Amerika 'Akuisisi' Venezuela, Inilah Saham/Sektor Yang Diuntungkan

Hari Sabtu 3 Januari 2026, sekitar pukul 2 dini hari waktu setempat, militer Amerika Serikat (US) membombardir ibukota Venezuela, Caracas, hingga sukses menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta ibu negara, Cilia Flores, dan masih di malam yang sama mereka berdua langsung diterbangkan ke New York. Sontak, bagi para pelaku pasar maka peristiwa penting ini menimbulkan pertanyaan besar: Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apakah harga minyak setelah ini akan naik atau justru turun? Dan bagaimana dampak invasi US ini terhadap IHSG serta ekonomi Indonesia secara keseluruhan?

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q3 2025 sudah terbit! Bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.

***

Untuk menjawab pertanyaan diatas maka mari kita lihat lagi kronologinya sejak awal.

Jadi, sudah sejak lama sudah Pemerintah US menganggap bahwa tingginya harga minyak dunia mendorong tingginya biaya transportasi, pembangkit listrik dll dan imbasnya menyebabkan inflasi, dimana inflasi ini pada gilirannya menahan suku bunga bank sentral untuk tetap tinggi, dan akhirnya menahan pertumbuhan ekonomi. Dan memang seperti yang dulu pernah dibahas di blog ini, setiap kali terjadi lonjakan harga minyak maka itu akan menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di hampir semua negara di seluruh dunia yang membutuhkan minyak tersebut, dan satu-satunya yang diuntungkan adalah negara-negara di Timur Tengah sebagai produsen. US sendiri sejatinya merupakan produsen minyak terbesar di dunia dengan volume produksi 13 juta barrels of oil and oil equivalents per day (BPD), lebih besar dibanding Arabi Saudi di posisi kedua dengan 10 juta BPD. Namun karena Arab Saudi dan banyak lagi negara penghasil minyak lainnya tergabung dalam satu organisasi yakni OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries), dimana total volume produksi OPEC mencapai sekitar 43 juta BPD, maka jadilah harga minyak dunia ditentukan oleh kartel OPEC ini, bukan oleh US.

Karena itulah, sudah sejak lama pula, Pemerintah US berusaha menjalin hubungan baik dengan negara-negara penghasil minyak dan gas, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, hingga Qatar, untuk memperoleh minyak mereka pada harga yang ‘menguntungkan kedua belah pihak’. Dan kalau ada negara yang menolak ajakan ‘hubungan baik’ tersebut maka siap-siap ‘di-demokrasi-kan’, seperti dulu Iraq di tahun 2003, Libya di tahun 2011, dan sekarang Venezuela.

Okay, lanjut. Kemudian di bawah pimpinan Presiden Trump maka kebijakan terkait minyak tersebut tidak berubah, dimana sudah setidaknya tahun 2018 lalu Presiden Trump dalam banyak kesempatan menyebut bahwa ia ingin agar harga minyak turun hingga serendah mungkin, dan karena itulah Pemerintah US sendiri terus menaikkan volume produksi minyak di dalam negeri, dari 8 juta BPD di tahun 2016 (ketika Trump menjadi presiden) menjadi sekarang tembus 13 juta BPD, sehingga harapannya menciptakan situasi oversupply minyak dunia. But still, hingga tahun 2025 harga minyak dunia tetap bertahan di level $60 – 80 per barel, masih jauh lebih tinggi dibanding target Trump di $40 – 50 per barel.

Salah satu cuitan Presiden Trump terkait harga minyak, di tahun 2018. Dari sini tampak ia kesal dengan OPEC yang, dalam pandangannya, memanipulasi harga minyak untuk tetap tinggi.

Hingga pada tahun 2024, terjadi peristiwa penting: Venezuela menggelar pemilihan presiden dimana petahana Nicola Maduro kembali menang, tapi dunia internasional terutama Pemerintah US menuduh bahwa pilpres-nya berjalan secara ‘fraudulent’ (curang). Ekonomi Venezuela sendiri sudah lama jatuh krisis dimana GDP bukannya tumbuh tapi justru terus turun sejak setidaknya tahun 2014, aka persis setahun setelah Presiden Maduro naik jabatan di tahun 2013-nya, tapi entah bagaimana ceritanya dia masih berkuasa dan terus memenangkan pilpres sampai sekarang, sehingga semakin menguatkan tuduhan bahwa hasil pilpres-nya dimanipulasi. Tuduhan ini kemudian menjadi dalih bagi Pemerintah US bahwa Presiden Maduro memang layak untuk digulingkan, tapi tujuan utamanya adalah untuk mengambil alih cadangan minyak Venezuela yang notabene merupakan yang terbesar di dunia, bahkan lebih besar dibanding cadangan milik Arab Saudi.

