Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal II 2019 akan terbit hari Kamis, 8 Agustus 2018, dan Anda sudah bisa memesannya pada link berikut. Tersedia preorder discount bagi investor yang subscribe sebelum tanggal 8 Agustus.

Prospek United Tractors Setelah Akuisisi Tambang Emas

Pada tanggal 4 Desember 2018, PT United Tractors, Tbk (UNTR) mengumumkan bahwa perusahaan telah menyelesaikan proses akuisisi 95% saham PT Agincourt Resources (PTAR), pemilik dan pengelola Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Jadi dengan demikian UNTR sekarang punya lima segmen usaha yakni penjualan alat-alat berat, kontraktor tambang, tambang batubara, usaha konstruksi, dan tambang emas, dimana dua segmen yang disebut terakhir baru bergabung dengan UNTR dalam beberapa tahun terakhir. Menariknya, berbeda dengan kontribusi usaha konstruksi-nya yang masih sangat kecil, usaha tambang emas UNTR sukses menyumbang laba bersih sebelum pajak sebesar Rp665 milyar pada Kuartal I 2019, atau 16% dari total laba sebelum pajak perusahaan.

***

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya pada link berikut. Tersedia diskon bagi yang subscribe untuk 1 tahun.

***

Lalu seperti apa sebenarnya Tambang Emas Martabe ini? Seberapa besar cadangan emasnya? Dan apakah dengan akuisisi ini kinerja UNTR kedepannya akan tidak lagi tergantung pada fluktuasi harga batubara?

Profil Tambang Emas Martabe

Kalau kita bicara tambang emas, maka kebanyakan orang taunya Freeport di Papua, dan Newmont di Nusa Tenggara Timur, dan itu tidak salah karena memang dua itu merupakan tambang emas terbesar di Indonesia. Malahan, dengan cadangan emas sebesar 30.2 juta ounce (oz), dan volume penjualan emas sebesar 2.4 juta oz pada tahun 2018, maka Tambang Emas Grasberg milik PT Freeport Indonesia bisa dinobatkan sebagai tambang emas terbesar di dunia.

Tapi tidak banyak yang tahu bahwa Pulau Sumatera juga punya cadangan emas yang besar di Martabe, tepatnya sebesar 4.5 juta oz per akhir tahun 2018, yang bisa meningkat menjadi 8.1 juta oz seiring dengan berlanjutnya proses eksplorasi. Secara volume produksi dan penjualan, maka dengan volume penjualan sebesar 97 ribu oz per Kuartal I 2019, atau 388 ribu oz jika disetahunkan, maka volume produksi Martabe memang kalah jauh dibanding Grasberg, tapi ingat bahwa Martabe baru berproduksi pada tahun 2012, alias masih sangat baru dibanding Grasberg yang sudah digali sejak tahun 1960-an, sehingga potensi jangka panjangnya masih terbuka lebar. Dan mungkin karena itu pula, selain membayar US$ 918 juta untuk harga akuisisinya (ke pemilik PTAR sebelumnya, yakni Agincourt Resources Pte Ltd), UNTR juga menyuntik modal kerja dalam bentuk pinjaman ke PTAR senilai US$ 325 juta, yang tentu saja bertujuan agar PTAR bisa mempercepat pekerjaan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru, sekaligus meningkatkan volume produksinya. Kalau melihat karakter Grup Astra yang langsung gerak cepat setelah mereka masuk ke industri tertentu, misalnya ketika mereka masuk ke industri properti tahun 2016 dan tiba-tiba saja sekarang sudah berdiri Menara Astra di Jalan Jend. Soedirman, Jakarta, maka harusnya untuk PTAR ini juga tidak akan butuh waktu lama untuk tancap gas.

Sayangnya manajemen UNTR belum mau bicara prospek jangka panjang terkait ‘mainan’ barunya diatas, namun berikut adalah dua fakta penting terkait akuisisi mereka terhadap Martabe. Pertama, UNTR mengeluarkan total sekitar US$ 1.24 milyar untuk mengakuisisi dan memberi suntikan modal untuk PTAR, dimana sekitar US$ 900 juta diantaranya berasal dari utang bank, namun bunganya sangat rendah yakni hanya 4 – 5% per tahun. Alhasil laba bersih UNTR dari usaha tambang emas-nya terbilang bersih dari beban bunga utang, dimana dari pendapatan sebesar Rp1.9 trilyun pada Kuartal I 2019, diperoleh laba sebelum pajak Rp665 milyar. Margin laba sebesar 35% ini jauh lebih besar dibanding margin usaha inti perusahaan, yakni distribusi alat-alat berat dan kontraktor tambang.

Dan kedua, PTAR membukukan laba bersih US$ 51.6 juta pada Kuartal I 2018, atau US$ 207 juta jika disetahunkan, dimana laba tersebut naik dari US$ 151 juta di tahun 2017, dan US$ 121 juta di tahun 2016 (laba perusahaan meningkat saban tahun seiring kenaikan volume produksi). Dengan harga akuisisi US$ 918 juta, dan dengan asumsi bahwa laba PTAR akan terus bertumbuh dengan rate pertumbuhan yang sama sejak tahun 2016, maka UNTR bakal balik modal dalam waktu sekitar 3 – 4 tahun saja, bahkan bisa lebih cepat jika PTAR sukses mempercepat peningkatan volume produksi. Atau dengan kata lain, harga akuisisinya terbilang wajar, jika tidak mau dikatakan undervalue.

Kemudian, dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap usaha batubara, sejatinya UNTR sejak tahun 2015 lalu sudah masuk ke konstruksi dengan mengakuisisi PT Acset Indonusa, Tbk (ACST), mengakuisisi perusahaan tambang emas PT Sumbawa Jutaraya, dan pada tahun 2017 membangun pembangkit listrik di Jepara, Jawa Tengah. Sayangnya pembangkit listriknya masih dalam tahap konstruksi (baru akan selesai tahun 2021), demikian pula PT Sumbawa masih belum berproduksi, dan untuk ACST malah tekor. Jadi dengan masuknya Martabe sebagai aset baru perusahaan, maka barulah kali ini UNTR bisa berharap bahwa kinerja perusahaan tidak akan lagi terlalu bergantung pada naik turunnya harga batubara internasional.



Kesimpulannya, UNTR di tahun 2019 ini baru saja memperoleh sumber income baru yang sudah menghasilkan, pada harga akuisisi yang murah, dan masih bisa dikembangkan hingga volume produksinya akan menjadi lebih besar lagi di masa yang akan datang. Mungkin perlu juga dicatat bahwa seperti halnya kita investor ritel seringkali sulit ketemu peluang investasi yang bagus pada harga saham yang murah, maka bagi grup-grup besar seperti Astra, tidak segampang itu juga mereka bisa menemukan peluang investasi yang bagus seperti di Martabe ini. Jadi dalam hal ini bisa kita katakan bahwa Grup Astra beruntung, karena sejatinya Tambang Martabe ini sudah jadi rebutan banyak grup konglomerasi baik dari dalam maupun luar negeri, sejak lokasi tambangnya dieksplorasi untuk pertama kalinya pada tahun 2008 lalu. Dan meski untuk saat ini kontribusi laba bersih dari PTAR memang belum signifikan, yakni masih kurang dari 20% dari laba UNTR secara keseluruhan, namun mengingat PTAR masih dalam momentum pertumbuhan volume produksi emas-nya setiap tahun, dan harga emas itu sendiri jauh lebih stabil dibanding harga batubara (lima tahun terakhir stabil di US$ 1,200 – 1,300 per oz, dan berbeda dengan mineral lainnya, dalam jangka panjaaaang maka harga emas senantiasa naik), maka terdapat peluang bahwa dalam beberapa tahun mendatang, UNTR akan lebih dikenal sebagai perusahaan tambang emas ketimbang batubara. Dan untungnya kita sedang bicara Grup Astra disini, bukan Bakrie atau semacamnya. Jadi jika nanti UNTR beneran untung besar dari tambang emas-nya, maka keuntungan itu akan tercermin di laporan keuangannya, kemudian perusahaan akan membayar dividen lebih besar kepada investor, dan sahamnya akan naik.

Saatnya Beli UNTR?

