Strategi Untuk Saham Batubara di Tahun 2024

Selamat pagi Pak Teguh. Saat ini porto saya berisi saham PT Bukit Asam, Tbk (PTBA) yang saya beli di harga Rp3,939 senilai Rp709 juta. Seiring penurunan harga sahamnya, sekarang market valuenya tinggal tersisa Rp423 juta. Saya juga ada pegang cash Rp1.2 miliar. Pertanyaannya apakah saya harus average down dengan nominal tertentu, atau saya cut loss dan pindah ke saham lain, atau saya invest 1.2 miliar ini di saham lain? Terima kasih.

***

Ebook Market Planning edisi Januari 2024 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis info jual beli saham, dan tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

***

Jawab:

Beberapa waktu lalu saya menulis analisa untuk saham Indo Tambangraya Megah, Tbk (ITMG), bapak bisa baca lagi ulasannya disini.

Kemudian meski fokusnya di ITMG, tapi analisanya berlaku untuk semua saham batubara termasuk PTBA. Intinya, sudah sejak awal tahun 2023 lalu hampir semua emiten batubara mengalami penurunan kinerja laba bersih seiring penurunan harga batubara, tapi disisi lain harga saham mereka juga sudah turun signifikan hingga valuasinya menjadi murah lagi, dan mayoritas perusahaannya juga gak ada masalah apa-apa, cuma labanya sedang turun saja. Jadi jika bapak masih ada pegang saham batubara, maka pada titik ini saya tidak menyarankan untuk cut loss. Dalam kasus PTBA, maka meski labanya sampai dengan Q3 2023 kemarin drop 62.2% dibanding periode yang sama tahun 2022, tapi ROEnya masih bagus di 26.2%, dan tetap ada peluang perusahaan akan bayar dividen besar di bulan Juni 2024 nanti. Untuk tahun buku 2022 lalu, dividen PTBA tercatat Rp1,094 per saham. Sehingga dengan asumsi nilai dividen untuk tahun buku 2023 akan turun sama seperti penurunan labanya, maka dividen tersebut akan mencapai Rp400 - 450 per saham, yang mencerminkan yield 17 - 19% pada harga Rp2,400 per saham, alias masih cukup tinggi.

Jadi strateginya begini saja: Pada sekitar Februari atau Maret 2024 nanti, PTBA akan merilis laporan keuangan (LK) Q4 2023, yang mana kalau melihat harga batubara saat ini maka perusahaan hampir pasti akan kembali mencatat penurunan laba dibanding tahun 2022, dan kemungkinan pada saat itu sahamnya akan kembali turun meski harusnya gak akan sampai dibawah level psikologis 2,000 (yang mencerminkan valuasi PER 4 kali, dan itu beyond undervalue untuk saham dengan fundamental sekelas PTBA), melainkan mentoknya di 2,100 – 2,200. Pada saat itulah bapak bisa beli lagi sahamnya alias average down, sekaligus dalam jumlah besar juga gak apa-apa, sehingga nanti rata-rata harga belinya jadi turun dan bukan lagi di 3,939, melainkan sekitar 2,800 - 2,900.

Kemudian saya perkirakan bahwa harga batubara Newcastle, meski memang tidak akan naik lagi ke $400-an per ton seperti di tahun 2022 lalu, tapi juga tidak akan sampai turun sampai di bawah $100 per ton, karena aktivitas ekonomi saat ini sudah normal sepenuhnya dan tidak ada lagi pandemi (betul kemarin covid ramai lagi, tapi gak sampai memaksa pemerintah untuk memberlakukan PSBB atau PPKM seperti dulu), dan kebutuhan energi listrik di seluruh dunia kembali terus meningkat. Malah ada kemungkinan bahwa harga batubara, yang di sepanjang tahun 2023 ini sempat turun sampai $112 per ton, bisa naik lagi di tahun 2024 nanti ke kurang lebih $140 – 160 per ton, lalu stabil disitu. Kemudian karena di sisi lain volume penjualan batubara milik PTBA juga naik di tahun 2023 ini (sampai Q3 naik 14.9% dibanding periode yang sama tahun 2022), dan harusnya lanjut naik di tahun 2024, maka ketika nanti perusahaan merilis LK Q1 2024 di bulan April 2024, ada kemungkinan kali ini labanya berbalik naik. Dan jika benar demikian maka sahamnya juga akan naik lagi ke 2,400, sebelum kemudian naik lebih lanjut ke 2,800 - 2,900 karena ada sentimen pembayaran dividen di bulan Juni 2024.

Nah, jadi pada saat itulah bapak jual habis sebelum tanggal ex dividen, berapapun harga saham PTBA ketika itu (tapi harusnya di kisaran 2,800 - 2,900 tadi). Sebab jika bapak tetap hold sahamnya maka bapak akan terima dividen, tapi saham PTBA itu sendiri akan langsung turun lagi, sama seperti Juni 2023 lalu ketika dia anjlok dari 3,850 sampai 2,700. Sebenarnya, di tahun 2024 nanti saya tetap tidak melihat skenario bahwa PTBA akan turun sampai di bawah 2,000, tapi untuk mengharapkan dia naik ke katakanlah 4,000 juga sulit. Karena tidak hanya harga batubara Newcastle hampir mustahil bakal naik lagi ke $400 per ton seperti tahun 2022 lalu, tapi sentimen batubara itu sendiri sejak awal cenderung negatif karena kalah oleh cerita energi baru dan terbarukan (EBT), di mana sudah sejak tahun 2020 lalu Pemerintahan di seluruh dunia termasuk di Indonesia sudah berkomitmen untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga EBT, untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara. Jadi ketika nanti saham PTBA turun setelah pembayaran dividennya di bulan Juni 2024, maka kemungkinan setelah itu sahamnya hanya akan bergerak mendatar saja.

Semoga beruntung. Tahun depan ketika nanti bapak sudah clear dari PTBA entah itu dalam posisi profit atau cut loss (tapi kalau cut loss pun maka kerugiannya akan jauh lebih kecil dibanding saat ini), maka baru bapak gunakan dana yang bapak miliki untuk beli saham-saham bagus lainnya berdasarkan kinerja tiap-tiap emitennya ketika itu, dan kali ini lebih terdiversifikasi, jadi tidak lagi all in hanya di satu saham.

***

Ebook Market Planning edisi Januari 2024 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis info jual beli saham, dan tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

MFTKIA mengatakan…
Selalu amaze dengan postingan Pak Teguh. Terima kasih Pak
Abdullah Adnan mengatakan…
Logika investasi pak Teguh sangat sederhana, benar-benar mengandalkan akal sehat saja. Jadi yakin hold PTBA berapapun harganya

ARTIKEL PILIHAN

Live Webinar Value Investing, Sabtu 9 Maret 2024

Ebook Investment Planning Kuartal IV 2023 - Sudah Terbit!

Laporan Kinerja Avere Investama 2022

Peluang dan Strategi Untuk Saham Astra International (ASII)

Indo Tambangraya Megah: Masih Royal Dividen?

Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) Bangun Pabrik Baru Senilai Rp54 triliun: Prospek Sahamnya?