Nah, jadi ketika kemarin militer US jadi mengebom ibukota Venezuela, Caracas, maka banyak pihak mengira bahwa itu akan menyebabkan harga minyak naik, sama seperti dulu ketika terjadi perang roket antara Israel vs Iran. Tapi penulis termasuk yang melihat bahwa harga minyak justru akan turun karena, pertama, perangnya sudah langsung selesai dimana Presiden Maduro sudah diamankan. Dan kedua, meski cadangan minyaknya memang sangat besar, namun volume produksi minyak Venezuela tidak sampai 1 juta BPD, jauh di bawah Arab Saudi dan Iran yang masing-masing mencapai 10 dan 4 juta BPD. Jadi kalaupun perang US vs Venezuela ini terjadi secara berkepanjangan seperti perang Rusia vs Ukraina, dan alhasil produksi minyak Venezuela terhenti, maka tetap pasokan minyak dunia tidak akan terganggu karena Venezuela notabene hanya berkontribusi sekitar 1% dari total volume produksi minyak dunia, dan alhasil harganya juga tidak akan naik.

Okay Pak Teguh, jadi apakah setelah ini harga minyak justru akan turun? Yes, tapi tidak dalam waktu dekat, karena Pemerintah US tentunya akan butuh waktu serta investasi puluhan miliar Dollar untuk meningkatkan volume produksi minyak Venezuela dari saat ini 1 juta BPD menjadi 2 juta, 3 juta BPD, dan seterusnya, dan alhasil menciptakan situasi oversupply minyak, yang kemudian memaksa harga minyak itu sendiri untuk turun. Tapi entah itu harga minyak akan turun hari ini atau tahun depan, maka kecuali nanti terjadi peristiwa penting tertentu (misalnya Israel vs Iran kumat lagi), prediksinya adalah bahwa harga minyak akan turun ke kisaran $40 – 50 per barel.

Pengaruhnya ke Indonesia?

Dan kalau benar harga minyak nanti turun, maka biaya transportasi, biaya pengiriman barang, biaya listrik dll juga akan turun, inflasi turun, dan pertumbuhan ekonomi akan melesat, tidak hanya di US tapi juga di seluruh dunia. Tapi khususnya untuk Indonesia sebagai negara importir minyak, maka penurunan harga minyak akan menjadi pisau bermata dua: Di satu berdampak positif karena akan menurunkan nilai impor itu sendiri, yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan ekonomi. Tapi di sisi lain jika harga minyak turun maka harga batubara, yang merupakan satu dari dua komoditas ekspor utama Indonesia (satunya lagi minyak sawit), biasanya ikut turun, sehingga nilai ekspor juga akan sama turun. Jadi Pemerintah Indonesia dalam hal ini menghadapi tantangan soal komoditas apa yang bisa menggantikan batubara untuk menjaga agar nilai ekspor tetap tinggi, dan mungkin karena itulah Presiden Prabowo mendorong pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit di Sumatera, dan sekarang Papua.

Sehingga, kalau sekarang kita ke pertanyaan sektor saham apa yang menarik pasca cerita US vs Venezuela ini, maka jawabannya bukan saham perusahaan minyak atau batubara, melainkan saham perusahaan perkebunan kelapa sawit. Nah, tapi kalau kita tidak mau masuk ke sektor sawit (karena kita tahu bahwa sawit menjadi salah satu penyebab banjir di Sumatera), maka boleh pilih saham dari sektor-sektor yang berhubungan langsung dengan pertumbuhan ekonomi nasional, seperti perbankan, consumer goods, otomotif, dan ritel. Sebab, meski tadi di atas penulis menyebut bahwa nilai ekspor bisa turun jika harga batubara turun, dan alhasil pertumbuhan ekonomi juga berisiko untuk turun, namun penurunan biaya transportasi dll yang juga akan terjadi akan memberikan dampak positif yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi di dalam negeri secara keseluruhan. Jadi tugas kita tinggal membeli saham dari perusahaan yang secara langsung diuntungkan oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi tersebut, lalu lihat lagi perkembangannya setahun dari sekarang.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q3 2025 sudah terbit! Bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q3 2025 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Live Webinar Value Investing Saham Indonesia, Sabtu 6 September 2025

Cara Profit Maksimal Dari Investasi Emas

Laba Bank BRI Anjlok Lebih Dari 50%, Begini Penjelasan Mudahnya

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI