ketika kita melihat pergerakan historisnya, jangan cuma lihat 5 tahun terakhir, tapi coba lihat lagi dalam 10 tahun terakhir, atau bahkan 15 tahun terakhir. Selain ULTJ, silahkan nanti anda cek sendiri, ada banyak saham-saham kecil lainnya yang juga perform lebih baik dibanding BBRI dkk dalam 10 - 15 tahun terakhir, plus ‘bonus’ dividen yang juga tidak kalah besarnya.

Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau misalnya kita kebetulan beli ULTJ ini di tahun 2014, kemudian tetap hold selama lima tahun sampai hari ini? Karena kalau dikatakan bahwa kita harus tunggu selama lima tahun lagi, maka juga gak ada jaminan bahwa profitnya dalam lima tahun berikutnya tersebut akan lebih besar bukan? Dan kedua, jangankan sepuluh tahun, pegang saham yang sama selama lima tahun itu juga gak gampang kan?? Apalagi di pasar saham Indonesia yang terkenal sangat fluktuatif. Jadi apakah ada strategi tertentu agar kita minimal tidak lagi terjebak dalam kondisi dimana kita hanya cuan 20% setelah lima tahun? Karena kalau dapetnya cuma segitu, mending taroh di deposito lah!

Kabar baiknya, memang ada strategi untuk itu, dan itulah yang akan kita bahas disini. Tapi berhubung artikel kali ini sudah cukup panjang, maka kita akan bahas strateginya di artikel berikutnya.

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

4 komentar:

Handaru mengatakan... Balas

Mas teguh..kapan kira2 kondisi yang tepat dan ideal untuk menjual legacy stok?

Morosepuh mengatakan... Balas

Bagaimana memperoleh informasi LK 10 tahun terakhir pak? terima kasih

Anonim mengatakan... Balas

BBRI 3800 bukannya setelah stock split ya pak ?
600 sebelum SS ?

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

Betul pak, 600 itu sesudah stocksplit.