Okay Pak Teguh, jadi apa ini artinya kita langsung sikat saja UNTR ini? Karena kebetulan harganya juga sudah turun banyak jika dibanding posisi tertingginya setahun lalu? Well, tentunya masih ada beberapa hal lagi yang harus diperhatikan. Pertama, untuk saat ini UNTR masih merupakan coal-related company, dimana perusahaan masih perlu waktu untuk mengembangkan Tambang Martabe hingga kontribusinya menjadi benar-benar signifikan. Dalam hal ini penulis jadi ingat dengan perusahaan minyak, Medco Energi Internasional (MEDC), yang pada tahun 2016 lalu sukses mengakuisisi Newmont Nusa Tenggara (NNT), sehingga diharapkan bahwa MEDC kedepannya tidak akan lagi bergantung pada usaha minyaknya. Tapi entah apa masalahnya, di tangan Medco, NNT hanya menjual 70,900 oz emas sepanjang tahun 2018, alias jauh lebih kecil dibanding Martabe, padahal NNT ini lebih besar. Dan alhasil kinerja MEDC tetap tergantung pada usaha minyaknya.

Jadi skenario terburuknya adalah, setelah beberapa tahun, emas yang dihasilkan dari Tambang Martabe tetap tidak mampu menggeser batubara/kontraktor batubara sebagai sumber income utama bagi perusahaan. Actually, ini adalah risiko skenario yang masih bisa diterima, dimana dengan skenario ini artinya bahwa UNTR akan tetap menjadi perusahaan batubara seperti sekarang, sedangkan UNTR pada saat ini masih bisa dikatakan sebagai salah satu perusahaan batubara terbaik di bursa, dan UNTR juga tidak menghadapi risiko harus melakukan restrukturisasi utang atau semacamnya. Karena pasca akuisisinya terhadap Martabe, debt to equity ratio-nya masih konservatif di level 1 kali. Tapi intinya adalah, UNTR belum bisa disebut sebagai perusahaan tambang emas karena porto terbesarnya masih di coal-related business, sama seperti Berkshire Hathaway gak bisa disebut sebagai perusahaan teknologi hanya karena Opa Warren masuk ke Apple dan Amazon, karena porto terbesarnya masih di consumer, perbankan, dan asuransi.

Dan kedua, dengan PBV 1.7 kali pada harga 26,200, maka valuasi UNTR sejatinya masih tanggung, dimana sahamnya bisa bertahan di level tersebut karena kinerja terbarunya masih bagus saja, dan harga batubara sendiri membal lagi setelah kemarin sempat menyentuh level US$ 80 per ton (yang memang, kalau anda baca-baca lagi tulisan lama di blog ini, maka itulah perkiraan harga normal untuk batubara). Namun jika tekanan yang terjadi pada saham-saham batubara lain dalam beberapa bulan terakhir ini terus berlanjut (karena laba bersih PTBA dkk memang turun semua di Kuartal I 2019), maka UNTR bisa ikut turun meski harusnya gak akan banyak turunnya, mungkin ke 23,000-an.

Kesimpulannya, meski UNTR menawarkan prospek menarik, tapi waktu terbaik untuk masuk kemungkinan bukan sekarang, melainkan kita harus lihat dulu perkembangannya barang beberapa bulan. Sebenarnya terkait prospek tambang emas ini, maka selain cerita MEDC yang ‘gagal’ diatas, atau J Resources Asia Pasifik (PSAB) dan Aneka Tambang (ANTM) yang entah kenapa laba bersihnya sangat minimalis (atau bahkan rugi), maka ada juga perusahaan tambang emas yang sukses dimana produksi emasnya langsung buanyak, dan labanya juga jumbo, yakni Merdeka Copper Gold (MDKA). Tapi sayangnya sahamnya sudah naik banyak plus valuasinya sudah premium, dan masuknya juga susah karena sahamnya gak likuid. Jadi pada akhirnya terkait prospek gold rush ini maka UNTR tetap merupakan pilihan terbaik, tinggal soal timing-nya saja.

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya pada link berikut. Tersedia diskon bagi yang subscribe untuk 1 tahun.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

2 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Pak tolong bahas PTBA, terima kasih.

Mujaitun Tukiman mengatakan... Balas

Baca juga nih Pilihan Investasi Terbaik di Indonesia